
Kata kata yang baru saja diucapkan Bu Dian sukses membuat Adnan dan Hanum langsung menghentikan langkah kakinya secara bersamaan
"Maksud Mama apa?" tanya Adnan dengan rahang yang telah mengeras, kata kata Mamanya barusa bagaikan busur panah yang tepat menembus dadanya begitu juga dengan Hanum
"Mama bisa ngerti kalau kamu nggak mau nurutin kemauan Mama ini" ucap Bu Dian dengan mata yang nampak berkaca kaca
"Tapi apa kamu nggak kasihan lihat Vanessa? oke, jika kalian mempermasalahkan hal ini karena yang bersangkutan adalah Vanessa"
"Tapi setidaknya hargailah Vanessa sebagai seorang wanita, Hanum pasti ngerti kan?" tanya Bu Dian menatap Hanum, sementara yang ditatap hanya mengalihakan pandangannya
"Siapa tau tuhan akan membalas kebaikan kalian dengan menghadirkan anak dirahim Hanum, anggap saja ini sebagai pancingannya" lanjut Bu Dian mengeluarkan pendapatnya
Hanum memejamkan matanya kuat kuat, kedua tangannya kini tengah mengepal kuat. Apa yang wanita tua itu katakan? tuhan akan membalas kebaikannya jika ia mengatakan itu? hah....bicara kebaikan, seharusnya sekalian saja dulu Adnan mendorong Vanessa saat dia tengah mencoba bunuh diri agar Vanessa bisa tenang dialam baka sana
Tak lain halnya dengan Hanum, Adnan juga memejamkan matanya dan meraup wajahnya dengan kasar. Ucapan gila Mamanya kini telah mempengaruhi otaknya perlahan lahan
...........
Disisi lain, Pak Basuki tengah menikmati sore menjelang malamnya dengan meminum teh. Matanya memandang lain yang saat ini sudah menunjukkan cahaya kuning keemasannya
"Mama kamu belum pulang?" tanya Pak Basuki menoleh kearah Zidan yang tengah duduk disampingnya
"Belum pa" jawab Zidan tanpa mengalihkan pandangannya dadi ponselnya
"Kok lama banget ya keluar sama Hanumnya" heran Pak Basuki
"Yah....namanya juga sama mantu pa, mungkin Mama bakalan nginep sekalian malah" sahut Zidan
"Papa harap, nanti kamu tidak seperti Kakak kamu dan" ucap Pak Basuki menatap nanar langit, sementara Zidan pun langsung mematikan ponselnya dan meletakkannya diatas meja yang memisahkan kursinya dengan Papanya
"Pa" panggil Zidan lembut
"Papa nggak menyalahkan niat baik Kakak kamu" kata Pak Basuki yang tampaknya ingin memulai bercerita, sementara Zidan pun langsung mengurungkan niatnya untuk menyahuti ucapan Papanya
"Seharusnya ia memikirkan matang matang resiko dari keputusan yang diambilnya" ucap Pak Basuki lagi
"Mungkin saat ini Hanum masih dapat menahan perasaannya, tapi kita tidak tau untuk nantinya"
"Sementara Mama kamu kini sudah mulai memihak Vanessa" ucap Pak Basuki yang tampak sedih mengingat nasib dari anak sahabatnya tersebut
__ADS_1
"Mama sekarang sukanya sama Kak Vanessa pa?" tanya Zidan yang tampak sangat ingin tahu
"Karena Vanessa tengah hamil, sedangkan Hanum..." jawab Pak Basuki
"Kan yang didalam perut Kaka Vanessa bukan anaknya Kaka Zidan pa, kita juga nggak tau kan itu anaknya siapa" bantah Zidan
"Mama kamu hanya perduli Vanessa yang saat ini hamil, selebihnya ia mulai tutup mata" jawab Pak Basuki
...........
