
Hari ini Hanum tak seperti biasanya, tubuhnya terasa sakit ditambah lagi dengan kepalanya yang pening membuat apapun yang dilihatnya tampak ambyar tak karuan.
"Astaga, panas sekali." ucap Hanum ketika menyentuh jidatnya sendiri untuk memeriksa suhu tubuhnya.
"Sepertinya aku tidak bisa bekerja hari ini." gumam Hanum yang kemudian dengan susah payahnya merogoh ponselnya yang tergeletak begitu saja kasurnya.
Hanum mengotak atik ponselnya untuk mencari kontak seseorang, begitu menemukannya ia pun langsung memencet tombol bergambar gagang telepon tersebut.
"Halo Mbak." sapa Hanum dengan suara lemahnya.
"Hanum? suara kamu kok begitu?" tanya Mbak Susi dari seberang sana yang tampak terkejut begitu mendengar suara Hanum.
"Iya Mbak, ini saya nggak enak badan Mbak." jawab Hanum.
"Ya Allah Hanum, kalau begitu cepet periksa. Hari ini kamu nggak usah masuk kerja dulu." balas Mbak Susi dari seberang sana.
"I..iya Mbak, saya tadi juga mau minta izin kalau hari ini saya nggak bisa masuk kerja." kata Hanum membetitahukan tujuan awalnya menelepon Mbak Susi.
"Yaudah kalau gitu pas, saya juga udah ngerti dan memberikan kamu izin untuk libur sampai kondisi kamu bener bener pulih." balas Mbak Susi dengan nada menggebu gebunya dari seberang sana.
"Makasih Mbak atas pengertiannya." ucap Hanum dengan setulus hati.
"Iya sama sama kalau gitu sebaiknya kamu banyak banyakin istirahat, saya juga udah mau berangkat kerja nih." jawab Mbak Susi dari seberang sana.
"Yaudah mbak, hati hati." balas Hanum yang kemudian langsung mengakhiri panggilan tersebut.
"Haaahhhh." helaan nafas Hanum usai memutuskan sambungan teleponnya. Ia memejamkan matanya mencoba menikmati rasa sakit disekujur tubuhnya ini, sempat terlintas dalam pikirannya untuk mengabari Anton jika dirinya saat ini tengah sakit. Namun ia urungkan karena tak mau membuat Anton nantinya malah akan meninggalkan pekerjaannya begitu saja, lagi pula Hanum rasa sakitnya juga bukan sakit yang parah jadi akan segera sembuh dengan sendirinya.
Mencoba mengumpulkan semua kekuatannya, Hanum beranjak dari posisi berbaringnya untuk mengambil air minum. Langkah jitu ini yang selalu diterapkan oleh Hanum, diamana ia akan meminum air putih sebanyak banyaknya untuk sedikit mengurangi rasa sakitnya.
__ADS_1
Tuuuttt.....tttuuutttt.....ttttuuuttt tiba tiba saja ponsel Hanum menyala, karena jaraknya yang cukup jauh, jadi Hanum tidak bisa melihat nama kontal yang tertera di layar ponselnya. Akhirnya Hanum pun dengan tertatih tatih kembali mencoba berjalan kembali menuju kasurnya dan mengambil ponselnya yang masih berdering.
"Ibu?" gumam Hanum membaca nama yang tertera, ada sedikit rasa terkejut dihatinya. Kenapa Ibunya harus menelepon tepat disaat kondisinya tidak sedang baik baik saja, walaupun bukan sakit yang serius namun tentu saja Ibunya disana pasti akan khawatir jika tahu jika saat ini ia tegah sakit.
Hanum menarik nafas dalam dalam, mencoba mengatur detak hantungnya agar tak deg degan lagi. Perlahan jari Hanum mulai menggeser tombol berwarna hijau diponselnya tersebut.
"Assalamu'alaikum buk?" sapa Hanum pertama kali setelah mengangakat teleponnya.
"Waalaikumsalam num." balas Bu Lastri dari seberang sana.
Dalam hati Hanum ia berdoa semoga saja Ibunya tak menyadari dan tak mempunyai firasat buruk tentang dirinya, hingga ia tak perlu menggeledah perbendaharaan kata kata diotaknya untuk membohongi Ibunya.
