Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 116


__ADS_3

Vanessa yang sedang dalam perjalanan pulang tiba tiba merasakan perutnya lapar, mumpung masih dijalan sebaiknya mampir ke resto sekalian pikir Vanessa.


Ia pun akhirnya mencari cari resto yang sekiranya cocok untuk ia singgahi, hingga tak berapa lama kemudian ia berhasil menemukannya. Tanpa menunggu lama lagi Vanessa pun langsung turun dari mobilnya dan memasuki restoran tersebut.


"Mbak." panggil Vanessa pada salah seorang pelayan yang lewat tersebut.


"Iya Mbak." jawab pelayan tersebut yang langsung berbelok dan menghampiri meja Vanessa.


"Ada yang bisa saya bantu mbak?" tanya pelayan tersebut dengan ramah dan jangan lupa dengan senyum yang terus melengkung dibibirnya tersebut.


"Emm saya mau pesen rose pasta sama lemon tea dong mbak." jawab Vanessa yang langsung memesan menu favoritnya tersebut.


"Baik Mbak, mohon tunggu sebentar." balas pelayan tersebut yang kemudian membungkukkan badannya lalu berlalu pergi dari hadapan Vanessa.


Sembari menunggu pesanannya datang, Vanessa pun memilih untuk menyibukkan diri dengan bermain ponselnya berselancar didunia maya.


"Permisi Mbak." panggil seseorang yang ternyata adalah pelayan yang tadi dengan membawakan menu yang sudah dipesan Vanessa.


"Oh iya mbak." jawab Vanessa yang langsung memberikan ruang agar pelayan bisa dengan nyaman menyajikan makanan tersebut dimejanya.


"Silahkan menikmati." ucap pelayan tersebut diakhir pelayanannya, Vanessa pun hanya menanggapinya dengan menganggukkan kepalanya.


"Ahhh akhirnya makan juga." gumam Vanessa yang sudah menatap makanan dimejanya tersebut dengan amat lapar, tanpa menunggu lebih lama lagi Vanessa pun langsung mengeksekusi makanan tersebut.


Butuh waktu sekitar 15 menitan bagi Vanessa untuk menyantap hingga habis makanannya tersebut.


"Ahhh kenyangnya." Vanessa pun langsung menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi dengan mengelus elus perutnya yang sudah terasa penuh tersebut.


"Vanes?" panggil seseorang yang sontak saja membuat Vanessa langsung bangun dari senderannya.


"Hah." terkejut Vanessa yang langsung menoleh kearah sumber suara.


"Teg...Teguh?" terkejut Vanessa melihat teman lamanya tersebut dengan mata melotot.


"Hai, ternyata nggak salah kalau itu kamu." ucap Teguh dengan wajah santainya dan bahkan langsung menarik kursi duduk begitu saja dihadapan Vanessa.


"Kamu ngapain disini?" tanya Vanessa yang masih dengan wajah terkejutnya.


"Tadi abis nongki sama temen temen." jawab Teguh.


"O...ouhh." balas Vanessa.


"Sendirian aja?." tanya Teguh.


"Yaps." jawab Vanessa cepat sembari mengangguk anggukkan kepalanya membenarkan.


"Oh iya udah resmi jadi jendes muda nih ya." goda Teguh dengan wajah tengilnya.


"Sialan." kesal Vanessa yang langsung melemparkan tissu bekasnya kewajah Teguh yang langsung ditangkap dengan mudah oleh si target.


"Galak amat sih neng." goda Teguh dengan wajah tengilnya.


"Ah udah ah, aku mau pulang udah ngantuk." Vanessa pun langsung berdiri untuk mengakhiri sesi bicaranya dengan Teguh kali ini.


"Yahhh kok malah pulang sih neng." kata Teguh dengan wajah yang dibuat buat menjadi sedih dan kesal.


Vanessa pun sudah tak memperdulikannya lagi dan meneruskan langkahnya menuju kasir untuk melakukan transaksi pembayaran, usai membayar Vanessa pun bergegas keluar menuju tempat dimana mobilnya ia parkirkan.


"Van." panggil Teguh yang ternyata sejak tadi belum pulang, mendengar namanya dipanggil Vanessa pun menghentikan langkah kakinya dan menoleh kearah sumber suara.


