
"Pa, menurut Papa tante Hanum bakalan suka nggak yah sama kuenya Pa?" tanya Retha disela sela perjalanannya membuat Pak Tyo pun langsung menoleh menatap gadis kecilnya tersebut.
"Suka dong, tante Hanum pasti bakalan suka banget sama kuenya kan yang bikin Retha sendiri." hibur Pak Tyo.
"He eum." balas Retha dengan mengangguk anggukkan kepalanya penuh semangat, melihat tingkah lucu putrinya membuat Pak Tyo tersenyum dan langsung mengacak acak rambut Retha dengan gemas.
Tak berselang lama akhirnya keduanya pun telah sampai dirumah sakit tempat Hanum dirawat.
"Ayo." ajak Pak Tyo pada Retha untuk turun dari mobil, Retha pun menjawabnya dengan mengangguk anggukkan kepalanya mengiyakan.
Keduanya pun sama sama turun dari mobil, tak lupa Pak Tyo juga mengambil kue yang dibuat secara langsung oleh anaknya tersebut.
"Sini pah, biar aku aja yang bawa kuenya." pinta Retha sembari mengulurkan kedua tangannya.
"Nggak mau." jawab Pak Tyo yang kemudian langsung membuang pandangannya kearah lain.
"Ahhhh Papaaaaa." teriak Retha.
"Ahahahaha, iya iya ini Retha yang bawa." ucap Pak Tyo yang kemudian langsung menyerahkan kue yang dibawanya kepada Retha.
"Yaudah, ayok sekarang kita masuk." kata Pak Tyo yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Retha.
Tok....tok....tok
Pak Tyo pun mengetuk terlebih dahulu pintu kamar rawat Hanum.
Ceklekkk....
Pak Tyo membuka pintu dan terlihatlah Hanum yang tengah duduk bersandar diranjangnya.
"Assalamu'alaikum." Retha mengucapkan salam dengan penuh semangat dan sepertinya Hanum terkejut karena tak menyadari jika ada orang lain yang masuk kekamarnya.
"Hahh." terkejut Hanum, tatapan mata Hanum pun beralih menatap Pak Tyo hingga Hanum...
"Aaaaahhhhhh." teriak Hanum yang sukses membuat Retha dan Pak Tyo langsung terkejut seketika.
"Aaaaaaa." teriak Hanum kembali yang diimbuhi dengan lempara benda benda disekitarnya.
Prangggggg....mangkuk yang berisi bubur pun ikut terbang hingga pada akhirnya melayang dan jatuh berceceran .dilantai.
"Ha Hanum tolong tenang." ucap Pak Tyo yang mencoba menenangkan Hanum.
"Aaaaa....pergiii tolongg pergi! jangan ganggu aku." teriak Hanum yang semakin menjadi jadi.
Pak Tyo sama sekali tidak menyadari jika Retha malah kian mendekat kearah Hanum karena terlalu asik dengan paniknya sendiri.
"Tante." panggil Retha dengan suara lembutnya.
"Hah...hah..." Hanum sampai terjungkat kaget oleh sentuhan yang diberikan Retha, namun Hanum tampak sudah tidak berteriak lagi sembari memandang Hanum dan Pak Tyo secara bergantian.
"Tante, tante apa kabar?" tanya Retha.
"Aku Retha tante, tante masih ingat aku apa nggak?" tanya Retha lagi yang tak mendapatkan jawaban apa apa dari Hanum yang terlihat masih sangat bingung dengan semuanya.
"Itu Papa aku tante, dia nggak jahat kok malah baik banget." ucap Retha yang melihat Hanum terus menatap Papanya dengan wajah seperti ketakutan.
"Papa, sini ayo mendekat." ajak Retha.
"Eh, i...iya." jawab Pak Tyo dengan gugupnya dan perlahan mulai mendekat kearah Retha.
Namun semakin ia mendekat semakin Hanum mencoba mundur dan tampak meringkuk ketakutan dan bahkan langsung memegang tangan Retha erat erat. Tentu saja hal itu membuat Pak Tyo langsung menghentikan langlah kakinya, mengurungkan niatnya untuk melangkah lebih dekat.
"Papa, sepertinya tante Hanum takut pa." ucap Retha yang juga menyadari perubahan yang terjadi pada Hanum.
"I..iya, sepertinya tante Hanum takut." jawab Pak Tyo dengan terbata.
