
"Sabar Hanum sabar. Tunggu sampai keadaan memungkinkanmu untuk kabur dari tempat ini." batin Hanum didalam hatinya.
"Sekarang ayo makan, kamu pasti sudah sangat lapar kan?" ucap Adnan dengan penuh perhatiannya membimbing Hanum ketempat tidur lagi, sama sekali tak ada penolakan yang dilakukan Hanum.
Adnan pun menyuapi Hanum dengan penuh kelembutan hingga tandas, karena jujur Hanum sendiri juga sebenarnya lapar dan tak mungkin ia terus mengangkat harga dirinya disaat seperti ini.
"Sekarang kamu mandi dulu yah." ucap Adnan membelai lembut pipi Hanum, Hanum hanya diam tidak menanggapinya.
"Atau mau aku bantu?" tawar Adnan saat Hanum sama sekali tak menjawab tawarannya.
"Tidak perlu," jawab Hanum yang kemudian turun dari ranjangnya dengan perlahan, ia belum bisa berjalan normal seperti biasanya akibat tubuhnya yang kini terasa sudah remuk tersebut.
Adnan pun membiarkan Hanum menolak tawarannya, tak apa Hanum menolaknya asalkan jangan sampai dia berani melawannya lagi.
"Aku harap selama beberapa hari kedepan bisa membuatmu berubah pikiran." batin Adnan yang kini melihat kearah pintu yang telah tertutup tersebut.
Adnan terus melayani Hanum dengan baik. Pagi, siang, malam ia selalu membawakan makanan ke kamar yang ditempati Hanum dan terus menyuapinya dengan penuh perhatian. Bahkan Hanum sendiri tak tau apakah laki laki itu terus berada disini ataukah dia juga pulang kerumahnya, yang jelas saat saat jam makan siang dengan tepat waktunya Adnan akan datang ke kamarnya.
"Sayang, kamu mau makan apa buat nanti malam?" tanya Adnan setelah selesai menyuapi Hanum makan, wanita itu masih diam seperti sebelum sebelumnya. Sudah tak marah marah lagi seperti kemarin, Hanum hanya menanggapi setiap ucapannya seperlunya saja tanpa ada niatan untuk membuat percakapan.
"Terserah." jawab Hanum dengan tatapan kosongnya kedepan.
Adnan menghela nafas panjang, sebenarnya ia sama sekali tak suka dengan perubahan yang terjadi pada Hanum seperti ini. Namun semuanya jauh lebih baik dari pada jika Hanum memberontak dan melawannya.
"Ya sudah, nanti malam kita makan pasta sama aku bakalan beli telur gulung kesukaan kamu yah." ucap Adnan sembari mengelus pipi Hanum kemudian beranjak berdiri dan mengecup dalam dalam puncuk kepala Hanum.
Tutttt.....tttuuuttt....tttuuuttt.....tiba tiba saja ponsel milik Adnan berdering, Adnan pun lekas merogoh saku celananya dan langsung mengangkat teleponnya langsung dihadapan Hanum.
"Iya, kenapa?" ucap Adnan setelah menjawab panggilan tersebut.
"......."
"Apa?" pekik Adnan yang sepertinya terkejut dengan apa yang dikatakan seseorang diseberang sana.
__ADS_1
"Bagaimana bisa terjadi?" tanya Adnan menggebu gebu.
"....."
"Baiklah." jawab Adnan yang kemudian langsung mengakhiri teleponnya.
Adnan menghela nafasnya sembari memejamkan mata untuk mengontrol emosinya, ia pun kemudian duduk ditepi ranjang disamping Hanum.
"Sayang," panggil Adnan pada Hanum, seperti biasa Hanum hanya akan menoleh sesaat tanpa menyahuti jika tidak perlu.
"Mas musti keperusahaan sebentar, ada masalah." ucap Adnan lagi.
"Kamu jaga diri baik baik ya, cuma sebentar kok nggak lama." ucap Adnan lagi, Hanum pun hanya menganggukkan kepalanya sekali itu pun sangat samar namun cukup untuk membuat Adnan bahagia.
"Kalau gitu Mas pergi dulu yah." ucap Adnan kemudian langsung berdiri dan mengecup puncak kepala Hanum lagi sebelum akhirnya ia keluar dari kamar.
