
"Hanum, maafin aku num. Maafin aku, hiks...hiks...hiks." tangis seorang wanita yang tak lain adalah Vanessa, wanita itu telah diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit dan langasung mendatangi Hanum bersimpuh memohon ampun padanya.
"Pergilah." ucap Hanum dingin, memandang wanita itu saja rasanya sudah tidak sudi lagi.
"Aku mohon num, maafin aku. Aku menyesal num, aku mendapatkan karma dari apa yang telah aku lakukan num."
"Aku telah kehilangan anak aku num, hiks...hiks...hiks." tangis Vanessa kembali pecah.
"Pergilah, aku akan mencoba melupakannya." balas Hanum sembari membuang mukanya, jujur tidaklah mudah bagi Hanum untuk memaafkan entah itu Vanessa atau Anton bahkan Adnan sekalipun.
Ketiga orang itu telah berhasil membuat hati Hanum hancur sehancur hancurnya, bahkan dengan statusnya saat ini ia hanya bisa bermimpi sembari meraba raba nasibnya kedepan. Apakah masih ada orang yang mau menerimanya? menerima statusnya dan juga kekurangannya?
"Hanum, ak." Vanessa baru saja hendak membuka suara.
"Pergiiiii." teriak Hanum dengan kencang membuat Vanessa sendiri terlonjak kaget dibuatnya.
"Perggiiiii." teriak Hanum lagi.
"Hanum, ak." Vanessa yang sudah berdiri pun kembali mencoba menenagkan Hanum.
"Pergi." ucap Hanum dengan tegas dengan nafas yang telah naik turun sembari jari telunjuknya menunjuk kearah pintu keluar.
Mau tak mau karena tak ada pilihan lagi dan tak ingin membuat Hanum lebih marah lagi, Vanessa pun keluar dari kos kosan Hanum dengan perasaan bingung bercampur dengan takut.
Brakkkk......Hanum menutup pintu dengan keras, seakan akan melampiaskan semua kekesalannya.
"Aaaaaaaaaaa." teriak Hanum sembari mengacak acak rambutnya seperti orang yang tengah frustasi.
"Hiks...hiks...hiks." tubuh Hanum pun luruh bersandar pada pintu.
"Hiks..hiks." Hanum mencoba menahan tangisnya dengan menggigit gigit kukunya.
............
Jam telah menunjukkan pukul 8.30 pagi, sudah beberapa hari ini Hanum tidak bekerja lagi. Ia memilih untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya sekedar karena tidak ingin berhubungan lagi dengan Anton baik secara langsung maupun tidak langsung. Tak ada yang perduli dengan dirinya disini, Maya yang masih belum kembali dari kampung halamannya, membuat Hanum harus hidup dikos kosan seorang diri memendam semuanya.
Kruk....krukkk...tiba tiba saja perut Hanum berbunyi menandakan sudah harus diisi lagi, maklum sejak kemarin sore Hanum belum makan apapun.
__ADS_1
Hanum pun langsung beranjak dari tempat tidurnya mengambil sesuatu yang terletak diatas meja kecil yang menjadi salah satu fasilitas dari kamar kosnya.
Untung saja Hanum masih memiliki stok roti tawar yang bisa mengganjal perutnya, ia pun langsung mencomot 3 lembar sekaligus dan memakannya dengan rakus seperti seseorang yang tengah kelaparan hebat.
..........
Pak Tyo yang memiliki butik yang cukup terkenal saat ini tengah disibukkan dengan berkas berkas design terbaru, dengan didampingi Bu Wati yang sudah bekerja cukup lama dengannya bahkan sebelum ia menikah.Bahkan keduanya kini terlihat seperti seorang teman, bukan seorang atasan dan bawahan lagi.
"Pak Tyo." panggil Bu Wati, Pak Tyo pun langsung menoleh kearahnya tanpa membuka suara.
"Gimana kabar Retha? sudah lama lo nggak kamu ajak main kesini." tanya Bu Wati mencoba mengalihkan pikirannya sejenak dari pekerjaan yang telah menggunung tersebut.
"Retha lagi sibuk ikut les vokal, katanya pengen jadi penyanyi dia." jawab Pak Tyo dengan secercah senyuman dibibirnya, kembali mengingat saat saat dimana anaknya tersebut merengek dengan manja supaya didaftarkan pelatihan Vokal.
"Udah lama ya yo." ucap Bu Dewi membuat Pak Tyo kembali menoleh kearahnya dengan raut wajah bingung.
