Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 52


__ADS_3

"Kenapa baju yang kamu pakai masih baju kemarin?" tanya Adnan yang mengernyit keheranan.


"Eh, iya Mas. Kemarin aku kehujanan jadi nggak enak badan." jawab Hanum tersenyum canggung.


"Kamu kehujanan?" pekik Adnan yang terkejut, dengan sigap ia langsung mengambilkan pakaian untuk Hanum dari dalam lemarinya.


Adnan pun langsung mengambil air untuk membersihkan tubuh Istrinya sampai memakaikan pakaian untuk Hanum, sementara itu Hanum hanya bisa pasrah menerima perlakuan Suaminya tersebut.


"Kita kerumah sakit sekarang, oke." ucap Adnan sembari membantu Hanum untuk duduk.


"Nggak usah Mas." tolak Hanum cepat.


............


"Ini Adnan kemana sih, kok nggak balik balik." kesal Bu Dian sembari membantu Vanessa bangkit dari posisi berbaringnya.


"Mungkin masih bersih bersih Ma, kasihan kan Mas Adnan kemarin belum sempat bersih bersih." jawab Vanessa yang sebenarnya telinganya ikut panas mendengarkan omelan mertuanya tersebut, pasalnya beberapa menit yang lalu salah seorang dokter telah memeriksa kondisi kesehatan Vanessa dan telah memperbolehkan Vanessa untuk pulang.


"Harusnya tuh si Adnan siap siaga mengingat kandungan kamu saat ini sudah semakin besar." keluh Bu Dian yang masih belum ingin berhenti, Vanessa yang sudah muak lebih memilih untuk menimpalinya lagi.


Akhirnya Bu Dian mengantarkan Vanessa pulang menggunakan jasa taksi online, sebenarnya Bu Dian sendiri merasa kesal juga pada Suaminya karena seperti acuh tak acuh dengan kondisi Vanessa. Tak ada yang perduli dengan Vanessa kecuali dirinya sendiri, huh apakah suaminya tak ingin memiliki cucu seperti dirinya.


Hingga pada akhirnya taksi yang di tumpangi Bu Dian dan Vanessa sampai juga di kediaman Adnan, dengan sangat hati hati Bu Dian membantu Vanessa turun dari taksi tersebut.


"Adnannnn.....Adnannnn." teriakan Bu Dian menggema di seluruh penjuru rumah membuat Adnan dan Hanum yang berada didalam kamar sontak langsung menoleh kearah pintu.


"Itu Mama Mas?" tanya Hanum pada suaminya yang kini tengah menyuapi bubur ayam untuknya.


"Kayaknya dari suaranya sih iya." jawab Adnan.

__ADS_1


"Adnannnn.....Adnannnn, Hanummm." karena tak kunjung mendapatkan jawaban membuat Bu Dian kembali berteriak teriak bebas dirumah anaknya tersebut.


"Kamu turun dulu aja Mas, temuin Mama." ucap Hanum kemudian yang tak ingin lagi mendengar teriakan dari mertuanya tersebut, dia sendiri tak tau sejak kapan Mama Mertuanya tersebut gemar berteriak teriak seperti ini padahal dulunya Mertuanya tersebut sangat lembut.


"Ya sudah, kamu tunggu disini sebentar yah." jawab Adnan yang hanya dijawabi dengan anggukan kepala saja oleh Hanum.


Adnan pun bergegas turun untuk memenuhi panggilan Mamanya tersebut.


"Ad...." bibir Bu Dian yang kembali hendak terbuka langsung bungkam seketika begitu melihat sosok Adnan yang sedang menuruni anak tangga.


"Mama ngapain sih teriak teriak segala." kesal Adnan yang masih mencoba menahan emosinya, jujur jika itu orang lain sudah pasti Adnan akan langsung menyeret dengan paksa.


"Kamu sih dipanggil kok nggak jawab jawab, lagian kamu kenapa nggak kerumah sakit lagi sih? kamu nggak kasihan apa emangnya sama Istri kamu?" sarkas Bu Dian. Kini tatapan mata Adnan tertuju pada sosok wanita yang dipapah Mamanya, ingatannya kembali tertuju saat dokter mengatakan jika seharusnya besok Vanessa baru boleh keluar.


"Kok Vanessa udah pulang Ma? bukannya seharusnya besok yah?" tanya Adnan yang tampak heran dengan kening berkerut.