Huuuhhh....Hanum akhirnya bisa bernafas lega, setelah berhari hari akhirnya Adnan dengan terang terangan mengatakan akan pergi walau sebentar yang artinya Hanum bisa memanfaatkan kesempatan emas ini.
"Aku harus cepat pergi." gumam Hanum yang langsung menyibakkan selimut dengan kasar dan turun dari ranjangnya.
Hanum mengendik endik keluar dari kamarnya untuk memastikan jika rumah ini benar benar kosong tanpa pengawal atau pun penjaga seperti sebelumnya.
"Oh ****." umpat Hanum saat melihat ada dua orang berbadan besar yang tengah berjaga didepan pintu. Hanum pun harus memutar otak mencari jalan lain dari masalah ini, ia pun mengendap endap mencari pintu lain dirumah ini. Tak butuh waktu lama karena Hanum yang sudah pernah beberapa hari tinggal dirumah ini untuk menemukan pintu belakang didekat dapur.
"Aman." gumam Hanum yang melihat tidak ada penjaga disekitaran sini, ia pun meengendik endik keluar. Hanya ada tembok tinggi yang menjadi pembatas rumah ini dengan jalan, ia mengedarkan pandangannya untuk mencari tangga.
"Sial." umpat Hanum saat tak melihat ada tangga disekitar sini, lalu bagaimana ia akan melewati tembok itu?
Tak sengaja ia melihat ada drum yang cukup besar dipojok tembok, secercah harapan kembali muncul.
Kebetulan drum tersebut sudah dalam kondisi berbalik, mungkin karena sudah memasuki musing penghujan jadi Vanessa membalikkan drum tersebut agar tidak menampung air.
Meskipun sulit tapi pada akhirnya Hanum bisa menaiki drum tersebut, ia pun lekas naik diatas tembok penghalang tersebut. Masalah baru lagi, bagaimana ia turun dari tembok setinggi itu? haruskah ia melompat yang pasti akan membuatnya mendapat luka lagi.
__ADS_1
"Bodoh, itu sudah tidak penting lagi." ucap Hanum yang langsung menepuk nepuk jidatnya, tanpa pikir panjang lagi Hanum pun langsung melompat dari tembok tersebut.
Auuuuhhh.....ringis Hanum saat merasakan lutut dan telapak tangannya yang terbetur dengan aspal hingga membuatnya berdarah.
Perlahan lahan ia mulai bangkit dan berjalan menuju jalan raya.
"Taksi." gumam Hanum saat melihat ada sebuah taksi yang tengah terparkir ditepi jalan.
"Tunggu, aku harus pergi kemana?" gumam Hanum yang langsung menghentikan langkahnya seketika.
"Maya?" gumam Hanum.
"Iyah, eh tidak...jangan Maya. Adnan akan dengan mudah menemukanku jika aku pergi kesana." ucap Hanum menggeleng gelengkan kepalanya namun terus melangkahkan kakinya kearah taksi tersebut.
"Permisi pak, tolong antarkan saya." ucap Hanum langsung to the poin pada laki laki paruh baya yang tengah menyangga kepalanya dengan tangannya di jendela mobilnya yang terbuka.
"Eh, baik neng silahkan masuk." ucap supir tersebut mempersilahkan.
"Kemana neng?" tanya supir tersebut setelah Hanum masuk kedalam mobil.
Emmm....Hanum sendiri masih pusing dan tak tau kemana ia harus pergi, apakah ia langsung kedesa dan menanyakan semuanya pada Ibu Bapaknya?
.......
Disisi lain Adnan yang sibuk dengan rapat dengan beberapa orang kepercayaannya yang diadakan mendadak ini harus benar benar memutar otaknya untuk mengumpulkan bukti bukti tentang kasus korupsi yang diduga dilakukan oleh manajer keuangan.
Rapat berjalan dengan alot hingga menjelang malam baru selesai, Adnan bergegas untuk pulang kerumah. Diperjalanan ia langsung teringat pada telur gulung yang sudah dijanjikannya untuk Hanum.
"Untung saja aku tidak lupa." ucap Adnan yang merasa lega. Ia pun lekas menepikan mobilnya didepan penjual telur gulung.
"Ah...aku telepon Hanum dulu." ucap Adnan, namun tangannya langsung terhenti ketika...
~Yakinlah jika pilihan yang kau buat akan membawamu ketempat yang lebih baik~
__ADS_1