Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 118


__ADS_3

Doooorrrrrr


Tiba tiba saja mobil Pak Tyo oleng, ia pun langsung menginjak pedal remnya dalam dalam.


Cccccuuuiiiitttttt.......


Hah...hah...hah...hahh


Pak Tyo pun bergegas turun dari mobilnya untuk mengecek apa yang terjadi dengan mobilnya, karena tadi ia merasakan sepertinya ban mobil belakang kanannya meletus.


Doorrrrr.....


Baru saja Pak Tyo hendak membuka pintu namun langsung terdengar suara letusan kembali dan Pak Tyo melihat dengan jelas seseorang yang menembak kearah ban depannya melalui kaca jendela mobilnya.


Brakkk......


Hah.....


"Brengsek!" umpat Pak Tyo melihat mobil yang telah melaju menjauh darinya tersebut.


Sayangnya ia sama sekali tak bisa melihat nomor plat mobil tersebut dengan jelas karena mobil tersebut telah melaju dengan kecepatan tingginya.


"Ahhhh shittt." umpat Pak Tyo.


"Siapa bajingan itu?." ucap Pak Tyo.


"Aahhhhhh." teriak Pak Tyo yang merasa geram sembari menendang mobil bagian depannya.


Dilihatnya dua ban bagian kanan depan belakangnya yang telah pecah tersebut, pak Tyo pun lekas merogoh ponselnya disaku celana mengotak atik dan mencari nomor seseorang disana.


"Halo." sapa Pak Tyo.


"....."


"Cepat kesini ke jalan pandan, jemput saya." kata Pak Tyo to the point.


"....."


"Oke, saya tunggu." balas Pak Tyo yang kemudian langsung mengakhiri panggilannya.


............


Tok.....tokkk.....ttttoookkkkk.......


"Halo Bu Hanum, selamat pagi." sapa salah seorang perawat yang biasa mengurus Hanum.


"Sekarang sudah waktunya sarapan." kata perawat tersebut sembari berjalan kearah Hanum.


"Mari kita periksa rutin kondisi Bu Hanum dulu ya." ucapnya lagi sembari meletakkan mangkuk berisi bubur tersebut diatas meja, sementara Hanum hanya diam tak menanggapinya sama sekali.


Perawat tersebut pun memeriksa kondisi tubuh Hanum seperti biasanya.


"Stabil, sekarang waktunya makan dulu ya bu Hanum." ucap perawat tersebut sembari menyuapi Hanum, Hanum hanya melihat sendok berisi bubur yang sudah melayang dihadapannya tersebut.


"Ayo bu makan dulu, biar bisa cepet pulang." katanya lagi, entah kenapa Hanum yang biasanya sangat sulit untuk dibujuk tersebut kini dengan mudahnya menuruti perkataan perawat tersebut.


Akhirnya perawat pun bisa tersenyum lega.


"Wahhh makanannya udah habis." kata Perawat tersebut dengan senyum yang mengambang di bibirnya sembari menyodorkan air minum pada Hanum.


"Karena makannya udah selesai, jadi saya permisi dulu ya Bu Hanum." ucap perawat tersebut yang kemudian langsung pergi dari ruangan Hanum.


.........


"Ayo Ma, kita udah sampai." kata Zidan yang mengajak Mamanya untuk turun dari mobil.


"Eh, iya." terkejut Bu Dian yang kemudian langsung turun dari mobilnya.


Bu Dian dan Zidan pun langsung masuk dan menanyakan pada resepsionis diruangan mana Hanum dirawat. Usai mendapatkan informasi tanpa menunggu lama Bu Dian dan Zidan pun langsung bergegas menemui Hanum.


Tok....tok....tok...


Ceklekk.....


Zidan pun membuka pintu dan langsung terlihatlah mantan kakak iparnya yang tengah duduk ditepi ranjangnya dengan tatapan kosong keluar jendela.


"Assalamu'alaikum Mbak Hanum." salam Zidan yang langsung berlari dan memeluk Hanum.


Brakkk....


"Mbak Mbak Hanum apa kabar?" tanya Zidan tanpa melepaskan pelukannya.


