
Ttuuttt....ttuutttt....ttuutt
"Sayang, tolong ambilin hp Papa dong." pinta Pak Tyo pada Retha, tanpa menjawab Retha pun langsung menuruti permintaan Papanya.
"Ini pah." kata Retha sembari menyodorkan ponsel Papanya.
"Makasih sayang." jawab Pak Tyo sembari meraih ponselnya.
Pak Tyo pun lekas menekan tombol berwarna hijau tersebut sembari fokus pada jalanan didepannya.
"Iya Halo?" salam Pak Tyo.
"Halo, selamat mala."
"Maaf pak, kami dari pihak rumah sakit ingin menyampaikan informasi jika Bu Hanum baru saja membuat keributan, kami pihak runah sakit dengan hormat meminta Bapak selaku wali dari Bu Hanum untuk datang kerumah sakit sekarang juga." ucap Resepsionis memberitahukan informasi dengan cepat.
"Apa?" terkejut Pak Tyo.
"Oke oke, saya akan segera kesana." ucapnya kemudian yang langsung memutuskan sambungan telepon tersebut secara sepihak.
"Kenapa Pa?" tanya Retha yang penasara.
"Eh sayang, maafin Papa yah tapi sepertinya sekarang kita harus kerumah sakit dulu kasihan Tante Hanum." jawab Pak Tyo yang bahkan tanpa menoleh kearah Retha.
"Iya pa." balas Retha sembari mengangguk anggukkan kepalanya mengiyakan saja.
Pak Tyo pun langsung berbalik arah menuju runah sakit, saking paniknya ia bahkan sampai lupa untuk memberi kabar pada mantan istrinya karena tidak bisa memenuhi janjinya.
Sekitar 30 menit kemudian akhirnya sampailah Pak Tyo dan Retha dirumah sakit.
Tap....tap....tap....tap....tap
Brakkk....
"Hanum." teriak Pak Tyo, namun kamar Hanum kini tak ada satu orang pun didalamnya.
"Dimana Hanum?" gumam Pak Tyo.
"Pak Tyo." panggil dokter yang biasa menangani Hanum, Tyo pun langsung menoleh kearah sumber suara.
"Dokter." terkejut Pak Tyo, namun akhirnya ia bisa bernafas lega.
"Dokter Hanum ada dimana? kenapa nggak ada didalam dok?" tanya Pak Tyo dengan tak sabaran.
"Begini pak, perlu saya jelaskan jika Bu Hanum harus dirawat ke rumah sakit jiwa." jawab dokter tersebut.
"Apa??" terkejut Pak Tyo dengan ucapan dokter tersebut.
"Apa?" terkejut Retha.
"Ke..kenapa dok? Hanum baik baik aja kan?" tanya Pak Tyo dengan wajah tak percayanya.
"Maaf pak kami terpasa melakukannya, jika tidak kejadian tadi bisa saja terulang kembali dan malah akan membahayakan banyak orang." jawab dokter tersebut memberi penjelasan, Pak Tyo hanya bisa diam dengan wajah tak percayanya.
"Kami berharap Bapak bisa memberikan keputusan yang tepat demi kesembuhan Bu Hanum."
"Kami juga telah merekomendesaikan rumah sakit jiwa yang memiliki fasilitas dan metode penanganan yang baik." sambungnya lagi.
Pak Tyo langsung membuang wajahnya kesembarang arah, menarik nafas dalam dalam untuk mengontrol emosinya yang membuatnya sampai tidak bisa berkata kata.
"Oke, saya percayakan Hanum sama dokter." akhirnya keputusan tersebut pun keluar dari mulut Pak Tyo.
"Baik, kami akan mempersiapkan semuanya." balas Dokter tersebut.
"Kalau gitu saya permisi dulu." ucap dokter tersebut yang kemudian langsung pamit undur diri.
Akhirnya semuanya telah dipersiapkan untuk kepindahan Hanum.
"Terima kasih atas kerja sama dan usaha dokter selama ini." ucap Pak Tyo sembari menjabat tangan dokter tersebut.
"Sama sama Pak Tyo, saya sangat berharap Bu Hanum bisa cepat sembuh." jawab dokter tersebut.
"Terima kasih." balas Pak Tyo.
Pak Tyo dan Retha pun membuntuti mobil ambulan yang membawa Hanum menuju rumah sakit jiwa.
