
"Aghhhhhh." tiba tiba saja saat Pak Tyo baru saja mengantarkan Retha pulang dan baru saja hendak membuka pintu kamar Hanum, ia dikejutkan dengan suara teriakan Hanum.
Tentu saja dengan cepat Pak Tyo membuka pintu dan lekas masuk. Betapa terkejutnya Pak Tyo saat melihat sosok Hanum yang tengah duduk dengan posisi meringkuk disudut ruangan.
"Hanumm." Pak Tyo langsung berlari menghampiri Hanum, baru saja tangannya hendak menyentuh pundak Hanum namun langsung ditepis dengan kasar oleh Hanum sendiri dan yang paling membuat heran adalah tatapan matanya yang tampak menyorot tajam kepadanya.
"Ahhhhgggg pergiiiii." teriak Hanum dengan menutup kedua telinganya menggunakan kedua tangannya.
"Hanum tenang, ini saya Hanum." kata Pak Tyo yang berusaha menenangkan.
"Pergiiiii." teriak Hanum lagi dengan kencang.
Dalam posisi ini Pak Tyo bingung dengan ditambah lagi netranya menatap selang infus yang sudah berserakan, sotak saja Pak Tyo langsung melihat pergelangan tangan Hanum yang ternyata sudah tampak membengkak karena mencabut infusnya dengan paksa.
Pak Tyo pun bergegas keluar dari ruangan Hanum untuk menemui dokter.
Usai mendapatkan dokter, Pak Tyo pun bergegas kembali ke kamar Hanum bersama dokter yang kemarin menangani Hanum.
Untuk yang kedua kalinya Pak Tyo harus dihadapkan dengan rasa terkejutnya melihat Hanum. Bagaimana tidak? kini Haum tengah menggigit gigit selang infus dengan bola mata yang tampak memutar mutar, seolah olah sedang mengisyaratkan bahwa ia tengah ketakutan saat ini.
"Dok, gimana dok? tolongin Hanum dokk." kata Pak Tyo dengan amat tidak sabarannya.
Dokter tersebut langsung keluar sebentar dan kemudian kembali lagi dengan membawa jarum suntik beserta sebotol kecil obat
"Saya harus memberikannya obat penenang." kata dokter tersebut yang kemudian langsung mendekat ke arah Hanum.
Prangggggg........
Merasa ada yang akan mengancam keselamatannya, dengan refleks Hanum melempar botol infus yang otomatis penyangganya juga ikut terlempar.
Untung saja dengan sigap dokter tersebut menghindar hingga benda yang melayang tersebut tidak menyentuh tubuhnya.
"Biar saya yang pegangin Hanum." kata Pak Tyo yang otomatis langsung berjalan mendekat kearah Hanum.
"Arggghhhhh." teriak Hanum melihat laki laki yang mendekatinya, namun dengan sigap pula Pak Tyo langsung memegang kedua tangan Hanum dan menguncinya.
Ternyata dugaan Pak Tyo yang dulunya mengatakan jika perempuan adalah sosok wanita yang lemah dalam hal fisik ternyata sangat salah, buktinya tenaga yang dimiliki Hanum sangatlah kuat.
Meskipun ia telah mengunci tangannya namun kaki Hanum beserta tubuhnya terus menerus bergerak liar hingga menyulitkannya, apalagi kepala Hanum juga menoleh kesana kemari bahkan membenturkannya dengan tubuh Pak Tyo hingga membuat kesulitannya kian bertambah.
__ADS_1
"Aghhhh."
Tiba tiba saja tubuh Hanum mulai melemah, entah sejak kapan dokter tersebut sudah berada disamping Hanum. Bahkan Pak Tyo sendiri sama sekali tidak menyadarinya.
Setelah tubuh Hanum benar benar lemas bahkan Hanum sampai pingsan, barulah tubuh Hanum dipindahkan keatas brankar kembali.
"Sepertinya diagnosa saya sebelumnya salah." ucap dokter tersebut tiba tiba sembari terus menatap kearah Hanum yang kini kondisinya tengah melemah, mendengar ucapan tiba tiba dokter tersebut tentu saja membuat Pak Tyo langsung menoleh kearahnya.
"Maksud dokter?" tanya Pak Tyo.
"Melihat kondisi Bu Hanum barusan, kondisi psikis Bu Hanum sudah terbilang cukup parah. Mentalnya sudah terganggu, dalam kondisi seperti ini yang paling menakutkan adalah saat pasien melakukan hal hal gila yang bisa membahayakan kondisinya sendiri." jelas dokter tersebut.
"Secepatnya Bu Hanum harus dirujuk kerumah sakit jiwa." ucap Dokter tersebut dengan berat hati.
"Apa??" terkejut Pak Tyo.
"Kita tidak punya pilihan lain." jawab dokter tersebut.
