Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 81


__ADS_3

Keesokan harinya semuanya beraktivitas seperti biasa, begitu pula dengan Hanum yang bekerja seperti biasanya. Hanum yang memang sering menyumbang bakat dalam membuat kue, ikut bantu bantu koki sebenarnya hari ini membuat kue Red Velved untuk Retha sesuai janjinya. Sebenarnya Hanum juga tidak tahu pasti pukul berapa Retha akan datang, tapi ia membuat kue sesegera mungkin supaya lebih tenang nantinya.


"Wah...keknya enak banget tuh, buat siapa? Boss yah?" tanya Mbak Mela.


"Hehe nggak mbak, ini buat anak kecil." jawab Hanum tersenyum.


"Oh gitu." balas Mbak mela mangut mangut.


Mendengar ucapan mbak Mela barusan juga membuatnya berubah pikiran, kenapa ia tidak membuatkan untuk mas Anton sekalian juga?


Akhirnya Hanum pun membuat kue lagi untuk Anton dan disimpannya dikulkas dan ia pun kembali melanjutkan aktivitasnya seperti bersih bersih dan sebagainya.


"Hanum, ada yang nyariin kamu tuh." teriak Mbak Susi yang tampak sibuk membawa beberapa bahan bahan membuat kue.


"Iya mbak." jawab Hanum yang sumringah karena yang tadi ditunggu tunggunya kini akhirnya datang juga, ia juga sudah menyiapkan teh tarik sebagai teman memakan kue nanti.


Namun senyum diwajah Hanum langsung memudar seketika ketika melihat bukan Retha anak yang ditunggu tunggunya, melainkan mantan suaminya yang tampak berdiri mengamati toko ini dengan kedua tangannya yang dimasukkan kedalam saku celana. Tiba tiba saja ia berfikir jika istri dari mantan suaminya ini pasti sudah mengadu kepada mantan suaminya tentang apa yang telah dilakukannya kemarin, namun apapun juga ia tidak boleh takut. Ia berhak melakukan hal itu kemarin untuk menjaga harga dirinya agar tidak diinjak injak apalagi oleh seorang pelakor.


Ehemm.....Hanum berdehem yang sontak membuat Adnan yang tadinya tampak serius memperhatikan setiap sudut toko ini langsung menoleh begitu mendengar suara deheman.


"Maaf, ada perlu apa anda mencari saya?" tanya Hanum langsung pada intinya.


"Apa saya tidak dipersilahkan duduk dulu?" balik tanya Adnan.


"Kenapa tidak duduk sendiri?" batin Hanum.


"Silahkan." akhirnya Hanum mempersilahkan mantan suaminya untuk duduk, kebetulan ada beberapa meja yang kosong. Adnan pun mendudukkan bokongnya namun tatapannya sama sekali tak beralih dari sang mantan istri.


"Maaf mau pesan apa?" tanya Hanum dengan ramah.


"Duduk." jawab Adnan tanpa mengalihkan pandangannya.


"Maaf, saya harus bekerja." tolak Hanum.


"Apa saya harus melaporkan kamu kepada pemilik backery dulu supaya kamu menuruti pelanggan kamu?" kata Adnan sembari melepas kacamatanya.

__ADS_1


Mau tidak mau Hanum pun harus mengikutinya, walaupun Anton lah pemilik toko ini dan sangat membela dan membantunya apa lagi jika sekedar ia menolak duduk dengan Adnan yang pasti akan didukungnya. Tapi Hanum tidak boleh mencampurkan antara pekerjaan dengan urusa pribadinya seperti ini, sesering dan sebisa apapun ia mengandalkan Anton tapi ia harus lebih mengandalkan dirinya sendiri apalagi untuk hal sepele seperti ini.


"Maaf, ada perlu apa?" tanya Hanum yang sudah duduk didepan Adnan.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Adnan berbasa basi.


"Ada perlu apa?" Hanum mengulangi pertanyaannya kembali membuat Adnan menghela nafas, ia sadar jika Hanum tak ingin lama lama bertatap muka dengannya.


"Apa hubunganmu dengan Anton." ucap Adnan kemudian yang sontak saja langsung membuat Hanum terkejut, dari mana dia tahu jika ia tengah dekat dengan Anton?


"Maaf, saya rasa itu bukan urusan anda." jawab Hanum dengan tenang.


