
"Jangan sembarangan kamu" bentak Adnan yang akhirnya kembali menarik paksa Hanum dan membawanya ke sebuah kamar.
Ceklekkkk....Adnan membuak kamar itu dan langsung menutupnya dengan keras seperti sebelumnya, perasaan tidak enak pun kembali menyelimuti Hanum takut jika Adnan akan berbuat sesuatu kepadanya.
"Apa maumu." bentak Hanum dengan tatapan garangnya. Tanpa menghiraukannya, Adnan langsung menekat kepada Hanum dan melihat Hanum yang hendak menghindarinya Adnan langsung menariknya dengan kasar.
Tanpa menunggu lama lagi Adnan langsung mencium bibir Hanum dengan brutal, Hanum yang terkejut langsung menggeleng gelengkan kepalanya menolak dengan jelas dan tegas ciuman Adnan. Adnan yang dibuat semakin kuwalahan pun langsung mencengkeram rahang Hanum dan menahan tengkuknya.
Hppphhh.....hhhppphhh....
"Buka mulutmu." bentak Adnan saat melepaskan ciumannya.
"Tida..." baru saja Hanum hendak menjawab dengan liciknya Adnan kembali menciumnya saat bibirnya terbuka.
"Tuhan, tolong lepaskan aku." doa Hanum penuh harap didalam hatinya.
Saat ciuman Adnan mulai lengah, Hanum dengan cepat menggigit bibir Adnan.
Ahhhh....teriak Adnan karena bibirnya digigit oleh Hanum hingga ia melepaskan tubuh Hanum begitu saja. Melihat ada peluang, Hanum pun langsung berlari kearah pintu dan memutar mutar knop pintu untuk membukanya hingga pintu akhirnya terbuka. Tanpa menunggu lama Hanum pun langsung berlari keluar dari kamar ini, Adnan yang melihatnya pun langsung bergegas berlari mengejar Hanum.
Secepat apapun Hanum berlari nyatanya sebelum ia menuruni anak tangga Adnan sudah dapat menarik tubuhnya kembali.
"Tolong.....tolong akuuuu" teriak Hanum saat dirinya dengan paksa kembali ditarik oleh Adnan.
"Teriaklah, tidak ada siapa pun yang mendengarnya." kata Adnan.
Brakkkk......Brakkk....Adnan pun menutup pintu dengan keras dan langsung menghempaskan tubuh Hanum diatas ranjang. Tanpa berbasa basi lagi Adnan pun menyerang tubuh Hanum walaupun penuh dengan penolakan.
Sementara Hanum sendiri yang sudah berusaha keras mempertahankan tubuhnya agar tidak tersentuh oleh Adnan pun harus mengakui kelemahannya.
Entah pukul berapa Adnan menghentikan aksi bejatnya karena Hanum sudah tumbang sendiri hingga akhirnya tertidur pulas di bawah tubuh suaminya.
__ADS_1
...........
"Mbak Hanum kemana?" bingung Zidan yang sebenarnya tadi malam ingin ikut berkumpul, namun Papanya melarang keras ia ikut dan menguncinya dikamar.
"Ma..." panggil Zidan pada Mamanya yang tengah menatap makanan di meja makan.
"Apa?" sahut Bu Dian dengan malas, mood nya benar benar buruk karena dari semalam suaminya terus mengoceh dan malah menyalahkannya atas kejadian ini.
"Mas Adnan dimana ma?" tanya Zidan dengan khawatir, bukan khawatir dengan kakaknya melainkan dengan kakak iparnya.
"Nggak tau." jawab Bu Dian mengendikan kedua bahunya, entahlah...otaknya sudah lelah jika dipaksakan berpikir apalagi ia habis begadang semalaman melayani kemarahan suaminya.
"Aku cari ke kamar lampir itu." ucap Zidan yang hendak pergi.
"Dia belum pulang." sahut wanita yang dipanggilnya lampir tadi, entah sejak kapan wanita itu berdiri dibelakangnya. Tanpa menjawab Zidan pun langsung pergi melewati wanita itu begitu saja.
"Kemana aku harus mencarinya?" gumam Zidan yang sama sekali tak memiliki tebakan.
"Rumah, ya...rumah Mas Adnan." tiba tiba saja Zidan menemukan secercah harapan, yah....tak ada salahnya ia berasumsi jika Kakaknya pasti tengah menyelesaikan masalahnya dengan Hanum dirumahnya, tempat yang menjadi saksi mereka berdua dalam mengarungi bahtera rumah tangga selama ini.
"Dikunci?" gumam Zidan saat ia sama sekali tak bisa membuka pintu rumah kakaknya, ia pun langsung bergegas menuju bagasi dan hanya ada mobil Mbah Hanum disana padahal semalam mereka pergi menggunakan mobil Kakaknya.
