Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
124


__ADS_3

"Sudah?" tanya Vincent dengan lembut pada Hanum, Hanum hanya menjawabnya dengan anggukan kepala samar.


Keduanya pun mulai berjalan beriringan meninggalkan taman tersebut, namun baru beberapa langkah Hanum berhenti yang sontak membuat Vincent juga menghentikan langkah kakinya. Hanum menoleh kebelakang, terlihatlah sosok laki laki yang menjaganya selama ini hanya berdiam diri menatapnya denga tatapan yang Hanum tahu betul arti tatapan itu.


"Maafkan aku, aku juga tak menyangka jika ternyata aku malah jatuh cinta pada laki laki lain." batin Hanum yang kemudian beralih menatap Vincent yang berbalik menatapnya dengan tatapan bingung.


Pov Hanum


"Akhirnya setelah dua tahun kita pulang lagi ketanah air tercinta kita, wouwwww." teriak Vanessa dengan penuh kegirangan, sementara Hanum hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan alumni pelakor tersebut.


"Pak, Buk." panggil Vanessa pada kedua orang tua Hanum, Pak Imam dan Bu Lastri pun menoleh kearah Vanessa.


"Kita pulang ke rumah aku dulu ya buk." tawar Vanessa.


Pak Imam dan Bu Lastri tampak saling melemparkan pandangan, biar bagaimana pun juga tentu saja Pak Imam dan Bu Lastri merasa selama ini telah menjadi beban untuk Vanessa.


"Kok malah saling pandang pandangan?" heran Vanessa.


"Ehmm sepertinya Bapak, Ibu sama Hanum pulang ke kampung aja." jawab Pak Imam.


"Apa??" terkejut Vanessa yang sontak langsung membelalakkan kedua matanya lebar lebar serta mulutnya.


"Ja, jadi semuanya mau ninggalin aku sendirian?" tanya Vanessa yang hampir hampir tak percaya, bahkan saking tidak percayanya mata Vanessa seketika langsung berkaca kaca.


"Eh...bu bukannya gitu." sahut Bu Lastri yang merasa bersalah.


"Van, maksudnya bukan kayak gitu Van kamu salah faham." Hanum pun mulai ikut angkat bicara.


"Terus maksudnya gimana num?" tanya Vanessa lirih.


"Kalau kalian ninggalin aku, terus aku mau sama siapa?? Aku udah nggak punya siapa siapa lagi sekarang num." ucap Vanessa yang sedikit meninggikan suaranya.


Tak bisa berkata kata apapun lagi Hanum pun langsung menghambur ke pelukan Vanessa.


Brukkk.....


"Maaf Van, aku sama Bapak nggak bermaksud buat ninggalin kamu." lirih Hanum yang mencoba menenangkan Vanessa.


"Tolong kasihani aku num, aku udah nggak punya siapa siapa lagi hiks...hiks...hikss." tangis Vanessa.


Puk...puk...puk...


"Kamu tenang aja ya Van, Aku sama kuarga aku bakalan selalu ada kok buat kamu." jawab Hanum.


"Ehmm." Vincent yang baru datang pun hanya berdehem untuk mengisyaratkan jika dirinya baru bergabung dan belum mengerti apa yang tengah terjadi.


.......


Malam pertama dirumah Vanessa....


"Ayo semuanya, makan malam sudah siapp." panggil Bu Lastri.


Satu persatu penghuni rumah pun mulai berdatangan.


"Wahhhh udah lama nggak makan soto." mata Hanum pun langsung berbinar binar menatap aneka menu yang tersaji didepannya ini.


"Wahhh kapan terakhir aku makan soto?" gumam Vincent yang juga menatap makanan berkuah banyak tersebut, sontak saja semuanya langsung menoleh kearah Vincent dengan tatapan heran.


"Ka kamu tahu makanan ini?" tanya Bu Lastri.


"Aku nggak pernah cerita ya sebelumnya kalau aku dulu pernah tinggal di Indonesia?" tanya Vincent yang malah ikutan bingung.


Sontak saja semuanya menggeleng gelengkan kepala hampir bersamaan.


"Oh maaf maaf." ringis Vincent.


"Jadi dulu itu aku sama orang tua aku pernah tinggal di Indonesia, Surabaya tepatnya." jelas Vincent.


"Tapi nggak lama sih, waktu itu aku masih berumur sekitar 7 tahun terus di umur 10 tahun aku sama orang tua aku balik lagi ke Finland." jelas Vincent sedikit berbagi cerita.


