Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 96


__ADS_3

Akhirnya Anton selesai juga dengan pekerjaannya saat jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, ingin rasanya ia menemui Hanum meskipun cuma sebentar saja. Meminta maaf karena seharian ini ia bahkan tak bisa menghubunginya.


Tut...tuut...ttutt. Panggilannya sama sekali tak diangkat oleh Hanum.


"Apa Hanum ngambek yah?" gumam Anton, pasalnya selama ini Hanum sama sekali tak pernah marah padanya. Dia akan menjadi sosok wanita dewasa yang penuh pengertian padanya.


"Kalau aku ke kos kosannya kemaleman nggak yah?" ucap Anton pada dirinya sendiri, menimang nimang keputusan yang dirasanya menjadi keputusan yang terbaik.


"Ah...bodo amat." persetan dengan kemaleman atau apapun itu Anton tak perduli, ia akan mengesampingkan semuanya asalkan ia dapat melihat wajah Hanum hari ini.


Anton pun bergegas keluar dari ruangannya dan berjalan setengah berlari menuju mobilnya, Anton mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dengan gesitnya Anton menyalip dan menikung kendaraan yang dirasanya menghambat laju kendaraannya.


Sampai pada akhirnya ada mobil yang mencoba menyalip Anton, Anton yang menyadari akan hal tersebut pun tak membiarkan hal itu terjadi. Ia masih mencoba mempertahankan kekuasaannya, hingga mobil yang menjadi lawannya tersebut berhasil menyalipnya dan menghentikan mobilnya didepan mobil Anton yang sontak membuat Anton langsung menginjak pedal rem nya.


Cittt......


"****!" umpat Anton sembari memegang jidatnya yang tadi hampir saja terbentur dengan stir mobilnya.


"Brengsek! siapa itu." umpat Anton dengan rahang yang telah mengeras, tatapannya berubah menjadi tajam mengutuk orang yang sudah berani mencari gara gara dengannya.


Dengan perasaan marah, Anton pun langsung turun dari mobilnya dan menghampiri mobil sialan didepannya itu.


Dor...dor....dor. Anton mengetuk kaca mobil tersebut dengan brutal.


"Keluar! tunjukin muka lo." teriak Anton sembari terus menggedor gedor kaca mobil tersebut, tak berselang lama kaca mobil tersebut pun mulai turun dan menampakkan sosok yang tak asing untuk Anton.


"Adnan?" gumam Anton dengan rasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, laki laki yang pernah menjadi bagian dari hidup calon istrinya dan sudah terang terangan mengibarkan bendera perang padanya.


"Apa maumu?" tanya Anton yang semakin kesini mulai bisa mengontrol emosinya.


"Laki laki brengsek tak pantas menjadi pendamping Hanum." ucap Adnan dengan raut wajah dinginnya yang kembali seperti semula sebelum mengenal Hanum, bahkan untuk sekedar menoleh ke arah Anton saja Adnan seperti sangat enggan untuk melakukannya.


"Heh." Anton mendesis tak percaya membuang pandangannya kearah lain.

__ADS_1


"Terus? menurut lo, lo laki laki baik? laki laki yang setia sama istri lo? laki laki yang pantas menjadi pendamping Hanum? ingat nan, ingat. Lo itu cuma bagian dari masa lalu Hanum, dan kisah cinta kalian cuma sampai disitu, kalian sudah berakhir!" tegas Anton diakhir katanya.


"Aku akan merebut kembali Hanum darimu, camkan itu!" tegas Adnan yang kemudian langsung mengeluarkan pistol yang ternyata sudah diletakkannya disampingnya. Sontak saja hal itu membuat Anton terkejut bahkan tak percaya jika Adnan akan mempunyai benda membahayakan seperti itu.


Adnan mengeluarkan tangannya yang tengah memegang pistol tersebut keluar jendela, tentu saja hal tersebut membuat Anton meneguk salivanya dengan kasar. Takut takut jika Adnan akan kehilangan kewarasaanya dan akhirnya lepas kendali.


"Ki..kita bisa bersaing secara jantan." ucap Anton dengan bibir gemetar dan spontannya langsung mengangkat kedua tangannya keudara seperti menujukkan seseorang yang telah menyerah pada polisi.


Tentu saja, melihat reaksi Anton yang seperti itu membuat Adnan menarik ujung bibirnya.