"Pa, tante Hanum kenapa pa? kenapa dibawa ke rumah sakit jiwa? tante Hanum nggak gila kan pa?" tanya Retha panjang lebar.
"Nggak kok sayang, tante Hanum baik baik aja kok. Itu cuma main aja kok sayang, cuma sebentar." jawab Pak Tyo kemudian.
"Oh iya." gumam Pak Tyo sembari menepuk jidatnya.
__ADS_1
"Kenapa pa?" tanya Retha yang penasaran.
Tanpa menjawabnya Pak Tyo pun langsung menepikan mobilnya.
"Sebentar ya sayang." kata Pak Tyo sembari mengeluarkan ponselnya dari saku kemejanya.
Benar saja, sesuai dugaannya tadi pasti Rini sudah menghubunginya berkali kali. Puluhan panggilan masuk beserta puluhan chat telah memenuhi ponselnya, ia pun langsung menelpon balik.
"Halo." sapa Pak Tyo.
"Halo, kamu gimana sih yo kok lama banget? aku udah nunggu lama disini." sewot Rini dari seberang sana.
"Aduh, aku minta maaf banget karena tiba tiba ada urusan mendadak. Besok saya akan hubungi kamu lagi." jawab Pak Tyo yang langsung mengakhiri sesi dialognya.
Pak Tyo pun kembali melanjutkan perjalannya.
........
Seorang dokter tengah duduk berhadap hadapan dengan seseorang dengan raut wajah seriusnya.
"Saya harap setelah ini anda benar benar berhenti untuk menganggu istri saya lagi." ucap dokter tersebut dengan suara tegasnya, Anton hanya menatapnya dengan sinis.
"Dia juga Mamaku, hubungan darah kami sangat kental." jawab Anton dengan wajah tengilnya.
"Sejak kapan kamu berubah jadi seperti ini?" sinis dokter tersebut.
"Sejak anda merampas Mama dari hidupku dan Papa." jawab Anton dengan entengnya, dokter tersebut menatap Anton dengan tatapan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Perlu berapa kali lagi saya katakan jika saya sama sekali tidak pernah merebut Mama kamu dari siapapun." tekan dokter tersebut.
"Lalu kenapa dulu anda masih berhubungan dengan Mama saya padahal anda tau betul jika Mama saya sudah memiliki keluarga yang utuh?" tanya Anton sembari melihat lihat kuku ditangannya.
"Kita hentikan pembicaraan kita kali ini, silahkan anda keluar dari ruangan saya." ucap dokter yang tak lain adalah Papa tiri dari Anton tersebut, tanpa menjawabnya Anton pun langsung bangkit berdiri.
"Ingat, jangan sampai rahasia ini tersebar." ancam Anton menatap sengit Papa tirinya tersebut sebelum kemudian keluar dari ruangan tersebut.
"Hahhhhh." Papa tiri Anton hanya bisa menghela nafas berat dengan tatapan tak percaya.
............
Beberapa hari telah berlalu, disini kondisi Hanum terlihat lebih membaik. Hanum akan berbicara saat bersama dengan Retha dan Zidan walaupun hanya menjawab sekedarnya, namun itu sudah menjadi kemajuan untuk Hanum.
"Biar aku aja yang jemput orang tua Mbak Hanum." ucap Zidan yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Pak Tyo.
Zidan pun berlalu pergi dari hadapan Pak Tyo.
"Apa Tyo benar benar menyukai wanita gila itu?." gumam Rini yang sebenarnya membuntuti Tyo beberapa hari ini sejak malam dimana Tyo dengan sepihak membatalkan pertemuan mereka.
"Satu satunya yang bisa aku jadikan alat hanyalah Retha, lihat yo aku akan balikin keutuhan keluarga kita seperti dulu lagi." gumam Rini dengan penuh keyakinan.
Benar adanya jika orang yang telah pergi dari hidup kita, bahkan yang sudah tidak bisa kita miliki kembali memiliki pesona yang mampu menarik perhatian kita kembali hingga membuat kita menyesali takdir yang telah terjadi.
..........
"Apa??" terkejut Bu Lastri mendengar berita tentang anaknya dari Zidan.
"Ibuuu." teriak Pak Imam yang melihat tubuh istrinya langsung melemas dan akhirnya pingsan, untung saja ia berhasil menangkap tubuh istrinya tersebut.