"Ohhh jadi ternyata karena itu kamu bisa bahasa Indonesia?" tanya Hanum yang malah ikutan penasaran.


"Emmm 30% karena itu, selebihnya aku emang ikut study Bhs Indonesia." jawab Vincent.


"Mungkin situ udah berasa kali kalau mau punya jodoh orang Indonesia." sahut Vanessa tiba tiba, membuat semua perhatian beralih kepadanya.


Sreeekkkk....Vanessa menarik kursinya.


Plak...Hanum langsung memukul lengan Vanessa.


"Auuu." terkejut Vanessa sembari mengelus elus lengannya.


"Udah ah semuanya ayo makan dulu, keburu dingin nanti." sahut Bu Lastri.


"Iya bukk." jawab Hanum yang mulai mengambil nasi terlebih dahulu.


Semuanya pun mulai makan dalam diam, tak ada gurauan yang mengiringi makan malam mereka selain suara dentingan garpu dan sendok.


"Eh num." panggil Vanessa tiba tiba.


"Hmmm." sahut Hanum tanpa mengalihkan pandangannya dari sotonya yang masih tersisa sedikit.


"Kamu ngundang Tyo sama Adnan nggak nanti waktu nikahan?" tanya Vanessa tiba tiba.


Hening....


Tak terdengar sahutan, Vincent yang tak terlalu mengerti dengan topik yang dibicarakan hanya menatap Hanum dengan tatapan yang seakan penasaran.


"Ehmmm." Hanum berdehem karena tiba tiba ia merasa gelisah seketika.

__ADS_1


"Ya harus di undang dong, dia kan udah baik sama Hanum selama ini." sahut Bu Lastri yang berbicara apa apun yang terlintas di otaknya.


"Hanum." panggil Pak Imam lembut, sontak Hanum pun langsung beralih menatap Ayahnya.


"Apapun yang terjadi, jangan sampai kita memutus tali silaturahmi." ucap Pak Imam memberi nasihat.


"Ba baik pak." jawab Hanum sembari tertunduk.


"Maaf." sela Vincent yang mulai ikut bicara.


"Tyo itu siapa?" tanya Vincent yang tampak penasaran.


"Kenapa kita harus mengundang dia nanti?" tanya Vincent dengan wajah polosnya.


"Ehmmm." Hanum tampak sangat terkejut dengan pertanyaan yang tiba tiba dilontarkan oleh kekasihnya tersebut.


Tiba tiba Hanum pun berdiri dari kursinya.


"Ikut aku sebentar." ucap Hanum pada Vincent, kemudian Hanum pun berjalan terlebih dahulu meninggalkan Vincent.


"Maaf, saya permisi susul Hanum dulu ya Pak Buk." pamit Vincent dengan sopannya.


"Iya." jawab Pak Imam, sementara Bu Lastri hanya menganggukkan kepalanya.


Tanpa menunggu lama lagi Vincent pun langsung menyusul Hanum dengan setengah berlari yang diiringi dengan tatapan Bu Lastri, Pak Imam dan tentunya Vanessa.


"Kamu sih." kesal Bu Lastri menatap Vanessa.


"Aku? Kok aku sih?" tanya Vanessa yang bingung sekaligus tak mengerti sembari menunjuk dirinya sendiri.


"Ya iyalah kamu, kenapa kamu nanyanya waktu ada Vincent." geram Bu Lastri.


"Lah kan emang ke ingetnya baru tadi ya sekalian aku tanyain dong buk, nanti kalau kelamaan kan malah keburu lupa." jawab Vanessa.


"Udah lah buk, Vanessa juga nggak salah kok." lerai Pak Imam mencoba menengahi.


"Lagian kan cepat atau lambat Vincent juga harus tau." ucapnya lagi.


"Tyo juga harus tahu, malah nggak enak lagi dong kalau tiba tiba Hanum nikah tapi nggak ngundang Tyo." sambungnya lagi.


Qeeehhh.....Bu Lastri akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang, memang tak ada yang salah dengan apa yang sudah terjadi.


"Udah lah buk, jangan mikir yang aneh aneh." sahut Vanessa.


"Hanum sama Vincent sama sama udah dewasa juga."


"Aku juga yakin kok kalau Tyo pasti bisa mengerti." lanjut Vanessa.


......


Tap....tap...tap...


