
Kelamnya malam lukisan cintaku
Penuh cerita yang kelabu
Walaupun telah lama hanyut ditelan masa
Tapi terkadang menyiksaku
Selalu kucoba untuk melupakan
Percikan bayangan kenangan
Tetapi selalu saja dia datang menggoda
Dengan senyum sejuta siksa
Mengapa tak juga derita selimut cinta
Melepas belenggu jiwa
Apakah karena cinta yang dulu kurasa
Sangat tulus bersahaja
Sehingga tiada kata hati berprasangka
Bahwa dia akan khianat cinta
Bahwa dia akan khianat cinta
Tinggallah kini hidupku sendiri
Antara ada dan tiada
Jasad bagai keranda naungan nafas cinta
Abadi terpendam di jiwa
Soundtrack lagu yang digunakan Hanum untuk mengiringi pikirannya yang kian melayang, yah.. melayang kembali mengingat kegagalan pernikahan pertamanya. Nyatanya sekuat apapun ia berusaha menepis pikiran buruknya, nyatanya setan lah yang kembali menariknya untuk kembali menyelami masa lalunya.
Katanya niat baik memang memiliki banyak sekali rintangan, mungkin seperti itulah yang tengah dirasakan oleh Hanum saat ini. Berperang melawan dua sisi pikiran negatif dan positifnya.
Lebih baik dicintai lalu kehilangan daripada tidak dicintai sama sekali? hah? lalu apa artinya? apa manfaatnya? apakah hanya untuk menambah luka saja?
__ADS_1
Bayak orang di luaran sana yang mengatakan dengan mudahnya jika hubungan yang sudah berakhir sebaiknya cepat dilupakan, jangan berlarut larut terhanyut dalam kesedihan itu.
Tapi mereka lupa jika yang tidak merasakan tidak akan pernah mengerti tentang perasaan dan usaha yang sudah dilakukannya selama ini.
Tesss... air mata Hanum kembali menetes membasahi pipi mulusnya, entah apa alasan dibalik tangisannya kali ini.
Ya tuhan...jika keputusan yang aku ambil untuk menikah dengan Mas Anton adalah keputusan yang terbaik. Tolong...tolong tangguhkanlah hatiku, jangan buat hatiku goyah Cukup, sudah cukup pengalaman pahit yang aku alami kemarin sebagai pembelajaran penting dalam hidupku. Tolong dekatkanlah segala sesuatu yang baik untukku, jauhkan lah segala sesuatu yang bruk dalam hidupku.
............
"Hiks...hiks...hiks..."
Di belahan dunia lain, seorang wanita cantik tengah meringkuk kedinginan diatas tempat tidurnya.
"Aaaaaa." teriak Vanessa yang merasa frustasi, bagaimana tidak? sepanjang hidupnya ia bak seorang putri yang selalu diperlakukan dengan baik oleh keluarganya. Sekarang? sekarang lihatlah kondisinya yang tampak mengenaskan bahkan ia diperlakukan bak hewan oleh laki laki yang diyakininya akan menjadi bagian dari hidupnya untuk selamanya.
"Ini semua gara gara wanita sialan itu!" sinis Vanessa menatap sengit wajah Hanum yang terpampang dengan jelas dipelupuk matanya.
"Akan aku pastikan kamu tidak akan hidup tenang, kamu akan merasakan lebih dari yang aku rasakan saat ini."
"Aku akan membalasmu, HANUMMM!" teriak Vanessa dengan wajah penuh kemarahan
. Perlahan lahan ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan berjalan menuju meja riasnya untuk mengambil benda pipih yang bertengger manis diatasnya. Vanessa mulai mendial nomor yang dicari carinya.
"Halo, aku punya tugas untukmu." ucap Vanessa begitu seseorang disana mengangkat panggilannya.
"....."
"Tenang saja, kali ini tidak akan mengecewakanmu jika kamu berhasil melakukannya dengan baik." ucap Vanessa yang kemudian langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Prang.......
...........
"Hiks...hiks....hiks." seorang anak kecil yang menangis mengingat kejadian disekolahnya tadi.
Tyo yang tadinya tengah menonton acara televisi dengan samar samar mendengar suara tangisan putri kecilnya, ia pun langsung beranjak dari tempat duduknya.
Ceklek....beruntung kamar Retha tidak dikunci dan juga tidak kedap suara.
"Retha?" panggil Pak Tyo dengan perasaan cemasnya, apalagi ketika melihat Retha yang duduk meringkuk dengan memeluk lututnya disamping ranjangnya.
