Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 7


__ADS_3

Hari hari telah berganti, tak terasa kini sudah satu bulan semenjak pernikahan sah suaminya dengan Vanessa waktu itu. Tak ada kejadian aneh yang dirasakan Hanum selama ini mengenai perilaku suaminya, semuanya nampak biasa biasa saja seperti dahulu bahkan sebelum kedatangan Vanessa sebagai istri suaminya


"Mas, gimana kalau minggu depan kita ke bali" kata Hanum yang tengah menonton drama korea kesukaannya bersama sang suami, entah Adnan sukaatau tidak dengan drama korea tapi Adnan selalu meluangkan waktunya untuk sekedar menonton bersama Hanum


"Minggu depan?" tanya Adnan memastikan pendengarannya seraya menoleh kearah Hanum


"Iya, gimana? sekalian kayak kita honeymoon mas. Siapa tau aja sepulang dari sana kita bisa dapet momongan" jawab Hanum dengan penuh semangat, ia benar benar berharap supaya bisa cepat hamil nantinya


"Amiin" balas Adnan dengan ucapan doa yang tulus dari dalam hatinya, jujur ia sendiri juga sangat mengharapkan akan ada buah hati mereka yang tumbuh dirahim Hanum


"Makasih ya mas" ucap Hanum seraya memeluk tubuh besar suaminya


"Sama sama sayang" balas Adnan seraya membalas pelukan suaminya


Tutttt......tuuuuttttt.....tuuuuttttt terdengar suara getaran dari ponsel Hanum. Hanum pun langsung meraih ponselnya yang terletak diatas nakas


"Ibuk" gumam Hanum, tak lama kemudian terbitlah lengkungan dari bibirnya


"Halo, Assalamualaikum buk" salam Hamun setelah menggeser tombol hijaunya


"Walaikumsalam Num" balas Bu Lastri


"Itu ibuk?" tanya Adnan setelah mendengarkan ada kata kata ibu yang terucap dari bibir Hanum


"Iya, Nih Ibuk" jawab Hanum sembari mengarahkan layar depannya kearahnya dan Adnan


"Assalamualaikum buk" salam Adnan sembari mendekatkan dirinya kepada Hanum


"Waalaikumsalam nan" jawab Bu Lastri tersenyum melihat Adnan dan Hanum yang terlihat harmonis


"Ibu apa kabar?" tanya Adnan memulai menanyakan keadaan mertuanya tersebut


"Alahmdulillah nan, Ibu sama Bapak sehat wal afiat" jawab Bu Lastri


"Bapak mana buk?" tanya Hanum pada ibunya


"Bapak lagi hajatan dirumah tetangga" jawab Bu Lastri


Mereka pun membicarakan banyak hal lewat sambungan teleponnya, sampai Pak Imam pulang dengan membawa berkat dari acara hajatan yang didatanginya tadi. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 Malam, Hanum dan Adnan pun mengakhiri sambungan teleponnya agar Bu Lastri dan Pak Imam dapat segera beristirahat


"Mas" panggil Hanum yang tengah bersandaran disandaran tempat tidur, membuat Adnan yang hendak tertidur kini mendongak ke atas menatap Hanum

__ADS_1


"Aku boleh nanya sesuatu nggak?" cicit Hanum, Adnan pun langsung memperbaiki posisinya hingga saat ini ia dalam keadaan bersandar disamping Hanum


"Apa?" tanya Adnan menoleh pada istrinya


"Emmm....Mas tau nggak siapa ayah dari anak yang dikandung Vanessa?" ucap Hanum memeprtanyakan pertanyaan yang tiba tiba muncul begitu saja diotaknya


"Kenapa?" tanya Adnan sontak langsung menoleh kearah Hanum


"Ya...mau tanya aja, pastikan Vanessa cerita sama kamu"


"Emang nggak ya?" tanya Hanum cepat


"Emmm yang Mas tau sih dia itu pacar Vanessa" jawab Adnan seadanya


"Orangnya? Mas tau nggak?" tanya Hanum lagi, sedikit jawaban saja sudah membuat jiwa keponya berkobar


"Nggak tau sih Mas kalau itu" jawab Adnan seraya menggelengkan kepalanya pelan


"Kok nggak tau sih?" selidik Hanum dengan mata mengernyit dan juga dengan rasa kesal pada suaminya yang bisa bisanya tidak tau siapa ayak dari anak yang tengah dikandung istrinya tersebut


"La emang nggak tau" jawab Adnan yang heran, bukannya tadi Hanum yang bertanya? disaat ia sudah menjawab dengan benar Hanum malah terlihat tidak percaya dengan apa yang dikatakannya


"Kan dia nggak pernah nunjukin fotonya ke Mas, ya....Mas nggak pernah nanya juga"


"Lagian yang Mas tau orang itu nggak bertanggungjawab sampai sampai Vanessa mau bunuh diri" jawab Adnan sesuai dengan apa yang tengah dirasakannya