"Ehmmm." Vincent berdehem untuk menarik perhatian Hanum, Hanum yang mendengarnya pun langsung menoleh.


"Sini." ajak Hanum sembari melambaikan tanganya, tanpa bersuara Vincent pun langsung menuruti permintaan Hanum.


"Langitnya indah banget yah." ucap Hanum sembari tersenyum menatap langit yang sejak tadi telah menarik perhatiannya tersebut.


"Lebih indah kamu." balas Vincent menatap Hanum kemudian mengerlingkat mata kirinya dengan tatapan genit.


"Ih kamuuu." kesal Hanum yang langsung mencubit lengan Vincent."


"A aduh aduh." ringis Vincent yang merasakan perih pada bagian bekas cubitan Hanum.


"Pedih tau." sebal Vincent yang langsung mengelus elus lengannya.


"Rasain Wleee." ejek Hanum sembari menjulurkan lidahnya, karena gemas Vincent pun langsung mengacak acak rambut Hanum.


"Ih jangan jangan nanti berantakan." protes Hanum sembari berusaha menghentikan keisengan Vincent. Merasa sudah cukup, Vincent pun akhirnya melepaskan tanganya yang sempat nagkring dirambut Hanum.


"Jadi sekarang kamu harus cerita siapa itu Tyo." ucap Vincent dengan nada yang tiba tiba berubah menjadi tegas.


Hanum pun tersenyum untuk sesaat sebelum pada Akhirnya mulai menceritakan siapa sebenarnya Pak Tyo.


Detik demi detik pun berlalu, tak terasa sudah sekitar 30 menit Hanum menceritakan sosok Pak Tyo sedangkan Vincent tampak bersungguh sungguh dalam mendengarkannya.


"Jadi gitu." ucap Hanum untuk mengakhiri ceritanya.


"Maaf, aku nggak pernah cerita ini sama kamu." lirih Hanum.


"Nggak papa kok, maaf juga selama ini aku nggak pernah mencoba mencari tahu tentang masa lalu kamu." balas Vincent yang turut merasa bersalah juga.


"Jangan jangan kamu juga nggak tahu lagi kalau aku tuh udah janda." ucap Hanum menatap Vincent dengan penuh selidik.


"Huuu....huuuu, kalau yang itu aku tahu lah." balas Vincent yang kembali mengacak acak rambut Hanum.


Tiba tiba saja Hanum langsung meraih tangan Vincent dan menggigitnya, sebagai balasan dari keusilan calon suaminya tersebut.


"Aaaa aaaaa aduhhh sakit banget, lepasss." ringis Vincet dengan tangan yang satunya lagi mendorong jidat Hanum kebelakang.


"Rasain." ledek Hanum setelah melepaskan gigitannya dari tangan Vincent.


"Ishhh Nggragas." desis Vincent yang masih bisa didengar dengan jelas oleh Hanum.


"Ih ih kamu kamu tau bahasa itu dari mana?" Hanum pun langsung terheran heran dan menunjuk Vincent.


"Bahasa waktu aku masih kecil itu mah." balas Vincent yang langsung berdiri.


"Ih kamu." tunjuk Hanum dengan wajah tak percaya.

__ADS_1


"Daebakkk." Hanum sampai bertepuk tangan saking tak percayanya.


"Udah ayo masuk terus tidur." ucap Vincent kemudian sembari menarik tangan Hanum.


"Ih bukan muhrim pak Boss." ucap Hanum yang langsung menghempaskan dengan kasar tangan Vincent kemudian berjalan setengah berlari mendahului Vincent.


Vincent hanya geleng geleng kepala melihat wanita yang tengah bertakhta di dalam hatinya tersebut, ia sangat senang karena akhirnya Hanum bisa kembali ceria dan berhasil meninggalkan saat saat terburuknya.


..........


Gedebuk....gedebuk....gedebug Hanum berlari dengan riangnya memasuki kamar Vanessa.


"Apa sih num?" heran Vanessa yang menatap heran Hanum sembari tangannya yang masih sibuk mengoleskan krim malam sebagai skin care teakhirnya sebelum tidur.


"Van aku boleh minta tolong nggak?" tanya Hanum dengan mata berbinar binarnya.


"Apa?" tanya Vanessa dengan malas, bahkan wajahnya pun enggan berpaling dari pantulan wajahnya sendiri.


"Kamu mau kan ngurisin pernikahan aku nanti?" tanya Hanum.


