Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 42


__ADS_3

"Karena apa? karena Adnan enggak bisa berlaku adil sama kalian?" tanya Intan dengan tatapan penuh selidiknya.


"Gue suka kasihan tan sama Vanessa, seharusnya dia enggak bernasib seperti ini." ucap Hanum dengan lirihnya.


"Jadi maksud kamu, kamu lebih setuju kalau dia bunuh diri waktu itu?" tebak Intan


"Bukan, bukan gitu." sahut Hanum cepat dengan menggeleng gelengkan kepalanya.


"Ya maksud aku, harusnya laki laki yang udah ngehamilin dia tuh tanggung jawab gitu. Biar yang lainnya nggak kena imbas dari perbuatannya." kata Hanum dengan tatapan sedihnya.


Entah siapa yang harus disalahkan disini, seperti halnya Vanessa ya g tak ingin mengalami semua kejadian seperti ini begitu pula dengan Adnan dan Hanum. Tapi inilah takdir yang menimpa mereka, entah apa hikmah yang akan didapatkannya nanti.


"Tapi num terlepas dari semua itu, kamu harus jaga jaga dari si Vanessa Vanessa itu." kata Intan memberikan petuahnya.


"Aku tadinya juga berfikiran kayak gitu tan, tapi setelah aku pikir pikir aku kasihan juga sama Vanessa. Dia udah nggak punya siapa siapa lagi tan." ucap Hanum.


"Num, lihat aku." kata Intan mengarahkan tubuh Hanum agar menghadap kearahnya.


"Tadi kan kamu bilang kalau kamu udah mulai curiga sama Adnan Kam," ucap Intan


"Aku salah ya tan? aku udah suudzon sama Mas Adnan yah?" tanya Hanum dengan raut wajah khawatir. Intan menggelengkan kepalanya perlahan mencoba menenangkan kekhawatiran Hanum.


"Num, kamu pernah denger nggak kata kata ini. Selingkuh itu terjadi bukan karena kemauan, tapi karena keadaan." kata Intan dengan tegas.


"Ngga ada yang aneh kalau kamu ngerasa curiga num itu semua wajar, malah lebih aneh lagi kalau kamu nggak curiga." kata Intan.


"Permisi Mbak." tiba tiba saja ada suara seseorang dari samping Hanum.


"Eh, maaf Mas. Ada apa ya?" tanya Hanum yang terkejut.


"Saya mau beli kopi Mbak," kata orang tersebit.


"Kok yang jual nggak nggak kaya kemarin kemarin, Mbak sodaranya yang jual ini yah?" tanya orang tersebut.


"Bukan Mas." jawab Hanum.

__ADS_1


"Ehh, mau pesen kopi ta Mas?" tiba tiba saja pemilik warung telah tiba dengan menenteng tabung gas elpiji berukuran 3 kg ditangan kanannya.


"Iya Mbak, kayak biasa yah." jawab laki laki tersebut kemudian pergi begitu saja.


"Makasih ya Mbak, udah mau jagain warung saya." ucap pemilik warung tersebut.


"Sama sama Mbak, kalau begitu kami pergi dulu." balas Hanum sembari menarik tangan Intan.


"Oh iya kalau begitu, hati hati Mbak." jawab pemilik warung tersebut.


Hanum dan Intan pun memutuskan untuk pulang karena hari juga sudah semakin siang saja. Hanum tentu saja mengantarkan Intan terlebih dahulu ke rumahnya, beruntung jarak rumah Intan tak terlalu jauh dengan jalan utama.


"Assalamualaikum." salam Hanum sembari memasuki rumahnya.


"Waalaikumsalam num, udah pulang?" terdengar suara jawaban dari Bu Lasti, sepetinya Ibu Hanum tengah berada di dapur. Tanpa menunggu lama Hanum pun menyusul Ibunya dengan membawa bahan bahan belanjaan yang tadi dibelinya.


"Ibu, ini belanjaannya aku taro disini yah." kata Hanum sembari meletakkan belanja yang dibelinya tadi diatas meja.


"Kok lama banget num?" tanya Bu Lastri yang saat ini tengah mencuci piring tersebut.


"Oalah iya sudah kalau begitu." jawab Bu Lastri.