Brakkkkk.....


Hanum pun langsung mendorong dengan kasar Zidan hingga hampir terjerembab kebelakang karena tak siap dengan dorongan Hanum tiba tiba.


Hah...hah...hah...hah...nafas Hanum terengah engah dan langsung naik keatas brankar dengan menekuk lututnya.


"Pergiii." teriak Hanum.


"Mbak, Mbak Hanum ini aku Mbak Zidan." ucap Zidan dengan perasaan bingung namun tetap berusaha menenangkan Hanum, sementara Bu Dian tampak terkejut dengan apa yang dilihatnya barusan.


"Ttolonggg, jangan ganggu aku." rancau Hanum.


"Tolonggg pergiii." teriak Hanum.


"Mbak ini aku Mbak, aku Zidan Mbak." teriak Zidan tepat didepan wajah Hanum sembari menggoyang goyangkan badan Hanum.


"Zidan." terkejut Hanum yang langsung menatap Zidan.


"Zidan?" tanya Hanum yang masih belum percaya.


"Iya Mbak ini aku Zidan." teriak Zidan sekali lagi mempertegas dirinya, Zidan pun langsung memeluk kembali mantan Kakak iparnya tersebut.


"Mbak, Mbak Hanum kenapa?" tanya Zidan yang masih memeluk Hanum tersebut.


"Kenapa Mbak jadi gini Mbak." lirih Zidan dengan perasaan sedihnya, ia tak pernah sama sekali menyangka jika mantan kakaknya yang dulu selalu ceria tersebut kini keadaannya berbanding terbalik.


"Zidan." Hanum pun semakin mempererat pelukannya.


"Iya Mbak ini aku." balas Zidan.


"Mbak takut," lirih Hanum.


"Hikss...hiks...hikksss." Pelukan erat yang Hanum berikan tadi kini langsung terlepas seketika berganti dengan tangisan lirih Hanum.


"Mbak jangan takut Mbak, ada aku disini." ucap Zidan yang langsung menatap Hanum.


"Mulai sekarang Mbak harus percaya sama aku, aku akan selalu ada disini buat jagain Mbak." ucap Zidan dengan penuh keyakinan, Hanum pun hanya menganggukkan kepalanya mengerti.

__ADS_1


Jika dipikir pikir mungkin Hanum langsung bisa percaya pada Zidan karena dulu ia terbilang sangat dekat dengan mantan adik iparnya tersebut.


Tatapan Hanum kini langsung beralih pada sosok wanita yang sejak tadi hanya berdiam diri dibelakang Zidan tersebut, tau apa yang tengah dilihat oleh Hanum Zidan pun mencoba mengenalkan kembali Mamanya pada Hanum, barangkali Hanum telah lupa.


"Oh iya, Mbak masih inget kan? ini Mama." ucap Zidan yang langsung berdiri dan merangkul pundak Mamanya.


Tampak Hanum yang memandang lekat lekat seperti terlihat tengah mencoba mengingat wanita itu, tiba tiba saja raut wajah Hanum langsung berubah dan....


"Jahattt." teriak Hanum, tangannya pun seketika langsung meraih gelas yang masih tersisa sedikit air nya tersebut dan melayangkannya kesembarang arah.


Pppraaanggggg......


"Astagaaa." terkejut Bu Dian.


"Jahhhaaaatttt." teriak Hanum lagi yang kemudian langsung turun dari brankarnya dan duduk meringkuk disampingnya.


"Mbak, Mbak Hanum kenapa?" panik Zidan yang langsung mendekat kepada Hanum.


"Hanum kenapa?" panik Bu Dian yang juga mendekat kearah Hanum.


"Wanita jahaatttt." teriak Hanum yang langsung berdiri dan mendekat kearah Bu Dian.


"Aahhhh." teriak Bu Dian tatkala dengan tiba tiba Hanum langsung menjambak rambutnya dengan kuat dan menariknya kekanan dan kekiri.


"Jahhattt." teriak Hanum lagi tepat didepan wajah Bu Dian.