"Yahhh dia lagi." gumam Vanessa dengan wajah lelahnya melihat Teguh yang setengah berlari menuju kearahnya.


"Apa?" tanya Vanessa dengan judes setelah Teguh telah sampai dan berdiri tegak dihadapannya.


"Ih gak boleh galak galak atuh neng." jawab Teguh.


"Emangnya dari dulu nih anak bawaannya bercanda terus." gumam Vanessa.


"Ya udah, Teguh ada apa?" tanya Vanessa dengan melembutkan suaranya sebisa mungkin.


"Nah gitu dong kan makin inyis inyis." goda Teguh membuat Vanessa langsung membelalakkan matanya lebar lebar.


"Lama lama makin kurang ajar nih orang." batin Vanessa yang menjerit keras.


"Ya udah ada apa nih? soalnya mau buru buru balik nih udah malem juga." kata Vanessa yang ingin mempercepat durasi dialog kali ini.


"Minta nomor kamu dong." kata Teguh to the point yang langsung menyodorkan ponselnya didepan wajah Vanessa, kening Vanessa tampak berkerut melihat ponsel Teguh beserta pemiliknya secara bergantian.


"Buat apa?" sinis Vanessa.

__ADS_1


"Sorry worry aja nih ya, meskipun aku udah janda tapi aku tuh janda berkelas, janda inyis inyis kayak yang kamu bilang tadi."


"Jadi ya nggak sembarangan ngasih nomor pribadi ke orang lain, jangan kamu pikir karena aku udah janda jadi main asal comot aja." tolak Vanessa panjang lebar.


"Orang lain? asal comot?" heran Teguh mencoba mencerna dua kata yang terngiang ngiang difikirannya.


"Hello neng...jangan salah paham dulu, lagian aku minta nomor kamu juga buat menjaga tali SILATURAHMI aja kok, ingat SILATURAHMI" ucap Teguh memperjelas ucapannya.


"Toh nanti kalau kita ada urusan kan juga gampang jadinya." lanjut Teguh.


"Maap maap aja ya nih mas ya, kayaknya saya juga nggak mau nih berurusan sama anda jadi sebaiknya kita akhiri percakapan kita kali ini supaya TIDAK ADA URUSAN mulai hari ini hingga kedepannya."


"Terima kasih." ucap Vanessa terakhir kalinya dan langsung berlalu pergi dari hadapan teman yang dianggapnya selalu aneh sejak dulu.


"Brang shake." umpat Teguh sembari menggeleng gelengkan kepalanya menatap punggung Vanessa yang kian menjauh tersebut.


Sebenarnya ini adalah pertemuan kedua mereka setelah sekian lama tidak bertemu, Vanessa ingat betul saat itu Teguh datag ketika ia tengah bersedih dengan kata kata motivasi bijaknya.


Eitsss....Vanessa baru tersadar, memangnya sejak kapan laki laki itu berubah menjadi mode serius?


"Aneh." gumam Vanessa menggeleng gelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran pikiran tentang Teguh yang dianggapnya sangat tidak penting tersebut.


............


Hanum pun akhirnya tersadar dari tidur panjangnya, ia mengerjabkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk kedalam retinanya.


"Eughhh." lenguh Hanum yang berusaha bangun dari posisi berbaringnya.


"Euhh." ringis Hanum sembari memegang kepalanya yang dirasa pusing tersebut.


Hanum menatap keseluruh penjuru ruangan yang kini telah berubah menjadi bersih tersebut, tak ada lagi serpihan benda benda yang ia lemparkan tadi.


Seperti kegiatannya seperti biasa, Hanum hanya menatap seluruh penjuru ruangan dengan tatapan kosongnya.


"Tak...takuttt." lirih Hanum sembari menyembunyikan kepalanya dengan posisi meringkuk.


........


"Ada apa?" tanya Pak Tyo pada Mantan istrinya yang berada diseberang sana.


"Aku laper yo, kamu gimana sih?" kesal Rini dari seberang sana.


"Ya kalau beli itu musti pake uang yo dan aku nggak punya uang sepeserpun, Atm juga nggak bawa pokoknya aku nggak bawa apa apa selain hp ini doang." jawab Rini panjang lebar dengan sewotnya dari seberang sana.


"Hahhh." Pak Tyo hanya bisa menghela nafas berat, kesal sekaligus geramnya.