"Jangan dekati dia lagi." ucap Adnan lagi membuat Hanum sedikit geram karena mantan suaminya ini berupaya ikut campur dalam urusannya.


"Maaf, saya rasa itu bukan urusan anda karena saya masih bisa mengurus diri saya sendiri. Sebaiknya anda urusi saja rumah tangga anda." jawab Hanum.


"Aku tidak ingin kamu terluka lagi." ucap Adnan.


"Terima kasih atas rasa peduli anda untuk saya." jawab Hanum.


"Jadi pikirkan kata kata saya." ucap Adnan yang kemudian langsung berdiri dan pergi. Hanum hanya menatap kepergian Adnan, bukan perasaan bahagia atau kesal yang didapatinya melainkan hambar. Kata kata Adnan bagaikan angin lalu yang tak berarti apa apa, entah karena ia sudah tak perduli lagi dengan apa yang dikatakannya atau karena hatinya sudah mati untuk laki laki itu.


"Tanteee." teriak Retha yang datang dengan baju yang terlihat seperti gaun pesta anak anak, apalagi ditambah dengan hiasan kepala yang dipakainya.


"Akhirnya dateng juga." balas Hanum sembari mengelus elus gemas poni Retha.


"Pak." sapa Hanum dengan senyum yang dibalas senyuman pula oleh Pak Tyo.


"Mana kuenya tante? aku mau sekarang." pinta Retha.


"Iya iya sabar, tante ambilin dulu." jawab Hanum.


"Mau makam disini apa dibungkus?" tanya Hanum.


"Disini dong tante." jawab Retha dengan sebal hingga tampak gemas membuat Hanum mengulum senyumannya.

__ADS_1


"Retha.." nada panggilan Pak Tyo seakan akan menegur Retha.


"Hehe nggak papa kok pak, oh iya sekarang Retha duduk dulu biar tante ambilin kuenya." ucap Hanum yang kemudian berlalu pergi.


Hanum kembali dengan kue yang sudah ada ditangannya.


Tadaaa....


"Wauuu kayaknya enak tan, ini bikinan tante sendiri?" tanya Retha tampak antusias penasaran.


"Iya dong, coba deh pasti enak." jawab Hanum.


"Kok nggak ada lilinya tan?" tanya Retha yang membuat Hanum bingung.


"Maaf, sebenarnya hari ini hari ulang tahun Retha." Pak Tyo angkat bicara.


"Sebenarnya hari ini kami ada acara keluarga tapi Retha pengen cepet cepet kesini katanya ada yang janjiin bikinin dia kue." lanjut Pak Tyo yang kini tahu akan maksud dari ucapan Retha tadi.


"Oh ya ampun, maaf ya tante nggak tahu kalau hari ini hari ulang tahun kamu sayang." ucap Hanum dengan wajah penuh sesal.


"Kalau begitu tunggu dulu disini, tante ambil lilinya dulu." kata Hanum yang kemudian kembali kebelakang.


"Sayang, jangan ngerepotin tante Hanum kayak gitu dong." kata Pak Tyo.


"Nggak papa pa, tante Hanum juga kelihatannya seneng kok direpotin sama Retha." balas Retha dengan cerdiknya membuat Pak Tyo langsung bungkam karena menurut penglihatannya memang benar apa yang dikatakan putrinya tersebut.


"Ini diaaa" Hanum kembali lagi dengan membawa beberapa lilin kecil dan langsung ditancapkan dikuenya.


"Sekarang kita nyalain dulu lilinnya." kata Hanum yang kemudian mulai menyalakan lilinya.


"Dan make a wish dulu ya sebelum ditiup." ucap Hanum kembali. Tampak Retha yang memejamkan mata dengan tangan yang menengadah hingga kemudian membuka matanya dan mengaminkan doanya.


Pak Tyo dan Hanum dengan kompak menyanyikan lagu selamat ulang tahun hingga ketika tiup lilin Retha pun meniup lilinnya dengan semangat hingga lilinnya pun mati.


Horeee.....tepuk mereka bertiga bersama sama diiringi dengan tawa yang menghiasi acara ulang tahun dadakan ini.

__ADS_1


~Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah rendahnya hingga tidak ada yang bisa merendahkanmu~


__ADS_2