Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 15


__ADS_3

Kini Hanum dan Zidan telah sampai dikantor tempat Adnan bekerja menggantikan Papanya dalam memimpin perusahaan tersebut


"Selamat siang mbak" sapa Hanum pada seorang resepsionis tersebut


"Siang mbak Hanum" jawab pegawai tersebut dengan ramahnya


"Mas Adnan ada dikantor?" tanya Hanum


"Ada mbak, kebetulan hari ini tidak ada rapat" jawab pegawai tersebut


"Mbak bisa menemui Pak Adnan diruangannya" lanjutnya lagi, Hanum tidak ingin dipanggil dengan sebutan Ibu. Dulu saat awal awal menikah Adnan beberapa kali mengajaknya kekantor sekedar untuk memperkenalkan dirinya kepada semua karyawan karyawannya


"Ayo Mbak, cepetan" Zidan sudah tak sabar rupanya ingin segera bertemu dengan kakaknya, entah apa yang akan dilakukannya nanti


"Iya iya, bentar dong" kesal Hanum dengan sikap tak sabaran Zidan


"Kalau gitu saya kesana dulu ya mbak" ucap Hanum ramah pada pegawai resepsionis tersebut


"Terima kasih" sambungnya lagi dengan cepat, buru buru ia menyusul Zidan yang telah berjalan mendahuluinya


Kini Zidan dan Hanum telah sampai didepan ruangan yang bertuliskan presdir, Zidan pun dengan tak sabarannya langsung masuk begitu saja kedalam tanpa ada niatan terlebih dahulu sekedar untuk mengetuk pintu


Ceklekkk....mau tak mau Hanum pun juga langsung masuk mengikuti langkah kaki Zidan


"Kamu itu ngg...." Adnan yang ingin memarahi seorang yang tak sopan karena lancang telah memasuki ruangannya begitu saja pun akhirnya tercengang ketika melihat siapa orang yang datang tersebut


"Wuisshhhh, sans bro" ucap Zidan dengan wajah tenangnya seakan akan apa yang dilakukannya barusan bukanlah suatu kesalahan, sedangkan Hanum sendiri masih berjalan dibelakang Zidan


"Hanum?" kaget Adnan saat melihat sosok istrinya muncul dibalik punggung adiknya, sontak Adnan pun langsung berdiri dari posisi duduknya tadi


"Eh...maaf mas, aku cuma ikut ikutan Zidan aja" kata Hanum yang merasa tak enak hati karena ia mengikuti jejak Zidan yang langsung masuk keruangan boss besar begitu saja


"Kamu ngapain disini num?" tanya Adnan sembari melangkahkan kakinya menuju Hanum


"Kok barengan sama Zidan?" tanyanya lagi dan merasa heran tentunya


"Mau nganterin makan siang bro" sahut Zidan yang langsung berjalan membelah jalanan yang akan dilalui Adnan, Zidan pun langsung duduk disofa

__ADS_1


"Kamu nganterin makanan?" tanya Adnan pada Hanum memastikan ucapan adiknya barusan


"Iya mas, ini makanan buat makan siang mas" jawab Hanum sembari mengecup singkat pipi suaminya tersebut kemudian meletakkan apa yang dibawanya diatas meja didepan Zidan


"Kok kamu cape cape gini sih? Mas kan bisa makan dikantin atau dimana aja" ucap Adnan yang sebenarnya tak ingin Hanum terbebani dengan tugas semacam ini, padahal dalam hatinya ia sangat senang dengan hal ini


"Oh jadi mas nggak mau, yaudah mbak ayo kita balik aja" ucap Zidan cepat dan mengambil makanan yang baru saja diletakkan oleh Hanum


"Eh..eh...eh.., jangan" cegah Adnan cepat, kurang ajar adiknya ini padahal ia tadi kan hanya berbasa basi saja


"Sembarangan kamu ini" semprot Adnan pada adiknya, sontak tanganya pun langsung merebut dengan kasar makanan yang sudah dipegang oleh Zidan


"Tadi katanya nggak usah?" tanya Zidan menaik turun kan alisnya


"Udah udah kalian ini" mau tak mau Hanum pun harus melerai keduanya, ia tak ingin jika pertengkaran ini nantinya akan berlanjut pada babak kedua


"Mas buruan deh makan" ucap Hanum yang langsung menarik lengan suaminya dan mengiringnya untuk lekas duduk disebelahnya