"Astaga Mamaaa." teriak Zidan yang langsung ikut panik.


"Aaaaaa..." teriak Bu Dian.


"Jahaaattttt." teriak Hanum lagi yang semakin menarik rambut Bu Dian hingga beberapa helai rambit harus rontok dari kulit kepalanya.


"Mbakk Hanum." Zidan pun langsung menarik cukup keras tubuh Hanum, namun tidak semudah yang ia kira karena Hanum sama sekali tidak melepaskan tangannya dari rambut Mamanya hingga membuat Mamanya pun ikut tertarik kearahnya.


"Mbak lepasin Mama mbak." teriak Zidan yang masih berusaha menjauhkan Hanum dari jangkauan Mamanya.


Ceklekk....


Tap....tap....tapppp....tappp


Tiba tiba saja dokter dan perawat langsung masuk dan seperti biasa dokter langsung memberikan suntikan kepada Hanum berupa suntikan obat penenang.


Tubuh Hanum pun perlahan lahan kian melemah sebelum akhirnya tak sadar.


"Maaf sebelumnya, saya telah memperingatkan kalau Bu Hanum tidak boleh sampai tertekan seperti ini. Jika kejadian seperti ini terus menerus terulang kembali maka Bu Hanum harus benar benar kita pindahkan ke rumah sakit jiwa." ucap Dokter yang sudah terbiasa menangani Hanum yang kini terlihat sangat kesal tersebut.


"Maaf dok, saya tidak tahu jika akhirnya akan seperti ini." lirik Zidan yang merasa bersalah.


"Sebaiknya biarkan Bu Hanum beristirahat dengan tenang terlebih dahulu." ucap dokter tersebut yang kemudian langsung berlalu pergi tersebut.


Usai kepergian dokter tersebut Bu Dian dan Zidan hanya bisa menatap sendu wajah Hanum yang tampak tenang dalam tidurnya tersebut.


"Maafin Mama, Mama nggak tau kalau reaksi Hanum akan seperti ini sama Mama." lirih Bu Dian yang juga ikut merasa bersalah.


"Mama memang sudah sangat keterlaluan dulu sama Hanum, wajar saja bila Hanum sampai seperti ini." kata Bu Dian.


"Udah lah Ma, sebaiknya sekarang kita pulang aja dulu."


"Mama juga belum benar benar pulih kan." sahut Zidan yang tak ingin lebih lama lagi mendengar kata kata penuh sesal dari bibir Mamanya.


Akhirnya Zidan dan Bu Dian pun benar benar pulang, Zidan sendiri berencana akan kembali menjenguk Hanum nanti malam atau esok pagi.


........


"Kamu tega num." lirih Anton meraba foto tersebut.


"Aku janji, aku bakalan buktiin kalau kamu itu milik aku sepenuhnya."


"Seutuhnya kamu milik aku." ucap Anton dengan penuh keyakinan.


Tok....tok....tokkkk


Terdengar ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.


"Masuk." jawab Anton.


Ceklekkk.....


"Permisi pak." ucap seorang laki laki tersebut dengan penuh hormat.


"Ada apa?" tanya Anton pada laki laki tersebut.


"Saya datang kesini untuk menyampaikan informasi penting." jawab laki laki tersebut dengan menundukkan kepalanya.


"Informasi?" gumam Anton.


"Katakan." ucap Anton kemudian.


...........


"Baik untuk rapat kali ini kita akhiri sampai disini." kata Pak Tyo yang dengan penuh wibawanya.


"Jika ada ide ide baru atau masukan mengenai design kali ini, bisa kalian sampaikan kepada designer yang menangani proyek kali ini." ucap Pak Tyo terakhir kali sebelum pergi meninggalkan ruang rapat ini.


Tap....tap...tap...tapp


Hahhh.....Pak Tyo langsung menyenderkan punggungnya, melepas lelahnya hari ini.


Pikirannya kali ini dibuat kalut, hari ini saja ia telah menerima banyak keluhan dari konsumen mengenai produk yang baru saja ia luncurkan. Tentu saja ia harus cepat mengatur strategi baru supaya produknya tidak menanggung kerugian terlalu banyak atas upaya dan kerja keras yang telah ia dan seluruh karyawan keluarkan.


