Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 47


__ADS_3

"Akhhhhhh." pekik Hanum yang merasakan tubuhnya yang tak seimbang hingga membuatnya hampir tergelincir dilantai, secepat itu pula Anton langsung berlari kearah Hanum tanpa perduli lagi dengan apa yang membuatnya malu tadi.


Buggghhhhh....karena saking terburu burunya membuat Anton tanpa sengaja memutar tubuh Hanum dan menariknya hingga membuat tubuh keduanya terjatuh dengan posisi tubuh Hanum yang berada diatas tubuh Anton.


Degh.....deg....deg....entah karena kepala Hanum yang tanpa sengaja tadi membentur dadanya atau apa hingga membuat jantung Anton berdetak dengan kencang seolah olah seperti habis lari maraton. Bagaikan sebuah permainan waktu yang terasa berhenti berputar membuat Anton dan Hanum sama sama membeku pada posisinya saat ini dengan mata yang saling tatap menatap seolah olah terpaku dengan apa yang ada didepanya tersebut.


"Kenapa dengan jantungku? apakah sudah kadaluwarsa?" batin Anton menyadari kecepatan detak jantungnya dengan mata yang masih terpaku pada Hanum.


"Kenapa tatapan matanya seolah olah dalam sekali?" batin Hanum menelisik semakin dalam mata Anton.


Krukk....tiba tiba saja terdengar suara panggilan dari perut Hanum yang menandakan sudah saat nya bagi Hanum untuk mengisi bahan bakarnya.


"Ehhh." terkejut Hanum yang langsung bangkit dari posisinya kini, ia sungguh malu dengan suara perutnya.


"Eh...Maaf aku tadi tidak sengaja." ucap Anton dengan canggungnya dan langsung membenarkan posisinya kini.


"Malahan aku yang harus berterima kasih padamu Mas." jawab Hanum dengan ekspresi canggungnya mencuri curi pandang ke arah lain.


"Tadi kenapa kamu seperti kehilangan keseimbangan hingga membuat kakimu tersandung?" tanya Anton bangkit dari posisi duduknya disusul oleh Hanum.


"A...aku tiba tiba merasakan kepala bagian belakangku sakit." jawab Hanum hingga tanpa sengaja tatapan matanya beralih pada tubuh Anton.


"Akkkkhhhhhhh." pekik Hanum yang terkejut dan langsung menutup matanya begitu saja menggunakan kedua telapak tangannya.


"Kenapa???" tanya Anton dengan bingungnya sembari matanya celingak celinguk mencari tau hal di sekitarnya yang menjadi penyebab Hanum menjerit.


"I..itu." jawab Hanum sembari menunjuk area bawah tubuh Anton dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih setia menghalangi pandangan mata Hanum. Anton pun langsung menundukkan kepalanya mengikuti arah yang ditunjuk oleh Hanum.

__ADS_1


"Aaaaakkkkhgggghhhh." teriak Anton yang baru menyadari jika ia masih menggunakan selembar kain handuk yang menutupi area bawahnya, tanpa pikir panjang ia pun langsung berlari menuju kamar mandi. Namun baru beberapa langkah Anton berbalik arah untuk memungut pakaiannya yang tadi telah diambilkan Hanum yang kini berceceran dilantai.


Brakkkk.....tanpa sengaja Anton menutup pintu dengan sangat keras seakan akan ingin mencopotkan pintu tersebut dari tempatnya.


Hah....hah...hah....Anton langsung bersandaran pada pintu kamar mandinya dengan nafas yang masih menderu deru dan juga jangan dilupakan bagaimana wajah panas memerah Anton saat ini.


"Oh ****, kenapa harus terjadi. Mau aku taro dimana muka ku saat bertemu Hanum nanti." gumam Anton dengan wajah yang kini telah berubah menjadi malu bercampur kesal.


"Ahhhhh....Brukk," tanpa pikir panjang Anton langsung memukul tembok menggunakan kepalan tangannya, untuk sesaat Anton langsung terdiam sebelum pada akhirnya....


"Akhhhh auhhh, aduh aduhhh." Anton langsung menarik tangannya dan mengipas ngipaskannya ke samping setelah merasakan rasa perih dan panas mulai menjalar pada punggung punggung jarinya.


"Mas, Mas Anton nggak papa kan? tok....tok....tokkk..." tanya Hanum berteriak yang kini tampak khawatir diluar sana ketika mendengar suara teriakan Anton, padahal tadi ia baru saja hendak menaikkan kakinya kembali keatas ranjang karena merasakan kepalanya yang mulai pening.


