Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 104


__ADS_3

Plakkk.....


Sebuah tamparan keras mendarat dengan mulus dipipi kiri Hanum, membuat Hanum sampai ikut terhuyung kesamping.


"Mamaaa." teriak Zidan dan Pak Basuki hampir bersamaan.


Sontak saja Zidan langsung mendekat kearah Mamanya dan memegang tangan yang tadi digunakan untuk menampar pipi Hanum tersebut.


"Ma, Mama apa apaan sih! kenapa Mama malah menampar Mbak Hanum." kesal Zidan yang langsung menatap Mamanya dengan tatapan menusuk seolah olah dengan berani melayangkan tatapan beraninya pada wanita yang telah melahirkannya tersebut.


"Biarin!." bentak Bu Dian.


"Biarin wanita ini tau akibatnya."


"Gara gara dia anakku jadi seperti ini, gara gara dia wanita sialan ini yang membuat anakku jadi gilaaa." teriak Bu Dian dengan tangan yang menunjuk nunjuk pada Hanum, sontak saja Pak Basuki langsung mendekat kepada sang Istri dan langsung memeluk tubuh kecil tersebut.


"Ma, Mama jangan gini dong. Ini bukan salah Hanum Ma, bukan salah Hanum sama sekali. Jadi jangan bawa bawa Hanum lagi dalam permasalahan keluarga kita dong Ma." ucap Pak Basuki yang saat ini tengah memeluk tubuh kecil wanita yang sudah menjadi bagian dari hidupnya selama ini.


Bugh....dengan sekali hentakan yang sangat kuat Bu Dian langsung mendorong tubuh kekar suaminya.


"Bukan gara gara dia?" tanya Bu Dian dengan tersenyum sinis sembari menunjuk kearah Hanum.


"Dia! karena dia lah Adnan jadi seperti ini pa. Karena Adnan tergila gila sama wanita brengsek ini pa!" teriak Bu Dian lagi.


Brengsek? berapa banyak kata kata kasar yang akan keluar dari bibir wanita itu? seberapa banyak lagi? wanita lancang yang menghinanya, bagaimana bisa orang lain menghina dirinya dengan begitu rendah saat orang tuanya sendiri yang bertahun tahun membesarkannya tak pernah sama sekali mengeluarkan kata kata menjijikan itu.


"Brengsek?" Hanum tersenyum sinis menatap Bu Dian yang tampak masih menatapnya dengan tajam.


"Jika saya adalah wanita brengsek, maka anda jauh lebih brengsek dari pada saya."


"Bagaimana bisa ada seorang Ibu yang turut ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya? perceraian kami terjadi karena campur tangan anda."


"Tidak salah jika anak anda jauh tergila gila kepada saya karena nyatanya wanita yang selama ini anda bela bahkan tidak jauh lebih baik dari pada saya."


"Beruntunglah anak anda yang ternyata masih memiliki otak yang jauh lebih waras dari pada anda." ucapnya yang kemudian diakhiri dengan sebuah senyuman membuat Zidan, Pak Basuki terkejut sedangkan Bu Dian langsung menunjukkan wajah piasnya.

__ADS_1


"Kamu menghina saya? maksud kamu saya gila?" tanyanya dengan wajah tak habis pikir.


"Maaf, seharusnya saya tidak mengatakan hal ini tapi saya pikir mungkin tidak ada yang berani menyadarkan anda seperti saya." jawab Hanum yang kemudian langsung berbalik hendak undur diri, bahkan ia sampai lupa yidak berpamitan pada mantan Papa mertuanya terlebih dahulu.


"Woi dasar wanita tidak tau diri! wanita murahan! wanita gilaaa!" teriak Bu Dian mengiringi langkah kaki Hanum.


"Maa sudah ma sudah! cukup!" bentak Pak Basuki yang langsung bisa membuat mulut istrinya bungkam seketika.


...........


Saat ini Anton tengah duduk termenung didepan ruangan Vanessa yang saat ini tengah diperiksa oleh dokter, bukan memikirkan nasib Vanessa dan calon anaknya melainkan otak Anton yang berkeliaran memikirkan Hanum.


Dengan kejadian ini sudah bisa dipastikan dengan jelas jika Hanum pasti akan memutuskan hubungan mereka, mau dikata apa lagi? semuanya sudah terbongkar sebelum waktu yang direncanakannya.