"Makasih ya kamu udah mau kesini repot repot cuma buat bawain makan siang" kata Adnan pada istrinya


"Aku nggaknl repot kok mas" sanggah Hanum cepat


"Mas kan nggak minta kamu buat kesini setiap jam makan siang" tolak Adnan


"Yaudah mas mau makan, buruan gih ambilin" ucap Adnan cepat, ia ingin mengalihkan topik agar Hanum tidak merasa bersalah


"Yaudah, bentar aku ambilin dulu" benar saja Hanum pun langsung bergegas mengambilkan Adnan nasi berserta lauk pauk ketika mulutnya baru tertutup setelah memerintahkannya


"Wuihhh, enak banget nih ya. Mau makan aja musti diambilin dulu" sahut Zidan yang merasa jengah melihat kelakuan sepasang suami istri didepannya tersebut, pasalnya keduanya hanya berbicara sendiri tanpa melibatkannya seakan akan kehadirannya disini tak terlihat lagi


"Eh...dari tadi jomblo nyimak ya.." ledek Adnan dengan senyum penuh kemenangannya melihat reaksi Zidan yang berubah menjadi datar seketika


"Nih mas" ucap Hanum memberikan sepiring nasi pada suaminya tersebut


"Suapin" rengek Adnan dengan suara manjanya, ia tak memperdulikan kehadiran adiknya ataupun ia juga tak merasa malu jika adiknya melihat kelakuannya saat ini


Zidan pun langsung memutar bola matanya malas, ia pun langsung merogoh ponselnya dari saku celananya dan menghidupkan beda pipih tersebut. Malas rasanya jika matanya harus menyaksikan secara langsung adegan yang terlalu lebay didepannya ini

__ADS_1


"Buka mulutnya, aaaa" Hanum memberi aba aba pada suaminya untuk membuka mulut


"Aaaa" sesuai aba aba, Adnan pun langsung membuka mulutnya


Nyamm....suapan pertama telah berhasil mendarat dengan mulus didalam mulut Adnan


"Hmmm....enak num, aku mau kuahnya agak dibanyakin" pinta Adnan, entah mengapa lidahnya merasakan cita rasa masakan yang enak didalam sayur asem buatan Hanum tersebut


............


"Mbak, ayo aku anterin pulang" tawar Zidan pada kakak iparnya tersebut


"Eh...nggak usah, kakak bisa pulang sendiri kok" tolak Hanum, ia merasa tak enak hati jika harus merepotkan adik iparnya tersebut


"Lagian rumah kamu kan beda arah kalau dari sini" lanjut Hanum


"Mmm....mbak beneran nggak papa nih pulang sendiri?" tanya Zidan memastikan


"Ya nggak papa lah, mbak kan bisa naik taksi" jawab Hanum dengan senyum indahnya


"Yaudah kalau gitu aku pergi dulu ya mbak, mau bobok siang" ucap Zidan pada kakak iparnya


"Iya, kamu pulangnya hati hati ya" ucap Hanum memperingatkan


"Oke" jawab Zidan sembari berjalan menuju tempat mobilnya diparkir


.........


Sesuai rencana, Hanum pun kembali kerumah dengan menggunakan taksi. Saat diperjalan pulang, tiba tiba Hanum melihat ada penjual telur gulung dipinggir jalan. Sontak jiwanya pun meronta ronta ingin segera dibelikan


"Pak, berhenti dulu ya sebentar. Saya mau beli telur gulung dulu" ucap Hanum pada supir taksi tersebut


"Baik mbak" jawab sang supir taksi


Taksi pun berhenti didepan penjual telur gulung sesuai permintaan Hanum, Hanum pun langsung turun dari mobil dan menghampiri pedagang penjual telur gulung tersebut


"Pak telur gulungnya 20 ribu ya" pesan Hanum pada penjual telur gulung tersebut

__ADS_1


"Iya mbak, silahkan ditunggu dulu ya" jawab penjual tersebut, tangannya terus bergerak aktif ketika membuat makanan enak tersebut


Hanum pun langsung duduk dikursi yang telah disediakan penjual telur gulung tersebut sembari menikmati pemandangan kendaraan yang ber lalu lalang didepannya tersebut sampai pada saat kedua matanya melihat seseorang


__ADS_2