
Rini dibuat melongo dengan pemandangan didepannya tersebut, bukan diturunkan dirumah mantan suaminya seperti dugaannya melainkan disebuah hotel.
"Ke...kenapa malah kesini?" tanya Rini yang langsung mengalihkan pandangannya pada Mantan suaminya tersebut, bahkan mulutnya masih menganga karena belum mengerti maksud dari mantan suaminya tersebut.
"Emang kamu mau kemana?" balik tanya Tyo.
"Kenapa nggak bawa aku kerumah kamu aja yo?" tanya Rini dengan nada yang sedikit lebih tinggi.
"Kita sudah tidak memiliki hubungan apa apa lagi rin, jadi udah nggak sewajarnya kalau kita tinggal satu atap." jawab Pak Tyo sembari melihat jam yang melingkar pergelangan tangannya.
"Aku emang udah nggak punya hubungan apa apa sama kamu yo, tapi kamu juga harus ingat jika aku itu Mamanya Retha. Jadi nggak apa apa dong kalau aku serumah sama Retha, ingat demi Retha yo bukan demi aku ataupun kamu." bantah Rini yang masih kekeh dengan pendapatnya.
Demi? ah..kata kata sialan apa ini? lebih parahnya lagi dia mengatakan demi Retha, sejak kapan wanita itu perduli dengan putrinya? jika bukan karena dia tengah bertengkar dengan laki lakinya pasti dia juga tidak akan menghubunginya dan memohon mohon atas nama Retha dan sialnya lagi Pak Tyo selalu lemah jika berurusan dengan buah hatinya tersebut.
"Retha bakalan kaget rin kalau tiba tiba kamu dateng, ingat selama ini kamu sama sekali tak perduli sama Retha. Bagaimana bisa kamu tiba tiba datang dan tinggal sama Retha?" pekik Pak Tyo yang sama sekali tak habis pikir dengan pikiran ngelantur mantan istrinya tersebut.
"Tap...tapi yo." bantah Rini.
"Udah cukup!" bentak Pak Tyo.
"Terserah mau kamu masuk kedalam atau mau tidur dimanapun terserah kamu, aku udah nggak perduli lagi sama hidup kamu." ucap Pak Tyo yang langsung melemparkan kartu akses kearah Rini.
Tentu saja Rini pun hanya bisa ternganga karena terkejut dengan bentakan mantan suaminya barusan, sementara Pak Tyo sendiri langsung masuk kedalam mobilnya meninggalkan Rini tanpa sepatah katapun yang terucap dari bibirnya.
"Ahh sial!" desis Rini menatap kepergian mantan suaminya yang semakin kian menjauh tersebut, Rini pun kemudian langsung mengambil kartu akses yang terjatuh karena tadi belum sempat ia tangkap tersebut.
...........
Vanessa akhirnya berhasil membuka lemari pakaian Hanum, mencari cari sesuatu didalamnya dengan harapan ia dapat menemukan sesuatu didalamnya.
"Sial, kenapa nggak ada apa apa." gumam Vanessa yang kemudian langsung menutup kembali lemari yang sudah ia geledah tersebut.
Indra penglihatan Vanessa pun terus berkeliling menyapu keseluruh sudut ruangan, hingga tak sengaja ia menatap sebuah kalung yang terjatuh dibawah meja kecil yang berisi peralatan make up Hanum tersebut.
"Ini punya siapa? sepertinya nggak asing." gumam Vanessa menatap kalung tersebut.
"Ahhh ini kan punya Hanum." gumam Vanessa yang akhinya mengingat benda yang selalu dipakai oleh Hanum tersebut.
"Kenapa ada disini? biasanya Hanum selalu memakainya."
"Kenapa ini putus?" heran Vanessa yang baru menyadari jika kalung yang dipegangnya putus bukan pada kaitannya.
Vanessa pun langsung mengantongi kalung tersebut untuk kemudian diberikannya kepada Hanum lagi, sebelum keluar dari kamar Hanum Vanessa pun memastikan jika semua barang barangnya dalam kondisi yang rapi.