"Apanya?" tanya Pak Tyo.
"Udah lama sejak Retha ditinggal Mamanya, nggak kerasa aja sekarang anaknya udah gede." jawab Bu Dewi yang kembali mengingat masa masa menyedihkan yang menimpa teman sekaligus rekan kerjanya tersebut, saat itu Retha masih sangat kecil untuk menerima sebuah perceraian.
Mendengar pertanyaan itu membuat Pak Tyo langsung terdiam, terdiam dengan pikiran yang langsung tertuju pada sosok Hanum. Wanita yang pernah sekelebat membuat hatinya berpaling.
Ia sangat memahami kondisi wanita itu yang saat ini pasti tengah bersedih, beberapa hari yang lalu ia baru saja mengetahui secara detail kisah hidup Hanum dimulai dari pernikahannya.
Sangat disayangkan kejadian itu menimpa Hanum, padahal Hanum adalah wanita baik baik. Wajar saja jika Retha sangat menyukainya karena tak ada alasan sama sekali untuk membencinya.
"Entahlah, aku sama sekali belum berfikir sejauh itu." kata Pak Tyo yang langsung mengalihkan fokusnya kembali pada berkas berkas didepannya.
"Buruan nikah lagi deh yo, mumpung kamu masih mampu." ucap Bu Dewi memberi nasihat.
"Belum kepikiran sampe situ aku." jawab Pak Tyo.
"Jangan jangan kamu masih belum bisa move on dari Rini yah?" tanya Bu Dewi dengan penuh selidik.
Pak Tyo yang ditatap seperti itu pun merasa tak nyaman.
"Ngaco." balas Pak Tyo sembari melemparkan pulpen yang dipegangnya tepat mengenai jidat Bu Dewi.
__ADS_1
"Auhhh, sialan." ringis Bu Dewi sembari memegang jidatnya.
"Ngaco banget sih kalau ngomong." kesal Pak Tyo.
"Napa sewot?" balik serang Bu Dewi.
"Lo masih ngarep bisa balikan sama Rini lagi yah?" tanyanya Bu Dewi lagi.
Pak Tyo pun langsung mengubah posisinya menghadap Bu Dewi agar bisa bertatap mata secara langsung.
"Dengerin." kata Pak Tyo.
"Apa?" tanya Bu Dewi dengan menantang dan juga mengubah posisinya berhadapan langsung dengan Pak Tyo.
"Rini itu masa lalu aku, sebisa dan sekuat apapun aku mencoba melupakannya namanya akan selalu ada dihati aku sebagai." tekan Pak Tyo.
"Sebagai orang yang pernah hadir dihidup aku," ucapnya.
"Aku nggak bisa dong pura pura langsung amnesia dan bersikap seolah olah tidak ingat apapun tentang dia, aku nggak bisa menghapus kenangan semua hal tentang dia dari otak aku. Kalau seandainya bisa, aku bakalan lakuin itu wi. Tapi kenyataannya nggak bisa, aku hanya akan menganggapnya sebagai masa lalu bukan sebagai tempat untuk aku kembali." jelas Pak Tyo panjang lebar.
Prok...prok...prok...Bu Dewi mengapresiasi ucapan Pak Tyo dengan tepuk tangan.
"Gila, keren banget kata katanya Mas kayak pujangga cinta." ledek Bu Dewi sembari geleng geleng kepala.
"Jujur yah, aku mau ngomong jujur nih." ucap Bu Dewi dengan tatapan kagum, Pak Tyo hanya menatapnya heran.
"Kamu itu type orang yang setia banget, susah banget buat jatuh cinta lagi. Nggak mudah loh buat laki laki nahan, nahan semua kebutuhan baik itu **** kamu kebutuhan hidup kamu yang lain belum lagi kamu yang ngurus Retha dari kecil sampai sekarang. Salut banget aku, aku harap kamu dapet jodoh lagi yang baik dan terbaik buat kamu sama Retha. Doa Bu Dewi dengan tulus.
"Do'ain aja yang terbaik buat aku." balas Pak Tyo dengan senyuman.
"Udah ah, malah kebablasan ngobrolnya. Lanjut kerja lagi, jangan malas malasan." kata Pak Tyo yang kembali lagi dalam mode tegasnya.
"Baik Pak." ucap Bu Dewi yang kembali dalam kondisi formal sembari menundukkan kepalanya hormat.
~Kamu adalah satu satunya orang yang dapat mewujudkan masa depanmu~
^ Kim Taehyung^
__ADS_1