Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 39


__ADS_3

Vanessa pun langsung menoleh jearah sumber suara, ternyata Bu Dian lah yang memanggilnya.


"Mam...Mamma?" bingung Vanessa hingga tak mampu lagi berkata kata.


"Kamu ngapain disini?" tanya Bu Dian tanpa memperdulikan keterkejutan menantu keduanya tersebut.


"A..ak..u..." Vanessa sendiri juga menjadi bingung dibuatnya, tanpa bertanya harusnya Bu Dian juga sudah tau apa yang tengah dilakukannya disini.


"Mama sama siapa?" tanya Vanessa mengalihkan perhatian, ia langsung menarik tangan mertuanya tersebut dan mengarahkannya untuk pergi dari toko ini padahal Vanessa sendiri belum membeli apa apa.


"Kita makan yuk ma, aku udah laper banget." kata Vanessa sembari mengelus elus perutnya yang kini telah membuncit tersebut.


"Kamu itu gimana sih, harusnya kamu jaga pola makan kamu. Inget kamu itu lagi hamil lo sekarang." kata Bu Dian mengingatkan dengan nada sewotnya.


"Iya ma, maaf. Abis mau gimana lagi, orang tadi nggak laper" bohong Vanessa, padahal ia telah menyantap banyak makanan dari Adnan. Entah apakah perutnya nanti akan muat untuk menampung makanan lagi atau tidak.


"Laper nggak laper ya harus makan dong." jawab Bu Dian yang tak mau dibantah lagi.


"Iya Ma, Maaf." kata Vanessa penuh sesal.


"Ya udah kalau gitu ayo kita cari restoran yang enak buat kamu." ajak Bu Dian yang langsung bergantian menarik tangan Vanessa. Tak bisa menolak karena tak mampu menemukan alasan yang tepatlah yang membuat Vanessa mau tidak mau harus menuruti mertuanya ini.


"Kita makan direstoran langganan aku aja ma." usul Vanessa yang masih ingin berada dikawasan Mall ini karena ia belum sempat membeli lingerie tadi.


"Oke, ayo." kata Bu Dian menyetujuinya.


..........


"Mama sendirian kesininya?" tanya Vanessa pada mertuanya tersebut.


"Iya, Zidan lagi sama Papanya main golf." jawab Bu Dian.


"Oh ya, tadi Adnan telepon Mama katanya dia sama Hanum mau pulang kekampungnya Hanum yah?" tanya Bu Dian untuk memastikan lebih jelas lagi.


"Iya Ma, tadi pagi mereka udah berangkat." jawab Vanessa dengan bibirnya yang tersenyum indah.


"Terus sekarang kamu sendirian lagi dong?" tanya Bu Dian yang terlihat tampak khawatir dengan kondisi Vanessa.


"Iya, tapi nggak papa kok Ma." jawab Vanessa mencoba menunjukkan jika dirinya benar benar baik baik saja.

__ADS_1


"Atau untuk sementara waktu ini kamu tinggal dirumah Mama aja, sampai Adnan pulang?" tanya Bu Dian memberikan penawaran.


"Makasih ma sebelumnya, tapi aku nggak mau lagi ngerepotin Mama. Aku bisa kok jaga diri aku sendiri." jawab Vanessa sembari menggenggam tangan Bu Dian.


"Kamu yakin? kamu nggak lagi sendirian loh sekarang, ada dua nyawa yang harus kamu jaga." kata Bu Dian mewanti wanti.


"Mama tenang aja, aku sama kandungan aku bakalan baik baik aja kok." kata Vanessa menenangkan agar mertuanya itu tak mengkhawatirkan keadaannya lagi.


"Kamu bener bener wanita yang kuat Van." ucap Bu Dian sembari menepuk nepuk tangan Vanessa yang tengah menggenggam tangannya tersebut.


"Mau gimana lagi ma, setelah anak ini lahir hanya akulah yang menjadi keluarganya kelak." kata Vanessa dengan wajahnya yang dibuat sangat sedih agar mampu menarik simpati Bu Dian.


"Kata siapa cuma kamu satu satunya keluarganya? lalu kami ini kamu anggap apa?" tanya Bu Dian yang nampak tak suka dengan ucapan Vanessa barusan.


"Permisi, ini pesanannya sudah siap." tiba tiba saja seorang pelayan datang dengan membawa makanan yang tadi dipesannya tersebut.


"Oh iya Mbak." jawab Vanessa mempersilahkan pelayan tersebut untuk menyajikan segala menu yang dipesannya tadi diatas meja. Pelayan tersebut pun menyusun dengan rapi makanan yang dipesannya diatas meja.


"Selamat menikmati bu." ucap pelayan tersebut dengan sopan usai menyajikan menu makanannya.