Vanessa pun berjalan dengan terburu buru keluar dari kawasan kos kosan Hanum, pasalnya ia akan segera membawa kalung Hanum untuk diperbaiki supaya bisa dipakai kembali.
Srettt....
Deggg.....
Betapa terkejutnya Vanessa saat tak sengaja ia melihat mobil milik Anton terparkir tak jauh dari kos kosan Hanum, antara kaget sedih dan kecewa yang bercampur didalam hatinya. Laki laki yang telah menghancurkan hidupnya dan membuatnya menjadi penyebab penderitaan orang lain dan yang lebih menyakitkannya lagi adalah laki laki itu sendiri yang notabenya adalah seorang Papa yang telah mengantarkan anaknya sendiri agar kembali kepangkuan sang kuasa.
Vanessa pun langsung berjalan cepat hendak menghampiri mobil Anton, namun baru beberapa langkah ia mendekat mobil tersebut tiba tiba langsung melaju dengan kecepatan tinggi.
"Brengshake." umpat Vanessa.
Tak ingin menambah beban pikirannya dengan pikiran baru yang bukan bukan akhirnya Vanessa langsung masuk kedalam taksi yang telah dipesannya tersebut.
Ceklekkk....Vanessa pun langsung masuk kedalam taksi.
"Pak ketoko perhiasan yah." kata Vanessa pada sang supir.
"Baik buk." jawab sang supir tersebut.
"Ahhh." Vanessa pun menghela nafas beratnya dan lansung menyandarkan kepalanya sembari menghirup dalam dalam oksigen berharap agar bisa lebih tenang.
Tiba tiba saja pikirannya berkelana dan langsung tertuju pada sosok Hanum, melihat kondisi Hanum dengan mata kepalanya sendiri membuatnya merasa iba sekaligus sedih.
Iba melihat kondisi Hanum seperti itu sekaligus sedih karena ia sendiri turut ambil bagian dari apa yang tengah menimpa Hanum saat ini.
Tak terasa kini sudah sekitar 30 menitan ia duduk dengan nyaman ditaksi tersebut.
"Sudah sampai buk." ucap supir taksi tersebut yang langsung saja menyadarkan Vanessa dari lamunan panjangnya.
"Oh, udah sampai yah." terkejut Vanessa yang langsung menoleh kearah luar jendela untuk memastikan.
"Berapa pak?" tanya Vanessa pada supir taksi tersebut.
"450 buk." jawab supir tersebut, Vanessa pun langsung mengeluarkan sejumlah uang yang diperlukan dari dalam tas kecilnya.
"Ini pak." ucap Vanessa sembari menyodorkan uang tersebut.
"Baik, terima kasih buk." jawab supir tersebut sembari menerima uang yang disodorkan Vanesaa tersebut.
Vanessa hanya menjawabnya dengan anggukan kecil dan langsung keluar dari taksi tersebut.
Brakkk..
Ahhh..
__ADS_1
Tiba tiba saja Vanessa dibuat terkejut, pasalnya baru saja ia melangkah beberapa meter dari taksi yang ditumpanginya tadi tubuhnya ditabrak oleh seseorang yang otomatis membuat tubuh Vanessa terhuyung kesamping dan untungnya saja ia tidak sampai terjatuh.
"Sialannn, hehh kalau jalan pake mata dong." bentak Vanessa yang langsung menoleh kearah orang yang menabraknya tersebut.
"Va...Vanessa?" terkejut Bu Dian yang melihat mantan menantunya tersebut.
"Mam...Mama." Vanessa pun tak kalah terkejutnya melihat wanita paruh baya yang berdiri didepannya tersebut, wanita yang pernah menjadi mantan mertuanya tersebut.
Hahhh...Bu Dian langsung membuang pandangan kearah lain seakan akan tampak tak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya tersebut.
"Mam...Mama ngapain disini?" tanya Vanessa yang mencoba bersikap sopan dengan berbasa basi seperti ini.
"Hah...Mama? siapa yang kamu panggil Mama? saya? nggak sudi saya kamu panggil Mama, kamu itu wanita menjijikan."