"Kalau gitu Papa tunggu diluar aja yah? Retha nggak papakan Papa tinggal sendiri sama tante Hanum disini?" tanya Pak Tyo pada putrinya tersebut.
"Iya nggak papa kok Pa, Retha berani." jawab Retha dengan penuh keyakinan.
"He eum." balas Pak Tyo menganggukkan kepalanya sebelum kemudian keluar meninggalkan ruangan rawat Hanum.
Klekkk.....
Akhirnya Pak Tyo memilih untuk duduk dikursi tunggu sejenak.
__ADS_1
Hhhuuuuhhh.....
Sementara didalam kamar...
"Tante, tante udah makan belum?" tanya Retha yang kembali membuka suara, namun seperti biasa Hanum sama sekali tak menjawab atau merespon ucapan lawan bicaranya.
"Tante, tante tau nggak? aku bawa kue loh." ucap Retha dengan berbinar binar.
"Dan yang lebih spesialnya lagi adalah yang bikin kue ini Retha sendiri loh, tapi dibantuin sama bibi juga. Hihihi." cekikik Retha menertawakan ucapannya sendiri sembari meraih kue yang dibawanya dari rumah tadi.
"Tadaaaaa, tante makan yah kuenya dicoba dulu." kata Retha sembari membuka box kue tersebut dan mengambil kue yang sudah dipotong menjadi beberapa bagian tersebut.
"Ini untuk tante." ucap Retha sembari menyodorkan kue yang dibawanya tersebut, namun Hanum hanya memandang kue tersebut dan Retha secara bergantian seperti tengah bingung.
"Kalau gitu biar Retha suapin tante aja yah, aaaa." ucap Retha sembari membuka mulutnya untuk menginstruksikan kepada Hanum agar membuka mulutnya juga.
Entah karena menirukan Retha atau karena mengerti arti dari instruksi Retha, Hanum pun ikut membuka mulutnya lebar lebar dan hal itu pun dimanfaatkan Retha untuk menyuapi Hanum.
"Gimana enak nggak tan?" tanya Retha usai menyuapkan kurnya pada Hanum, sementara Hanum hanya menganggukkan kepalanya samar.
"Wuaaahhhhh kalau gitu tante Hanum makan lagi yah, makan banyak banyak kalau perlu habisin sekalian juga nggak papa kok." ucap Retha panjang lebar.
Entah karena terhipnotis atau karena merasa nyaman dengan Retha, untuk yang kedua kalinya Hanum kembali merespon ucapan Retha dengan menganggukkan kepalanya samar.
Akhirnya Hanum dan Retha pun kembali melanjutkan makan kuenya hingga tandas dengan diselingi dengan banyak sekali cerita yang keluar dari bibir mungil Retha, sedangkan Hanum hanya tampak mendengarkan tanpa menjawabnya.
Sementara Pak Tyo yang berada diluar pun hanya bisa tersenyum melihat interaksi yang terjalin antara Hanum dan juga putri kecilnya, bagaimana bisa Hanum yang biasanya akan berontak kini bisa luluh dengan Retha.
Kkkrruukkkkk....
Tiba tiba saja perut Pak Tyo mengeluarkan suara, ia akhirnya baru menyadari jika hari ini ia telah melewatkan jam makan siangnya dan pantas saja perutnya sudah berteriak meminta untuk segera diisi.
Sekali lagi Pak Tyo mengintip Retha sebelum pada akhirnya memutuskan untuk keluar membeli makanan.
Tap...tap...tappp...tap Pak Tyo pun bergegas keluar dari area rumah sakit menuju tempat mobilnya diparkirkan, ia terlihat sangat terburu buru hingga tak menyadari jika ada sepasang mata yang mengawasi pergerakannya.
.............
Disisi lain Vanessa yang baru saja keluar dari toko pun akhirnya bisa bernafas lega karena ia telah berhasil memperbaiki kalung milik Hanum, ia menggenggam kalung itu dengan penuh kekaguman sebelum pada akhirnya memasukkannya kedalam tas slempang yang dibawanya.
Tak sadar pandangannya beralih pada langit yang tampak berwarna merah jingga yang mendakan jika sebentar lagi hari akan berubah menjadi gelap.
"Udah mau malem juga, lebih baik aku pulang aja." ucap Vanesaa kemudian.
