Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 69


__ADS_3

"Kita sudah sampai di rumahmu." jawab Anton menyunggingkan senyumnya.


"Udah sampai?" pekik Hanum yang terkejut dan langsung memperbaiki posisi duduknya menjadi tegak.


"Iya, ayo." ucap Anton tang kemudian hendak turun dari mobilnya namun urung ia lakukan karena meligat Hanum yang masih diam dalam posisinya.


"Semuanya akan baik baik saja." kata Anton mencoba memberikan sedikit motivasi untuk Hanum, Hanum yang mendengarkannya mengangguk membenarkan disertai senyuman yang menghiasi bibirnya.


"Ayo." ucap Anton saat keduanya kini sudah berdiri didepan rumah Pak Imam, sebelum melangkahkan kakinya masuk Hanum menghela nafasnya beberapa kali untuk mencari sumber kekuatan untuk menghadapi situasi ini.


Tok....tok...tok Hanum mengetuk pintu rumahnya perlahan, beberapa kali ia melakukan hal itu hingga pada akhirnya...


Ceklekkk.....tampaklah Ibunya yang membukakan pintu, dilihat dari raut wajahnya Bu Lastri tampak terkejut melihat kedatangan anaknya tersebut.


"Ha...num?" bu Lastri tampak terbata bata karena terkejut, namun sedetik kemudian Bu Lastri langsung memeluk tubuh Hanum.


"Ibu kangen banget sama kamu nak." kata Bu Lastri sembari mengecup wajah Hanum, namun tampak Hanum yang hanya diam saja tak bergeming sama sekali bahkan tidak membalas pelukan Bu Lastri membuat Bu Lastri tampak heran apalagi kali ini Hanum datang bukan dengan suaminya melainkan laki laki lain yang tak dikenalnya.


"Ha Hanum, ini siapa?" tanya Bu Lastri sembari melepaskan pelukannya secara perlahan dari tubuh anaknya tersebut.


"Perkenalkan buk nama saya Anton, teman Hanum." kata Anton memperkenalkan dirinya sembari mengulurkan tangannya, Bu Lastri pun menerima uluran tangan tersebut sembari mengangguk anggukkan kepalanya disertai dengan senyuman kakunya.


"Eh, ayo masuk dulu. Ibu sampai lupa." Bu Lastri pun langsung menggiring keduanya untuk masuk kedalam rumah.


"Adnan kemana num?" tanya Bu Lastri berbasa basi sembari menatap Anton dan Hanum secara bergantian.


"Bapak mana Buk?" tanya Hanum dengan wajah datarnya tanpa ada niatan untuk menjawab pertanyaan Ibunya tersebut.


"Oh iya, Ibu panggilin Bapak dulu." jawab Bu Lastri dengan senyum terpaksa nya kemudian beranjak berdiri.


Beberapa menit kemudian Bu Lastri kembali berjalan beriringan dengan Bapaknya, tampak Pak Imam yang tengah mengenakan kaos oblong dan juga sarung bermotif kotak kotak kemudian duduk didepan Hanum dan Anton didampingi oleh Bu Lastri.


"Kok datengnya malam malam num? suami kamu kemana?" tanya Pak Imam berbasa basi.


"Dirumah." jawab Hanum asal. Tak ada raut wajah penuh kehangatan seperti biasanya yang ditunjukkan Hanum, kini hanya tampak wajah murung dengan tatapan penuh intimidasinya.


"Oh ya, ini nak siapa?" tanya Pak Imam mencoba berbasa basi dengan Anton.

__ADS_1


"Oh perkenalkan pak, saya A..." Anton hendak memperkenalkan dirinya namun...


"Aku sama Mas Adnan bercerai." sahut Hanum menghentikan ucapan Anton, sontak hal itu membuat Bu Lastri dan Pak Imam langsung beralih menatap Hanum dengan raut wajah terkejut.


"Apa?" pekik Bu Lastri yang terkejut, dengan refleksnya Bu Lastri langsung memegang lengan suaminya.


"Apa yang kamu katakan num?" tanya Pak Imam yang kini menatap tajam anak semata wayangnya tersebut.


"Aku akan bercerai sama Mas Adnan." ucap Hanum mengulangi perkataannya tadi dengan tatapan mata yang menusuk membuat Pak Imam dan Bu Lastri lagi lagi harus dibuat terkejut.


"Jangan asal bicara kamu." ucap Pak Imam tegas yang langsung membuang pandangannya.


"Iya num, pernikahan itu bukan hal yang bisa dibuat main main." ucap Bu Lastri yang ikut menimpali.


"Dan aku sama sekali nggak main main soal ini!" ucap Hanum terdengar pelan namun penuh dengan penekanan.