"Terima kasih." jawab Bu Dian diiringi dengan senyumannya, tanpa menjawab apa apa lagi pelayan tersebut pun langsung undur diri untuk menyelesaikan tugasnya yang lain.


"Kamu adalah menantu Mama, kamu juga sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Bagaimana bisa kamu mengatakan itu?" tanya Bu Dian dengan lemah lembutnya tak ingin menyinggung perasaan wanita hamil


"Tapi Mas Adnan akan nyeraiin aku begitu anak ini lahir Ma." jawab Vanessa dengan air mata yang kini menetes membasahi pipinya.


Hehhhh.....Bu Dian menghela nafas panjang, walaupun ia sebenarnya merasa kasihan dengan Vanessa tapi ia sendiri juga tidak mempunyai wewenang untuk ikut campur lagi dengan urusan rumah tangga anaknya tersebut.


"Maaf van, Mama nggak bisa menghentikan hal itu. Itu semua sudah ada didalam perjanjian awal kamu menikah dengan Adnan." ucap Bu Dian yang tak tau harus apa lagi


"Kenapa Mama malah minta maaf? ini semua nggak ada hubungannya sama Mama." kata Vanessa tak ingin membuat Mertuanya bersedih. Bu Dian pun hanya menanggapinya dengan anggukan kepala saja.


"Sialan, harusnya bantuin cari cara lain kek." kesal Vanessa dalam batinnya yang terus menerus meruntuki kebodohan wanita berumur didepannya ini.


"Kok kita malah ngobrol terus yah, Yaudah ayo kita makan sekarang." ucap Bu Dian mencairkan suasana


"Ah, iya ma" balas Vanessa.


Bu Dian dan Vanessa memakan makanan dengan diiringi cerita cerita masa kecil Adnan yang ternyata memunyai keinginan menjadi seorang pilot.

__ADS_1


"Oh ya Ma, maaf aku boleh nanya nggak?" tanya Vanessa mengawali pembicaraan menuju jejenjang yang lebih serius.


"Mau tanya apa?" tanya Bu Dian yang juga menjadi ikut penasaran.


"Hanum tuh ada masalah sama rahimnya nggak sih ma?" tanya Vanessa langsung pada intinya.


"Nggak ada kok, semuanya normal termasuk Adnan juga. Mereka berdua sama sama subur." jawab Bu Dian menjelaskan.


"Oh...gitu ya ma." balas Vanessa yang malah tersenyum canggung


"Iya, kenapa kamu nanya gitu?" tanya Bu Dian dengan tatapan menusuk.


"Eh nggak ada apa apa kok ma, cuma penasaran aja karena sampai saat ini Hanum belum hamil juga kan aku takut terjadi apa apa" jawab Vanessa.


"Oh nggak ada apa apa kok, cuma masalah waktu aja sampai tuhan mengizinkan mereka untuk punya anak." kata Bu Dian dengan tatapan mata yang seolah olah sedang menatap jauh kedepan.


"Yaelah, kalau nggak bisa punya anak ya nggak bisa aja kali. Ngapain juga sok sokan bawa bawa masalah waktu segala." batin Vanessa.


...........


"Wahhhh, aku suka banget sama sayur asem buatan ibu. Rasanya tuh beda banget, seger gitu enak banget." celoteh Hanum yang baru saja mendudukkan bokongnya diatas karpet yang digelar, karena dirumah ini tidak ada meja makan jadi mereka makan bersama sama diatas gelaran karpet.


"Nanti Ibu ajarin masaknya biar kamu bisa." sahut Bu Lastri sembari menyendokkan nasi untuk Suaminya.


"Ya jangan dong Buk, ini tuh biar aku selalu kangen sama masakan Ibu." jawab Hanum.


"Iya kan Mas?" tanya Hanum pada Suaminya, Adnan pun hanya menganggukkan kepalanya samar.


"Kalian mau nginep disini berapa lama?" tanya Pak Imam sembari menerima piring berisi nasi dan lauk pauk yang dosodorkan Istrinya.


"Berapa lama Mas?" tanya Hanum sembari menyenggol nyenggol perut Suaminya tersebut.


"Kayaknya 3 sampai 4 harian Pak." jawab Adnan sembari mengingat ingat jadwal kosongnya dengan pasti karena kemarin Nisa juga belum memastikan kosong tidaknya satu hari terakhir tersebut.


"Kenapa nggak sebulan sekalian?" tanya Pak Imam sembari menyuapkan nasi kedalam mulutnya.


"Terus yang kerja siapa dong nanti." cibir Hanum menatap Bapaknya.


"Heh....udah udah, ngobrolnya dilanjut nanti aja. Sekarang makan dulu." lerai Bu Lastri.

__ADS_1


__ADS_2