"Sial" umpat Zidan sembari menendang angin didepanya.
...........
Eughhh....lenguh Hanum yang terbangun dari tidurnya, lelah dan remuklah yang dirasakan oleh tubuhnya saat ini, bahkan sekedar untuk bangun saja Hanum sudah merasa kesulitan.
"Dimana ini?" gumam Hanum yang menatap asing kamarnya sembari memijit mijit keningnya untuk meredakan rasa pusingnya.
"Brengsekkk." desis Hanum yang baru teringat dengan kejadian yang menimpanya, ia pun langsung memeriksa tubuhnya berharap yang dipikirkannya hanyalah mimpi buruk.
__ADS_1
Tes....air mata kembali jatuh dari pelupuk mata melihat tubuhnya dalam kondisi memprihatinkan. Tubuh polos tanpa sehelai benang pun dengan memar memar yang menghiasi tubuhnya. Matanya menelisik seluruh ruangan, pakaiannya yang masih berserakan namun dalam kondisi yang sudah terkoyak berhamburan begitu saja dilantai.
Ceklekkk....terdengar suara pintu terbuka membuat Hanum langsung menoleh kearahnya, tampaklah Adnan dengan membawa nampan dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Adnan sembari terus berjalan kearah Hanum, Hanum menatapnya dengan kesal setiap gerak gerik yang dilakukan Adnan bahkan melihatnya bernafas saja sudah membuat Hanum tak senang melihatnya.
"Sayang, ini makan dulu yah." ucap Adnan yang langsung duduk ditepi ranjang. Hanum sama sekali tak menjawabnya, ia masih menatap laki laki itu dengan tatapan bengisnya.
Aaaaa....Adnan menyodorkan sendok yang telah berisi bubur yang dibelinya tadi, mengisyaratkan agar Hanum membuka mulutnya.
Pranggg.....Hanum langsung menepisnya dengan kasar dan membuat sendok tersebut terhempas ke lantai dengan bubur yang berserakan di sekitarnya, Adnan menatap sendok tersebut sementara Hanum hanya menatap wajah laki laki tersebut masih dengan tatapan kemarahannya seperti tadi.
Terlihat Adnan yang memejamkan matanya sembari mengatur emosinya yang akan meledak begitu saja.
"Tak apa, aku akan mengambilkan sendok baru untukmu." ucap Adnan yang kemudian beranjak berdiri.
Pandangan Hanum terus mengikuti kemana Adnan melangkahkan kakinya hingga akhirnya hilang dibalik pintu, dengan cepat Hanum turun dari ranjangnya walaupun dengan tertatih tatih. Dipungutnya baju yang dikenakannya kemarin, sudah koyak dan tidak bisa dipakai lagi. Lagi lagi Hanum malah kembali teringat dengan perlakuan yang didapatkannya dari Adnan semalam. Berusaha menepisnya Hanum mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut dan baru menyadari jika ada lemari besar disana, entahlah mungkin tadi lemari tersebut seperti tertutup kabut hingga ia tidak dapat melihatnya.
Dibukanya lemari tersebut dan nampak lah baju baju yang berjejeran tertata dengan rapi disana, tentu saja Hanum dapat menebak dengan benar siapa pemilik semua ini.
"Brengsek" entak kenapa kata kata kasar selalu terucap dengan lancar dari bibir Hanum akhir akhir ini, tak sudi rasanya jika harus memakai pakaian yang dianggapnya menjijikkan ini namun ia tak punya pilihan lain.
Akhirnya Hanum memakainya dengan cepat sebelum Adnan kembali lagi kesini.
Ceklekk....orang jahat memang selalu panjang umur, baru saja dibicarakan orang tersebut sudah muncul dari balik pintu dengan membawa nampan seperti tadi.
"Hanum." tampak Adnan yang terkejut melihat Hanum yang telah memakai pakaian milik Vanessa, ia pun langsung berjalan cepat kearahnya dan meletakkan nampan yang dibawanya diatas kasur.
Adnan kembali mengalihkan pandangannya pada Hanum meneliti dengan detail pakaian yang melekat pada tubuh mungil Hanum.
"Ke...kenapa kamu pakai pakaian Vanessa?" tanya Adnan dengan bodohnya, tak sudi untuk menjawabnya Hanum mengalihkan pandangannya pada baju bajunya yang tergeletak dilantai. Bagai kode, Adnan pun ikut mengarahkan pandangannya mengikuti tatapan mata Hanum dan baru lah ia menyadari jika pakaian pakaian milik Hanum sudah tidak bisa dikenakan lagi akibat perbuatannya semalam.
__ADS_1
"Ha...Hanum aku minta maaf." ucap Adnan yang langsung memeluk tubuh Hanum begitu saja.
~Semua orang bisa suka dan cinta, tapi tidak semua orang melakukannya dengan penuh hormat dan kesetiaan~