
Sebagai seorang Papa tentu saja Tyo merasa sangat senang dengan perubahan sikap anaknya semenjak berteman dengan Hanum. Rasa trauma yang dialami Retha saat tinggal bersama Mamanya membuat hubungannya dengan sang Mama merenggang, bahkan Retha akan lebih memilih untuk menghabiskan liburannya untuk jalan jalan atau kerumah neneknya dari pada untuk bertemu sang Mama.
"Hanum, aku serius sama kamu. Aku ingin kita pacaran." ucap Anton, sontak saja Hanum langsung menghentikan langkahnya berbalik menatap Anton.
"Pikirkan dulu semuanya, jangan terburu buru." ucap Hanum.
"Buru buru?" tanya Anton yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Hanum.
"Aku kenal kamu sudah lama, bahkan jauh sebelum kamu menikah num." ucap Anton menatap wajah Hanum lekat lekat.
Hanum menghela nafas panjang sebelum berucap kembali.
"Aku ini janda, sedangkan kamu laki laki mapan yang bisa mencari wanita yang lebih baik diluaran sana dari pada aku." jawab Hanum yang sebenarnya hatinya ingin langsung menerima tapi ia tidak boleh egois, Anton dan dirinya sudah berbeda status.
"Apa?" tanya Anton tak percaya.
"Karena kamu janda?" tanya Anton yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Hanum.
"Ya ampun." Anton meraup wajah dengan kedua tangannya tak habis pikir dengan apa yang dipikirkan Hanum.
"Jadi menurut kamu apa arti kedekatan kita selama ini?" tanya Anton.
"Karena kamu kasihan denganku?" balik tanya Hanum.
"Hanum, dengerin aku." kata Anton yang langsung memegang kedua pundak Hanum dan dihadapkan padanya.
"Aku tahu kalau kamu janda, kamu nggak perlu ngungkit ngungkit itu lagi."
"Awalnya aku memang cuma mau ngebantu kamu tanpa ada maksud lain, tapi lama lama aku suka sama kamu num." kata Anton.
"Aku mau nikah sama kamu." Anton pun pada akhirnya langsung mengutarakan niatnya dan merubah keputusan awalnya dari pacaran berubah menjadi menikah.
"Menikah?" tanya Hanum dengan wajah terkejut sekaligus tak percayanya, jelas saja ia mendengar pengutaraan niat yang berbeda.
"Iya, aku mau nikah sama kamu." ucap Anton.
"Aku nggak mau kamu meragukan niat baik aku ini." lanjutnya lagi.
"Tap...tapi."
"Aku akan kerumah orang tua kamu, aku akan mengutarakan niat baikku. Aku yakin Bapak Ibu kamu bakal merestui kita." kata Anton sembari menggenggam kedua tangan Hanum dan mengecupnya.
__ADS_1
"Orang tua kamu?" tanya Hanum yang sontak langsung membuat Anton melepaskan tangannya dan membuang muka.
"Kita bisa menikah tanpa izin mereka, mereka terlalu sibuk dengan urusannya masing masing." jawab Anton tanpa memandang kearah Hanum.
"Darimana kamu tau?" tanya Hanum.
"Sejak berpisah mereka sama sekali tak memperdulikan aku." jawab Anton.
"Jadi aku akan mengambil keputusan sendiri dalam hidupku karena aku yakin mereka juga pasti tidak akan perduli lagi padaku." lanjut Anton.
"Itu hanya pemikiranmu saja, biar bagaimanpun juga orang tuamu masih ada."
"Bagaimanapun perlakuannya padamu tetap saja kamu harus menghormati keberadaan mereka." jawab Hanum yang membuat Anton langsung menatapnya penuh tanda tanya.
"Jika kamu benar benar sungguh sungguh dengan apa yang kamu katakan, maka bawalah orang tuamu ikut bersama kamu juga." ucap Hanum sebelum melangkahkan kakinya pergi, Anton tampak tercengang dengan apa yang didengarnya barusan hingga tak menyadari jika Hanum perlahan berjalan kian menjauh darinya.
............
"Tante minggu depan Papa ulang tahun." ucap Retha. Seperti biasa, Retha akan datang kesini untuk memakan kue namun harus ditemani oleh Hanum disampingnya.
