
Sembari menunggu Hanum yang masih diruang ganti, Anton yang gelisah pun langsung menghubungi salah satu kontak yamg berada diponselnya.
"Aku sudah katakan kalau kamu jangan pernah sekali kali menghubungi aku kecuali aku yang menghubungi kamu." tekan Anton saat seseorang dari seberang sana baru saja mengangkat panggilan teleponnya.
"....."
"Aku tidak mau tau." ucap Anton.
"....."
"Terserah, lakukan apa pun yang kamu mau. Asalkan jangan pernah kamu mengganggu hidupku sekecil apapun." tekannya lagi yang kemudian langsung mengakhiri sambungan teleponnya.
"Mas." panggil Hanum yang membuat tubuh Anton membeku ditempatnya.
"Sial, sejak kapan Hanum ada disana?" batin Anton, tentu saja Anton takut jika Hanum ternyata mendengar semua pembicaraannya, dengan memberanikan diri Anton pun perlahan lahan mulai berbalik badan.
"Gimana menurut mas?" tanya Hanum sembari memperlihatkan gaun yang tengah dipakainya saat ini sembari berputar putar membuat gaun yang dipakainya tampak mengembang.
"Emmm, aku rasa gaunnya kurang cocok karena bagian dadanya terlalu terekpos. Seharusnya aku tidak memilihkan yang ini tadi." jawab Anton setelah menimang nimang ternyata gaun yang dipilihnya tadi tidak terlalu cocok untuk dikenakan oleh Hanum.
"Beneran?" tanya Hanum yang terkejut dan hampir tak percaya hingge melihat ujung kakinya.
"Ya udah kalau gitu aku coba yang pilihan aku dulu." ucap Hanum yang dijawab i dengan anggukan kepala oleh Anton. Hanum pun kembali kedalam ruang ganti, sementara Anton pun menunggu Hanum sembari duduk disofa.
Tak berselang lama Hanum pun kembali keluar dengan mengenakan gaun yang dipilihnya tadi, wah....gaun yang merubah Hanum menjadi terlihat berkali kali lipat lebih cantik dibanding sebelumnya membuat Anton sampai terkesima dibuatnya.
"Gimana mas?" tanya Hanum, namun Anton tak menjawabnya karena masih melongo melihat tampilannya.
"Mas." panggil Hanum lagi.
"Mas, Mas Anton."
"Mas Anton." panggil Hanum lagi dengan cukup keras.
"Ehhh anu. Ehhh ya? Hm?" tanya Anton yang baru sadar karena terpaksa ditarik dari lamunannya.
"Malah ngelamun." sebal Hanum.
"Gimana aku pakai gaun ini? bagus nggak?" tanya Hanum lagi mengulang pertanyaannya.
__ADS_1
"Eh, bagus bagus kok bagus." jawab Anton diiringi dengan anggukan kepala darinya.
Kemudian karyawan Bu Lia pun mengukur badan Hanum dan Anton untuk menyesuaikan ukuran bajunya.
"Oh iya kita tinggal cari kebayanya ya mas?" tanya Hanum usai diukur.
"Oh iya, hampir aja lupa mas." jawab Anton sembari menepuk jidatnya.
Akhirnya pencarian kedua untuk mencari model kebaya yang sesuai untuk Hanum, bahkan pencarian model kebaya ini yang membutuhkan lebih banyak waktu ketimbang mencari gaun tadi. Hingga pada akhirnya pilihan Hanum jatuh pada kebaya dengan warna putih dengan design yang terlihat sangat simple namun tetap terlihat elegan.
Kuar dari butik Hanum dan Anton pun melanjutkan perjalanan menuju tempat yang dipercayai Anton untuk mencetak undangannya nanti. Hanum dan Anton pun tampak sibuk memilih milih model undangan yang akan dipakainya nanti.
"Yang ini gimana?" tanya Hanum pada Anton.
"Itu terlalu rame." jawab Anton yang kemudian kembali fokus mencari model undangan yang menurutnya cocok.
"Gimana kalau yang ini?" tanya Anton memegang satu undangan berwarna cream yang terlihat sangat mewah padahal designya sangat sederhana.
"Iya mas, bagus aku suka." jawab Hanum dengan penuh antusias.