"Brengsek!" umpat Anton dengan nada terendahnya, rasanya ia sudah tak sanggup lagi untuk berteriak melampiaskan segala kekesalannya.


"Apa aku harus pergi, Vanessa sudah diruamh sakit dan dokter pasti akan menangani Vanessa dengan baik." gumam Anton sembari melihat pintu kamar Vanessa dengan jalan arah keluar secara bergantian.


"Ya, aku harus menemui Hanum." ucap Anton dengan penuh keyakinan yang kemudian langsung beranjak dari posisi duduknya dan berlari keluar.


Brakkk...


Saking tergesa gesanya Anton sampai menabrak salah seorang suster yang baru keluar dari sebuah ruangan dan membuat obat obatan yang dibawanya jatuh berceceran dilantai.


"Maaf, saya nggak sengaja." ucap Anton yang tanpa perduli lagi langsung melanjutkan larinya.


Anton mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju kantor polisi.


"Sial." umpat Anton ketika tiba tiba lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah padahal dari jarah jauh sebelumnya ia sudah menambah kecepatan mobilnya.


Detik demi detik berlalu begitu lama membuat Anton geram sendiri, ia pun langsung merogoh ponselnya dan mencari cari nomor Hanum.


Tutt....tttuuutttt.....tttuuutt.....


Disisi lain Hanum yang tengah berjalan ditrotoar begitu merasakan ponselnya berdering pun lansgung merogoh ponselnya untuk melihat nama yang tertera dilayar ponselnya tersebut.

__ADS_1


"Mas Anton?" gumam Hanum membaca nama yang tertera tersebut.


"Untuk apa dia telepon?" gumamnya.


Tanpa menunggu lama lagi Hanum pun langsung memasukkan kembali ponselnya kedalam tasnya, rasanya saat ini ia sedang tidak mood untuk berbicara. Otaknya serasa lelah setelah dipaksa untuk mencerna semua kejadian yang baru saja terjadi, telinganya terasa panas bahkan jika dilihat dengan mata batin pasti telinganya sudah mengeluarkan asap berwarna hitam saat tadi mendengar kata kata menusuk hadiah dari mantan ibu mertuanya, sedangkan bibirnya begitu lelah saat kali pertamanya ia mengeluarkan kata kata paling tidak sopan yang ditujukan untuk Bu Dian tadi.


"Ahhh brengsekkk!" umpat Anton sembari memukul setir mobilnya ketika Hanum bahkan tidak menjawab panggilannya, seketika lampu telah berubah warna dan tanpa menunggu lama lagi Anton pun langsung menginjak pedal gasnya kembali.


.........


"Kenapa kamu kayak gini nak? kenapa kamu sampai sejauh ini?" tanya Bu Dian dengan wajah prihatin karena sama sekali tak menyangka jika anaknya akan bertindak sejauh ini.


"Karena aku nggak bisa ngelupain Hanum ma." jawab Adnan yang langsung tertunduk.


"Buka mata kamu nan, buka mata kamu. Masih banyak wanita yang jauh lebih baik dari pada Hanum, kenapa kamu nggak bisa buka hati kamu sedikit aja buat Vanessa nan? kenapa?" tanya Bu Dian dengan nada yang awalnya menggebu gebu namun berubah menjadi nada keputusasaan pada akhirnya.


"Wanita itu hanya baik menurut Mama, bagiku dia wanita brengsek ma." jawab Adnan dengan rahang yang telah mengeras karena kembali mengingat wajah dari wanita licik itu.


"Gara gara dia ma! dia ngejebak aku dari awal ma pa." ucap Adnan sembari menatap wajah Mama dan Papanya secara bergantian.


"Ngejebak kamu?" tanya Pak Basuki yang tampak terkejut.


"Iya pa, wanita brengsek itu ternyata ngejebak aku."


"Anak yang ada didalam perut wanita itu ternyata anak dari calon suami Hanum, mereka berdua telah menghancurkan rumah tangga aku!" teriak Adnan.


"Sekarang aku harus apa pa, apa yang harus aku lakuin supaya Hanum mau kembali sama aku pa?" lirih Adnan.


Pak Basuki merasa sangat prihatin dengan apa yang menimpa anaknya tersebut, rasanya ia telah telah menjadi orang tua yang gagal karena tidak bisa berbuat apa apa untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi putranya tersebut.


"Aaaaaaa." teriak Hanum.


~Semua manusia unik dengan kemampuannya sendiri~


^J Hope^

__ADS_1


__ADS_2