Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 62


__ADS_3

Makan malam berjalan dengan normal, tak afa hal penting yang terjadi. Lebih banyak Bu Dian yang berbicara, dan dari sekian banyaknya topik yang bisa dibicarakan Bu Dian lebih memilih membicarakan kandungan Vanessa padahal yang lainnya tak begitu menimpalinya.


"Kayaknya kalian nginep aja deh disini." ucap Bu Dian sebelum beranjak pergi, padahal yang lainnya sudah berdiri dari posisi duduknya.


"Kalian nginep disini aja yah." ucap Bu Dian kembali memohon.


Akhirnya kini Adnan, Hanum dan Vanessa benar benar menginap dirumah ini.


"Sayang, kamu belum ngantuk?" tanya Adnan pada Hanum yang tengah melakukan cleansing pada wajahnya.


"Udah, bentar lagi juga udah mau tidur." jawab Hanum yang kemudian langsung berdiri dari posisi duduknya karena sudah selesai melakukan rutinitas sebelum tidur. Akhirnya Hanum dan Adnan pun tidur bersama, dengan posisi saling berpelukan.


Hanum yang baru saja selesai mandi melihat ada seorang yang tengah berdiri didepan lemarinya dengan memegang sebuah baju yang paling disukainya, merasa heran Hanum pun melangkah berlahan lahan mendekatinya.


"Siapa kamu?" pekik Hanum yang langsung membuat wanita itu terlonjak kaget dan kemudian langsung kabur begitu saja, Hanum tanpa menunggu lama lagi pun langsung mengejarnya. Namun sialnya ia kehilangan jejak pencuri itu. Begitu saja Hanum merasakan kakinya melemas dan terduduk dilantai begitu saja, perasaannya sungguh sedih kehilangan baju yang paling disayanginya. Suara tangisannya pilu menyayat hati.


Brak....hahh....hah...hah.....Hanum langsung terbangun dari mimpi buruknya dengan dada naik turun dan nafas yang memburu, buru buru ia langsung mengambil segelas air yang terletak dinakas samping tempat tidurnya dan menghabiskannya hanya dengan beberapa kali tegukan.


Hingga pada akhirnya nafas Hanum akhirnya berlangsung membaik.


"Mas" Hanum langsung menoleh kearah Suaminya entah mengapa pikirannya langsung tertuju pada Suaminya tersebut, namun yang terjadi justru diluar dugaannya dimana suaminya sudah tak berada lagi disampingnya.


"Kemana Mas Adnan?" gumam Hanum dengan beribu pertanyaan, apakah suaminya mencari udara diluar? entahlah yang pasti ia harus segera mencarinya detik ini juga.


Hanum langsung turun dari ranjangnya dan keluar dari kamarnya. Sepi....itulah yang pertama kali ia rasakan setelah keluar dari kamarnya, memangnya siapa yang akan berkeliaran saat dini hari seperti ini?


Hanum mencari cari keberadaan Suaminya di seluruh ruangan. Baik diruang keluarga, tamu, dapur bahkan sampai didepan rumah namun tak kunjung ia menemukan keberadaan Suaminya membuat perasaannya tambah tak karuan lagi. Meyakini suaminya benar benar tidak ada diluar Hanum pun kembali kedalam rumah, tiba tiba saja ia malah teringat kembali saat Suaminya yang tiba tiba keluar dari kamar Vanessa, bukan hanya sekali tapi dua kali ia melihatnya.


Wapaupun ragu, namun Hanum tetap memberanikan diri melangkahkan kakinya menuju kamar tempat Vanessa beristirahat. Diluar kamar Vanessa, Hanum menguatkan dirinya dengan merapalkan banyak banyak doa berharap hal yang ia takutkan tidak akan pernah terjadi.


Perlahan lahan ia memegang gagang pintu dan ternyata pintunya tidak terkunci, entah petunjuk apa yang akan Hanum dapatkan dibalik kemudahan ini.


Ceklekk.....Hanum langsung memutarnya dan mendorong pintu dengan cukup keras, betapa terkejutnya Hanum melihat pemandangan yang tersaji dihadapannya ini. Melihat Suaminya yang saat ini tengah berposisi diatas tubuh Vanessa, Suaminya...melanggar janjinya untuk tidak berhubungan dengan Vanessa.


Tes.....


"M..Mas Adnan." rasa tak percaya masih memenuhi dada Hanum, ia hanya berharap apa yang dilihatnya ini hanyalah mimpi.


"Aku mohon tuhan, jadikanlah ini sebagai mimpi...jangan pukul aku dengan kenyataan menyedihkan ini"

__ADS_1


"Ha...Hanum." sebuah suara yang langsung menyadarkan Hanum jika yang dilihatnya bukanlah mimpi belaka, ia pun melihat dengan jelas saat suaminya dan Vanessa tengah kebingungan kesana kemari mencari pakaian yang telah berserakan dimana mana.


Tak kuat lagi, Hanum pun langsung pergi meninggalkan tempat terkutuk ini.


"Hauummm tunggu, Hanummmm" teriak Adnan yang menggelegar mengiringi langkah kaki Hanum, namun Hanum sudah tak perduli lagi. Bodohnya ia malah melangkahkan kakinya kembali lagi ke kamarnya.


Ternyata teriakan Adnan tadi sukses membangunkan seluruh penghuni rumah ini, dapat Hanum dengar jika diluaran sana semua orang telah berkumpul didepan kamarnya menggedor gedor pintunya dan memohon agar dirinya keluar dari persembunyiannya.


.........


Kini semuanya telah berkumpul diruang keluarga, tempat yang tadinya remang remang kini telah berubah menjadi terang benderang.


