
Vanessa bergegas menuju rumah sakit, pasalnya ia baru saja mendapatkan kabar jika mantan kakak madunya tengah berada dirumah sakit dengan kondisi mentalnya yang memprihatinkan.
Tap...tap..tap...tap
Ceklek....baru saja membuka pintu Vanessa sudah dibuat terkejut dengan Hanum yang tampak termenung memandang kearah luar jendela. Jika diperhatikan lebih jelas lagi Hanum bukanlah orang yang tampak mengidap gangguan jiwa, melainkan tengah mengalami depresi berat.
Tentu saja ada rasa iba yang bersemayam dihati Vanessa, pasalnya karena ia juga lah yang turut ambil bagian penderiataan yang dialami Hanum.
Tok...tok...tok Vanessa mengetuk pintu yang sudah ia buka untuk mengisyaratkan kepada Hanum bahwa ada seorang yang datang.
Hanum pun langsung menoleh kearah Vanessa, seketika raut wajah kosongnya berubah menjadi terkejut.
"Hai Hanum, aku kesini bawain kamu makanan kamu udah makan belum?" tanya Vanessa sembari berjalan menghampiri Hanum.
Tidak ada jawaban, namun Vanessa melihat semangkuk bubur yang masih utuh dan belum tersentuh diatas nakas.
"Kamu jahat." ucap Hanum dengan suara lirihnya sembari menunduk kebawah, tentu saja hal itu membuat gerakan tangan Vanessa yang hendak meletakkan makanan yang dibawanya keatas nakas langsung terhenti seketika.
"Ha...Hanum." panggil Vanessa dengan suara beratnya seakan akan suaranya tercekik ditenggorokan.
"Kamu jahat." kata Hanum lagi dengan raut wajah yang langsung berubah sedih.
Brakkk....tanpa aba aba Hanum langsung menjatuhkan tubuhnya dengan posisi terduduk diatas lantai.
"Kamu jahat." ucapnya lagi dengan merubah posisi menjadi meringkuk menekuk lututnya.
Tak tahan lagi Vanesaa pun langsung memeluk Hanum.
Bug...bug...bug Hanum langsung memukul punggung Vanessa saat Vanessa memeluknya, bukanya melepaskan Vanessa malah mengeratkan pelukannya. Sakit yang dirasakannya tak seberapa menyakitkan dibanding apa yang telah dilakukannya pada Hanum selama ini.
"Hanum, Hanum aku tahu aku salah aku mohon maafin aku num hiks." ucap Vanessa memohon pada Hanum.
"Kamu jahattttt." teriak Hanum yang dengan sekali dorong langsung menjauhkan tubuhnya dari Vanesaa hingga membuat Vanessa terjengkang kebelakang.
"Auhhh." ringis Vanessa.
Hanum pun langsung berdiri dari posisi duduknya, sementara Vanessa langsung meraih kaki Hanum dan memohon padanya.
"Hanum aku bener bener minta maaf num, aku tahu aku salah dan sekarang aku sudah menyadari semuanya num." ucap Vanessa yang bersimpuh memohon pada Hanum.
Brakkk
Tap...tap...tap
Tiba tiba saja ada dokter yang masuk keruangan Hanum dan sontak saja hal itu membuat semua orang terkejut apalagi melihat posisi Hanum dan Vanessa saat ini.
__ADS_1
"Aaaaaaaa." tiba tiba saja Hanum langsung berteriak kencang melihat dokter yang masuk dan sontak saja genggaman tangan Vanessa pada kaki Hanum langsung terlepas begitu saja.
"Aaaaaa pergi kamu pergi, aku mohon jangan ganggu akuuuu." teriak Hanum lagi yang langsung meringkuk dipojok ruangan.
"Tenang Mbak Hanum, saya nggak jahat kok." tampak Dokter tersebut yang berusaha menenangkan Hanum.
"Aaaa pergi kamu pergi! jangan ganggu aku lagi! hunungan kota sudah berakhirrrr!" rancau Hanum lagi yang malah melemparkan sembarang benda yang disampingnya kearah Dokter tersebut.
Prang...prang...buk....buk...
"Dok bagaimana ini?" tanya Vanessa yang tampak panik dengan situasi yang tengah terjadi.
"Saya akan keluar sebentar." ucap Dokter tersebut yang langaung keluar dari ruangan.
"Ha..Hanum." Vanessa pun juga dipusingkan dengan bagaimana caranya agar ia bisa menenangkan Hanum.
"Tolonggg jangan ganggu aku lagi. Aaaaaaaa." teriak Hanum yang dipenuhi dengan raut wajah ketakutannya.
