
"Anda kami tangkap atas tuduhan penyalahgunaan narkoba." ucap seorang polisi yang berdiri paling depan tersebut dengan lantangnya, sontak saja hal tersebut membuat semua orang yang ada diruangan tersebut terkejut mendengarnya.
Dengan langkah cepat polisi tersebut langsung membekuk Adnan hingga tak bisa berkutik sama sekali.
"Pak Pak tunggu, ini pasti hanya salah paham Pak. Mas Adnan nggak mungkin mengkonsumsi barang harap tersebut." potong Hanum yang menghalangi langkah kaki polisi yang tengah membekuk mantan suaminya tersebut.
"Ini hanya salah paham kan Mas? Mas Adnan nggak mungkin kan ngelakuin ini?" tanya Hanum menatap Adnan lekat lekat, bukannya menjawab Adnan malah membuang pandangannya kearah lain. Tak kuasa rasanya jika harus memandang mata wanita yang masih bertahkta namanya didalam hatinya tersebut, apa lagi jika ia harus mengatakan kebohongan.
Melihat reaksi Adnan yang tampak mengalihkan pandangan darinya membuat tangan Hanum yang tadinya memegang lengan Adnan berlahan lahan mulai melemah, ia tahu betul arti dari reaksi yang diberikan mantan suaminya tersebut yang membuatnya hanya bisa tersenyum kecut.
"Maaf, Kami harus membawa Pak Adnan sekarang juga." ucap salah seorang polisi tersebut yang langsung pergi membawa Adnan, untuk sesaat Hanum hanya bisa terdiam mencoba mencerna baik baik apa yang barusan terjadi.
"Aku harus ikut." gumam Hanum yang kemudian langsung berbalik arah hendak menyusul mantan suaminya tersebut, namun secepat itu pula Anton langsung meraih tangan Hanum dan sontak saja langsung membuat Hanum membalikkan tubuhnya kembali.
"Kamu mau kemana?" tanya Anton yang sudah sangat dekat posisinya dengan Hanum.
"A...aku harus ikut Mas Adnan. Aku yakin ini hanyalah kesalah pahaman, Mas Adnan nggak akan mungkin ngelakuin itu." jawab Hanum sembari berusaha melepaskan cengkeraman tangan Anton dari tangannya.
"Untuk apa? untuk apa kamu masih perduli sama laki laki brengsek itu!" murka Anton yang membuat Hanum langsung bungkam seketika dengan tatapan mata yang tertuju pada calon suaminya tersebut.
Hanum tersenyum kecut memandang laki laki dihadapannya tersebut.
"Mendengar kamu mengatakan hal tersebut membuatku sadar, sadar jika ternyata kamu adalah laki laki yang juauh lebih buruk dari pada Mas Adnan." ucap Hanum dengan penuh penekanan.
"A...apa maksud kamu?" tanya Anton dengan wajah terkejutnya.
"Kamu tidak jauh lebih baik dari seorang laki laki pengecut."
"Aku baru tahu jika ada laki laki seberengsek kamu yang hidup didunia ini," sinis Hanum.
"Untuk itu aku harus berterima kasih kepada Mas Adnan karena telah menunjukkan kebusukanmu selama ini." ucap Hanum sembari mengangguk anggukkan kepalanya membuat Anton kembali terkejut karena tak menyangka jika Hanum bisa berkata kasar seperti itu kepadanya.
__ADS_1
Merasa tak ada hal lagi yang perlu dibicarakannya membuat Hanum langsung berbalik hendak menyusul Adnan, namun untuk yang kedua kalinya pula Anton kembali menahan tangannya.
"Sebagai calon suami kamu saya dengan tegas melarang kamu untuk berhubungan kembali dengan mantan suami kamu." ucap Anton dengan tegasnya, bahkan rahanyanya kini telah mengeras seakan akan ia tengah menahan gejolak emosi.
"Auhhh." tiba tiba terdengar suara ringisan dari arah lain yang tak lain adalah suara Vanessa, sontak Hanum dan Anton langsung menoleh kearah sumber suara. Betapa terkejutnya Hanum dan Anton ketika melihat ada darah yang mengalir diantara kaki Vanessa.
"Vanessa." terkejut Hanum dan Anton secara bersamaan, Hanum pun langsung berbelik arah hendak keluar menyusul Adnan. Bukan karena tidak respect dengan kondisi Vanessa, tapi Hanum berfikir jika disini sudah ada Anton yang lebih berhak dan bisa mengurusi Vanessa.
