Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 94


__ADS_3

"Iya iya, hati hati dong." balas Pak Tyo sembari mengingatkan anaknya untuk terus memperhatikan langkahnya.


Kini keduanya sudah sama sama berdiri didepan pintu kos kosan Hanum, Retha menoleh kepada Papanya yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Pak Tyo.


Tok...tok....tok...Pak Tyo mengetuk pintu kamar Hanum.


Tok....tok....tok untuk kedua kalinya, namun masih belum ada sahutan yang terdengar dari dalam.


"Sebentar." jawab Hanum dengan suara lemahnya, entah Pak Tyo dan Retha mendengarkannya atau tidak. Hanum perlahan lahan turun dari kasurnya.


"Apa jangan jangan tante Hanum pergi kerumah sakit yah Pa?" tanya Retha pada sang Papa.


"Nggak tau juga Papa." balas Pak Tyo.


Ceklek....Hanum membuka pintu yang spontan saja membuat Retha dan Pak Tyo langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Tente Hanum." terkejut Retha yang kemudian timbul senyum yang mengambang dari bibirnya, tanpa menunggu lama lagi Retha pun langsung menghamburkan diri memeluk Hanum.


"Tante, tante sakit apa?" tanya Retha yang masih memeluk tubuh Hanum erat erat.


"Tante nggak papa kok, Retha sama Papa kenapa ada disini?" tanya Hanum menatap Pak Tyo, Pak Tyo yang tadinya terkesima dengan kedekatan anaknya dengan orang lain pun langsung gelagapan ketika ditatap oleh Hanum.


"Ehm jadi gini, tadi aku sama Retha mampir ketoko."


"Terus Retha nyari nyari kamu nggak ketemu, ada Mbak Mbak yang bilang kalau kamu sakit.


"Jadi kita minta alamat kamu, Retha pengen nengokin kamu." jelas Pak Tyo panjang lebar.


"Iya, tante sakitnya nggak parah kan?" tanya Retha mendongak menatap wanita yang telah membuatnya nyaman tersebut.


"Nggak papa kok, tante sakitnya nggak parah kok." jawab Hanum dengan senyum dibibirnya.


"Oh iya tante, kita juga bawain buah buahan loh buat tante. Biar tantenya cepet sembuh." ucap Retha sembari melirik kearah Papanya.


"Oh iya sampe lupa, ini buah buahannya saya taro didalam yah." ucap Pak Tyo.


"Harusnya nggak usah repot repot kayak gini pak." ucap Hanum yang merasa tak enak hati.


"Nggak repot kok." jawab Pak Tyo dengan senyumannya kemudian berlalu masuk kedalam kos kosan Hanum yang disusul oleh Hanum yang dibantu Retha.


"Tante hati hati." ucap Retha ketika Hanum kembali hendak berbaring dikasurnya, dengan siaga Pak Tyo pun langsung membantu Hanum berbaring. Ada sekelebat rasa sungkan yang dirasakan Hanum, namun ditepisnya karena tak ada niat lain Pak Tyo selain membantunya.


"Gimana panas kamu?" tanya Pak Tyo yang kemudian langsung menyentuh dahi Hanum untuk mengukur suhu tubuhnya.

__ADS_1


"Panas banget, kamu sudah minum obat?" tanya Pak Tyo sembari mengibas ibaskan tangannya.


"Belum." jawab Hanum lirih.


"Retha." panggil Pak Tyo menoleh kearah putrinya.


"Iya pa?" balas Retha yang langsung menoleh kearah Papanya.


"Retha tunggu disini dulu yah jagain Tante Hanum, Papa mau ke apotik dulu." kata Pak Tyo.


"Oke." jawab Retha singkat menyetujui.


"Eh nggak usah Pak. Saya nggak papa kok, malah ngerepotin Bapak jadinya." tolak Hanum memotong pembicaraan Papa dan anak tersebut.


"Kalau nggak segera diobati, panas kamu nggak bakal turun turun dong." balas Pak Tyo.


"Sebentar, saya beli parachetamol dulu biar panas kamu segera turun." kata Pak Tyo yang masih kekeh.


"Apa mau kedokter aja?" tawar Pak Tyo yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Hanum, melihat itu Pak Tyo mengulum senyuman melihat ekspresi wajah Hanum yang menurutnya lucu tersebut.