Hanum hanya diam memperhatikan dengan seksama dua orang yang tertunduk diam dihadapannya, sementara yang lainnya tampak diam mengamatinya Adnan dan Vanessa secara bergantian. Mencoba menerka nerka apa yang akan terjadi setelah ini.


"Maaf." satu kata yang tiba tiba saja meluncur dengan mudahnya dari laki laki yang telah ia percaya selama ini.


Dia minta maaf karena ketahuan, bukan penyesalan. Wajar bila kesalahannya dilakukan berulang ulang.


Kini akhirnya Hanum telah tersadar dari kebodohannya, kejanggalan kejanggalan yang kerap terjadi dan mengapa dengan mudahnya selama ini ia langsung percaya begitu saja dengan bajingan itu.


"Cerai, ceraikan aku." ucap Hanum tegas dengan tatapannya yang tajam seakan akan hendak membunuh laki laki penghianat tersebut.


"Nggak," tolak Adnan cepat.


"Aduhhh kenapa musti dibuat ribet sih?" tiba tiba saja Bu Dian membuka suara, entah mengapa suara wanita itu kini terdengar menyebalkan ditelinga Hanum membuat semua orang langsung menatap wanita berumur tersebut.


"Adnan sama Vanessa tuh melakukan hal yang wajar mereka lakukan," lanjut Bu Dian.


"Mereka itu nggak zina, jadi kamu nggak seharusnya bereaksi berlebihan seperti ini."


"Lagi pula kamu yang jahat num, bagaimana bisa kamu menghalangi Adnan untuk melakukan kewajibannya terhadap Vanessa selama ini?" tanya Bu Dian dengan tatapan seolah olah tak percaya.


"Mama diam." ucap Pak Basuki terdengar lirih namun penuh dengan penekanan.


"Pa, biarin dong. Biar Hanum itu sadar dengan kesalahannya, jangan biarin dia jadi wanita serakah." jawab Bu Dian dengan emosi yang telah menggebu gebu.


"Mama Diam!" bentak Pak Basuki yang langsung membuat Bu Dian bungkam seketika.


Pak Basuki tampak menghela nafas kasar, sebagai Papa dari Adnan ia berusaha tidak memihak siapa pun dan berlaku adil terhadap semuanya.

__ADS_1


"Hanum." panggil Pak Basuki dengan nada yang mulai melembut, mendengar namanya dipanggil Hanum pun perlahan lahan menoleh kearah Pak Basuki.


"Papa tidak membenarkan perbuatan kamu begitu juga dengan Adnan." ucap Pak Basuki perlahan.


"Memang seharusnya yang dilakukan Adnan terhadap Vanessa bukan suatu kesalahan." lanjut Pak Basuki.


"Mas Adnan udah janji nggak akan nyentuh bedebbah itu sebagai ganti atas pernikahan diam diamnya." ucap Hanum tegas dengan rahang yang mengeras.


Mendengar Hanum menyebut dirinya bedebbah membuat Vanessa langsung naik pitam tak terima.


"Heh wanita mandul! kamu pikir ini yang pertama kalinya Mas Adnan ngelakuin ini sama aku hah?" sahut Vanessa yang spontan langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Vanessa cukup." lerai Adnan dengan tegas sembari menarik tangan Vanessa agar terduduk kembali.


"Diam Mas," Vanessa langsung menepis dengan kasar tangan Adnan.


"Heh Hanum kami ngelakuin ini sudah Berkali kali, ingat berkali kali!." ucap Vanessa dengan tegas sembari menunjuk nunjuk wajah Hanum.


Tes....air mata kembali jatuh dari mata cokelat Hanum, hatinya perih dan sakit. Ternyata bukan hanya sekali suaminya membodohinya, berkali kali. Apa menyenangkan membuat dirinya tampak bodoh selama ini? apakah ini juga cuma akal akalan Mas Adnan supaya bisa kembali pada Vanessa?


"Vanessa!." bentak Adnan


Pak Basuki tampak mengusap wajahnya dengan kasar, sementara Bu Dian tampak tak perduli sama sekali dengan suasana yang sudah mulai memanas ini.


"Hanum aku aku bener bener minta maaf." ucap Adnan sembari beranjak dari posisi duduknya hendak menghampiri Hanum.


"Adnan duduk." ucap Pak Basuki penuh penekanan.


"Tapi pa, aku harus jelas.." tolak Adnan.


"Duduk! " bentak Pak Basuki sekali lagi yang membuat Adnan langsung duduk ditempatnya semula menuruti perkataan Papanya.


"Karena Papa yang mengusulkan perjodohan kalian maka Papa akan memberikan jalan yang terbaik untuk kalian." ucap Pak Basuki dengan beratnya, entah dimana lagi ia harus menyembunyikan wajahnya ketika menghadapi teman lamanya nanti.


"Karena Adnan yang telah menghianati janji kalian, maka kamu berhak memutuskan kelanjuntan hidup kamu." kata Pak Basuki pada Hanum.


"Pa..Papa nggak bisa gitu dong." tolak Adnan yang tak terima dengan keputusan Papanya, tatapan Pak Basuki kini hanya tertuju pada Hanum.


Hanum hanya bisa memejamkan matanya rapat rapat menimang nimang keputusan yang akan diambilnya. Bagaimana dengan keluarganya setelah ini? apa mereka akan marah karena ia tak bisa mempertahankan rumah tangga yang telah dibangga banggakan orang tuanya?.

__ADS_1


"A..aku" ucap Hanum terbata bata memejamkan matanya tak kuasa mengatakan keputusannya.


~Setiap matahari terbenar menjadi bukti jika apa yang kita mikili memiliki akhir~


__ADS_2