"Baik, aku akan mengizinkannya" ucap Adnan yang sontak langsung membuat semua orang menatapnya dengan tatapan yang berbeda beda. Bu Dian dengan tatapan bahagianya, Vanessa dengan tatapan terkejutnya, sementara Hanum dengan tatapan tak percaya juga kecewanya
"Kamu serius nan?" tanya Bu Dian menatap Adnan dan Vanessa secara bergantian
"Aku harap setelah ini Mama nggak perlu mencampuri urusan rumah tanggaku lagi" jawab Adnan dengan nada dinginnya
Sementara Hanum menyaksikan semuanya masih dengan raut wajah tak percaya ia menatap semua orang yang ada diruangan ini secara bergantian. Otaknya masih nge blank rasanya, hingga pada akhirnya ia menyadari jika keputusan menyakitkan suaminya baru saja terucap. Sontak, Hanum pun langsung melangkahkan kakinya menaiki tangga meninggalkan semuanya. Semua orang juga melihat kepergian Hanum
"Sekarang juga kalian pergi dari rumahku" ucap Adnan dingin namun tegas
"Nan" Bu Dian yang hendak protes karena tak terima saat Putranya mengusirnya
"Hanum" gumam Adnan cemas sembari mempercepat pangkah kakinya
Brakkk....pintu yang tadinya tak terkunci dibuka Adnan dengan sangat kasar hingga menimbulkan suara nyaring. Mata Adnan langsung membelalak sempurna saat melihat Hanum yang tengah memasukkan baju bajunya dari dalam lemari ke dalam kopernya
"Hanum" pekik Adnan yang lansung merebut segunduk baju dari tangan Hanum
"Kamu mau kemana?" tanya Adnan tegas
"Kerumah Ibu Bapak" jawab Hanum yang langsung menutup koper tanpa mengambil pakaiannya yang baru saja dirampas Adnan
"Nggak, nggak boleh. Aku nggak izinin kamu" ucap Adnan tegas
"Aku nggak perduli, aku bakalan kesana dengan atau tanpa adanya izin dari kamu" balas Hanum yang langsung menarik kopernya
"Aku nggak bolehin kamu pulangggg" kata Adnan sembari menahan tangan Hanum
"Aku nggak perduli, kamu jahat Mas sama aku!!!" teriak Hanum yang langsung menghempaskan tangan Adnan hingga terlepas
__ADS_1
"Hanum, aku ngelakuin itu supaya setelah ini Mama nggak ikut campur urusan kita" kata Adnan yang kini melemah
"Itu sama aja kamu ngeremehin aku Mas!" teriak Hanum
"Kamu nggak tegas sama rumah tangga kita" ucap Hanum lagi
"Num" panggil Adnan dengan wajah memelas
"Siapa tau ucapan Mama bener, siapa tau dengan kehadiran Vanessa yang lagi hamil kamu juga ketularan hamil num" ucap Adnan mengutarakan isi otaknya
"Aku nggak mandul Mas, aku nggak perlu pancingan pancingan kayak gitu" tolak Hanum tegas
"Terus kenapa selama ini kamu nggak hami hamil num" ucap Adnan meninggikan suaranya, kini ia mulai kesal karena Hanum tak menghargai keputusannya
"Aku belum hamil karena tuhan belum izinin aku mas" teriak Hanum membalas kekesalan suaminya
"Apa jangan jangan kamu mandul" ucap Adnan tiba tiba dengan suara kerasnya laksana petir yang menyambar hati Hanum
Plakkk..... tanpa Hanum duga tangannya kini berani melayanh kewajah imamnya
"Kamu tega Mas" kata Hanum menggunakan nada terendahnya, ia bahkan tak tau harus berkata apa apa lagi saat suaminya sendiri kini juga merendahkannya
"Num, bukan gitu maksud Mas num" bantah Adnan yang sudah menyadari ucapannya barusan
"Kamu berubah Mas" lirih Hanum
"Num, num maafin Mas Num, maksud Mas bukan gitu. Kita berdua sama sama sehat kan? kita kan udah pernah periksa berdua" kata Adnan dengan mata berkaca kaca, kini tangannya sudah berusaha meraih tubuh Hanum untuk dipeluknya namun Hanum selalu menghindar darinya
"Berapa kali lagi Mas mau bohongin aku???" teriak Hanum menepis tangan suaminya yang hendak menyentuhanya
"Mas...Mas nggak pernah bohongin kamu" ucap Adnan menggeleng gelengkan kepalanya menolak tuduhan Hanum
"Kemarin Mas kemana? Mas nggak lembur kan? Kenapa nggak bilang sama aku?" tanya Hanum dengan pertanyaan yang beruntun membuat Adnan langsung kelimpungan untuk menjawabnya
"Jujurlah, jangan memperburuk keadaan" ucap Hanum. Adnan memejamkan matanya kuat kuat sebelum menjawab pertanyaan Hanum
"A...aku kerumah Vanessa" jawab Adnan
Degggg
__ADS_1