"Menyesal saya dulu dukung Adnan, tadinya saya pikir dengan Adnan menikah sama kamu kamu bakalan bisa kasih Adnan keturunan." ucap Bu Dian dengan nada mengejek.
"Ternyata kamu nggak jauh beda sama Hanum, sama wanita nggak bener bisanya cuma bikin anak saya susah aja." sinis Bu Dian.
Vanessa tetaplah Vanessa, ia bukanlah Hanum yang akan selalu diam jika ditindas. Sekalinya kesabarannya tak dihargai, maka ia pun akan menunjukkan taringnya.
"Wahh kasian banget yah mantan suami aku yang kini MENDEKAM dipenjara, udah cinta mati sama Hanum ehhh taunya Maknya malah ikut campur urusan rumah tangganya."
"Ehhh pake acara manas manasin anaknya segala lagi, lagian Maknya emang nggak ada duanya baget didunia ini. Bisa bisanya yah Maknya malah malah nyuruh anaknya buat ninggalin istrinya karena nggak bisa punya anak."
"Yahh...walaupun aku juga ngerasa bersalah karena turut andil jadi orang ketiga dalam rumah tangga Mas Adnan, tapi gimana yah...Maknya sendiri kan juga dukung aku. Jadi dosanya bagi dua kali ya mak." sindiri Vanessa berbalik menatap sinis mantan mertuanya tersebut.
"Heihhhh anak kurang ajar, nggak tau sopan santun." geram Bu Dian yang langsung saja melayangkan tangannya keudara hendak menampar pipi Vanessa, namun belum sampai tangannya mendarat mulus dipipi Vanessa tangannya terlebih dahulu dicekal Vanessa.
"Auhhh." ringis Bu Dian merasakan perih pada pergelangan tangannya karena Vanessa mencekalnya terlalu kuat.
"Jangan coba coba anda menampar saya." tekan Vanessa.
"Jangan anda fikir saya akan diam saja!" tekannya lagi yang langsung menghempaskan dengan kasar tangan Bu Dian, bahkan tubuh Bu Dian sendiri sampai terhuyung kesamping akibat ulah Vanessa.
Sontak saja perdebatan keduanya menjadi tontonan gratis beberapa orang disekitaran tempat ini, tentu saja hal itu membuat Vanessa merasa malu. Ia pun mendekatkan dirinya pada Bu Dian hendak membisikkan sesuatu pada mantan mertuanya tersebut.
"Dengar! saya tidak akan menghormati siapapun jika orang tersebut juga tak menghormati, sekalipun orang tersebut sudah tua dan bau tanah seperti anda." bisik Vanessa yang sontak saja langsung membuat kedua bola mata Bu Dian terbuka lebar dengan mulut yang otomatis menganga, bahkan tak mampu berkata kata apa lagi.
Vanessa pun langsung berlalu pergi meninggalkan Bu Dian bahkan ia langsung melupakan tujuannya datang kesini, namun baru beberapa langkah ia melangkah langsung terhenti saat melihat Pak Basuki selaku mantan Papa mertuanya.
Vanessa hanya menundukkan kepalanya dan terus melangkahkan kakinya kembali, rasanya tak ada yang perlu ia katakan kepada mantan Papa mertuanya tersebut. Selain karena merasa ia tidak terlalu dekat padanya, ia juga merasa malu dengan apa yang telah dilakukannya selama ini.
.........
Hanum tampak duduk ditepi ranjangnya, tatapannya menyapu keseluruh ruangan. Dari dalam sorot matanya terlihatlah tatapan penuh ketakutan, entah apa yang membuat wanita itu takut namun yang jelas wanita yang dulu selalu ceria tersebut kini tampak menyedihkan membuat orang lain yang mengenalnya pasti akan merasakan iba.
Tap....tap...tap
Hening...
Seperti biasa tak ada sepatah katapun jawaban yang keluar dari bibir berisi wanita itu, perawat tersebut pun hanya bisa tersenyum karena sudah terbiasa tidak mendapatkan respon seperti ini.
"Mari kita suntik vitamin yah buk." ucap perawat tersebut sebari memegang lengan Hanum.
