Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 71


__ADS_3

Kini dua keluarga tak terkecuali Vanessa tengah berkumpul diruang tamu tanpa ada suasana kehangatan seperti biasanya.


"Kenapa nggak ngasih kabar dulu kalau mau datang mam?" Pak Basuki tampak berbasa basi dengan teman lamanya tersebut.


"Maaf bas, kami mendadak kesini tanpa persiapan terlebih dahulu." jawab Pak Imam yang masih mencoba bersikap ramah pada teman lamanya tersebut.


"Hanum, dimana Adnan?" tanya Pak Basuki yang sontak membuat Pak Imam dan Bu Lastri langsung menatapnya dengan heran.


"Kamu ke kampung sama Adnan kan?" tanya Pak Imam sekaligus menebak. Tentu saja Pak Basuki bisa berasumsi demikian karena setelah pertengkaran yang terjadi antara Hanum dan Adnan kemarin Adnan sama sekali tak pernah pulang kerumah ini padahal satu istrinya masih tertinggal disini, itu berarti Adnan dan Hanum dapat menyelesaikan masalahnya dan tak ingin diganggu terlebih dahulu oleh orang lain termasuk Vanessa...pikir Pak Basuki.


"Sialan kamu Mas! jadi ini urusan yang kamu maksud?" batin Vanessa yang merasa telah dibodohi oleh suaminya tersebut.


"Ma..maaf pa, aku kemarin nggak sama Mas Adnan." jawab Hanum terbata bata, bagaimana pun juga Papa mertuanya tersebut adalah orang yang selalu bersikap baik kepadanya. Jadi Hanum akan berusaha sekuat tenaga untuk terus bersikap sopan pada beliau.


"Nggak sama Adnan?" tampak Pak Basuki yang terkejut mendengar jawaban dari Hanum.


"Biar aku telepon Mas Adnan pa." sahut Zidan yang tau persisi jika Kakak iparnya tersebut lah yang kabur dari sang Kakak.


"Iya, cepat kamu hubungi Kakak kamu suruh dia pulang. Bilang kalau ada urusan penting." jawab Pak Basuki cepat, Zidan pun menganggukkan kepalanya mengerti.


Tuuuttt.....tttuuuttt.....ttuuttt...panggilan pertama yang dilakukan Zidan tak kunjung mendapat sahutan dari sang Kakak, tak ingin menyerah Zidan pun terus berusaha menghubungi Kakaknya kembali.


Sampai pada akhirnya Kakaknya menjawab panggilannya.


"Halo, ada apa?" tanya Adnan dari seberang sana, pasalnya kini Adnan tengah dalam perjalanannya menuju kampung halaman Hanum.


"Mas, cepat ke sini." kata Zidan terdengar tegas.


"Nggak bisa, Mas sibuk." tolak Adnan cepat bahkan tanpa ingin bertanya ada kepentingan apa hingga adiknya memintanya untuk pulang.


"Mas, Mbak Hanum ada disini." kata Zidan yang langsung membuat Adnan terkejut.


Ciiiiittt Adnan secara refleks langsung menginjak pedal remnya tanpa ada aba aba terlebih dahulu, untuk saja nasib baik masih perpihak padanya karena tak ada mobil dibelakangnya.


"Apa kamu bilang?" pekik Adnan yang kembali ingin memastikan jika pendengarannya tak bermasalah.


"Iya Mas, Mbah Hanum ada disini. Jadi cepet ke sini." perintah Zidan, tanpa perlu menjawab lagi Adnan pun langsung memastikan sambungan teleponnya dan bergegas putar balik.

__ADS_1


"Gimana dan?" tanya Pak Basuki pada Putra keduanya tersebut.


"Dalam perjalanan kesini pa." jawab Zidan.


"Emm kenapa suasananya jadi seperti ini." gumam Pak Basuki yang merasakan keanehan.


............


Setelah beberapa puluh menit kemudian, akhirnya kini Adnan sampai juga didepan rumah orang tuanya. Usai memarkirkan mobilnya dengan asal, Adnan pun langsung bergegas berlari masuk kedalam rumah.


"Hanumm" teriak Adnan sembari berlari memasuki rumah membuat semua orang langsung menoleh kearah pintu.


"Hanumm." sesuai dugaan, Adnan muncul dengan nafas yang tampak memburu.


Adnan pun langsung berlari kearah Hanum dan langsung jongkok didepan Istrinya tersebut.