"Kak Vanes?" panggil sesorang tiba tiba, sontak saja Vanessa pun langsung menoleh kearah sumber suara dan tentu saja ia dibuat terkejut dengan sosok laki laki yang berdiri didepannya tersebut.
"Zi...Zidan?" panggil Vanessa dengan terbata bata dan dengan kening yang tampak berkerut heran.
"Kak Vanessa? tadi aku nggak sengaja lihat kakak, jadi aku kesini samperin kakak." ucap Zidan menjelaskan.
Bagaikan sebuah keajaiban yang dirasakan Vanessa saat tiba tiba saja mantan adik iparnya tersebut akhirnya kini memanggilnya dengan sebutan kakak. Pasalnya selama dirinya sah menjadi istri dari Adnan, Zidan sama sekali tak pernah memanggilnya dengan sebutan Kakak, jangankan memanggilnya bertegur sapa dengannya pun Vanessa rasa tak pernah karena terlihat dengan jelas jika Zidan tak menyukainya karena menganggapnya sebagai perusak rumah tangga Kakaknya.
Sebenarnya Zidan sudah tahu mengenai kejadian yang menimpa Vanessa, mulai dari hubungannya dengan Anton yang notabenya berstatus sebagai tunangan Hanum hingga kabar tentang meninggalnya bayi yang dikandung Vanessa dan tentu saja hal itu membuat fikiran Zidan langsung terbuka dan menyadari jika Vanessa melakukan hal tersebut karena keadaan yang tak berpihak kepadanya hingga membuatnya berani berbuat jauh menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kakaknya walaupun tidak diperlakukan dengan baik oleh Kakaknya.
"O...oh iya, ka..kamu dari mana emangnya?" tanya Vanessa balik, mencoba bersikap santai dengan Zidan dirasa akan membuatnya dan Zidan merasa jauh lebih nyaman.
"Aku habis kumpul sama temen temen aku kak." jawab Zidan jujur apa adanya.
"Ohhh." balas Vanessa sembari mengangguk anggukkan kepalanya.
"Oh iya gimana kabar Kakak kamu?" tanya Vanessa berbasa basi, sebenarnya ia merasa tak enak hati menanyakan kabar kakaknya. Namun ia sama sekali kehilangan bahan pembicaraan, dari pada membuat suasana jadi cangggung tak ada salahnya ia menanyakan hal tersebut tanpa perduli dengan apa yang difikirkan Zidan tentangnya tersebut.
"Emm Mas Adnan? Mas Adnan baik baik aja kok kak, kemarin aku sama Papa abis jengukin Mas Adnan." jawab Zidan tanpa merasa ragu, bahkan bibirnya menyunggingkan senyum seakan akan ia sangat menikmati pembicaraan yang tengah terjadi.
"Ohh, syukurlah kalau begitu." balas Vanessa sembari berusaha menyunggingkan senyumannya juga.
"Aku turut berduka cita kak, atas meninggalnya anak kakak." ucap Zidan kemudian yang baru mengingat hal tersebut.
"Oh iya, terima kasih." balas Vanesaa.
"Oh iya kamu udah tau belum kabar Hanum?" tanya Vanessa pada Zidan.
"Aku malah udah nggak pernah ketemu sama Mbak Hanum lagi Kak." balas Zidan yang memang sudah lama tidak bertemu dengan Hanum setelah ia melihat Hanum yang hendak pergi keluar bersama Anton saat itu.
"Kasi tahu nggak ya soal kabar Hanum?" batin Vanessa.
__ADS_1
"Nggak ada salahnya juga sih kasi tahu Zidan, toh dia kan juga sayang banget sama Hanum." batinnya lagi.
"Emm kamu mau nggak ketemu sama Hanum?" tanya Vanessa pada Zidan.
"Ketemu sama Mbak Hanum? ah...nggak usah Kak, aku tahu kok alamat kos kosannya Mbak Hanum." tolak Zidan.
"Emmm masalahnya Hanum lagi nggak dikos kosan." ucap Vanessa kemudian.
"Nggak dikos kosan?" kaget Zidan mendengar ucapan mantan kakak iparnya tersebut, Vanessa menanggapinya dengan menggeleng gelengkan kepalanya.
"Terus Mbak Hanum kemana Kak? kenapa aku nggak tahu kalau Mbak Hanum udah nggak ngekos disitu lagi?" tanya Zidan yang tampak terkejut sekaligus kepo.
"Emm tapi kamu jangan bilang bilang sama orang lain dulu yah, terutama sama Mama kamu." kata Vanessa dengan nada berbisiknya.
