Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 123


__ADS_3

Tap...tap...tap


Ceklek....


"Kamu udah pulang?" tanya Vincent yang langsung beranjak dari tempat duduknya menyambut wanita yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.


"Ya udah kalau gitu Ibu sama bapak ke belakang dulu ya, kalian bisa lanjutkan ngobrolnya." ucap Bu Lastri.


"Ayo pak." ajak bu Lastri pada Pak Imam, Pak Imam pun mengangguk sebelum berdiri menuruti ajakan istrinya.


"Kalau gitu aku ke kamar dulu ya, udah gerah." kata Vanessa yang kemudian langsung berlalu pergi begitu saja tanpa mendengar jawaban dari Hanum.


"Kamu udah lama disini?" tanya Hanum yang langsung duduk diseberang Vincent, laki laki yang telah berpengaruh besar dalam penyembuhannya.


Ya... laki laki inilah yang menjadi perawat rehabilitasi Hanum, berkat kesabaran dan ketelatenannya kini Hanum bisa sembuh total. Bahkan kondisi mentalnya kini jauh lebih baik dari pada sebelumnya.


"Yah udah lumayan lama sih." jawab Vincent jujur.


"Kenapa nggak bilang kalau mau kesini?" tanya Hanum heran.


"Mau ngasi kejutan aja." jawab Vincent dengan entengnya.


"Kejutan apaan woi." balas Hanum yang langsung melemparkan bantal sofa ke arah Vincent, namun pria itu berhasil menangkap dengan mudahnya.


"Hahahaha." tawa keduanya langsung pecah secara bersamaan.


Tiba tiba saja Hanum langsung teringat dengan pembicaraannya dengan Vanessa tadi.


"Em Vin, ada yang mau aku omongin sama kamu." ucap Hanum ragu ragu.


"Apa?" tanya Vincent yang tampak penasaran.


"Emmm...aku sama Vanessa berencana mau pulang ke Indonesia." jawab Hanum.


"Terus?" tanya Vincent.


"It itu berati aku nggak akan balik kesini lagi." jawab Hanum menundukkan kepalanya, Vincent pun langsung bangun dan berpindah posisi menjadi duduk disamping Hanum.


"Kenapa ragu ragu? dimana pun itu asalkan bisa buat kamu bahagia aku nggak papa kok." jawab Vincent sembari berlahan mengangkat dagu Hanum.


"Ka...kamu?" tanya Hanum ragu ragu.


"Aku akan ikut bersama kalian." jawab Vincent mantap.


"Kamu yakin?" tanya Hanum terkejut dibuatnya.


"Aku hanya hidup sendiri disini dan semenjak kedatangan kalian aku merasa punya keluarga baru, jadi nggak ada alasan bagiku untuk tidak ikut bersama kalian." jawab Vincent, Hanum menatap Vincent dengan tatapan penuh haru.


"Terima kasih, terima kasih banyak karena berkat kamu aku bisa sembuh bisa menjalani hidupku jauh lebih baik lagi sekarang." kata Hanum dengan mata yang sudah berkaca kaca.


"Sssstttt." Vincent pun langsung membawa Hanum kedalam pelukannya, menenangkan wanita itu dengan mengusap usap rambut sebahunya.


Pak Imam, Bu Lastri dan Vanessa yang memang sengaja mengintip keduanya tampak tersenyum serta sangat bersyukur. Mereka tak menyangka jika Hanum akan kembali pulih seperti sekarang, pasalnya ternyata ditubuh Hanum banyak mengandung obat yang membuatnya semakin melemah sebelum dibawa ke Finlandia. Beruntung Vincent memberikan pengobatan yang terbaik serta menjaga dan membimbing Hanum hingga sembuh total.

__ADS_1


Beberapa minggu kemudian.......


Indonesia.......


Pak Tyo sedang berada di butiknya, usai rapat tadi ia langsung masuk keruangannya mengerjakan beberapa berkas yang masih tersisa diatas mejanya.


Tttuuuttt.....tttuuuttt....tttuuutttt......


Tiba tiba saja ponselnya berdering, Pak Tyo pun lekas meraih ponselnya dan terlihatlah nama putri tercintanya.


"Halo sayang." sapa Pak Tyo dengan senyum yang langsung merekah dibibirnya.


"Papa, Papa lagi sibuk nggak?" tanya Retha dari seberang sana.


"Nggak kok, cuma tinggal dikit lagi sayang. Emangnya kenapa?" tanya Pak Tyo yang tampak penasaran.


"Aku lagi makan sama Mama pa, Papa kesini ya kita makan bareng." jawab Retha dengan suara yang tampak bersemangat.


"Emmm lain kali aja ya sayang, Papa masih ada yang harus dikerjain nih." elak Pak Tyo.


"Tadi katanya tinggal dikit lagi, Papa gimana sih kok malah boong." kesal Retha.


Hehhhh.....Pak Tyo menghela nafas panjang, rupanya ia salah mengambil langkah.


"Pokoknya Papa harus kesini, aku tungguin." kekeh Retha.


"Retha, kalau Papanya nggak bisa nggak usah dipaksain. Kan kita bisa makan berdua." terdengar suara sahutan dari Rini.