"Siapa orang tadi?" gumam Pak Tyo yang tiba tiba langsung mengingat kejadian yang baru dialaminya pagi tadi.


Tring... tiba tiba saja ponsel miliknya berdering menandakan bahwa ada pesan masuk, ia pun lekas meraih ponselnya.


"Rini?" gumam Pak Tyo membaca nama yang tertera dilayar ponselnya, melihat namanya saja Pak Tyo sebenarnya sudah jengah namun ia juga tidak bisa mengabaikan wanita itu begitu saja dalam keadaannya yang sekarang ini.


"Pasti soal Retha lagi." lirih Pak Tyo yang langsung tau apa alasan yang Rini gunakan ketika menghubunginya selain tentang Retha.


"Yo, aku mau malam ini aku ketemu Retha." begitulah kira kira pesan yang dikirimkan oleh Rini.


Pak Tyo hanya membaca pesan tersebut tanpa berniat untuk membalasnya, namun tak berselang lama panggilan masuk dari mantan istrinya tersebut pun datang.


Tutt....tttuuutttt.....tttuuuttt....


"Hahhh." Pak Tyo menatap jengah ponselnya, wanita itu pasti akan selalu menerornya jika keinginannya tak kunjung terpenuhi. Tak punya pilihan lain, Pak Tyo pun langsung menggeser tombol hijau tersebut.


"Halo, yo kenapa kamu nggak balas pesan aku?" baru saja mengangkat teleponnya Pak Tyo sudah diberondong dengan berbagai pertanyaan oleh mantan istrinya.


"Kamu nggak lagi bohongin aku kan yo? atau harus aku sendiri yang dateng kerumah kamu?" tanya Rini dengan nada mengancamnya.

__ADS_1


"Aku sibuk rin." balas Pak Tyo.


"Aku juga belum ngomong sama Retha." ucapnya lagi.


"Malam ini yo, malam ini aku harus ketemu Retha." sahut Rini dengan suara yang menggebu gebu.


"Aku nggak bisa janji rin kalau malam ini." jawab Pak Tyo.


"Aku maunya malam ini yo, cuma malam ini titik."


"Aku tunggu kamu sama Retha dicafe Pelangi jam 8 malam." ucap Rini yang kemudian langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.


"Ahhhhh"


Brakkkkk....Pak Tyo langsung berdiri dan menggebrak mejanya, hari ini semuanya berjalan dengan sulit. Pikirannya yang sudah kacau kini malah semakin kacau dibuatnya.


.........


Singkat cerita hari sudah malam....


"Retha sayang." panggil Pak Tyo pada putrinya yang tengah menyantap camilan tersebut.


"Iya pa." jawab Retha yang langsung menoleh kearah Papanya.


"Retha mau nggak malam ini jalan jalan sama Papa?" tanya Pak Tyo belum pada intinya.


"Kemana pa? jenguk tante Hanum lagi? mau dong pa aku mau, aku siap siap dulu ya." jawab Retha dengan penuh semangatnya, hingga langsung berdiri dari posisi duduknya.


"Eh nggak kerumah sakit sayang." ucap Pak Tyo cepat yang langsung meraih tangan putri kecilnya tersebut.


"Terus mau kemana pa?" tanya Retha yang tampak bingung tersebut.


"Kita bakalan ketemu sama orang spesial." jawab Pak Tyo dengan senyum yang mengambang dari bibirnya.


"Orang spesial? siapa pa?" tanya Retha yang tak mengerti namun penasaran dengan maksud Papanya tersebut.


"Makanya ayo ikut Papa, tapi sekarang Retha siap siap dulu yah." balas Pak Tyo yang dijawabi dengan anggukan kepala pasrah oleh Retha yang kemudian langsung berlalu pergi menuju kamarnya.


Tadinya Pak Tyo ingin mengatakan secara langsung pada Retha, namun ia berfikir ulang jika belum tentu Retha akan mau jika bertemu dengan Mamanya. Jadi Pak Tyo pikir sebaiknya ia akan memberi kejutan saja, yang terpenting Rini akan puas setelah bertemu dengan Retha dan tak akan mengganggunya lagi.