Pak Imam dan Zidan pun langsung merebahkan tubuh Bu Lastri di atas sofa.
"Pak minyak angin dimana?" tanya Zidan yang masih terlihat panik tersebut.
"Ada dideket tv dan, cepat ambil." jawab Pak Imam, tanpa menjawab lagi Zidan pun langsung mengambil minyak angin tersebut.
"Ini pak." ucap Zidan yang langsung menyodorkan minyak angin tersebut, Pak Imam pun langsung meraihnya dan mengoleskan minyak angin tersebut di pelipis dan bawah hidung istrinya. Akhirnya tak berselang lama kemudian Bu Lastri tersadar juga, Zidan pun langsung berlari ke dapur untuk mengambil segelas air putih.
"Eughhh." lenguh Bu Lastri yang mencoba bangun dari posisi berbaringnya tersebut.
"Pelan pelan buk." kata Pak Imam sembari membantu istrinya untuk duduk.
"Ini pak air putihnya." kata Zidan yang yang membawa segelas air putih ditangannya, Pak Imam pun langsung meraihnya dan meminumkannya pada istrinya.
"Pelan pelan buk." kata Pak Imam.
"Pak, Ibuk tadi salah denger kan?" tanya Bu Lastri pada suaminya.
"Buk, Ibu tenang dulu yah." jawab Pak Imam dengan mata berkaca kacanya.
Hati orang tua mana yang tak hancur tat kala mendengar anak kesayangannya dikabarkan tengah menderita gangguan mental.
"Jadi bener pak? itu semua bener?" tanya Bu Lastri yang masih tak percaya.
__ADS_1
Hiks...hiks...hiks...tangis Bu Lastri pun tiba tiba pecah begitu saja, tak kuasa rasanya mendengarkan berita mengerikan tersebut.
"Ibu, Ibu yang sabar ya." lirih Pak Imam yang langsung memeluk tubuh Istrinya tersebut.
"Pak Hanum pak, anak kita pak Hiks." lirih Bu Lastri dalam tangisnya.
"Semuanya akan baik baik aja buk." jawab Pak Imam yang mencoba menguatkan hati istrinya walaupun hatjnya sendiri tengah hancur berkeping keping, namun sebagai seorang laki laki ia harus terlihat lebih tegar dari pada siapapun.
"Pak ayo kita temui Hanum sekarang Pak, kasihan Hanum dia pasti bituh kita sekarang." ucap Bu Lastri yang langsung melepaskan pelukannya dan menggungang guncang bahu suaminya tersebut.
"Iya ibuk, tapi Ibu sabar dulu." kata Pak Tyo.
"Sabar? Ibu mana yang bisa sabar kalau anaknya sakit pak? apa lagi Hanum sakit...hiks." tangis Bu Lastri kembali pecah karena tak kuasa rasanya mengatakan anaknya sendiri tengah mengalami gangguan mental.
"Iya buk Bapak ngerti, tapi sekarang Ibu sebaiknya mandi dulu biar Bapak siapin dulu baju baju yang mau dibawa ke Jakarta." kata Pak Imam sembari menghapus air mata yang mengalir dipipi Istrinya tersebut, Bu Lastri pun hanya mengangguk pasrah yang terpenting adalah ia harus ke Jakarta untuk bertemu anaknya.
"Maafkan Pak karena saya baru mengabari Bapak." lirih Zidan yang merasa tak enak hati.
"Seharusnya kamu memberitahu Bapak lebih awal dan." lirih Pak Imam yang merasa kecewa.
"Sekali lagi maafin saya Pak." lirih Zidan.
"Yang sudah terjadi biarlah berlalu." kata Pak Imam yang menepuk punggung Zidan dan langsung berdiri dari duduknya.
.............
Bugh....bughh....bughhh
"Akhhh." ringis Adnan yang merasakan perih pada sudut bibirnya, bahkan sampai mengeluarkan darah.
"Rasain , makanga jangam macem macem sama kita." ucap seseorang berbadan besar tersebut.
Rupanya tradisi penindasan masih berjalan dimuka bumi ini baik disekolah, tempat kerja, lingkungan rumah dan bahkan dalam sel tahanan sekalipun.
"Jangan mentang mentang orang kaya bisa seenaknya disini, ingat status kita sama. Sama sama tahanan." tekan laki laki berbadan besar dan memiliki kumis tebal hingga tampak menyeramkan tersebut.