"Nggak bisa ma, tadi Papa bilangnya nggak sibuk kok jadi masih bisa nyusul kita dong." jawab Retha yang masih kekeh dengan pendiriannya.


"Yeayyyy aku tunggu yah pa, Bye Ummuach." balas Retha yang kemudian langsung memutuskan panggilannya secara sepihak membuat Pak Tyo hanya geleng geleng kepala.


15 menit kemudian Pak Tyo sudah selesai dengan tugasnya, ia pun bergegas berangkat menyusul Retha dengan alamat yang telah dikirimkan.


20 menit kemudian ia telah sampai di cafe dimana di meja ujung dekat jendela Retha dan Rini tengah berbincang ria, entah apa yang tengah dibicarakan kedua kaum hawa tersebut.


"Ehmm." Pak Tyo berdehem untuk mengisyaratkan bahwa dirinya telah sampai, tentu saja Retha dan Rini langsung menoleh kearah dirinya.


"Papaaa....akhirnya sampai juga, duduk sini pa." Retha terlihat sangat antusias dan langsung menyuruh Papanya untuk duduk disebelahnya, Pak Tyo pun langsung duduk disebelah Retha.


"Papa, papa buruan pesen." kata Retha, Pak Tyo pun mengangguk dan memesan Rose spaghetti dan lemon tea kesukaannya.


"Gimana kerjaan kamu yo?" tanya Rini berbasa basi.


"Baik, semuanya baik." jawab Pak Tyo mengangguk anggukkan kepalanya.


"Pa, kapan kita bertiga liburan bareng?" tanya Retha yang langsung membuat Rini dan Tyo tercengang dan saling menatap.


"Aku juga pengen punya cerita liburan bareng kayak temen temen pa, jadi kapan?" tanya Retha lagi.


"E....eeee." pak Tyo tampak ragu ragu menjawab.


"Permisi, makanannya sudah siap." tiba tiba saja seorang pelayan datang dan langsung menyajikan menu yang dipesan Tyo.

__ADS_1


"Ah iya, terima kasih." balas Pak Tyo ramah, untung saja pelayan datang sehingga percakapannya langsung bisa teralihkan.


Ketiganya pun mulai menyantap makanan yang dipesannya kembali.


Tring....tiba tiba saja ada sebuah pesan masuk di ponsel Pak Tyo, Pak Tyo pun lekas membuka dan membacanya seketika raut wajah Pak Tyo langsung berubah dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


Srekkkk....tiba tiba saja Pak Tyo langsung berdiri.


"Rin kamu jaga Retha sebentar ya." kata Pak Tyo yang kemudian langsung berlalu pergi begitu saja meninggalkan Rini dan Retha.


Rini dan Retha hanya menatap punggung Pak Tyo dengan perasaan heran.


"Papa mau kemana?" tanya Retha yang hanya dijawabi dengan gelengan kepala oleh Rini.


..........


Hah...hah....hah...


Kini sampailah Pak Tyo disebuah taman.


Terlihatlah sosok wanita yang tengah duduk dikursi kayu menatap danau buatan didepannya.


"Hanum." teriak Pak Tyo, benar saja wanita yang duduk dan tak lain adalah Hanum tersebut pun langsung berdiri begitu mendengar ada yang memanggil namanya.


"Ha..Hanum." Pak Tyo tampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini.


Seketika waktu terasa berhenti bergerak, Pak Tyo menatap tak percaya wanita yang sudah 2 tahun tidak ditemuinya kini tengah berdiri tegak didepan matanya.


"Hanummm." Pak Tyo pun langsung berlari dan memeluk Hanum.


Bukkk...


"Hanum, kamu kemana aja num?" tanya Pak Tyo yang masih memeluk Hanum.


"Kamu baik baik aja kan?" tanya Pak Tyo yang langsung melepaskan pelukannya dan memindai tubuh Hanum dari atas hingga bawah untuk memastikan jika kondisi Hanum benar benar baik baik saja.


"Aku baik baik saja, aku benar benar berterima kasih atas semua yang telah kau lakukan untukku." jawab Hanum dengan senyum indah yang melengkung dari bibirnya.


"Tak apa yang terpenting sekarang kamu baik baik aja." jawab Pak Tyo yang tak mau ambil pusing.


"Ini untukmu." ucap Hanum sembari menyodorkan sebuah undangan, tentu saja mata Pak Tyo pun langsung beralih ke benda pipih tersebut.


Disana tertulis dengan sangat jelas ada nama Hanum didalamnya dengan entah nama siapa itu, kepala Pak Tyo rasanya sangat kaku hingga susah untuk mendongak menatap Hanum. Namun meski begitu ia tetap mamaksakannya hingga matanya berhasil menatap mata Hanum.


"I...ini?" tanya Pak Tyo yang rasanya tenggorokannya tercekat hingga tak bisa melanjutkan pertanyaannya.


"Ini undangan pernikahku." jawab Hanum dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


*The End*


~Jika mengubah tragedi menjadi komedi, maka hatimu akan merasa lebih baik~


^Na Hee Do^

__ADS_1


#Twenty Five Twenty One#


Nt: Terima kasih atas dukungannya selama ini☺🙏


__ADS_2