"Adnan buruan kamu bantuin Mama bawa Vanessa ke kamarnya." ucap Bu Dian yang sudah merasa lelah menahan berat tubuh Vanessa. Tanpa menjawab Adnan pun hendak melangkahkan kakinya kearah Mamanya.


Praaaaannggggg....... tiba tiba saja terdengar suara benda jatuh dan secara langsung ingatan Adnan tertuju pada Hanum, dengan cepat Adnan langsung berbalik arah dan berlari menuju kamarnya.


"Adnannn....tunggu, mau kemana kamu? bantuin Mama duluuuu." teriakan Bu Dian mengiringi langkah kaki Adnan, namun Adnan seolah olah tak perduli dan ia lebih memilih untuk menulikan telinganya. Baginya Hanum lah yang lebih penting dari pada semuanya bahkan termasuk Vanessa.


Brakkkk.....Adnan membuka pintu dengan sangat kencang bahkan seperti hendak merobohkan pintunya sendiri, tatapan mata Adnan langsung tertuju pada sosok Hanum yang kini tergeletak dilantai.


"Hanummmm." pekik Adnan yang sontak langsung berlari kearah Hanum yang tergeletak dilantai dengan pecahan beling berceceran dicampur dengan bubur Ayam tadi.


"Hanum, kamu nggak papa kan?" tanya Adnan dengan wajah paniknya dan langsung membangunkan tubuh Hanum.


"Mas Adnan, aku nggak papa kok." jawab Hanum berusaha tersenyum.

__ADS_1


"Kamu kenapa bisa jatuh seperti ini?" tabya Adnan.


"Kamu mau ke kamar mandi?" tanya Adnan berusaha menebak.


"A...aku tadi mau makan lagi." jawab Hanum, Kini Adnan pun mengerti mengapa pecahan mangkuk bekas bubur yang berceceran dimana mana. Tanpa berkata kata lagi Adnan pun langsung menggendong tubuh mungil Hanum dan meletakkannya ditempat tidur dengan hati hati.


"Kamu tunggu disini aja, biar Mas bersihin pecahannya. Kalau kamu mau apa apa tunggu Mas aja." ucap Adnan yang kemudian langsung berjalan meninggalkan Hanum, namun baru beberapa langkah sosok Mamanya kini muncul dari balik pintu.


"Oh....jadi ini alasan kamu kenapa nggak kerumah sakit jenguk Vanessa lagi?" tebak Bu Dian sembari masuk lebih dalam lagi sembari menyilangkan tangannya didepan dadanya.


"Mama, Iya Ma Hanum demam jadi Adnan harus jagain Hanum." ucap Adnan menjawab pertanyaan Mamanya.


"Demam?" heran Bu Dian.


"Hallah cuma demam aja pake mesti dijagin segala." cibir Bu Dian.


"Maksud Mama apa ngomong kaya gitu? menurut Mama kesehatan Hanum nggak penting apa?" kata Adnan yang mencoba menahan amarahnya dengan mengepalkan tangannya kuat kuat, semakin kesini mulut Mamanya itu semakin tidak terdidik yang bebas mengatakan apapun tanpa memikirkan perasaan orang lain.


"Ya nggak pentinglah, lagian selama ini juga Hanum sehat sehat aja tapi nggak bisa ngasih kamu keturunan. Beda sama Vanessa yang jelas jelas bisa hamil jadi mulai sekarang kamu harus lebih memperioritaskan Vanessa sepenuhnya." ucap Bu Dian panjang lebar namun keluar dengan lancar dari bibirnya tanpa adanya beban dosa sama sekali.


Deggg.....bagaikan ribuan anak panah yang tepat menembus dada Hanum hingga tanpa disadarinya air matanya kini telah terjun bebas membasahi pipinya. Tak hanya Hanum yang terluka dengan kata kata kasar Bu Dian, Adnan sebagai anaknya juga merasa kecewa degan ucapan Mamanya.


"Mama diammm!!!" bentak Adnan yang sontak langsung membuat Bu Dian dan juga Hanum terkejut bahkan sampai membelalakkan matanya.


"Adnan kamu bentak Mama?" tanya Bu Dian seolah olah tak percaya jika Putranya barusan meninggikan suara untuk membentaknya.


"Mama ini seorang wanita, harusnya Mama mengerti posisi Hanum saat ini. Tapi kenapa? kenapa Mama malah menindas Hanum!" betah Adnan lagi yang masih menyalurkan kemarahannya.


"Adnan, Ma...Mama...

__ADS_1


__ADS_2