"Iya, aku nggak akan kasi tahu siapapun termasuk Mama. Sekarang Kakak bilang sama aku dimana Mbak Hanum sekarang?" tanya Zidan dengan tak sabarannya.
"Emm Hanum sekarang ada dirumah sakit." jawab Vanessa dengan nada terendahnya.
"Apaaa?" pekik Zidan yang merasa terkejut dengan kata kata yang keluar dari mulut Vanessa.
"Emangnya Mbak Hanum sakit apa?" tanya Zidan lagi.
"Ha...Hanum mengalami gangguan mental dan." jawab Vanessa sedikit ragu ragu untuk mengatakannya.
"Apaa???" untuk kedua kalinya Zidan kembali dibuat terkejut dengan jawaban dari Vanessa.
"Iya dan, jadi Kakak taunya Hanum dirumah sakit dan Tyo yang bawa Hanum kerumah sakit." jawab Vanessa.
"Tyo? siapa dia? apa dia orang baik? giman kalau ternyata dia orang jahat dan bakalan jahatin Mbak Hanum?" tanya Zidan dengan berapi api, seperti hendak menyambar apapun didepannya.
"Zidan...Zidan kamu tenang dulu, jangan emosi kayak gini dong." ucap Vanessa yang mencoba menenangkan emosi Zidan tersebut.
"Gimana aku bisa tenang kak? gimana kalau orang itu bener bener punya niat jahat sama Mbak Hanum? Aku kasihan banget sama Mbak Hanum, kasian kalau dia terus terus disakiti sama laki laki brengsek kayak gini." kata Zidan yang tampak mengeluarkan urat urat dilehernya.
"Kita, kita ke cafe dulu biar Kakak jelasin semuanya sama kamu."
"Kakak akan cerita semuanya supaya kamu nggak emosi, nggak salah paham kayak gini." ucap Vanessa yang langsung menyeret tangan Zidan tersebut.
Akhirnya Vanessa pun membawa Zidan kesebuah Cafe yang dekat dengan lokasi terakhir mereka, disini Vanessa banyak bercerita mengenai berbagai macam hal yang terjadi dengan Hanum dan juga menjelaskan dengan detail siapa sebenarnya Pak Tyo.
"Kalau gitu ayo sekarang kita kesana kak, ayo kita kerumah sakit sekarang." ajak Zidan dengan nada memaksa.
"Eh eh, tapi ini udah malem dan." kaget Vanessa.
"Besok aja sekalian bareng sama kakak." tawar Vanessa mencoba menahan tubuhnya agar tak terbawa oleh tarikan yang dilakukan Zidan.
"Sekarang aja atau nggak Kakak cepetan kasi tahu aku dimana rumah sakit tempat Mbak Hanum dirawat, aku bakala kesana sendirian." kata Zidan yang sama sekali tak ingin adanya proses menunda nunda.
"Tap." bantah Vanessa sebelum pada akhirnya memejamkan mata dan berfikir jika lebih baik ia ikut bersama Zidan menjenguk Hanum sekarang saja.
"Oke oke, kita pergi sekarang." ucap Vanessa pada akhirnya.
"Oke." akhirnya Zidan bisa bernafas lega karena keinginannya terpenuhi.
Akhirnya keduanya pun berangkat bersama menuju rumah sakit tempat dimana Hanum tengah dirawat.
Sementara disisi lain Pak Tyo baru kembali setelah membeli makanan disalah satu restoran favorit Retha, tak lupa juga ia membelikannya untuk Hanum dan dirinya sendiri sekalian.
Tok...tok...tokkk
Pak Tyo terlebih dahulu mengetuk pintu sebelum membukanya.
"Halo." sapa Pak Tyo.
"Papaaa." teriak Retha dengan penuh kegirangan.
"Papa bawa apa tuh?" tanya Retha yang fokusnya kini beralih kepada beberapa kresek berlogo restoran favoritnya yang ditenteng dikedua tangan Papanya.
"Makanan buat tante Hanum." jawab Pak Tyo sembari menatap Hanum yang tampak menggenggam tangan Retha dengan erat.
"Tante, tante Hanum nggak perlu takut. Papaku nggak jahat kok tante." ucap Retha pada Hanum.
~Jangan mencoba berurusan dengan orang yang menertawakan mimpimu~
^Min Yoongi^
__ADS_1