Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 93


__ADS_3

Sejurus kemudian raut wajah Anton langsung berubah yang tadinya terkejut, kini berubah menjadi biasa saja.


"Aku tidak perduli." jawab Anton dengan sangar.


"....."


"Urus urusanmu sendiri." tekan Anton yang kemudian langsung memutuskan sambungan teleponnya kembali melanjutkan perjalanannya.


..........


Sore ini ditoko roti tampak cukup sepi, tak seramai biasanya.


"Pa...cepetan dong pa." ucap Retha sembari menarik narik tangan Papanya.


"Iya sayang iya, tunggu sebentar yah." jawab Pak Tyo mencoba menenangkan anaknya yang sudah membuatnya cukup kewalahan dalam menanganinya.


"Cepet pa." rengek Retha lagi yang seakan akan sama sekali tak mendengarkan ucapan Papanya barusan. Akhirnya Pak Tyo yang sudah selesai memasukkan barang barangnya ditas pun lekas turun mengikuti anaknya.


Benar saja, baru saja Pak Tyo menutup pintu mobilnya tangannya langsung ditarik seketika oeh Retha.


"Tante Hanummm." teriak Retha yang masih diluar toko tersebut.


"Tante Hanumm, tante." teriaknya lagi sembari masuk kedalam toko.


"Hussttt Retha, jangan teriak teriak kayak gitu dong. Itu namanya nggak sopan tau." potong Pak Tyo sembari menahan berat tubuhnya yang sontak lansumg membuat tubuh Retha juga terhenti seketika dan langsung menghadap Papanya.


"Jangan kayak gitu lagi yah." pinta Pak Tyo yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Retha.


"Permisi pak." ucap sesorang yang spontan membuat Pak Tyo dan Retha langsung mengalihkan pandangannya menatap wanita tersebut.


"Iya Mbak, saya minta maaf kalau anak saya sudah biki keributan tadi." ucap Pak Tyo tersenyum sungkan.


"Oh, bukan kayak gitu pak bukan." jawab perempuan yangtak lain Mbak Susi tersebut.


"Lalu?" tanya Pak Tyo yang tampak bingung dengan yang dimaksud wanita tersebut.


"Eh jadi saya tadi denger kalau anak Bapak teriak teriak manggil manggil Hanum." jawab Mbak Susi.


"Iya tante, tante Mbak Hanumnya kemana tante?" sahut Retha yang masih tampak penasaran karena yang dicarinya tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


"Emm, Tente Hanumnya lagi sakit dan hari ini nggak masuk kerja." ucap Mbak Susi memberitahu.


"Apa?" terkejut Retha yang langsung membelalakkan matanya.


"Apa?" Pak Tyo yang juga ikut terkejut namun kemudian bisa menguasai keadaan kembali hingga tampak biasa saja.

__ADS_1


"Iya, jadi sekarang Tente Hanum nggak disini yah." ucap Mabk Susi memberitahu Retha kembali.


"Pa, ayo kita jenguk tante Hanum pa." Retha langsung menarik narik tangan Pak Tyo kembali.


"Eh." terkejut Pak Tyo karena tangannya ditarik oeh Retha.


"Ayo pa, ayo jenguk tente Hanum." rengek Retha lagi membuat Pak Tyo kembali pusing dibuatnya.


"Ayo pa, ayo dong." rengek Retha lagi membuat Pak Tyo kikuk dibuatnya.


"Ehmm, boleh saya minta alamat Hanum?" tanya Pak Tyo pada Mbak Susi.


"Boleh, tunggu sebentar." ucap Mbak Susi yang kemudian beranjak pergi.


"Horray, makasih ya pa. Udah mau nemenin aku jengukin tante Hanum. Papa baik banget deh, nggak ada duanya tau." ucap Retha yang membuat Pak Tyo menarik ujung bibirnya sembari geleng geleng kepala.


Tak berselang lama Mbak Susi pun kembali berjalan kearah posisi Pak Tyo yang berdiri dengan tegak.


"Ini pak alamat kos kosannya Hanum." ucap Mbak Susi sembari menyodorkan selembar kertas kecil yang langsumg disambut oleh Pak Tyo.


"Terima kasih." ucap Pak Tyo setelah mendapatkan apa yang dicarinya.


.............


Kini Pak Tyo dan Retha sudah didalam mobil untuk perjalanan ke kos kosan Hanum berdasarkan alamat yang sudah didapatkannya.