"Em buk, Suaminya Intan itu sekarang tinggalnya dimana yah buk?" tanya Hanum berbasa basi. Bu Lastri yang diajak bicara pun langsung menghentikan aktivitasnya sejenak.


"Kamu ubah tau kan kalau Intan sudah bercerai?" tanya Bu Lastri ingin tahu.


"Iya buk, Intan tadi yang bilang sama Hanum. Tapi Hanum mau nanya itu nggak enak, jadi Hanum nanya sama Ibu aja siapa tau Ibu tau." jawab Hanum sembari menuangkan air kedalam gelas.


"Setahu Ibu dari orang orang, suaminya. Eh...maksud Ibu mantan suaminya Intan itu ke Jakarta." jawab Bu Lastri sembari memulai menyabuni piringnya lagi.


"Ohhh, dimana buk tepatnya? siapa tau deket sama rumah Hanum." tanya Hanum yang penasaran.


"Kamu pikir Ibu itu keluarganya apa? mana Ibu tahu num." kesal Bu Lastri.


"Oh...kalau gitu, Eh buk ngomong ngomong emangnya si Mantan suami Intan udah nggak pernah kesini lagi Buk?" tanya Hanum sembari meminum air dari gelasnya.

__ADS_1


"Ya nggak lah num, kan keluarganya juga nggak disini juga ngapain juga mau kesini. Mau jadi bahan gosipan lagi apa?" tanya Bu Lastri.


"Yah kan siapa tau minta balikan lagi sama Intan." jawab Hanum santai.


"Nggak tau num Ibuk." jawab Bu Lastri yang sudah tak ingin membahas ini lagi.


"Mas Adnan belum pulang Buk?" tanya Hanum yang baru menyafari jika Suaminya dan Bapaknya tidak ada dirumah.


"Belum, palingan juga bentar lagi." jawab Bu Lastri.


Hanum pun lebih memulih untuk ke kamarnya dahulu mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih nyaman karena tadi Hanum ke pasar dengan menggunakan celana jeans. Saat setelah selesai dengan acara berganti pakaiannya Hanum tak sengaja melihat ponsel Adnan yang tergeletak begitu saja diatas kasur, dengan perasan ragu ragu Hanum mendekat kearah ranjangnya.


Satu langkah, dua langkah......


Tutt....tuuuttt....tttuuuttt......tib tiba saja ponsel Mas Adnan berdering menandakan adanya panggilan masuk. Tanpa menunggu lama lagi Hanum mengambil ponsel tersebut dah melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.


"Mama?" gumam Hanum, entah mengapa rasanya saat ini Hanum malas sekali sekedar untuk berbicara dengan mertuanya tersebut. Memang semenjak kejadian Mama Dian membawa Vanessa datang ke rumahnya tersebut Hanum sedikit menjaga jarah karena ia masih merasa sakit hati dengan kata kata pedas yang meluncur dengan lancarnya dari bibir Mama mertuanya tersebut.


"Biarin aja, nanti kalau cape juga berhenti sendiri." ucap Hanum kemudian langsung berjalan keluar dari kamarnya.


Hampir satu jam Hanum membantu Ibunya di dapur, kali ini menu yang dimasak oleh dua chef profesional tersebut adalah sayur bung. Memang paking pas jika sayur ini dimakan dengan lontong, untung saja tadi Bu Lastri sudah menyuruh Hanum untuk membeli beberapa buah lontong dipasar.


"Assalamualaikum." terdengar suara Pak Imam yang baru pulang dari sawah, itu artinya Adnan pun juga pulang.


"Waalaikumsalam." jawab Hanum yang masih menata masakan yang baru matang diatas meja.


"Numm, kamu bawa ini singkong kedalam. Bapak sama Adnan mau mancing dulu" teriak Pak Imam yang masih di samping rumah.


“Iya pak.” Sahut Hanum.


"Makan dulu pak, Matang masaknya." sahut Bu Lastri.


"Nanti aja buk, Bapak sama Adnan udah ditunggu in Pak Rt nih." balas Pak Imam.


"Sayang, Hanum. Mas mau mancing dulu yah sama Bapak, doa in nanti dapat banyak ikannya." sahut Adnan ikut menimpali.

__ADS_1


"Iya, hati hati Mas." jawab Hanum dari dalam rumah.


__ADS_2