Brakkkkk... "Jangan sembarangan bicara kamu." tak terima Pak Imam langsung menggebrak meja yang ada dihadapannya dengan penuh emosi. Tentu saja Bu Lastri dan Anton tampak terkejut, berbeda dengan Hanum yang tampak tenang seolah olah tak terpengaruh sama sekali.


"Apa gara gara laki laki ini?" Pak Imam langsung menunjuk wajah Anton yang disangkanya menjadi penyebab utama keruntuhan rumah tangga anaknya. Mendapat tuduhan tak mengenakkan seperti itu tentu saja membuat Anton tak terima, namun baru saja ia hendak membuka mulutnya untuk menyangkal...


"Karena Bapak." ucap Hanum lirih namun masih dapat didengar dengan jelas oleh semua orang yang ada di ruangan tersebut.


"Kenapa Bapak menerima uang dari Mas Adnan?" tanya Hanum yang langsung membuat Pak Imam tampak terkejut sekaligus bingung, begitu juga dengan Bu Lastri.


"Untuk menukarnya dengan Hanum?" tanya Hanum lagi seolah olah ingin memojokkan Bapaknya.


"Apa maksud kamu?" tanya Pak Imam untuk kesekian kalinya.


"Iya nak, apa maksud kamu bicara seperti itu?" tanya Bu Lastri yang ikut menimpali.


"Mas Adnan sudah ingkar dengan persyaratan yang aku buat saat Mas Adnan memintaku untuk menyetujui dia menikah dengan Vanessa." kata Hanum yang mulai bercerita.


"Dia ketahuan, bahkan dia ternyata sudah berkhianat sejak lama." kata Hanum tersenyum kecut.


"Terserah jika kalian menganggap aku bodoh karena mengajukan syarat yang kalian anggap tidak masuk akal, tapi inilah aku."


"Tanpa pikir panjang aku langsung meminta cerai sama Mas Adnan."

__ADS_1


"Mas Adnan marah, dia bilang kalau sawah yang Bapak miliki adalah uang pemberian darinya." Hanum mengatakan hal itu dengan senyum sinis yang menghiasi bibirnya. Tentu saja, hal itu sontak membuat Pak Imam dan Bu Lastri langsung terkejut tak terkecuali dengan Anton.


"Hanum it..." Pak Imam langsung marah dan hendak melontarkan kalimat protesnya.


"Aku sama sekali nggak pernah nyangka, sekarang Bapak ngelarang aku buat cerai sama Mas Adnan karena uang itu?" tanya Hanum yang langsung memotong ucapan Bapaknya.


"Hanum, kamu dengerin dulu penjelasan Bapak nak." sahut Bu Lastri yang tak ingin tinggal fiam melihat keadaan yang sudah mulai memanas ini.


..........


Brak.....brakkkk....brakkkkk Adnan yang sedang marah besar kini tengah mengamuk menggebrak bahkan menendang apapun yang ada dihadapannya ini.


"Bodohhhh kalian bodohhhh." teriak Adnan tepat didepan wajah dua orang yang ditugaskan untuk menjaga Hanum tersebut.


"Kenapa kalian tidak becusss! Hanum itu lemah."


"Kenapa menemukan seorang wanita lemah saja kalian tidak becusss, dia pasti tidak akan pergi jauh dari tempat ini dengan kondisinya yang seperti itu. Pasti sekarang dia lagi sembunyi di suatu tempat." murka Adnan mengeluarkan segala uneg unegnya.


"Sekarang saya nggak mau tau, tambah orang lagi sebanyak banyaknya. Cari Hanum sampai ketemu." kata Adnan dengan penuh penekanan.


"Baik Boss." tanpa menunggu lama lagi, kedua orang tersebut pun langsung pergi setengah berlari keluar dari rumah ini.


Aaaaaaaaa....aaaaaaa....teriak Adnan penuh frustasi


...........


"Bapak sama Ibu tega." lirih Hanum, bahkan benteng yang telah ia buat agar tidak menjatuhkan air matanya kini telah gagal total, air matanya turun begitu saja membasahi pipi mulusnya. Tanpa menunggu apa apa lagi Hanum pun langsung bangkit dari posisi duduknya, tak kuat rasanya jika ia harus menahan diri lebih lama lagi ditempat ini.


Bughhh.....


Note : Maaf ya readers semuanya jika cerita ini tidak sesuai dengan syariat agama. Ternyata setelah aku cari cari menikahi wanita yang telah hamil dengan orang lain itu tidak diperbolehkan oleh agama.


Sebelumnya aku mohon maaf banget karena cerita aku udah terlanjur dibuat seperti itu, sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar besarnya๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Semoga seiring berjalannya waktu nanti aku bisa menemukan cara untuk memperbaiki cerita ini.


~Sebelum membuat orang lain bahagia, carilah kebahagiaanmu sendiri. Menjadi egois tak selalu buruk~

__ADS_1


^Its Okay To Not Be Okay^


__ADS_2