Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 108


__ADS_3

Sepulang dari menjemput Retha, Pak Tyo pun mampir terlebih dahulu ketoko kue yang berada dipersimpangan jalan.


"Yakin ini aja?" tanya Pak Tyo pada anaknya tersebut.


"Yakin dong, tante Hanum pasti juga seneng banget kan Pa." balas Retha.


"Kenapa yah tante Hanum kok udah nggak kerja lagi disitu pa?" tanya Retha pada Papanya yang tengah memasangkan sabuk pengaman untuk putrinya.


"Mungkin udah cape, kan tante Hanum perempuan." jawab Pak Tyo asal saja, yang penting ia menjawabnya. Benar saja, Retha pun hanya mengangguk anggukkan kepalanya tanpa bertanya lagi.


Selama diperjalanan, Pak Tyo dan Retha banyak sekali bercerita.


"Papa awassss." teriak Retha saat ia melihat wanita yang berdiri dijalan, dilihat dari gerak geriknya sepertinya wanita itu sengaja berhenti dijalan untuk bunuh diri karena ia telah melentangkan kedua tangannya lebar lebar seakan akan menanti kedatangan mobil Pak Tyo.


"Astaghfirullah." kaget Pak Tyo.


Ciiiiittttttttt....Pak Tyo pun langsung menginjak pedal remnya dalam dalam membuatnya dan Retha hampir saja membentur dashboard, untung saja dengan sigap ia menahan tubuh Retha dengan melentangkan tangannya.


"Retha nggak papa sayang?" tanya Pak Tyo dengan khawatirnya, setelah mobil yang ditumpanginya berhenti total.


Hah...hah...hah...


"Nggak papa kok pa." jawab Retha dengan nafas yang masih menderu deru.


"Syukurlah." ucap Pak Tyo sembari membelai rambut Retha.


"Retha tunggu disini dulu yah, biar papa yang turun sebentar." kata Pak Tyo sembari membuka sabuk pengaman yang dipakainya, Retha pun mengangguk anggukkan kepala mempersilahkan.


Pak Tyo pun tanpa menunggu lama lagi langsung turun dari mobilnya, menatap dengan kesal wanita yang masih berdiri tegap didepan mobilnya tersebut. Bagaimana jika Retha tidak memberitahunya tadi? bakal panjang banget kan urusannya.


"Mbak, Mbak ngapain sih berdiri disitu. Ganggu jalan saya tau nggak." kata Pak Tyo dengan nada kesalnya, namun wanita itu justru sama sekali tak bergerak dan bergeming.


Wanita itu hanya tertunduk dengan tangis yang masih terdengar terisak. Dengan mencoba menahan emosinya, Pak Tyo pun langsung mendekati wanita itu dan menarik ya menuju trotoar.


"Kenapa kamu mau bunuh diri?" tanya Pak Tyo langsung pada intinya.


Namum wanita itu hanya terdiam, kemudian Pak Tyo pun menekan bahunya supaya wanita itu terduduk dipinggiran trotoar dan Pak Tyo langsung berjalanan menuju mobilnya.

__ADS_1


"Sayang tunggu bentar yah, Papa mau bicara sama tante itu dulu." kata Pak Tyo pada Retha.


"Iya pah." jawab Retha.


"Oh iya, Retha bawa air minum nggak?" tanya Pak Tyo, tanpa menjawabnya Retha pun langsung meraih tasnya dan mengambil botol berisi air minum yang menjadi teman bekalnya dan langsung menyodorkannya pada sang Papa.


"Makasih ya sayang." kata Pak Tyo sembari menerima botol yang disodorkan Retha.


Pak Tyo pun kembali menuju arah wanita yang posisinya masih belum berubah sama sekali tersebut.


"Minum dulu." kata Pak Tyo yang menyodorkan botol tersebut, wanita itu hanya mendongak sekilas tanpa ada niatan untuk mengambilanya.


Pak Tyo lagi lagi kembali harus dibuat menahan sabar, ia pun ikut duduk disamping wanita itu.


"Ceritakan apa masalahmu sebagai permintaan maaf karena hampir menyusahkanku." ucap Pak Tyo membuat wanita itu langsung mendongak dan menatapnya.


"Kamu nggak mikir apa? gimana kalau tadi saya beneran nabrak kamu? kamunya langsung mati, lah saya yang harus diselidiki kepolisian dan semuanya bakalan tambah ribet." kata Pak Tyo.


"Anda laki laki, jadi tidak akan mengerti apa yang saya alami." ucap wanita itu.


