Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 45


__ADS_3

Hanum keluar dari area rumah sakit dengan air mata yang sudah turun membasahi pipinya, bahkan ia sampai lupa pada mobil Adnan. Seharusnya tadi ia pulang menggunakan mobil Adnan saja, sayangnya kemarahan lah yang telah membuat Hanum sampai melupakan semuanya.


Sepanjang jalan Hanum hanya bisa mengumpat kepada Ibu Mertuanya tersebut, seharusnya ia mengeluarkan segala sumpah serapahnya saat ia masih berdiri tegak dihadapan Mertuanya tersebut. Namun semuanya tinggallah angan semata, karena ia tidak memiliki keberanian untuk mengumpat langsung mertuanya tersebut. Walaupun ia sangat marah namun ia harus menahan semuanya demi harga dirinya, yah....harga dirinya dan juga keluarganya, ia tidak mau nama keluarganya tercoreng dan dianggap tidak mendidik Hanum sopan santun.


Tes.....tes....tes....buliran air bening berjatuhan dari langit, Hanum mendongak ke atas dan barulah saat ini ia melihat langit sudah sangat mendung. Tiba tiba saja hujan langsung turun dengan detasnya, Hanum berlari mencoba mencari tempat yang bisa dipakainya untuk berteduh. Hanum terus berjalan kedepan sampai akhirnya di tikungan ia melihat adanya sebuah pohon besar yang bisa digunakannya untuk berlindung dari detasnya air hujan.


"Kenapa hujannya harus sekarang." gumam Hanum sembari kedua tangannya mengusap usap kedua lengannya agar meminimalisir rasa meggigilnya.


Kian lama tubuh Hanum kian menggigil, sementara hujan belum reda sama sekali. Seharusnya tadi ia membawa tasnya agar bisa menghubungi Suaminya, namun semuanya hanya tinggal kata kata seharusnya karena buktinya ia melupakan semuanya karena amarahnya tadi.


Semakin lama kaki Hanum pun semakin melemas, hingga ia pada akhirnya lebih memilih untuk duduk bersandarkan pada pohon tinggi dibelakangnya.


Tin...tinnn...tiba tiba saja terdengar suara klakson mobil yang ternyata berhenti didepan Hanum, Hanum hanya bisa melihat samar samar seorang laki laki yang turun dari mobil tersebut.


"Hanum...Hanum kamu kenapa disini?" tanya Anton dengan wajah paniknya melihat kondisi Hanum yang terlihat tubuhnya menggigil ditambah lagi dengan wajahnya yang sangat pucat.


"A...An...Ton," lirih Hanum dengan suara beratnya.


"To...long." ucap Hanum lagi


"Oke...oke, ayo naik mobilku." Anton pun langsung menggendong tubuh kecil Hanum dan membawanya masuk kedalam mobilnya.


...............


Anton mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena kabut yang mengurangi jarak pandangnya dan juga karena jalanannya yang licin.


"Hanum, dimana rumahmu?" tanya Anton yang langsung menoleh kearah Hanum, sayangnya wanita itu kini tengah tertidur.


"Hah....sial." desis Anton menghela nafas panjang, jika Hanum tidur lalu kemanakah ia akan mengantarnya pulang? sementara rumah Hanum atau Adnan saja dia tidak tau karena ia tidak sedekat itu dengan Adnan. Yah....ia dan Adnan hanya teman dalam berbisnis saja, tidak lebih dan kurang dari itu.


"Hanum..." Adnan menggoyangkan pelan tubuh Hanum, namun tidak ada reaksi dari Hanum. Anton pun mencoba menepuk pipi Hanum, namun saat tangannya baru menyentuh pipi Hanum ia merasakan pipi Hanum panas.


"Apakah dia demam?" batin Anton kemudian ia menjulurkan tangannya pada dahi Hanum dan ternyata dugaannya benar, tubuh Hanum panas. Dapat ia tebak pasti tadi Hanum kehujanan terlalu lama.

__ADS_1


Anton pun mencoba menghubungi Adnan, namun sialnya ponselnya tersebut malah kehabisan baterai.


Hah....


"Aku tak percaya ini." kata Anton menggeleng gelengkan kepalanya pusing dan sangat tak mengerti kenapa semua ini harus terjadi secara bersamaan seperti ini. Menolong orang lain terkadang membuat kita harus merelakan yang lainnya juga.