"Oke oke, nanti aku kesana." kata Pak Tyo yang kemudian langsung mengakhiri panggilannya secara sepihak.


Ia pun meletakkan ponselnya begitu saja dan dilihatnya Retha yang masih tertidur nyenyak, tiba tiba Pak Tyo langsung berfikir bagaimana jika Retha dipertemukan dengan Mamanya? meskipun Retha sudah tidak pernah lagi menanyakan keberadaan Mamanya setelah kejadian itu namun Pak Tyo berfikir dan meyakini jika jauh didalam lubik hati yang paling dalam Retha pasti sangat merindukan sosok Mamanya juga.


"Sebaiknya aku antar Retha pulang dulu baru nyusul Rini." gumam Pak Tyo yang kemudian langsung mengalihkan pandangannya kembali kedepan dan mempercepat laju kendaraannya.


Setelah sekitar 30 menit membelah jalanan Ibu kota akhirnya Pak Tyo sampai juga dirumahnya dengan selamat, ia pun langsung turun dan menggendong tubuh putri kecilnya dan membawanya masuk kedalam rumah.


Tyo pun merebahkan putri kesayangannya tersebut diranjang kamar milik Retha pribadi, ia menatap lekat lekat wajah cantik tersebut.


Hampir 80 persen wajah Retha sangat mirip dengan Mamanya, sedangkan ia hanya mewarisi alis tebal sekaligus bibir berisinya.


"Cantiknya Papa udah sebesar ini yah sekarang." gumam Pak Tyo sembari menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Retha tersebut.


"Tetep jadi anak yang kuat ya nak, Papa akan selalu ada buat Retha sampai kapanpun." ucapnya lagi yang kemudian langsung mencium kening Retha sebelum pergi meninggalkan Retha untuk menemui mantan Istrinya tersebut.


"Bapak mau pergi lagi?" tanya Bibi yang mengagetkan Pak Tyo.


"Astaga Bi, sampe terkejut aku." ucap Pak Tyo yang tak habis pikir.


"Hehehe maaf Pak, abis saya lihat Bapak baru pulang terus ini kayaknya udah mau pergi lagi aja kan ini juga udah malem." jawab Bibi panjang lebar.


"Iya nih bik, tiba tiba aja aku ada urusan malah mendadak banget lagi."


"Jadi harus pergi sekarang." jawab Pak Tyo.


"Yaudah kalau gitu saya pergi dulu ya bik."


"Saya titip Retha." kata Pak Tyo.


"Iya pak siap, soal non Retha bapak nggak perlu khawatir. Dijamin aman sama Bibi." jawab Bibi dengan penuh percaya dirinya.


"Yaudah kalau begitu saya pergi dulu ya bik." ucap Pak Tyo yang tanpa menunggu jawaban lagi langsung pergi begitu saja.

__ADS_1


"Eh iya pak, hati hati." jawab Bibi yang sudah tidak direspon lagi oleh Pak Tyo.


"Bapak mau pergi kemana yah malem malem gini?" gumam Bibi yang menatap heran kepergian majikannya tersebut.


Pak Tyo pun bergegas menancap gass, berharap agar ia bisa cepat cepat bertemu dengan Rini lalu pulang dan tidur untuk melepaskan lelahnya hari ini.


"Oh iya, lupa bawain makanan." gumam Pak Tyo yang untung saja di dalam perjalanannya ia langsung mengingat jika tujuannya menemui Rini adalah untuk mengantarkan makanan.


Pak Tyo pun celingak celinguk kekanan dan kekiri untuk memastikan jika ada penjual makanan yang masih buka, karena hari sudah semakin malam jadi banyak kedai kedai atau toko menjual makanan yang sudah tutup.


"Ahhh itu dia ada." gumam Pak Tyo dengan senyum yang melengkung dibibirnya karena berhadil menemukan penjual nasi goreng, meskipun pedagang kaki lima tapi tak maslaah lah bagi Pak Tyo yang penting ia bisa membawakan makanan.


Ia pun lekas menepikan mobilnya didepan penjual nasi goreng tersebut.


"Mas, nasi gorengnya satu dibungkus yah." pesan Pak Tyo.


"Oke Mas, ditunggu sebentar." jawab Mas mas penjual nasi goreng tersebut.


"Oke." balas Pak Tyo.