"Beneran mau cepet nikahnya?" tanya Vanessa yang tak percaya dan langsung menoleh ke arah Hanum.


"Iya, aku saka Vincent udah sempet bahas ini dan katanya lebih cepat lebih baik." jawab Hanum yang tak kalah bahagianya.


"Gue dukung seratus persen, gue yang bakalan ngurusin semua itu. Kalian tenang aja, tinggal terima beresnya aja." jawab Vanessa yang juga sangat berantusias, Vanessa benar benar berharap jika ini akan menjadi pernikahan terakhir Hanum.


"T tapi van." ucap Hanum ragu ragu.


"Tapi apa?" tanya Vanessa yang tiba tiba perasaannya berubah menjadi was was.


"Kenapa num?" Tanya Vanessa.


"Semuanya baik baik aja kan?" tanyanya lagi.


"Bisa nggak kamu ngurus undangan secepatnya." jawab Hanum ragu ragu.


"Kenapa?" tanya Vanessa lagi.


"Aku rencananya mau nemuin Pak Tyo sekalian bawa undangan aja." cicit Hanum.


Vanessa pun akhirnya paham dengan apa yang tengah dirasakan Hanum, pasti Hanum merasa tak nyaman serta nyalinya ciut untuk bertemu dengan Pak Tyo yang notabenya orang yang memiliki jasa besar dalam hidupnya.


"Kamu tenang aja, semuanya bisa di atur dengan mudah." jawab Vanessa sembari mengacungkan jempolnya.


"Makasi Vannnn." teriak Hanum yang kemudian langsung memeluk Vanessa.


......


Satu minggu kemudian....


"Kamu harus yakin, Pak Tyo pasti juga bakalan ngerti kok." ucap Vanessa memberi semangat pada Hanum.


Hanum sejenak memejamkan mata dan mengatur nafasnya.


"Oke, semuanya akan baik baik aja kan." ucap Hanum penuh yakin pada dirinya sendiri.


"Pasti, semuanya kan baik baik saja." balas Vanessa dengan mengepalkan tangannya menyemangati.


"Udah kamu atur kan?" tanya Hanum memastikan.


"Tenang, Aku yakin Tyo pasti dateng nggak mungkin nggak." jawab Vanessa.


"Oke, aku berangkat dulu." jawab Hanum.


"Buruan, Bule nyasar udah jamuran nunggu dimobil tuh." ledek Hanum, tanpa menimpali Hanum pun langsung berjalan kearah mobil dimana pria dimasa depannya telah dengan sabar menunggunya.


"Maaf yah, udah nuggu lama." ucap Hanum.


"Nggak papa kok, ayo." balas Vincent, Hanum pun langsung mengenakan sabuk pengamannya.


Sekitar 25 menit kemudian akhirnya sampai juga ditaman.


"Kamu tunggu disini ya." ucap Hanum yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Vincent, Hanum pun langsung melepaskan sabuk pengamannya dan turun dari mobil.


Kakinya terasa bergetar saat memasuki area taman, karena ia sadar jika ditempat ini nanti ia akan menyakiti hati orang lain. Namun ia juga sama sekali tak punya pilihan lain selain caranya ini.


"Dia belum datang." lirih Hanum yang telah menoleh kesana kemari mencari keberadaan orang tersebut, namun tidak ada dalam pandangannya.


"Aku duduk disana aja kali ya." ucap Hanum yang kemudian langsung berjalan menuju sebuah kursi kayu dengan cat berwarna putih.


Hanum menatap indah danau buatan didepannya ini, air yang tenang dan sangat berlawanan dengan apa yang dirasakannya saat ini. Benar hatinya saat ini sangat gelisah dan tak tenang sama sekali.


Sudah sekitar 15 menit Hanum menunggu, tiba tiba...


"Hanum...." terdengar suara sesorang memanggilnya, tanpa menoleh pun Hanum sudah tau siapa pemilik suara tersebut.


Dug...dug...dug...


Sialnya jantung Hanum kini malah berdetak semakin cepat.


"Tenang Hanum, kamu harus tenang." ucap Hanum pada dirinya sendiri.


Hanum pun berbalik............


Pov Selesai


~Lalui dengan nyaman, jangan berusaha terlalu keras untuk menjadi bahagia. Lepaskan dan rasakan bertapa menyenangkannya hari harimu~


^Ty^

__ADS_1


__ADS_2