Anggap saja kita mempunyai uang 50 ribu dan tanpa sengaja kita melihat orang lain yang terlihat sangat membutuhkan, karena merasa tak tega atau karena panggilan hati nurani kita kita memutuskan untuk memberikan uang tersebut padahal seharusnya kita bisa membelikan uang tersebut hal lain atau kebutuhan kita contohnya.


"Apa aku harus membawanya kerumah?" gumam Anton menimang nimang keputusan apa yang akan ia buat.


"Lagi pula hanya ada aku dan Bik Inah dirumah, seharusnya tidak masalah bukan?" gumam Anton lagi setelah merasa ia memutuskan pilihan yang dirasanya benar.


........


Sekitar 40 menit kemudian kini sampailah Anton di kediamannya, ia pun langsung menggendong tubuh Hanum kedalam rumahnya.


"Bikkk....Bi Inah, " panggil Anton dengan sedikit berteriak.


"Bik..." panggilnya lagi karena tak kunjung mendapat jawaban dari Bi Inah.


"Bik tolong bik." ucap Anton yang langsung membawa tubuh Hanum kedalam kamatnya.


Bi Inah tampak bingung sekaligus terkejut saat melihat tuannya tersebut membawa tubuh wanita yang tengah pingsan tersebut kedalam kamar tuannya, sedangkan Anton entah mengapa tanpa pikir Panjang langsung membawa tubuh Hanum kedalam kamarnya padahal banyak kamar lain dirumah ini yang kosong.


Anton pun membaringkan tubuh Hanum perlahan lahan keatas kasur dengan amat berhati hati.


"Dia siapa tuan?" tanya Bu Inah yang sedari tadi sebenarnya sudah sangat penasaran siapa gerangan wanita yang dibawa tuannya tersebut.


"Dia teman ku bik, namanya Hanum." jawab Anton.


"Bik, tolong gantiin bajunya yah." pinta Anton yang langsung mengarahkan pandangannya pada Bibinya tersebut.


"Tapi pakai baju apa tuan? Bibik cuma punya daster." jawab Bi Inah yang juga tampak bingung. Anton terdiam untuk beberapa saat mencoba berpikir.

__ADS_1


"Gak apa bik, pakai baju Bibik aja dulu." ucap Anton pada akhirnya setelah menimang nimang.


"Baik tuan." jawab Bi Inah kemudian hendak melangkahkan kakinya keluar.


"Eh bik tunggu dulu." ucap Anton giba tiba menghentikan langkah kaki Bi Inah.


"Ada apa tuan?" tanya Bi Inah kemudian.


"Jangan lupa sama **********," kata Anton dengan canggung.


"Dalaman?" kata Bi Inah memastikan Indera pendengarannya.


"I..iya bik, kasihan kalau nanti Hanum masih kedinginan," ucap Anton.


"Bibik a...adakan?" tanya Anton ragu ragu.


"A...ada tuan, Bibik punya." jawab Bi Inah cepat.


"Makasih bik." kata Anton.


"Sama sama tuan, ya sudah Bibik ambil dulu yah." ucap Bi Inah minta izin.


"Oh, iya bik silahkan." jawab Anton mempersilahkan.


Bi Inah pun tergopoh gopoh keluar dari kamar majikannya tersebut untuk mengambil baju ganti yang dipinta tuamnya.


Selepas kepergian Bi Inah Anton memandang wajah Hanum lekat lekat, wajah yang dahulu pernah ia cintai. Ah...apakah itu bisa dikatakan cinta? jika iya maka Anton akan menganggap itu sebagai cinta monyet.


"Kenapa Adnan tidak mencarimu?" gumam Adnan sembari terus memandang wajah Hanum yang semakin tampak pucat tersebut.


"Oh ****, kenapa aku malah diam saja disini." kata Anton sembari menepuk jidatnya kesal.


"Tuan, ini baju pesanan tuan." tiba tiba Bi Inah dayang dengan membawa daster ditangannya kemudian menyodorkannya kepada Anton. Anton menatap apa yang disodorkan Bi Inah dengan kening yang tampak berkerut.

__ADS_1


Sementara itu Bi Inah juga tampak bingung karena Tuannya tak kunjung mengambil baju yang diambilnya tadi.


"Ini tuan." kata Bi Inah menyodorkan lebih dekat lagi pada Anton.


__ADS_2