Ttuuuttttt ......tttuuuttt....tttuuttt tiba tiba saja ponsel Pak Tyo berdering, ia pun lekas merogoh ponselnya dan melihat nama yang tertera.


"Rini?" gumam Pak Tyo membaca nama yang tertera dilayar ponselny tersebut, Pak Tyo pun kemudian menggeser tombol berwarna hijau tersebut untuk menjawab panggilannya.


"Halo, yo kok kamu lama banget sih?" langsung saja dari seberang sana Rini melontarkan pertanyaannya dengan nada tingginya dan membuat Pak Tyo langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Kamu tau nggak sih kalau aku itu udah kelaperan sejak tadi tau." omel Rini.


"Iya tunggu sebentar, ini aku udah dijalan." jawB Pak Tyo yang kemudian langsung memencet ikon berwarna merah tersebut untuk mengakhiri panggilannya.


Huh....


"Mas ini nasi gorengnya udah jadi." kata penjual nasi goreng tersebut mengalihkan perhatian Pak Tyo.


"Oh iya Mas, ini uangnya." kata Pak Tyo yang langaung menyodorkan uangnya sekaligus meraih nasi goreng yang sudah jadi tersebut.


"Uangnga pas ya mas." ucap penjual tersebut yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Pak Tyo.


Pak Tyo pun langsung masuk kembali kemobilnya dan melanjutkan perjalanan, namun perjalanannya haruas terjeda sejenak karena ia mampir telebih dahulu disebuah alfamart untuk membeli air minum. Untung saja ia mengingatnya kalau tidak Rini akan mati tersedak karena tidak ada air minum.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama akhirnya Pak Tho sampai juga dihotel tunuannya, ia pun bergegas menuju kamar Rini.


Tringgg....


Tak berselang lama setelah ia menakan bel, Rini pun keluar dengan wajah lesunya.


"Lama banget sih." ucap Rini.


"Ini." tanpa menjawab Pak Tyo pun langsung menyodorkan nasi goreng berserta minuman yang dibawanya, Rini pun langsung menerimanya dengan senang hati.


"Oh iya tunggu sebentar." kata Pak Tyo yang kemudian meraih dompetnya dari saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang bergambar Pak Sukarno dan Pak Hatta yang berbaris rapi dari dalam dompetnya.


"Ini untuk kamu." kata Pak Tyo yang langsung menyodorkan uang tersebut diahadapan Rini.


Rini yang melihatnya hanya bingung sekaligus terkejut dnegan tindakan yang dilakukan Mantan suaminya tersebut. Tentu saja ada rasa malu sekaligus tak enak hati karena merasa sudah terlalu banyak merepotkan laki laki yang telah ia sia siakan tersebut.


Jujur Rini akui jika Tyo adalah orang baik dan sabar, namun sayangnya dulu hatinya gelap hingga berani berselingkuh dengan laki laki lain yang dianggapnya jauh lebih baik dari pada Tyo.


"Udah ambil aja." kata Pak Tyo yang tak sabaran dan langsung meraih tangan kiri Rini dan meletakkan uang tersebut ditelapak tangannya.


"Ini bisa kamu pakai buat beli makanan atau keperluan kamu yang lainnya." ucap Pak Tyo lagi.


"Dan untuk Retha, aku akan berusaha membujuk Retha agar dia mau ketemu sama kamu." ucapnya lagi.


"Asalkan kamu bisa bersikap baik sama Retha, aku yakin Retha juga bakalan bisa nerima kamu dengan baik juga."


"Ini hanyalah masalah waktu." ucap Pak Tyo yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Rini.


"Kalau begitu aku pergi dulu." kata Pak Tyo membuat Rini terkejut .


"Kamu nggak masuk dulu?" tanya Rini.


"Nggak, aku langsung pergi aja." tolak Pak Tyo, tentu saja otaknya masih waras mana mukin ia mau masuk kedala. kamar itu.


"Kamu jaga diri baik baik." ucap Pak Tyo yang kemudian langsung berlalu pergi dari hadapan Rini, Rini hanya bisa menatap kepergian mantan suaminya tersebut dengan wajah sendunya.


~Jika kamu sedih, peluklah dirimu sendiri dan katakan bahwa kamu berharga~


^Park Jimin^

__ADS_1


__ADS_2