"Ha???" kaget Anton yang mendengar suara teriakan Hanum beserta gedoran pintu yang mengiringi suaranya.


Hening....tak ada suara apapun setelahnya karena begitu mendengar suara jawaban dari Anton, Hanum pun langsung berbalik arah dan melangkahkan kakinya kembali menuju ranjang. Kepalanya kini tak hanya pusing tapi sudah ditambah dengan rasa seperti menusuk nusuk area kepalanya. Sedangkan disalam sana Anton mulai mengatur nafasnya agar kembali normal.


"Ini hanya kesalahan, aku tidak seharusnya merasa malu seperti ini." gumam Anton memberikan kaya kata motivasi untuk dirinya sendiri.


"Yah...benar, seharusnya Hanum yang merasa berterima kasih dengan apa yang telah aku lakukan." imbuhnya lagi.


"Benar Anton, kamu laki laki yang baik. Kamu langsung menolong orang lain tanpa memperdulikan dirimu sendiri, Tuhan wajib memberikan apresiasi atas kebaikan hatimu ini." ucap Anton lagi sembari mengelus elus dadanya.


.. .............


Ceklek.....Anton membuka pintu kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap melekat pada tubuhnya, tatapan matanya langsung tertuju pada sosok yang meringkuk berbalut selimut tebalnya. Dengan segera Anton berjalan menghampiri Hanum.

__ADS_1


"Hanum, bagaimana keadaanmu? apakah sudah membaik?" tanya Anton dengan cemas dan langsung memeriksa suhu tubuh Hanum.


"Kepalaku pusing sekali." lirih Hanum dengan mata yang terus terpejam.


"Sebentar sebentar, oh iya tadi aku mendengar suara perutmu. Kamu pasti lapar, aku akan membuatkan makanan untukmu." jawab Anton panjang lebar dan hendak langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Hanum.


"Tunggu." kata Hanum sembari mencekal tangan Anton hingga membuat Anton tak jadi melangkahkan kakinya. Anton pun langsung menoleh kearah Hanum.


"Kenapa?" tanya Anton yang heran mengapa Hanum malah menghentikan langkahnya.


"Kamu tidak perlu repot repot seperti ini," lirih Hanum yang merasa tak enak hati.


"Diamlah, kau ini sedang sakit dan harus cepat makan sebelum kamu kehabisan waktu." jawab Anton yang langsung melepaskan cekalan tangan Hanum dari tangannya dan berjalan berlalu meninggalkan Hanum, Hanum hanya bisa menatap kepergian Anton yang kian menghilang dibalik pintu.


Anton yang saat ini tengah berasa di dapur pun sempat bingung harus membuat apa, ia menatap seluruh isi kulkasnya.


"Apa yang aku masak?" gumam Anton yang saat ini tengah berpikir keras.


"Apa bubur saja?" kata Anton pada dirinya sendiri.


"Ahh tidak, Hanum itu sakit karena kehujanan bukan sakit keras." kata Anton menggeleng gelengkan kepalanya menolak ide yang dirasanya buruk, ia menatap sepotong daging yang masih terbungkus dengan rapi di kulkasnya.


"Ahhh kenapa tidak buat sup daging saja? itu pasti akan membuat tubuh Hanum lebih hangat, apalagi kalau aku buat supnya dengan sangat panas. Bukan hanya hangat tapi tubuh Hanum pasti langsung sangat sangat hangat, hihihihi." Anton menertawakan pikirannya ini.


Anton pun langsung menyiapkan segala bahan bahan yang akan dibuatnya nanti, tidak susah bagi Anton untuk sekedar memasak seperti ini karena latar belakangnya hanyalah orang kampung yang pastinya lebih mandiri dalam melakukan hal hal semacam ini.


Sekitar 30 menitan waktu bagi Anton untuk mengubah bahan bahan mentahnya ini menjadi sup yang tentunya sangat menggugah bagi siapa saja yang melihatnya, tak lupa Anton juga membuat segelas wedang jahe untuk Hanum.

__ADS_1


"Oke, sekarang saat nya kita menyerahkan hidangan istimewa ini pada Hanum. Aku bisa memintanya membayar mahal masakanku ini dengan meminta proyek pada suaminya." ucap Anton dengan penuh percaya diri dengan membawa nampan yang berisi makanan dan minuman untuk Hanum.


__ADS_2