Setelah dari toko undangan Hanum dan Anton pun melanjutkan perjalanan mereka dengan berbelanja beberapa kebutuhan wanita seperti baju, make up dan beraneka jenis camilan.
.........
"Nan, ini berarti Hanum sudah bisa melupakan kamu. Kamu juga harus bisa melupakan Hanum dan memulai lembaran baru dengan Vanessa dan anak kamu." tutur Bu Dian.
"Bukan anak aku." jawab Adnan singkat.
"Mama tahu kalau itu bukan anak kamu, tapi sekarang kan Vanessa itu istri kamu jadi otomatis anak yang dikandung Vanssa itu anak kamu juga dong." jelasnya.
"Nanti kamu kan bisa punya anak lagi sama Vanessa nan, Vanessa itu wanita normal yang bisa memberikan keturunan buat kamu nggak seperti," ucapan Bu Dian langsung terhenti ketika Adnan menatapnya dengan tatapan tajam seolah olah dirinya adalah mangsa yang siap untuk diterkam.
"Nan ini berkasnya." ucap Pak Basuki yang baru datang dan menyodorkan sebuah mab berwarna biru pada Adnan.
"Makasih pa." jawab Adnan sembari menerima mab yang disodorkan Papanya tersebut.
"Kalau begitu aku pamit dulu pa." pamit Adnan pada sang Papa yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Pak Basuki.
"Loh, emangnya kamu nggak sekalian nginep disini nan? kan udah lama kamu nggak pulang kesini?" tanya Bu Dian yang langsung berdiri dari posisi duduknya sementara Adnan terus melangkah tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan Mamanya.
__ADS_1
"Loh nan, kok kamu langsung pergi gitu aja sih?." teriak Bu Dian sembari menatap punggung anaknya yang kian menjauh.
"Kok Adnan semakin acuh sama Mama sih pa, emangnya Mama salah apa yah?" tanya Bu Dian pada suaminya tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari punggung Adnan yang kian menjauh.
"Hehhh....Mama aja yang gak sadar." jawab Pak Basuki yang langsung pergi meninggalkan Bu Dian.
"Emangnya Mama salah apa? loh...loh pa kok malah ikutan pergi sih kan Mama masih ngomonggg." teriak Bu Dian yang sebal dengan kelakuan Papa dan anak yang sama saja.
............
"Gimana? seneng nggak hari ini?" tanya Anton pada Hanum saat keduanya berjalan menuju kearah tempat Anton memarkirkan mobilnya.
"Seneng banget dong." jawab Hanum.
"Makasih calon suami." ucap Hanum kemudian dengan senyum lebar yang menampakkan deretan gigi putihnya.
"Sama sama calon makmum." balas Anton yang tengah menenteng beberapa papper bag ditangan kanan dan kirinya.
Keduanya pun langsung masuk kedalam mobil Anton.
"Oh iya, kamu ada keinginan mau kemana gitu? sebelum kita pulang." tanya Anton sembari memakai sabuk pengaman.
"Emmmm." Hanum tampak berfikir panjang.
Tiba tiba saja teringat jika dirinya saat ini sangat ingin memakan telur gulung. Dulu saat masih bersama dengan Adnan, mantan suaminya tersebut kerap kali membelikan telur gulung sebagai oleh oleh untuknya saat suaminya pulang kerja.
Kenangan selalu membekas pada sesuatu yang dulu kerap kali menjadi bagian dari kebiasaan yang seringkali kita lakukan dengannya.
"Aku pengen makan telur gulung deh Mas." jawab Hanum kemudian.
"Kamu masih aja suka sama makanan itu." ucap Anton geleng geleng kepala tak habis pikir.
"Enak tau." balas Hanum.
"Emangnya kamu nggak bosen apa? dari jaman sekolah sampe sekarang masih aja suka sama jajanan itu?" tanya Anton sembari menyalakan mesin mobilnya.
"Karena suka." balas Hanum.
"Berarti Mas Anton orangnya gampang bosen dong?" tanya Hanum yang membuat Anton langsung panik.
__ADS_1
~Janganlah permah menyerah ketika kamu masih bisa berusaha lagi. Tidak ada kata berakhir sampai kamu berhenti mencoba~
^Brian Dyson^