"Retha, kamu kenapa nak?" tanya Pak Tyo yang dipenuhi dengan perasaan cemasnya dan langsung memeluk tubuh mungil anaknya tersebut.
__ADS_1
"Papa, hiks...hiks....hiks." dengan cepat Retha pun langsung membalas pelukan Papanya.
"Iya sayang, Papa ada disini kok. Kamu jangan nangis lagi yah?" bujuk Pak Tyo yang melepaskan pelukannya berlahan lahan menjauhkan tubuh anaknya agar ia bisa melihat wajah putri kecilnya tersebut.
Pak Tyo dengan lembut dan penuh kasih sayangnya mengusap air mata yang membasahi pipi chubby anaknya tersebut. Rupanya anakannya itu telah menangis cukup lama, terlihat ada sisa sisa air mata yang telah mengering pula di wajah anaknya tersebut.
"Hiks...hiks....hiks....srot" Retha mengusap dengan asal ingus yang tadinya hendak keluar dari hidung kecilnya, Pak Tyo hanya tersenyum melihat kelakuan anaknya yang menjadi sedikit hiburan tersendiri untuknya.
"Sayang nangisnya belum selesai yah?" tanya Pak Tyo yang kemudian dijawab i dengan gelengan kepala oleh Retha.
"Kalau gitu diterusin dulu gih nangisnya, nanti kalau udah cape berhenti loh y nangisnya?" ucap Pak Tyo yang tak mendapat respons apa apa dari putrinya.
Pak Tyo pun akhirnya mengelus elus dengan sayang puncak rambut Retha, mencoba memahami kesedihan yang tengah dirasakan oleh anaknya saat ini. Pak Tyo melakukan metode ini hingga beberapa menit kemudian tangisan Retha perlahan lahan kian mengecil yang menandakan jika sesi menangis jni akan segera berakhir.
"Udah?" tanya Pak Tyo yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Retha.
"Nah, karena sekarang nangisnya udah selesai. Retha cerita dong sama Papa kenapa tadi Retha nangis?" tanya Pak Tyo mencoba mengulik lebih dalam penyebab anaknya menangis.
"Tad..tadi disekolah temen aku nunjukin foto liburannya pa." ucap Retha yang mulai bercerita, Pak Tyo mangut mangut mendengarkan.
"Terus?" tanya Pak Tyo.
"Mereka liburan sama keluarganya, ter...terus dia minta aku buat nunjukin foto liburan aku pa."
"Ter...terus temen aku yang lain bilang kalau aku nggak punya foto liburan bareng keluarga pa, mer...mereka bilang aku nggak punya keluarga. Hiks...hisk..." cerita Retha yang kembali diakhiri dengan air mata. Kini Pak Tyo sudah mengerti maksud dari cerita Retha, int]nya teman teman Retha membully Retha lantaran Retha tidak memiliki keluarga yang utuh seperti teman temannya yang lain.
"Sayang." panggil Pak Tyo sembari memegang pipi Retha, mengarahkan wajah kecil itu supaya mengarah padanya.
"Dengerin Papa, mau?" tanya Pak Tyo yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Retha.
"Retha punya keluarga yang lengkah kok, Retha punya Papa dan Mama yang selalu sayang sama Retha." ucap Pak Tyo mulai memberi sedikit pengertian.
"Mama nggak sayang sama aku pa, yang sayang sama aku cuma Papa." sahut Retha yang langsung memotong ucapan Pak Tyo, Pak Tyo tersenyum mencoba memahami dari sisi Retha.
"Retha salah, Mama juga sayang sama Retha. Sayang banget malah, makanya Mama ngelahirin Retha yang cantik ini biar jadi hadiah buat Papa." kata Pak Tyo.
"Hadiah?" tanya Retha yang tampak bingung tak mengerti dengan arah pembicaraan Papanya tersebut.
"Iya, jadi Retha itu hadiah yang paaaling indah dari Mama buat Papa." jawab Pak Tyo.
"Jadi karena Retha hadiah buat Papa makanya yang sayang sama Retha cuma Papa? makanya Mama nggak sayang sama Retha?" tanya Retha yang masih bingung.
"Ahhh....pokoknya Retha nggak mau pa, Retha pengen punya Mama kayak tante Hanum." rengek Retha dengan menghentak hentakan kakinya.
__ADS_1
~Jadilah pribadi yang menantang masa depan, bukan pengecut yang aman dizona nyaman~