"Kamu mau kemana lagi!" sentak Anton yang kembali meraih tangan Hanum.
"Aku sudah bilang jangan pergi menemui laki laki sialan itu!" sentaknya lagi.
Entah mengapa keduanya malah sibuk kembali melanjutkan drama percintaan keduanya dan langsung melupakan kondisi Vanessa yang masih metintih kesakitan tersebut.
"Sialan, bahkan dalam kondisiku yang seperti ini sekalipun mereka sama sekali tak memperdulikan aku." batin Vanessa sembari meringis menahan rasa sakitnya.
"Apa kamu buta dan gila? kamu tidak bisa melihat ibu dari anakmu tengah kesakitan!" balas Hanum dengan menyentak Anton.
"Aku tidak perduli." balas Anton dengan wajah dinginnya.
Entah apa yang terjadi didalam sana, apakah Anton akan membawa Vanessa kerumah sakit ataukah akan membiarkannya Hanum sama sekali tak ingin perduli. Baginya Anton adalah laki laki dewasa dan laki laki dewasa tentunya akan mengambil keputusan yang terbaik, apa lagi ini demi nyawa darah dagingnya sendiri.
Hanum terus berlari dengan air mata yang telah jatuh membasahi pipinya, lagi dan lagi mengapa dunia harus berbuat kejam padanya. Apakah hatinya memang pantas untuk dipatahkan? mengapa bisa tuhan kembali mengirim manusia untuk mematahkan hatinya kembali?
Tap....tap...tappp...
Kini Hanum telah sampai diluar hotel, ia bingung menoleh kesana kemari. Untung saja ia melihat mobil Adnan yang terparkir disana, tanpa menunggu lama Hanum pun langsung berlari kearah sana.
"Sial." gumam Hanum saat membuka pintu mobil tersebut namun terkuci.
Hanum pun langsung berlari kearah luar menuju jalan raya, berharap ada taksi yang melintas.
__ADS_1
"Mana lagi taksinya." gumam Hanum dengan wajah cemasnya, kemudian ia baru berfikir jika ia harus menghubungi keluarga mantan suaminya tersebut.
Hanum pun langsung merohoh ponsel didalam tas yang dibawanya.
"Zidan, aku harus menghubungi Zidan." gumam Hanum sembari mencari cari nomor Zidan yang tersimpan didalam ponselnya.
Tttuuutt....tttuuuttt....tttuuuttt sekali hingga dua kali panggilannya tak terjawab, sampai pada akhirnya pada panggilan ketika Zidan menjawab panggilannya.
"Assalamu'alaikum, Zidan Hallo." salam Hanum begitu Zidan mengangkat panggilanny.
"Waalaikumsalam, Mbak Hanum? kenapa Mbak? Kenap suara Mbak Hanum panik kayak gitu?" cemas Zidan dari sebernag sana mendengar suara Hanum yang tampak khawatir.
"Zidan Mas Adnan dibawa ke kantor polisi dan." kata Hanum dengan paniknya.
"Apa??" terkejut Zidan dari seberang sana.
"Mbak, Mbak Hanum nggak lagi bercanda kan?" tanya Zidan kemudian dengan wajah piasnya walaupun tidak dapat dilihat oleh Hanum.
"Mbak nggak bohong dan, sekarang kamu segera pergi ke kantor polisi. Nanti Mbak nyusul, Mbak masih nyari taksi ini." jawab Hanum sembari celingak celinguk kesana kemari mencari taksi.
"Oke oke, kalau gitu aku ke kantor polisi sekarang. Makasih Mbak udah ngabarin aku." jawab Zidan dari seberang sana.
"Oke oke." balas Hanum yang kemudian langsung menutup panggilan teleponnya.
"Auhh." ringis Hanum saat tiba tiba saja ada seseorang yang menabraknya hingga membuatnya terjatuh.
"Maaf Mbak, maaf saya nggak sengaja." ucap seorang wanita paruh baya yang tampak panik dan langsung membantu Hanum berdiri.
"Iya buk nggak papa." jawab Hanum.
Kemudian Hanum melihat ada taksi yang melintas dan ia langaung menghentikan taksi tersebut.
__ADS_1
~Kamu boleh menangis dan berteriak, tapi tidak untuk menyerah~
^Jeon Jungkook^