Tentu saja Hanum cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Retha, namun kemudian ia berfikir mungkin Retha hanya berbagi info menghargai kehadirannya yang dianggapnya sebagai teman.
"Wah, selamat yah Pak Tyo. Aku ngucapin lebih awal deh kayaknya." ucap Hanum pada Papa Retha.
"Wah...berati tante Hanum jadi orang pertama yang ngucapin selamat ulang tahun ke Papa dong." seloroh Retha membuat Hanum dan Pak Tyo tampak salah tingkah dibuatnya.
"Tente." panggil Retha pada Hanum.
Seperti biasa, saat seperti ini kehadiran Pak Tyo hanya sebagai penambah saja. Ia sangat jarang diajak bicara karena Retha sendiri akan sangat sibuk membicarakan banyak hal pada Hanum ketimbang dirinya.
"Iya." sahut Hanum langsung menoleh kearahnya.
"Minggu depan tante dateng kan ke acara ulang tahun Papa?" tanya Retha dengan wajah polosnya.
"Oh iya, kalau kamu nggak keberatan saya harap kamu mau datang ke acara ulang tahun saya. Hanya perayaan kecil kecilan sama keluarga saya." sahut Pak Tyo.
"Kue bikinan tante enak." kata Retha sembari mengacungkan kedua jempolnya.
"Beneran?" tanya Hanum dengan wajah tak percaya.
"He eum." jawab Retha.
__ADS_1
"Makasih." balas Hanum dengan senyuman manisnya.
"Tapi maaf yah, tante kayaknya nggak bisa dateng deh." ucap Hanum dengan wajah sedihnya.
"Kenapa tante?" tanya Retha yang tampak terkejut, begitu juga dengan Tyo yang merasa sayang karena Hanum tidak turut hadir diacara ulang tahunnya nanti.
"Em tante soalnya mau pulang kampung." jawab Hanum berusaha menghibur Retha dengan senyumannya.
"Harus minggu depan banget yah tante?" tanya Retha lagi.
"Sayangnya iya, soalnya ada urusan juga." jawab Hanum yang ikut memanyunkan bibirnya seperti Retha.
"Yahhhh." sedih Retha yang langsung terlihat murung.
Hanum tampak bingung harus melakukan apa untuk menghiburnya, beruntung Tyo yang melihat Hanum tampak bingung langsung mencoba memberi pengertian untuk Retha.
"Sayang, nggak boleh sedih kayak gitu dong." kata Pak Tyo.
"Kan kita sering banget kumpul kumpul, ketemu sama tante Hanum.
"Jadi keluarganya tente Hanum pastinya juga kangen dong sama tante Hanum.
"Kan kita bisa ketemu lagi kalau tente sudah balik kesini lagi, iya kan tan?" tanya Pak Tyo pada Hanum untuk meminta persetujuannya.
"Ehz, iya Retha. Keluarga tente udah kangen banget sama tante, jadi tante harua pulang." kata Hanum pada Retha.
"Tapi tenang aja, nanti tante bakalan bawain oleh oleh buat Retha."
"Jadi Retha jangan sedih ya? tante malah jadi ikutan sedih lho." ucap Hanum dengan wajah cemberutnya membuat Pak Tyo yang melihatnya berusaha mengulum senyuman.
"Iya deh, aku nggak bakalan sedih." jawab Retha yang akhirnya berubah pikiran.
"Tante jangan lama lama pulang kampungnya."
"Terus kalau kesini oleh olehnya jangan lupa dibawa." katanya lagi membuat Hanum langsung tersenyum hingga menampakkan gigi cantiknya.
"Iya, tante nggak bakal lupa sama oleh olehnya kok." balas Hanum, akhirnya baik Hanum maupun Pak Tyo bisa tersenyum lega karena putri kecil itu tak jadi merajuk.
Tak berselang lama Pak Tyo dan Retha pun pamit pulang karena hari juga sudah semakin mendekati malam.
"Sayang, aku akan bawa Mama Papaku buat ketemu sama keluarga kamu minggu depan. Jadi, persiapkan diri kamu sebaik baiknya." pesan tersebut lah yang membuat Hanum harus pulang minggu depan.
__ADS_1
~Belajar adalah harta karun yang akan mengikuti pemiliknya kemanapun~