"Ehhh"
Sontak saja hal tersebut langsung membuat Hanum terkejut seperti tak menyadari jika ada orang lain diruangan ini selain dirinya, padahal tadi perawat tersebut telah menyapanya.
"Disuntik seperti biasa yah buk, biar bisa cepet pulang katanya mau pulang." bujuk perawat tersebut.
Kembali seperti semula, Hanum pun langsung membuang pandangan kembali lurus kedepan yang entah sedang menatap apa. Hanum terlihat amat pasrah seakan akan sudah tak perduli dengan apa yang akan dilakukan perawat tersebut padanya, dan tentu saja hal itu digunakan perawat tersebut untuk lekas menyuntikkan obat tersebut pada Hanum.
"Nah...sekarang sudah selesai." ucap perawat tersebut yang sama sekali tak mendapatkan respon apapun dari Hanum membuat perawat tersebut hanya tersenyum kecut.
"Wahh rambit bu Hanum sudah berantakan, gimana kalau saya sisirin?" tawar perawat tersebut yang lagi lagi dan lagi sama sekali tak mendapatkan respon apapun tersebut.
"Kalau begitu tunggu sebentar ya bu Hanum ya, saya mau ambil sisir dulu." ucap perawat tersebut kemudian.
Tanpa menunggu jawaban yang sudah dapat ia tebak tidak akan mendapatkan respon apapun bahkan sampai lebaran pun akhirnya perawat tersebut langsung keluar dari kamar Hanum.
Tak berselang lama kemudian perawat tersebut pun kembali lagi dengan sisir dan juga sebuah ikat rambut ditangannya.
"Waahhh saya sudah bawa sisir sama ikat rambut loh bu." ucap perawt tersebut yang mencoba bersikap ceria untuk menghibur wajah datar Hanum.
"Saya sisirin sekarang yah?" tawar perawat tersebut kembali.
Tak ingin membuang buang waktu lagi perawat tersebut pun langsung duduk disamping Hanum, seperti biasa Hanum tampak terkejut sebelum kemudian kembali hanya menatap lurus kedepan.
Perlahan lahan perawat tersebut pun mulai menyisir rambut Hanum.
"Bu Hanum suka dikepang apa nggak?" tanya perawat tersebut yang tak mendapatkan jawaban apapun dari Hanum.
"Kalau gitu saya kepang aja ya buk." kata perawat tersebut.
Tiba tiba gerakan tangan perawat tersebut langsung terhenti saat ia merasakan ada yang menonjol mengenai sisirnya, ia pun langsung merabanya dengan tangan untuk memastikan apa yang dirasakannya.
"Astagah." terkejut perawat tersebut saat melihat ada benjolan dikepala bagian belakang dekat telinga Bu Hanum.
Bukan benjolan besar melainkan seperti sebuah luka yang telah mengering.
__ADS_1
"Bu Hanum." panggil perawat tersebut.
"Apa ini sakit?" tanya perawat tersebut yang tak mendapatkan jawaban dari Hanum seperti biasa, seharusnya sang perawat menyadari jika pertanyaan yang ia lontarkan pasti tidak akan mendapatkan jawaban apapun dari Hanum dan bodohnya ia terus mengulanginya lagi.
Akhirnya perawat tersebut pun kembali melanjutkan aktivitas mengepang rambut Hanum kembali, namun kali ini ia melakukannya dengan lebih hati hati agar tak melukai Hanum.
Beberapa menit kemudian sang perawat akhinya menyelesaikan kepangannya.
"Yeahhh akhirnya sudah selesai." ucap perawat tersebut.
"Wahhh bu Hanum cantik bangett." puji perawat tersebut.
"Kalau gitu gimana kalau Bu Hanum istirahat saja? biar badannya lebih enakan?" tawar perawat tersebut.
Perawat tersebut pun akhirnya membantu Hanum merebahkan dirinya diranjang rumah sakit tersebut, tanpa penolakan atau bantahan sedikitpun Hanum hanya menurutinya seperti orang yang tak memiliki tenaga.
"Kalau gitu sekarang Bu Hanum istirahat yah, saya permisi dulu." ucap perawat tersebut yang kemudian berlalu pergi meninggalkan Hanum.