"Nih, buruan kerjain semuanya." ucapnya kembali sembari melemparkan lap kain yang mendarat tepat diwajah Adnan sebelum kemudian berlalu pergi meninggalkan Adnan.
"****." umpat Adnan meraih dan melemparkan kain lap tersebut dengan kasar.
Hidup dipenjara seperti mimpi buruk bagi Adnan, ia sama sekali tidak pernah menduga bahkan berdikir jika ia akan mendekam dipenjara karena narkoba. ****..bukan itu saja, ia juga tidak pernah menyangka jika ia bisa dengan teganya menduakan Hanum.
Wajah itu, wajah yang terus menghantuinya karena rasa bersalah yang teramat besar. Bagaimana kabar wanita itu? sekarang ia hanya bisa memandang wajah cantik Hanum dari selembar kertas kecil yang ia bawa.
Mungkinkah semua ini adalah karma yang harus ia dapatkan sebagai balasan sikap jahatnya pada Hanum? ataukah tuhan sedang mengujinya?.
..........
Akhirnya setelah menempuh perjalanan cukup panjang, Zidan dan keluarga Pak Imam pun sampai juga di Jakarta. Namun karena hari sudah larut malam, maka Zidan pun membawa Pak Imam dan Bu Lastri ke sebuah hotel terlebih dahulu.
"Kenapa nggak langsung ketemu Hanum aja sih pak?" rengek Bu Lastri.
"Ini udah malam buk, kasihan Zidan juga kan belum istirahat pasti badannya capek semua buk." jawab Pak Imam mencoba memberi pengertian.
"Sebaiknya kita istirahat dulu, kita tidur dulu biar besok ketemu Hanumnya kita udah seger buk jadi enak dilihat." bujuk Pak Imam.
"Iya buk, sebaiknya Ibu sama Bapak istirahat dulu. Besok pagi pagi kita baru jenguk Hanum, kan kalau sekarang Hanumnya pasti juga udah istirahat buk. Kalau kita datengnya sekarang kan malah ganggu waktu istirahat Hanum dong." sahut Zidan mencoba memberikan pengertian tambahan, akhirnya mau tak mau Bu Lastri pun hanya bisa menurut pasrah.
Baik Bu Lastri, Pak Imam dan Zidan sendiri pun menghabiskan malam ini di hotel yang kebetulan lokasinya sudah cukup dekat dengan rumah sakit jiwa tempat Hanum dirawat.
"Hahhh...hah...hah..." Hanum yang tengah mengalami mimpi buruk pun langsung terbangun dari tidurnya, ia menoleh kesana kemari keseluruh sudut ruangan.
Tiba tiba saja sepenggal ingatan tentang kejadian hari itu berputar dalam ingatannya, membuatnya langsung merasa takut.
"Ibuk." lirih Hanum, semenjak beberapa hari dirawat disini hari hari Hanum terasa lebih berisi karena baik Retha maupun Zidan akan datang secara bergantian untuk menjaganya, yah...hanya dua orang tersebutlah yang Hanum percayai saat ini. Hanum meraba perutnya yang tiba tiba terasa mual tersebut.
..........
Pak Tyo yang masih belum bisa memejamkan mata tersebut hanya menatap kalung yang berada ditangannya sembari menyeruput secangkir kopi yang menemani malam sepinya.
"Ada apa dengan kalung ini?" guman Pak Tyo menatap lekat lekat kalung berliontin bintang tersebut.
"Apa sebaiknya aku bawa aja besok? Orang tua Hanum pasti tahu tentang kalung ini." gumamnya seolah olah menimang nimang keputusan mana yang akan diambilnya.
Srekkkk......Pak Tyo membuka tirai jendelanya karena ingin menatap langit malam bertabur bintang.
Ssssrrrrttttt
Tiba tiba saja ada suara mobil yang menyala dan langsung melaju dengan kencang, tentu saja Pak Tyo terkejut namun mobil tersebut telah melaju dengan kencang hingga tidak mungkin untuk ia kejar.
"Siapa brengsek itu." gumam Pak Tyo yang merasa geram.
__ADS_1
~Jika menunggu itu menyenangkan itulah namanya cinta, jika menunggu itu indah maka itulah ketulusan~
^Suho^