Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 74


__ADS_3

Drttt....drrrttt...getaran ponsel Anton sontak langsung menyadarkan mereka, Anton dan Han langsung mengalihkan pandangannya pada ponsel yang menyala disamping tangan kiri Anton.


“Eh maa.” Sontak Anton langsung mengambil ponselnya ketika Hanum secara sengaja melirik nama yang tertera dilayar ponsel Anton tersebut.


“Eh, iya. Aku juga mau ke belakang.” Terkejut Hanum yang kemudian langsung mengambil mangkuk yang sempat menjadi saksi makan semangkuk berdua mereka.


Anton menatap kepergian Hanum hingga akhirnya dia sampai didepan washtafle,


Huuuhhhh....Anton menghela nafas lega kemudian beranjak berdiri untuk mengangkat panggilan yang masuk. Hanum yang melirik kepergian Anton menatap heran punggung laki laki itu, bukan apa apa tapi reaksi yang di tunjukkan Anton menurutnya tadi sangat berlebihan.


“Bodo ah, ngapain juga aku kepo.” Gumam Hanum mengendikan kedua bahunya kemudian melanjutkan kegiatan mencuci piringnya.


“Num” tiba tiba saja ada suara yang memanggilnya disaat Hanum menaiki anak tangga, sontak Hanum menghentikan langkah kakinya dan berbalik arah.


“Bapak?” Hanum pun langsung bergegas turun menghampiri Bapaknya.


“Kenapa Bapak malam malam kesini?” tanya Hanum yang terlihat heran.


“Ada yang mau Bapak omongin num.” Kata Pak Imam. Pak Imam pun berjalan keatas menaiki tangga menuju kamar yang ditempati Hanum diikuti oleh Hanum yang berjalan dibelakangnya.


“Bapak mau ngomong apa?” tanya Hanum saat keduanya saat ini sudah duduk saling berhadapan.


Pak Imam tampak menghela nafas panjang sebelum akhirnya membuka suara.


“Apa nak Anton itu laki laki yang bisa dipercaya num?” tanya Pak Imam langsung pada intinya saat keduanya sudah sampai dikamar Hanum.


“Kenapa Bapak tanya gitu?” tanya Hanum tampak mengernyit heran dan bingung.


“Kenapa dia mau bantuin kamu sampai sejauh ini num? Apa lagi kalian itu lawan jenis, nggak mungkin kalau dia nggak ada maksud apa apa buat nolongin kamu.” Ucap Pak Imam menyampaikan isi hatinya.


“Mas Anton nolongin aku karena kita udah kenal lama pak.” Jawab Hanum sembari menggenggam kedua tangan Pak Imam.


“Apa dia sudah menikah?” tanya Pak Imam lagi, Hanum hanya menggeleng gelengkan kepalanya.


Hhhhh....Pak Imam tampak menghela nafasnya seolah olah merasa tak senang dengan jawaban yang diberikan Hanum.


“Lalu sampai kapan kita akan menginap disini?” tanya Pak Imam.

__ADS_1


“Kata Mas Anton kita boleh menginap disini sampai proses perceraiannya selesai pak.” Jawab Hanum menundukkan kepalanya.


“Masih lama, rasanya tak enak kalau kita tinggal disini selama itu.” Jawab Pak Imam.


“Sebaiknya kita segera cari kos atau tempat tinggal yang lainnya.” Ucap Pak Imam.


“Tapi Mas Anton juga nggak sering ke sini pak, dia juga kerja di Jakarta. Lagi pula, aku juga yakin kok pak kalau Mas Anton nggak akan macam macam sama kita.” Sahut Hanum menyampaikan ketidak setujuannya.


“Baiklah, kita lihat situasinya. Lagi pula Bapak juga masih sanggup untuk memberi kamu tempat yang layak entah itu kos atau kontrakan atau apalah.” Jawab Pak Imam yang kemudian langsung beranjak dari duduknya, namun dengan segera Hanum menarik tangan Bapaknya hingga terduduk kembali dan langsung memeluknya.


“Pak, Hanum sayang banget sama Bapak.” Kata Hanum.


“Makasih karena Bapak sama Ibu selalu ngertiin Hanum dan nggak pernah memaksakan kehendak.”


“Hanum nggak tau lagi bakalan gimana jadinya semua ini tanpa dukungan Bapak sama Ibu.” Ucap Hanum didalam pelukan hangat sang Ayah.


“Sama sama, maafin Bapak sama Ibu ya num kalau kami belum bisa jadi orang tua yang terbaik untuk kamu.” Balas Pak Imam dengan nada yang terdengar sedih sembari menepuk nepuk punggung Hanum.


“Nggak Pak, kalian udah jadi orang tua yang baik yang selalu ngertiin Hanum. Hanum bersyukur banget karena terlahir jadi anak Bapak sama Ibu.” Sahut Hanum cepat kemudian perlahan lahan melepaskan pelukannya.


“Anak Bapak udah besar, udah mandiri rupanya.” Kata Pak Imam sembari membelai rambut Hanum dengan sayang hingga senyum pun terbit dari bibirnya.


“Nggak pak, Hanum masih muda dan Hanum bakalan bukti in kalau Jakarta bukan menjadi tempat Hanum terpuruk pak. Hanum bakalan cari kerja, cari uang yang banyak buat beliin sawah buat Bapak Ibu.” Tolak Hanum cepat, baginya jika tempat itu meninggalkan kenangan pahit untuknya, maka ia juga harus bisa menciptakan kenangan indah yang akan dikenangnya ketika tua nanti.