Klekkk....
Usai kepergian perawat tersebut Hanum hanya menatap langit langit diatasnya, entah apa yang difikirkan wanita cantik tersebut.
.........
Setelah cukup lama membelah jalanan Ibu kota, akhirnya Pak Tyo sampai juga dirumah, sudah seharian ini ia belum melihat wajah cantik putrinya hingga membuatnya merasa amat rindu dengan bidadari kecilnya tersebut.
Usai memarkirkan mobilnya Pak Tyo pun langsung bergegas masuk kedalam rumah.
"Assalamualaikum." salam Pak Tyo dengan sedikit mengeraskan suara. Tak ada jawaban, lantas dimana putrinya?
"Retha." panggil Pak Tyo, namun tidak ada sahutan sama sekali.
"Sayangg." panggilnya lagi yang juga tak mendapatkan jawaban apapun, akhirnya Pak Tyo pun mencari lebih dalam lagi kebagian belakang.
"Hahahaha." terdengar tawa Retha dari arah belakang.
"Enak kan bik?" tanya Retha.
"Heumm, enak kok non." jawab Bibi tersebut.
"Enak rasa ini apa yang ini bik?" tanya Retha kembali.
"Enak yang ini non menurut bibi." jawab Bibi kembali.
"Kalau gitu yang ini buat Bibi, yang ini buat Papa." ucap Retha kemudian.
"Waaaahhh bibi juga dikasi non?" tanya bibi dengan berbinar binar.
"Kasi dong, yang buat tante Hanum udah disiapin kan bi?" tanya Retha lagi.
"Udah dong, tinggal nunggu Papa pulang aja nih." jawab Bibi.
Melihat pemandangan menyenangkan tentang pertumbuhan gadis kecilnya membuat hati Pak Tyo kembali menghangat, pantas saja sejak tadi ia memanggil manggil tapi sama sekali tidak mendapat jawaban rupanya putrinya tengah sibuk berbincang ria didapur.
"Hallo sayanggg." panggil Pak Tyo dengan gaya berkacak pinggang.
Sontak saja Retha dan Bibi pun langsung menoleh kearah sumber suara, dan seketika pula rona wajah bahagia terpancar dari wajah cantik Retha.
"Papaaaa." teriak Retha yang langsung berlari kearah Papanya, Pak Tyo pun langsung berjongkok dan membentangkan kedua tangannya lebar lebar untuk menyambut tubuh kecil putrinya tersebut.
Bruukkkk....
Retha pun langsung memeluk Papanya dengan erat bahkan tubuh Pak Tyo pun sedikit terdorong kebelakang saking kencangnya Retha menubruk tubuhnya.
"Aaaa akhirnya Papa pulang juga." ucap Retha yang kemudian langsung melepaskan pelukannya.
"Iya dong, Papa udah kangen banget nih sama anak Papa yang cantik ini." ucap Pak Tyo sembari mencubit kedua pipi anaknya dengan gemas.
"Aaaa Papa." Retha pun kembali menjatuhkan Kepalanya dipundak Papanya karena merasa malu dengan pujian yang diberikan Papanya.
"Hahahaa." Tawa Pak Tyo pun pecah melihat putrinya yang tersipu malu tersebut.
"Katanya mau nengok tante Hanum?" tanya Pak Tyo.
"Jadi nggak?" tanyanya lagi.
"Jadi dong pa, aku sama Bibi kan juga udah nyiapin kue nya yang mau dibawa." jawab Retha dengan penuh antusias.
"Wahhh buat Papa ada kan?" tanya Pak Tyo.
"Ada dongg tapi nanti aja kita makan bareng bareng kalau udah pulang jenguk tante Hanumnya." kata Retha.
"Oke deh, kalau gitu Papa mandi dulu yah." ucap Pak Tyo.
"Oke deh, tapi jangan lama lama loh Pa." kata Retha mengingatkan dengan wajah mencurengnya.
"Iya deh iya." balas Pak Tyo sembari mengacak acak rambut putrinya gemas.
~Aku harap kamu orang dewasa yang selalu mengejar impian~
__ADS_1
^Min Yoongi^