"Tidak, tolong dok jangan biarkan Hanum dibawa kerumah sakit jiwa. Dia pasti bisa sembuh dok, nggak perlu sampai harus dibawa kerumah sakit jiwa dok." tolak Pak Tyo dengan tegas, rasanya sangat sangat tidak rela jika harus membiarkan Hanum sampai kerumah sakit jiwa.
Saat ini saja ia belum berani menghubungi keluarga Hanum untuk memberitahukan kondisinya, bagaimana jika Hanum benar benar harus dirujuk kerumah sakit jiwa? bagaimana caranya memberitahukan keluarganya? sial, memikirkannya saja sudah membuat Pak Tyo gila sendiri rasanya.
Tak mampu berkata kata apalagi, Pak Tyo sama sekali tidak bersuara sekedar untuk menolak atau mengiyakan ucapan dokter tersebut barusan. Bahkan ia sama sekali tak menyadari jika dokter tersebut telah pamit dan keluar dari kamar ini.
................
Anton saat ini tengah menatap gerbang kos kosan Hanum, menatapnya dengan? ah...entahlah raut wajah Anton sama sekali tidak bisa ditebak.
"Aku akan mendapatkanmu kembali." ucap Anton yang kemudian langsung menginjak pedal gassnya kembali.
Vanessa tengah duduk dikursi disebuah taman kota, menatap keluarga bahagia yang sialnya tengah bermain main tepat didepannya.
Sepasang suami istri yang tampak tengah berselfi ria bersama anak kecil yang kira kira berusia sekitar 3 tahun yang tampak tidak bisa diam sama sekali.
"Vanessa?" panggil seseorang tiba tiba.
"Teguh?" terkejut Vanessa saat melihat seseorang yang dikenalnya.
"Kamu ngapain disini sendirian?" tanya Teguh.
__ADS_1
"Boleh aku duduk?" tanya Teguh lagi.
"Oh boleh boleh." jawab Vanessa yang langsung menggeser posisinya, Teguh pun langsung duduk diruang kosong tersebut.
"Oh iya aku belum ngucapin selamat atas pernikahan kamu, maaf yah waktu itu aku nggak bisa dateng." kata Teguh yang memang saat pernikahan Vanessa tidak bisa datang karena suatu hal.
Vanessa hanya menatap tangan Teguh yang menggantung diudara dengan perasaan sedih. Bagaimana bisa seseorang memberikan ucapan selamat saat rumah tangganya sudah hancur? apakah itu ucapan selamat menghina? karma? atau apa?
"Kenapa? aku telat banget yah ngucapinnya? maaf yah." kata Teguh yang sama sekali tak mendapatkan respon atas ucapan selamatnya tersebut, jadi ia fikir karena ini sudah sangat sangat terlambat untuk mengatakannya.
"Rumah tanggaku sudah hancur!" ucap Vanessa yang kemudian langsung menatap kedepan.
"Apa?" terkejut Teguh.
"Kenapa? suami kamu selingkuh?" tanya Teguh yang spontan langsung penasaran.
"Aku sendiri yang menghancurkannya, bahkan aku lebih menghancurkan hidupnya." lirih Vanessa.
Vanessa pun langsung menceritakan kisah rumah tangganya dari awal hingga akhir, tak lupa juga ia juga menceritakan tentang hubungannya dengan Anton dari awal hingga akhir pula. Benar adanya jika saat kita tengah bersedih kita hanya perlu seseorang yang bisa senantiasa mendengarkan cerita kita, hanya dengan hal itulah yang bisa membuat perasaan kita menjadi lebih lega.
"Apa Anton mau bertanggungjawab?" tanya Teguh ragu ragu.
"Mereka mencintai Hanum, awalnya aku pikir Hanum adalah wanita murahan yang bisa menjerat laki laki dengan kepolosannya. Tapi sekarang aku sadar jika dengan kepolosan dan kebaikan hatinyalah yang bisa membuat laki laki menjerat dirinya sendiri dalam pesona Hanum dan yang lebih menyedihkan lagi ternyata akulah wanita murahan tersebut." ucap Vanessa dengan nada pilunya.
"Sekarang aku tidak akan berharap lagi pada yang namanya laki laki, aku harus bisa hidup sendiri dan menebus dosa dosa yang telah aku lakukan." lirih Vanessa.
"Akan ada laki laki yang benar benar menerimamu suatu saat nanti." balas Teguh dengan yakin.
"Tidak ada yang mau dengan wanita pelacur sepertiku." tekan Vanessa menepis semua ucapan Teguh yang dianggapnya hanyalah omongan kosong tersebut.
"Kamu pernah dengar tidak? dulu ada wanita pelacur yang melahirkan 7 nabi?" tanya Teguh yang sontak membuat Vanessa langsung menoleh kearahnya.
Teguh pun tersenyum.
"Kamu memang gagal dimasa lalumu, jadi jangan biarkan masa depanmu bernasib sama seperti masa lalumu." ucap Teguh.
~Kamu punya kemampuan untuk melakukan apapun yang kamu mau~
^Kim Seokjin^
__ADS_1