"Yaudah Papa pergi dulu ya, Retha jagain tante Hanumnya." ucap Pak Tyo sembari membelai wajah Retha.


"Iya pa, Papa hati hati ya." balas Retha yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Tyo.


"Apa yang terjadi dengan kamu?" tanya Bu Dian dengan tatapan penuh prihatin pada menantunya tersebut.


"Huwwwaaa, Mama hiks...hiks...hikss." bukannya menjawab Vanessa malah menghamburkan diri memeluk Ibu mertuanya tersebut dan langsung menumpahkan tangisnya.


"Kok malah nangis?" tanya Bu Dian yang bingung namun membelai punggung Vanessa.


"Cerita sama Mama." kata Bu Dian.


"Mas Adnan ma, huaaa." jawab Vanessa.


"Adnan?" tanya Bu Dian dengan kening berkerut.


"Kenapa sama Adnan van?" tanya Bu Dian yang diliputi rasa penasaran mengapa Vanessa malah menyebut nama Anaknya.


"Mas Adnan jahat ma." kata Vanessa membuat Bu Dian langsung melepaskan pelukannya dan menjauhkan tubuh Vanessa darinya agar ia bisa melihat wajah menantunya tersebut.


"Adnan? kenapa sama Adnan?" tanya Bu Dian dengan wajah seriusnya.


"Mas Adnan sekarang udah berubah ma." jawab Vanessa masih berderai dengan air mata.

__ADS_1


"Berubah? berubah kayak gimana?" tanya Bu Dian dengan herannya.


"Dia sekarang marah marahin aku ma." jawab Vanessa.


"Mas Adnan juga bilang kalau dia bakalan tetap cerai in aku kalau aku sudah lahiran ma." cerita Vanessa yang langsung membuat Bu Dian terkejut mendengarnya.


"M..Mas Adnan juga nggak mau ngakuin anak yang ada dikandungan aku ini ma." imbuhnya lagi.


"Mungkin maksud Adnan bukan gitu van, apa kalian berantem?" tanya Bu Dian lagi.


"Ini semua gara gara wanita itu ma." kata Vanessa dengan tatapan mata yang betubah menjadi tajam penuh kebencian.


"Wanita itu?" tanya Bu Dian dengan kening berkerut.


"Wanita itu siapa van?" tanya Bu Dian lagi.


"Hanum ma, Hanum. Wanita sialan itu." tekan Vanessa.


"Aku bakalan bikin wanita itu juga ngerasain apa yang aku rasain ma." kata Vanessa dengan penuh keyakinan.


"Gara gara dia Mas Adnan jadi berubah Ma." teriak Vanessa yang membuat Bu Dian langsung memeluk wanita hamil itu.


"Kamu jangan gini Van, kamu lagi hamil. Pikirin kondisi anak yang ada didalam kandungan kamu van." ucap Bu Dian mencoba menenangkan Vanessa.


"Nggak ma." tolak Vanessa yang langsung melepaskan pelukannya.


"Aku nggak bisa diem aja ma."


"Aku nggak bakalan biarin ini semua terjadi, aku nggak bakalan biarin wanita itu menghancurkan rumah tangga aku ma." tolak Vanesaa dengan penuh keyakinan.


"Ma, Mama harus tolongin aku ma." kata Vanessa yang langsung menggenggam tangan Ibu Mertuanya tersebut.


"Mama harus bantu aku." kata Vanessa lagi membuat Bu Dian tampak terkejut dan bingung.


........


"****." umpat Anton yang melihat banyak berkas yang masih bertumpuk dimejanya. Hari ini sudah bisa dipastikan kalau dirinya akan pulang terlambat karena harus menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk ini.


Ia melirik pada ponselnya yang tergeletak disampingnya, ada rasa ingin menghubungi Hanum. Namun diurungkannya niat tersebut karena tak ingin mengganggu pekerjaan Hanum, biar saja ia yang menemuinya nanti usai pulang bekerja.


.........


Tyo yang baru saja keluar dari apotik usai membeli obat untuk Hanum tersebut pun tampak berjalan tergesa gesa menuju mobilnya. Namun langkah kakinya langsung terhenti ketika tak sengaja melihat mantan istrinya yang tampak bersama dengan laki laki lain diseberang sana.

__ADS_1


~Buatlah hidup ini semudah mungkin, tak perlu kau pusingkan dengan masalahmu, biarkan saja mengalir dan berbahagialah.~


__ADS_2