"Dari mana kamu tahu kalau saya tidak mengerti?" sinis Pak Tyo Membuat wanita itu membuang mukanya kearah lain dan tampaknya tengah mengatur nafasnya.


"Saya dan suami saya menikah tanpa restu dari orang tua saya."


"Suami saya adalah anak satu satunya."


"Awalnya pernikahan kami sangat bahagia, mertua saya juga sangat baik."


"Namun perlahan lahan sikap mereka berubah terhadap saya."


"Terutama mertua saya, dia bahkan memperlakukan saya seperti pembantunya."


"Jika saya bermasalah dengan suami saya, mertua saya berkata kata seolah olah mengompori kami.


"Awalnya suami saya sangat perduli pada saya, namun lambat laun ternyata sifatnya sama seperti Mamanya. Memperlakukan saya hanya sebagai budak ****."


"Jika saya tanpa sengaja merusak barang dirumah, Mertua saya akan memarahi saya tanpa ampun bahkan didepan Ayah mertua saya dan suami saya sekalipun.

__ADS_1


"Yang lebih menyakitkannya lagi adalah sikap suami saya, dia bahkan sama sekali tidak bersuara sekedar untuk membela saya."


"Pernah saya meminta agar saya dan suami saya membeli rumah baru supaya tidak hidup nunpang dirumah mertua, namun mertua saya menuduh saya. Dia bilang saya ingin menguasai anaknya, menguasai tanpa memperdulikan keadaan keduanya.


"Lagi lagi dan lagi suami saya hanya bisa diam, dan itu sudah berulang kali terjadi. Rasanya aku sudah tidak kuat seperti ini, menyakitkan sekali melihat laki laki yang dulu saya bela mati matian didepan keluarga saya kini dia hanya diam tanpa suara melihat istrinya dimaki maki orang tuanya.


"Kenapa saya tidak sebahagia orang lain? kenapa pernikahanku hidupmu hancur seperti ini?" Cerita wanita itu panjang lebar sembari sesekali diiringi dengan isakan tangisnya.


"Perempuan bisa saja membela laki lakinya didepan orang tuanya, tapi laki laki belum tentu bisa membela perempuannya didepan orang tuanya." kata Pak Tyo mulai membuka suara dengan pandangan yang menatap lurus kedepan.


"Perempuan bisa saja melawan restu untuk laki lakinya, tapi laki laki belum tentu bisa melawan restu untuk wanitanya."


"Jika kamu sudah tidak mampu lagi, kembalilah." kata Pak Tyo membuat wanita itu langsung menoleh kearahnya dengan tatapan bingung.


"Kembalilah kekeluargamu." ucap Pak Tyo yang bisa menebak kebingungan wanita itu.


"Ayahmu telah menjagamu dari kecil, kamu adalah putrinya."


"Semarah apapun ayah kamu, hatinya tetap akan luluh pada putri kecilnya." kata Pak Tyo yang langsung menoleh kearah wanita itu.


"Darimana saya tahu?" tanya Pak Tyo seolah olah membaca pikiran wanita itu.


"Saya memiliki seorang putri yang sangat saya sayangi, jadi saya tahu persis apa yang dirasakan ayah kamu." ucap Pak Tyo.


"Saya membesarkan anak saya seorang diri, jadi saya akan melindungi anak saya sampai kapanpun. Saya tidak akan membiarkan putri kecil saya menderita." ucapnya.


"I..istri anda?" tanya wanita itu dengan ragu ragu membuat Pak Tyo tersenyum karena telah berhasil membuat wanita itu merespon ucapannya.


"Saya bercerai, Istri saya selingkuh." jawabnya.


Pak Tyo menepuk pundak wanita itu dan berkata.


"Seseorang yang bahagia bukalah orang yang memiliki banyak hal, melainkan karena ia tidak pernah membandingkan miliknya dengan milik orang lain, pada dasarnya kita itu sama. Kita memiliki masalah dengan porsinya masing masing, tidak ada manusia yang terlahir sempurna didunia ini."


"Jadi pertahankan hidupmu, jangan biarkan kamu mati konyol karena jalan hidupmu masih panjang." ucap Pak Tyo yang kemudian langsung beranjak berdiri dan kembali memasuki mobilnya.


~Jika tidak ada jalan keluarnya, mari kita gambar petanya lagi, jadi jangan khawatir karena kita kuat~

__ADS_1


^Kim Namjoon^


Note: Jangan lupa kasih dukungannya yah, biar otornya nggak tremor😅


__ADS_2