"Ya salah dua duanya dong Mas" Hanum langsung membantah ucapan suaminya yang berlainan dengan pendapatnya. Adnan hanya mengernyit heran, menatap Hanum dalam kebingungan


"Lah, kalau dua duanya belum siap juga belum mau bertanggungjawab nggapain bikin coba?" kata Hanum menyampaikan pendapatnya


Adnan hanya geleng geleng kepala mendengar pendapat dari istrinya, ya....namanya juga jalan maksiat godaan setan, pastinya mereka nggak mikir buat kedepannya dong waktu itu


"Lagian ya mas, pasti mereka udah lakuin ibu berkali kali"


"Sampe mereka punya anak"


"Nggak mungkin kan kalau sekali langsung jadi?" kata Hanum yang melampirkan sebuah pertanyaan


"Katanya kan nggak ada yang nggak mungkin" ucap Adnan tersenyum simpul sembari tangannya menyingkirkan anak rambut lalu menyelipkannya dibelakang telinga Hanum


"Tapi kita kan udah 3 tahun menikah Mas, kenapa aku belum hamil hamil juga ya?" lirih Hanum

__ADS_1


Terkadang memang benar jika kita terlalu sering membicarakan orang lain itu karena kita merasa tak mampu seperti mereka


"Kamu yang sabar ya sayang"


"Ini ujian buat rumah tangga kita" jawab Adnan menenangkan Hanum, Adnan langsung meraih kedua tangan Hanum lalu digenggamnya. Memberikan kekuatan pada wanitanya, berharap wanitanya tidak menghawatirkan hal hal yang dapat membuat mentalnya down


"Tapi kita udah sering periksa kedokter Mas, dan semuanya baik baik aja. Nggak ada yang salah dengan kesuburan kita" ucap Hanum memperlihatkan kesedihannya


"Mungkin tuhan belum mempercayakannya pada kita, jadi kita musti banyak bersabar dan berdoa" ucap Adnan langsung membawa tubuh Hanum kedalam pelukannya. Hanum pun langsung menyembunyikan wajahnya didada bidang milik Adnan, menumpahkan segala kesedihannya dan dengan sabar dan penuh perhatian Adnan pun terus berusaha menenangkan Hanum


Hari hari telah berlalu, hari ini Hanum tengah menyiapkan pakaiannya dan pakaian Adnan yang akan dibawanya berlibur besok. Hanum baru akan memesan tiket penerbangan malam hari, sekalian mendiskusikan pada suaminya lokasi mana saja yang akan menjadi tujuan wisatanya nanti


Hari telah menjelang sore, hingga akhirnya terdengar suara deru mobil memasuki halaman rumahnya. Hanum pun lekas menyambut kepulangan suaminya. Eit....ia hendak menjahili suaminya untuk kali ini


Hanum pun berdiri dibalik pintu, jika biasanya ia akan menyambut kedatangan suaminya saat tengah menyiram bunga didepan rumahnya namun kali ini ia tidak menyiram bunga karena tengah berkemas kemas


"Dimana Hanum?" heran Adnan karena tidak melihat Hanum yang biasanya akan menyiram bunga saat ia pulang. Tanpa menghiraukannya lagi, Adnan pun melanjutkan langkah kakinya memasuki rumah


"Assalamualaikum, Hanum.....Hanum....." panggil Adnan seraya mebuka pintu


"Dorrrrrrr" Hanum pun langsung menubruk Adnan dari belakang dengan posisi langsung minta digendong. Dan Adnan pun dengan refleknya langsung pada posisi tengah menggendong belakang


"Astagfirullah" istigfar Adnan dengan tangan yang satunya mengelus elus dadanya


"Hahahahhaaaa" tawa Hanum pecah melihat keterkejutan suaminya


"Hanummmm kamu ini ngagetin Mas banget sih" kesal Adnan namun tetap masih dalam posisi menggendong Hanum


"Hehehe maaf Mas" ucap Hanum dengan cengingisan


"Awas kamu, musti mas kasi hukuman" kata Adnan yang kemudian langsung membawa Hanum kedalam kamar


Entah berapa lama Adnan menyerang tubuh Hanum, benar benar sebuah hukuman yang dirasakan Hanum karena saat ini sekujur tubuhnya pun rasanya remuk diserang habis habisan oleh suaminya, matanya kini sudah terasa amat berat


Tutttt......tuuuutttt.....tuuuuttttt tiba tiba terdengar suara deringan. Adnan pun langsung meraih ponselnya, lalu menoleh kearah Hanum yang sudah memejamkan matanya lalu mengangkat telepon dengan posisi membelakangi Hanum


"Apa? kenapa musti besok? aku nggak bisa kalau besok" ucap Adnan pada seseorang disana


"Baiklah...besok aku akan kesana" ucap Adnan yang kemudian langsung mematikan sambungan teleponnya


Tanpa Adnan sadari jika Hanum pun ikut mendengarkan apa yang diucapkannya, walaupun ia dalam keadaan mengantuk berat

__ADS_1


__ADS_2