"Astagah." terkejut Pak Tyo yang lamgsung menepuk jidatnya, jujur saja tadi ia malah melupakan hal terpenting seperti itu. Untung saja ucapan Retha seakan akan obat untuk menyadarkannya.


"Kita beli buah aja yah sayang." ucap Pak Tyo yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Retha.


Akhirnya Pak Tyo pun mencari toko yang menjual buah buahan dengan kualitas premium yang searah denga jalanan menuju alamat kos Hanum, sekutar 30 menit kemudian Pak Tyo akhirnya menemukan toko buah yang sangat terkenal di Ibu Kota.


"Retha tunggu disini dulu yah, biar Papa yang turun." ucap Pak Tyo yang kemudian langsung turun dari mobilnya.


Retha menunggu didalam mobil selama hampir 15 menitan membuat gadis kecil tersebut pusing bubuatnya, pasalanya ia hanya menatap jalanan kearah luar dan melihat kendaraan yang berlalu layang lewat.


Cekek....brugh....


"Maaf yah nunggunya lama yah?" tanya Pak Tyo yang baru saja masuk kedalam mobil.


"Wah...banyak banget pa." terkejut Retha melihat beraneka ragam buah buahan yang dibeli oeh Papanya.


Mereka berdua pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju kos kosan Hanum.


..........

__ADS_1


"Vanessa Vanessa." panggil Bu Dian sembari memasuki rumah anaknya tersebut.


"Vanessa kemana bik?" tanya Bu Dian pada pembantu yang tergopoh gopoh datang menghampirinya.


"Anu, ada...ada dikamarnya nyonya." jawab pembantu tersebut.


"Dimana kamarnya?" tanya Bu Dian.


"Mari saya antar nya." balas pembantu tersebut yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh lebah.


Bu Dian pun berjalan menuju kamar menantunya dengan dipandu oelh asisten rumah tangga yang baru bekerja dirumah ini. Sampai alhirnya langkah kaki mereka terhenti didepan sebuah kamar dengan pintu bermaterialkan kayu jati.


"Ini nya." ucap pembantu tersebut, Bu Dian hanya terdiam sesaan kemudian menoleh kearah atas tempat dulu kamar Adnan dan Hanum berada.


"Kenapa kamarnya malah disini yah?" batin Bu Dian, namun sejurus kemudian ia kembali mrnatap pintu didepannya tersebut.


"Kalau gitu kamu boleh pergi." ucap Bu Dian yang dijawabi dengan anggukan kepala eh pembantu tersebut dan perlahan pamit undur diri.


Tok...tokkk....tokkk Bu Dian mengetuk pintu tersebut, namun sama sekali tak terdengar suara sahutan dari dalam.


Tok...tok...tok...Bu Dian pun kembali mengetuk lintu kamar tersebut.


"Pergi bik, pergi!" teriak Vanessa dari dalam kamar.


"Ini ibu Van, bukan bibik." jawab Bu Dian.


"Mama?" gumam Vanessa dari balik ruangan, perlahan lahan ia pun mendekat kearah pintu dan....


Ceklek....Vanessa membuka pintu tersebut yang langsung menampilkan wajah lusuh..


"Mama?" panggil Vanessa dengan wajah menunduk.


"Ya Allah Vanessa, kamu kenapa nak?" tanya Bu Dian yang langsung memegangbahu Vanessa dan memintanya untuk menatapnya.


"Mamm...Mamaaa." sedangkan Vanessa langsung menghamburkan diri masuk kedalam pelukan Ibu mertuanya tersebut.


"Mama, hiks.." tangis Vanessa langsung pecah didalam pelukan wanita berumur tersebut.


"Sayang, kenapa kamu malah nangis?" tanya Bu Dian dengan wajah terkejut sekaligus bingungnya.


Tak mendapat jawaban, Bu Dian pun mengiring Vanessa untuk kembali masuk kedalam kamarnya.


.........


Setelah menempuh perjalanan cukup lama akibat macet, akhirnya Retha dan Pak Tyo pun sampai juga didepan kos kosan Hanum.

__ADS_1


"Ayo pa." Retha kembali menarik tangan Pak Tyo usai mengambil buah buahan yang menjadi buah tangan untuk Hanum.


~Hidup tak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi dengan telapak tangan kita dapat mengubah hidup kita jauh lebih baik lagi.~


__ADS_2