Dorrrr...spontan saja Anton langsung menutup kedua telinganya dan juga menutup matanya kuat kuat. Gila, benar benar gila. Adnan sudah tidak waras.


Satu detik, dua detik namun Anton tak merasakan apa apa. Tak merasakan ada sesuatu yang menembus anggota tubuhnya, dengan sekuat tenaga Anton memberanikan diri mengumpulkan keberaniannya untuk membuka mata.


Bukan dirirnya yang tertembak? lalu Anton menoleh mencari sesuatu yang mungkin telah meletus atau apa dan ternyata?


"Ban mobilku?" terkejut Anton melihat ban mobil depan kanannya telah kempes.


Anton pun kembali menoleh ke arah Adnan.


"Lihatlah dirimu yang penakut itu, bagaimana bisa kamu akan melindungi Hanum nantinya." sinis Adnan.


"Apa lo sungguh tidak tahu malu?" ejek Adnan meremehkan, sementara Anton sama sekali tak membalasnya karena jujur saja ia paham dengan keadaan yang sama sekali tak mendukungnya saat ini.


Adnan pun menutup kembali kaca mobilnya dan mulai menyalakan kembali mesin mobilnya dan.


Wesss....Adnan langsung menancap gass, mengemudi dengan kecepatan tinggi meninggalkan Anton yang tampak telah mengepalkan tangannya kuat kuat yang menjadi oenguat dirinya kala harga dirinya sebagai laki laki di injak injak.


"Aaaaaahhhhhh." teriak Anton kuat kuat, bahkan ia pun menendang dengan asal udara disekitarnya.


"Aaaaaaa.....brengsekkk!" teriaknya lagi.


............

__ADS_1


"Papa, aku udah selesai." ucap Retha yabg telah menghabiskan satu mangkuk bakso.


"Udah?" tanya Pak Tyo memastikan yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Retha.


"Oke, kalau gitu Papa bayar dulu." kata Pak Tyo yang kemudian beranjak berdiri hendak membayar kepada penjual bakso tersebut, sementara Retha menghabiskan es tehnya yang masih tersisa sedikit. Usai membayar, Pak Tyo pun kembali menghampiri Retha.


"Ayo pulang sekarang." ucap Pak Tyo pada Retha.


"He eum." balas Retha yang langsung bernajak berdiri dari duduknya.


Pak Tyo dan Retha pun langsung berjalan menuju mobilnya terparkir, Pak Tyo tampak menggandengan tangan Retha dan Retha juga tampak sangat menikmati hal tersebut.


"Gimana baksonya? enak?" tanya Pak Tyo sembari berjalan.


"Enak pa." jawab Retha.


"Kapan kapan kita kesini lagi yah pa." ucap Retha.


"Asal Rethanya nggak nakal, Papa akan ajak Retha kesini lagi kapan pun Retha mau." jawab Pak Tyo membuat Retha langsung menghentikan langkahnya yang otomatis Pak Tyo juga menghentikan langkahnya.


"Emang selama ini Retha nakal?" tanya Retha menatap Papanya dengan tatapan menyelidik.


"Emmhhh." Pak Tyo tampak berfikir berniat menggoda anaknya.


"Ah Papaaa." teriak Retha yang langsung berjalan dengan menghentak hentakkan kakinya meninggalkan Papanya. Pak Tyo yang merasa gemas pun langsung menggendong Retha dari belakang.


"Papaaa." teriak Retha yang terkejut.


"Ahahahaha." namun kemudian teriakan tersebut berubah menjadi tawa hingga keduanya sampai di mobil.


Retha dan Pak Tyo tampak menikmati perjalanan malam dengan kecepatan sedang tersebut, banyak sekali yang mereka obrolkan didalam mobil. Mulai dari teman teman Retha yang meminta maaf karena sebelumnya telah mengejeknya, guru matematika yang galak, disekolah tadi Retha dihukum karena lupa tidak mengerjakan tugas dan masih banyak lagi.


Sampai pada akhirnya Pak Tyo melihat ada mobil didepannya yang berhenti dan seorang laki laki yang tampak mondar mandir disampingnya.

__ADS_1


~Jika hatimu banyak merasakan sakit, maka belajarlah dari rasa sakit itu untuk tidak memberikannya pada orang lain.~


__ADS_2