Tap....tap....tap...tapppp
Dokter tadi pun kembali dengan 2 orang perawat laki laki dibelakangnya.
"Kalian pegang dia." kata Dokter tersebut yang langsung dijawabi dengan anggukan kepala oleh dua orang perawat tersebut.
"Aaaaa jangannn, jangannn aku mohon jangan ganggu akuuuu." teriak Hanum begitu dua orang perawat tersebut mendekat kearahnya.
"Aaaaaaa kenapa kamu jahatttt aaaaaa aku mohon hiks...hikss." teriak Hanum lagi yang entah sejak kapan dua orang perawat tersebut berhasil memegang kedua tangan Hanum.
Sedangkan Hanum terus menerus melakukan aksi berontak dengan menggerak gerakkan tubuhnya secara brutal dan menendang nendangkan kakinya kesembarang arah.
Dokter tersebut pun mendekat kearah Hanum dengan suntik yang dibawanya.
"Aaaaaa."
Dokter pun menyuntikkan obat bius pada Hanum hingga membuat tubuh Hanum perlahan lahan mulai melemah hingga akhinya tak sadarkan diri.
Dua orang perawat tersebut pun langsung membaringkan kembali tubuh Hanum diatas ranjang rumah sakit tersebut.
"Kalau gitu kami permisi dulu dok." ucap salah seorang perawat yang telah menyelesaikan tugasnya, Dokter pun menganggukkan kepala mempersilahkan.
"Ha...Hanum kenapa dok? kenapa dia seperti itu?" tanya Vanessa yang masih tampak terkejut.
"Biar saya periksa terlebih dahulu kondisi Bu Hanum." ucap Dokter tersebut yang kemudian langsung memeriksa kondisi Hanum.
Brakkk.
__ADS_1
"Hanum." teriak seseorang dengan wajah paniknya yang sontak langsung membuat Dokter dan Vanessa menoleh kearah sumber suara.
"Dok ada apa dengan Hanum dok?" tanya Pak Tyo dengan wajah paniknya, pasalnya tadi ia dihubungi oleh pihak rumah sakit dan mengatakan jika Hanum tiba tiba histeris. Tentu saja pihak rumah sakit menghubungi Pak Tyo karena Pak Tyo lah satu satunya yang menjadi wali pasien.
............
Pak Tyo dan Vanessa pun keluar dari ruangan Hanum.
"Terima kasih telah menjenguk Hanum." ucap Pak Tyo pada Vanessa, tentu saja Pak Tyo sudah tahu mengenai siapa Vanessa.
"Sama sama." dengan amat sangat canggung akhirnya kata kata itu bisa keluar dari bibir Vanessa.
"Kalau begitu saya permisi dulu." ucap Vanessa kemudian yang hanya dijawabi dengan anggukan kepala oleh Pak Tyo.
Vanessa pun berjalan meninggalkan rumah sakit dengan beragam fikiran yang mengganjal.
Yah...ia merasa banyak hal yang aneh pada Hanum, reaksi marahnya saat bertemu dengannya dan laki laki sungguh sangat jelas berbeda.
Apakah ini hanya perasaannya saja? tapi kenapa Hanum selalu berteriak jangan ganggu aku dengan memohon?
Vanessa pun langsung menggeleng gelengkan kepalanya mencoba menghilangkan fikiran fikiran anehnya.
Cep...langkah kaki Vanesaa langsung terhenti saat diparkiran ia melihat mobil yang baru saja melintas.
Vanesaa merasa jika mobil itu tak asing untuknya.
.......
"Aku mohon, lekaslah sembuh." ucap Pak Tyo sembari menggenggam tangan Hanum.
"Retha selalu marah marah, katanya dia mau kue buatanmu." ucapnya lagi sembari menatap iba wanita yang tengah berbaring lemah tersebut.
Tuttt....tttuuuttt....tttuuutt....
Tiba tiba saja ponsel Pak Tyo berdering, ia pun langsung merogoh ponselnya dari saku celana tersebut.
"Rini?" gumam Pak Tyo membaca nama yang tertera dilayar ponselnya tersebut.
Tak ambil pusing, Pak Tyo pun langsung mengangkat teleponnya.
"Halo, ada apa rin?" tanya Pak Tyo tanpa basa basi lagi.
"Tyo, tolong aku." jawab Rini dari seberang sana.
"Aku mohon tolong aku." ucapnya lagi membuat kening Pak Tyo langsung berkerut heran.
__ADS_1
~Ketahuilah bahwa rasa sakit itu akan berlalu, dan jika itu terjadi maka kamu akan menjadi lebih kuat~
^Jung Hoseok^