Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 44


__ADS_3

Keesokan harinya Hanum dan Adnan tengah bersiap siap untuk kembali ke Jakarta seperti yang direncanakan semalam, saat ini Adnan tengah mandi sedangkan Hanum harus mengemas beberapa barang yang akan ia bawa kembali ke Jakarta.


Ceklek....terdengar suara pintu kamar mandi yang dibuka dan menampilkan sosok Adnan yang hanya mengenakan handuk yang melilit dipinggangnya.


Adnan keluar dari kamar mandi dan pandangannya langsung tertuju pada pakaian ganti yang selalu disiapkan oleh Hanum diatas tempat tidur, tanpa berbicara apa apa Adnan pun langsung mengambil pakaian tersebit untuk kemudian dikenakannya.


...........


"Kalian hati hati, jangan lupa segera pulang lagi. Ibu masih kangen." kata Bu Lastri yang kini tengah memeluk Hanum kemudian bergantian dengan Adnan.


"Pasti buk." jawab Hanum meyakinkan, sedangkan Adnan hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan.


"Ya sudah, sebaiknya kalian berangkat sekarang. Takutnya nanti malah hujan." sahut Pak Imam.


"Baik Pak." jawab Adnan, kemudian menggandeng Hanum menuju mobilnya.


"Jangan lupa sampaikan salam kami untuk orang tuamu." ucap Pak Imam mengingatkan sebelum Adnan melajukan mobilnya.


"Baik Pak nanti Adnan sampaikan, kalau begitu Hanum sama Adnan pamit dulu. Assalamualaikum." ucap Adnan memberikan salam.


"Waalaikumsalam," jawab Bu Lastri dan Pak Imam serempak.


"Hati hati." imbuh Bu Lastri yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Adnan dan jyga Hanum.


Perlahan lahan mobil Adnan pun melaju meninggalkan rumah tempat dimana Hanum lahir, tumbuh dan dibesarkan sebelum pada akhirnya harus mengikuti Suaminya untuk tinggal di Ibu Kota.


Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Adnan dan Hanum selama 10 menit perjalanan mereka, enyah karena keduanya sedang menyimpan energi masing masing atau karena memang tak ada yang ingin disampaikan.


Untuk meminimalisir rasa bosannya, Hanum lebih memilih untuk memainkan ponselnya sembari mendengarkan lagu menggunakan earphone. Hanum pun asyik sendiri berselancar didunia maya, hingga tak sengaja ia melihat ada postingan yang baru saja diunggah oleh Anton diakun instagramnya. Foto Anton yang tengah berlibur ditempat yang menjadi ikon dari uang lima puluh ribu tersebut, Anton tampak sangat tampan dengan setelan yang dipakainya. Sangat jauh berbeda dati sosok Anton yang dahulu selalu memakai pakaian tapi hingga ia terlihat sebagai kutu buku.

__ADS_1


"Kenapa berhenti Mas?" tanya Hanum menoleh pada Adnan ketika merasakan mobil yang ditumpanginya berhenti mendadak, saat Hanum melihat kearah luar ternyata keduanya kini tengah berada di sebuah pom yang sudah cukup jauh dari rumahnya. Rupanya terlalu asyik dengan ponselnya membuat Hanum sampai melupakan sekitarnya, melihat Hanum yang sudah melihat keluar membuat Adnan langsung turun dari mobilnya tanpa menjawab pertanyaan Hanum karena sudah merasa yakin jika Hanum pasti tahu apa yang akan dilakukannya yaitu pastinya mengisi bahan bakar.


Sekitar lima menit kemudian Adnan kembali masuk kedalam mobilnya dengan membawakan satu plastik penuh telur gulung yang selama ini menjadi makanan favoritnya, Adnan menyodorkan telur gulung yang dibawanya pada Hanum.


"Beli dimana Mas?" tanya Hanum sembari menerima telur gulung yang disodorkan Adnan tersebut.


"Itu." jawab Adnan sembari menunjukkan penjual telur gulung yang sedang mangkal di area pom bensin tersebut.


"Ohhh." balas Hanum mengangguk anggukkan kepalanya mengerti. Akhirnya Hanum dan Adnan pun kembali melanjutkan perjalanan.


Tuttt.....tttuuuttt....tttuuuttt tiba tiba saja ponsel Hanum berdering, Hanum pun lekas merogoh ponselnya yang ia letakkan didalam tas selempang yang dibawanya.


"Siapa?" tanya Adnan sembari melirik kearah Hanum.


"Mama." jawab Hanum sedikit terkejut melihat nama yang tertera dilayar ponselnya adalah nama mertuanya. Hanum pun lekas menggeser tombol berwarna hijau tersebut.


"Halo ma." ucap Hanum pertama kali setelah mengangkat telepon dari mertuanya tersebut.