"Kamu kemana aja num?" tanya Adnan dengan wajah paniknya sembari menggenggam kedua tangan Hanum, Hanum tampak membuang wajahnya kearah lain.


"Aku khawatir banget sama kamu sayang." ucap Adnan lagi, namun Hanum sama sekali tak ada niatan untuk menjawabnya. Ia terus memandang ke arah Bapaknya seakan akan meminta bantuannya.


"Emmm, nan." panggil Pak Imam pada calon mantan menantunya tersebut. Merasa dipanggil, Adnan pun langsung menoleh kearah mertuanya tersebut.


"Jadi ada apa pak?" tanya Adnan yang sudah sangat penasaran.


Tampak Pak Imam yang menghela nafas berat seakan akan mencoba mengeluarkan beban yang tengah dipikulnya.


"Jadi saya sekeluarga kesini atas permintaan putri kami." kata Pak Imam mulai membuka suara.


"Permintaan apa Pak?" tanya Adnan menyela pembicaraan Pak Imam.


"Sayang, ada apa? kok kamu nggak bilang dulu sama aku?" tanya Adnan yang langsung mengalihkan pandangannya kepada Istrinya tersebut. Tampak Hanum hanya diam tak menanggapi membuat Adnan semakin bingung dibuatnya.


"Jadi begini nan, dengarkan Bapak dulu." sahut Pak Imam yang kedepannya tak ingin pembicaraannya dicela lagi.


"Jadi Hanum meminta cerai dari kamu." kata Pak Imam langsung pada intinya membuat semua orang langsung terkejut karena tak menyangka jika ini benar benar terjadi disaat semua beranggapan jika keduanya telah baik baik saja.


"Apa?"

__ADS_1


"Apa?"


"Apa?" pekik semua orang yang terkejut hampir bersamaan.


"Pak, apa maksud Bapak? ini pasti ada kesalahan pak." bantah Adnan cepat.


"Iya mam, kenapa ini? kenapa mendadak seperti ini?" Pak Basuki pada akhirnya kini kembali angkat bicara mencoba menanyakan situasi yang tengah terjadi saat ini, pantas saja ia merasakan situasi yang tak bersahabat tadi.


"Saya hanya menyampaikan apa yang diinginkan anak saya, jika ingin penjelasannya sebaiknya kita minta Hanum yang angkat bicara." jawab Pak Imam menyerahkan pada putrinya untuk bersuara.


"Sa...sayang, kamu bercanda kan?" tanya Adnan yang masih sangat tak percaya.


"Aku serius Mas." jawab Hanum tegas.


"Aku ingin bercerai secepatnya." imbuhnya lagi, ucapan Hanum bagai bom yang sukses meledakkan hati Adnan seketika.


"Nggak nggak, kamu bohong kan num?" tanya Adnan sembari berjalan mendekat kearah Hanum. Melihat Adnan yang dalam perjalanan kearahnya, Hanum pun langsung berdiri dari posisi duduknya.


"Aku serius Mas, harus berapa kali aku bilang kalau aku serius." teriak Hanum yang sebenarnya sangat lelah sekaligus sakit jika berulang kali harus mengatakan kata kata cerai, kata kata yang sama sekali tak pernah ia harapkan sebelumnya.


"Kamu bohong." betak Adnan yang langsung mengguncang guncangkan tubuh Hanum.


"Adnan!." bentak Pak Imam yang langsung berdiri dan melepaskan tangan Adnan dari kedua bahu putrinya tersebut.


"Hanum kamu bohongkan!" teriak Adnan.


"Kamu nggak bisa cerai dari aku." teriaknya lagi.


"Adnan sadar!" bentak Pak Basuki yang ikut angkat bicara dan langsung berdiri dari posisi duduknya.


"Pa, ini semua omong kosong. Aku nggak mau cerai Pa."


"Aku nggak mau cerai!" bentak Adnan, kini tatapan matanya kembali beralih pada Hanum dan secepat kilat ia kembali memegang bahu Hanum.


"Bilang sama semua orang kalau yang kamu ucapin nggak serius kan sayang?" ucap Adnan penuh kelembutan walaupun didalam hatinya bergejolak ingin marah. Hanum yang tadinya menundukkan kepalanya kini berlahan lahan mendongak.


~Kadang kadang langit bisa kelihatan seperti lembar kosong, padahal sebenarnya tidak. Bintang kamu tetap berada disana, bumi hanya sedang berputar~

__ADS_1


^Dee Lestari^


__ADS_2