"Ibu sama Bapak gimana kabarnya?" tanya Hanum basa basi.
"Alhamdulillah num, Ibu sama Bapak baik baik aja." balas Bu Lastri dari seberang sana, jika didengar dari suaranya tampaknya Ibunya dalam kondisi yang bahagia disana.
"Ibuk? Ibu kenapa nelepon Hanum pagi pagi gini buk?" tanya Hanum yang langsung menanyakan tujuan Ibunya menelepon dirinya.
Tiba tiba saja ada perasaan sedih yang begitu saja masuk menembus hati Hanum, jauh didalam lubih hati Hanum yang paling dalam Hanum sebenarnya tidak rela dan tak kuasa jika melihat orang tuanya harus ikut mencari nafkah membanting tulang demi memenuhi kebutuha sehari hari.
""Ke...kenapa ibu mau buka toko kecil kecilan buk?" tanya Hanum yang tampak sangat penasaran dengan alasan dihalik keputusan Ibunya tersebut.
"Ya Ibu kan udah nggak bantu bantu Bapak kerja di sawah lagi num, ya gitu jadinya Ibu nggak tau mau ngapain lagi. Jadi ya Ibu pikir kalau Ibu punya toko walaupun kecil kecilan gitu tapi kan Ibu punya kegiatan gitu num." jawab Bu Lastri panjang lebar dari seberang sana.
Hanum menghela nafas sembari memejamkan matanya sejenak, mencoba mencari jawaban yang tidak menyinggung Ibunya.
"Bapak gimana buk?" tanya Hanum.
"Maksud Hanum, Bapak setuju apa nggak sama ide ibu?" tanyanya lagi memperjelas pertanyaan pertamanya.
__ADS_1
"Emmm, kalau kata Bapak soh terserah ibu aja." jawab Bu Lastri, entah bagaimana raut wajah yang ditujukkan Bu Lastri diseberang sana. Namun yang Hanum dapat dengar ialah Ibunya menghela nafas berat seakan akan sulit dalam pengambilan keputusan ini. Walaupun hanya toko kecil kecilan, namun tentu saja Ibunya akan jauh lebih sibuk dari tugas utama yang sudah dijalankan nya selama ini mhlai dari nyapu, masak, cuci baju hingga mengerjakan pekerjaan lainnya. Lalu bagaimana jika nanti Ibunya malah akan terfokus pada tokonya?
"Keputusan ada ditangan Ibu, jika Ibu merasa tidak sanggup sebaiknya tidak usah. Hanum takut jika nanti Ibu malah kecapean, terus siapa yang bakalan ngurusin Bapak?" tanya Hanum.
"Kamu tenang aja, urusan Bapak urusan rumah tangga akan tetap berjalan seperti sedia kala. Jadi semua itu tidak akan membuat Ibu melupakan tugas utama Ibu." jawab Bu Lastri dengan bersungguh sungguh meyakinkan.
"Kalau begitu Hanum izinin Ibu, asalkan Ibu jangan cape cape. Kalau Ibu udah cape istirahat aja." balas Hanum. agi.
"Iya, anak ibu kok cerewet banget sih sekarang?" heran Bu Lastri geleng geleng kepala di seberang sana.
"Yaudah kalau gitu Ibu tutup dulu yah teleponnya." ucap Bu Lastri kemudian.
"Iya buk, Wassalamualaikum." salam Hanum untuk mengakhiri teleponan hari ini.
"Waalaikusalam wr.wb." balas Hanum yang akhirnya bisa kembali bernafas lega.
Hanum memejamkan matanya sembari mengelus elus dadanya, beberapa kali Hanum melakukan hal tersebut sebelum kemudian Hanum kembali membaringkan tubuhnya diatas kasur.
Hanum menatap langit langit dikamarnya, ia mencoba mengumpulkan segala macam kenangan indah yang membuatnya harus bisa merasakan lebih enak lagi.
..............
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, membuat Hanum yang sedari tadi hanya berbaring langsung diterjang rasa kantuk yang membuatnya kembali kealam mimpinya.
"Halo, ada apa?" tanya Anton pada seseorang dari seberang sana.
"...."
"Apa?" terkejut Anton.
__ADS_1
~ Hidup ini hanya sekali dan peluang itu juga sekali munculnya, keduanya tidak datang dua kali.~