"Aku sama Mas Adnan masih di perjalanan pulang Ma." jawab Hanum mencoba menahan gemuruh didadanya.


"Ya sudah, nanti kalian langsung kerumah sakit aja." balas Bu Dian dari seberang sana.


"Iya." jawab Hanum singkat, padat dan jelas karena tak ingin mendengar sesi tanya jawab dari mertuanya lagi. Satu detik....dua detik.....tiga detik tak ada sahutan dari ibu mertuanya lagi membuat Hanum mengernyitkan dahinya bingung, kemudian menarik ponselnya dan meligat jika panggilannya rupanya telah terputus. Disinilah Hanum harus mulai menguatkan kesabarannya melihat perubahan drastis dari mertuanya tersebut.


"Kenapa num?" tanya Adnan mengalihkan pandangan dari jalanan kepada Hanum.


"Nanti kita langsung kerumah sakit Mas, gak perlu pulang kerumah duli." jawab Hanum mencebikkan bibirnya kesal karena dengan seenaknya saja Mertuanya memerintahkannya begitu saja tanpa bertanya terlebih dahulu pendapatnya.


Tanpa menjawab lagi Adnan pun menggenggam tangan Hanum yang semula berasa diatas paha Kanan Hanum dan menariknya kemudian menciumnya, sedikit banyak Adnan telah mengerti jika pasti ada sesuatu yang membuat Hanum kesal melihat perubahan wajah wanitanya.

__ADS_1


..............


Setelah sekitar 4 jam perjalanan kini Adna dan Hanum sudah berada di Jakarta, sesuai pesanan Ibu mertuanya kini Adnan dan Hanum harus langsung meluncur kerumah sakit tempat dimana Vanessa dirawat.


"Kamu tunggu disini aja kalau kamu capek." ucap Adnan sembari membelas rambut Hanum.


"Nggak usah Mas, nggak enak kalau aku nggak ikut nengokin Vanessa." tolak Hanum kemudian langsung melepaskan sealtbeat nya dan keluar begitu saja.


Huh.....Adnan menghela nafasnya panjang melihat kekesalan Istrinya, harusnya setelah Hanum berbesar hati merelakan liburan dirumah Orang tuanya dipercepat tak usah ada masalah lagi yang membuat mood wanita itu semakin hancur.


Tap...tap...tap....Hanum dan Adnan berjalan beriringan menyusuri rumah sakit untuk mencari letak kamar tempat Vanessa dirawat, sampai akhirnya Hanum dan Adnan berhasil menemukan kamar rawat inap Vanessa. Tampaklah sosok Bu Dian yang sedang duduk dengan wajah gelisahnya didepan kamar Vanessa, Hanum dan Adnan pun langsung berjalan menghampirinya.


"Ma." panggil Adnan sembari berjalan kearah Mamanya, Bu Dian yang mendengarkan suara Adnan pun langsung berdiri dari posisi duduknya.


"Adnan" kaget Bu Dian kemudian berjalan dan menarik tangan Adnan kearahnya.


"Kenapa baru pulang sih?" tanya Bu Dian dengan raut wajah kesalnya.


"Disini perjalanannya jauh Ma." balas Adnan tanpa pikir panjang. Kemudian tatapan mata Bu Dian langsung beralih pada sosok yang berada di samping Adnan yang tak lain adalah Hanum.


"Ini lagi kenapa sih pakai acara pulang kampung segala, udah tau kalau Vanessa sekarang lagi hamil. Kenapa mesti ditinggal sendirian!!!" semprong Bu Dian langsung dengan tatapan mata tang tertuju pada Hanum sepenuhnya.


"Kalau kamu mau pulang yah pulang aja sendiri, biar Adnan yang jagain Vanessa!" bentak Bu Dian, Hanum masih bertahan mendengarkan kemarahan mertuanya tanpa ada niatan untuk menyahutnya.


"Kamu tuh seharusnya sadar diri dong kasih pengertian ke Adnan biar mengurus Vanessa buat bekal kalau nanti kamu hamil," lanjutnya lagi.


"Kamu bisa hamil apa nggak juga nggak ada kepastian." desis Bu Dian dengan tatapan nyalangnya.


"Ma." banyak Adnan langsung ketika mendengar kata kata yang menyakiti Hanum keluar dari bibir Mamanya.

__ADS_1


"Sekarang kamu masuk, lihat keadaan Vanessa." ucap Bu Dian sembari mendorong tubuh Adnan untuk masuk kedalam ruangan rawat Vanessa. Setelah Adnan masuk kedalam Bu Dian kembali berbalik arah kearah Hanum.


"Kamu pulang kerumah, ambil pakaian ganti buta. Vanessa." perintah Bu Dian kemudian langsung masuk kedalam ruangan Vanessa tanpa perduli dengan raut wajah Hanum yang kini telah berubah marah, tak lupa dengan air matanya yang kini sudah menganak sungai.


__ADS_2