Sekitar 20 menit kemudian akhirnya putri kecilnya telah keluar dari kamarnya dengan pakaian dan rambut yang tergerai indah, tentu saja Bibilah yanh membantu mendandani Retha.


"Wahhh anak Papa cantik banget." puji Pak Tyo.


"Iya dong pa, masak anak Papa jelek sih." balas Retha.


"Iya deh iya percaya Papa kalau Retha anak yang paling cantik." balas Pak Tyo.


"Oh iya, makasih ya bik." ucap Pak Tyo pada Bibinya tersebut.


"Sama sama Pak, kalau begitu saya pamit ke belakang dulu." balas Bibi dengan sopannya yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Pak Tyo.


"Ayo sayang, kita berangkat sekarang." ajak Pak Tyo.


"Oke pa." balas Retha.


.......


Seperti biasa, jika tak ada orang lain maka Hanum hanya akan menatap kosong apapun yang ada didepannya.


Bukkk....


"Hahhh." terkejut Hanum hingga tubuhnya terlonjak.


Tiba tiba saja ada sebuah benda hitam yang masuk kedalam kamar Hanum dari arah jendelanya.


Hanum yang terkejut namun penasaran tersebut pun langsung mendekati benda tersebut dengan perasaan takut, perlahan lahan ia menyentuh dan membuka bungkusan kresek tersebut.


Kkkkrrrrreeeeekkkkk.....


"Aaaaaaa." teriak Hanum yang langsung melemparkan benda tersebut kesembarang arah.


Sementara ia sendiri langsung berlari seperti orang kesetanan.


Cekelekkkk


"Aaaa." teriak Hanum sembari berlarian keluar kamarnya, tentu saja hal tersebut langsung menarik perhatian orang orang disekitarnya.


"Aaaa....tolongggg." teriak Hanum yang langsung jongkok dengan posisi menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya.


"Dokk tolong dok, ada pasien yang kaburrr." teriak salah seorang wanita tua yang terlihat takut melihat Hanum.


Tiba tiba saja Hanum langsung berdiri dan berlari kesembarang arah.


Brakkk....


Bugh....


Bukkk....


Bahkan ia akan menabrak apapun didepannya yang menghalangi jalannya.


"Tangkap diaaa." teriak seseorang.


Beberapa secirity pun langsung bersiap siaga dengan posisinya hendak menangkap Hanum, Hanum yang merasa jika posisinya terancam pun langsung meraih sebuah pot yang kebetulan ada disampingnya.


Pranggggg.....sontak saja para security yang didepannya pun langsung mundur untuk menghindari lemparan tersebut.


Sementara Hanum langsung berlari lagi kearah lain, ia tak segan segan untuk melemparkan apapun barang yang dilihatnya.


Pranggg.....


Kali ini sebuah gucci pun tak luput dari sasaran Hanum.


"Pergiiii!" teriak Hanum menatap marah para security yang dirasa telah mengganggu keamanannya tersebut.


Kemudian datanglah beberapa security dari arah belakang yang langsung menangkap dan mencekal tangan Hanum hingga berhasil mengunci tubuh Hanum.


"Aaaaa....lepass....lepassss tolonggg." berontak Hanum hingga kakinya menendang nendang dengan asal ke udara membuat 2 security yang memegangnya pun kewalahan.


"Tunggu sebentar." ucap dokter yang hendak menyuntikkan obat untuk Hanum.


"Akhhh." ringis Hanum kala sebuah jarum suntik menembus kulitnya.


Perlahan lahan tingkat kesadaran Hanum pun mulai menurun sebelum pada akhirnya ia kembali tak sadar diri.


"Bawa ke kamarnya dan hubungi keluarganya." ucap dokter tersebut.


~Hal terbaik dalam hidup adalah ketika kita mampu melakukan apa yang orang katakan tidak mampu kita lakukan~

__ADS_1


^Xiumin^


__ADS_2