Beberapa hari kemudian sidang pertama pun dilakukan, Baik Andan maupun Hanum keduanya sama sama datang menghadiri persidangan tersebut. Karena bantuan dari pengacara yang disewakan Anton untuk Hanum membuat Hanum bisa lebih kuat dan yakin untuk memenangkan perceraian ini.


“Hanum...Hanum tunggu.” Panggil Adnan ketika keduanya telah keluar dari pengadilan.


“Apa sih Mas?” kesal Hanum sembari melepaskan cengkalan tangan Adnan dari tangannya.


“Sekarang kamu tinggal dimana?” tanya Adnan dengan tatapan tajamnya.


“Kenapa? Apa urusannya sama kamu? Kita udah cerai, ingat itu!” tekan Hanum mengingatkan Adnan.


“Denger Hanum, kita bercerai karena aku yakin aku bisa bikin kamu jatuh cinta kembali sama aku dan kamu bakalan bisa memaafkan aku.


“Setelah itu kita akan menikah untuk kedua kalinya atas dasar cinta kita.”

__ADS_1


“Kita cuma perlu waktu buat menyadarkan diri kita masing masing kalau sebenarnya kita nggak akan terpisahkan, kita bakalan menua sama sama dengan atau tanpa adanya anak kita. Aku nggak akan mempermasalahkan itu semua dan o ya, aku bakalan yakinin Mama dan Mama pasti nggak bakalan mempermasalahkan itu semua lagi.” Ungkap Adnan panjang lebar dengan tatapan matanya seakan akan menusuk tajam indera penglihatannya, entah mengapa Hanum seperti melihat sebuah ketulusan dan keyakinan dari setiap perkataan Adnan.


“Terserah, aku nggak perduli lagi.” Sahut Hanum cepat kemudian berjalan meninggalkan Adnan yang tampak menatap kepergian Hanum dengan tatapan kecewanya.


Itulah terakhir kalinya Hanum bertemu dengan Adnan mantan suaminya, belakangan ini pula Hanum juga tak pernah melihat lagi kedatangan Anton. Entah sesibuk apa laki laki itu hingga tak pernah datang menjenguknya, toh...ia juga tak seharusnya ikut campur bukan? Biarkan saja itu menjadi urusannya.


“Pak, Buk...Hanum mau pergi ke Jakarta yah.” Kata Hanum yang meminta izin pada Ibunya yang tengah menyirami bunga dan Bapaknya yang tengah memotong rumput yang mulai meninggi di pekarangan rumah ini.


“Kamu mau ngapain ke Jakarta pagi pagi gini num?” tanya Bu Lastri yang tampak terkejut dan juga khawatir.


“Oh Hanum mau ketemu sama temen lama Hanum sekalian mau beli Hp buk.” Jawab Hanum sembari meraih tangan Bu Lastri untuk diciumnya begitu pula dengan Pak Imam.


Sepanjang perjalanan Hanum hanya menatap pohon pohon yang berjejeran dipinggir jalan, entah mengapa rasanya ia sakit memendam ini semua. Jujur perceraian ini membuat Hanum merasa seperti orang yang paling terpuruk didunia, entah karena merasa kesal sudah dikhianati atau merasa kesal dan marah karena sudah dibodohi.


Sampai pada akhirnya sampailah Hanum dirumah Maya.


Tok...tok...tok....Hanum mengetuk pintu beberapa kali namun tak kunjung mendapat sahutan, merasa yakin jika tak ada orang didalamnya Hanum pun akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah Maya.


Tujuannya selanjutnya adalah membeli ponsel, karena ponsel lamanya tertinggal dirumah mantan mertuanya ketika ia mengambil keputusan pergi dari rumah itu, tentu saja ponsel merupakan benda wajib yang harus ia miliki untuk memudahkan urusannya kedepan.


“Apa aku mampir kerumah Mas Anton aja?” gumam Hanum usai membeli ponselnya.


“Iya deh, lagi pula nggak ada salahnya juga.” Gumam Hanum yang kemudian membulatkan tekadnya untuk berkunjung kerumah Anton.


Beberapa puluh menit kemudian, sampailah Hanum didepan rumah yang sudah dua kali ia kunjungi tersebut. Namun, ketika ia hendak turun dari taksi yang ditumpanginya sebuah mobil yang sudah ia ketahui dengan pasti siapa pemiliknya tersebut keluar dari rumah Anton.


“Pak ikuti mobil itu pak.” Kata Hanum memerintah supir taksi tersebut.


“Baik Mbak.” Jawab supir taksi tersebut yang kemudian melajukan taksinya membuntuti mobil didepanya tersebut.


Hampir satu jam Hanum membuntuti mobil Mas Anton, namun belum ada tanda tanda mobil tersebut akan berhenti membuat Hanum merasa jengah sendiri.


Sampai pada akhirnya taksi yang dikendarainya berhenti didepan hotel tanpa ia sadari.


“Kenapa berhenti pak?” tanya Hanum yang terkejut dan tersadar dari lamunannya.


“Mobilnya udah berhenti Mbak, tuhh...” jawab supir taksi tersebut sembari menunjuk mobil didepanya, Hanum pun mengikuti arah pandangannya pada sesuatu yang ditunjukkan supir tersebut dan betapa terkejutnya Hanum ketika melihat Anton keluar dari mobilnya menuju hotel tersebut bersama dengan seorang wanita....

__ADS_1


“Mas Anton?” keget Hanum dengan apa yang tengah dilihatnya saat ini.


~Apa yang kamu dapatkan dengan susah payah tak akan mudah kamu lepaskan begitu saja~


__ADS_2