
Ceklek.....Vanessa membuka pintu kamar Hanum yang ternyata tidak dikunci tersebut.
"Aneh, kok nggak dikunci sih?" heran Vanessa, namun sejurus kemudian ia tak perduli lagi dan lekas melangkahkan kakinya masuk kekamar Hanum.
Berdih dan rapi, itulah kesan yang didapatkan Vanessa ketika menginjakkan kakinya disini. Ada sebuah foto yang sangat besar yang terpampang nyata didinding kamar ini, yaitu foto pernikahan Hanum dan Adnan. Keduanya tampak serasi dengan balutan kain berwarna putih, dalam foto tersebut Adnan tampak gagah walaupun tak ada senyuman hangat yang menghiasi bibirnya. Sementara Hanum tak jauh berbeda dengan Adnan yang tak ingin menyunggingkan senyumannya, mungkin itu adalah hal yang wajar bagi keduanya karena pernikahan mereka sendiri terjadi karena perjodohan.
Vanessa mendudukkan bokongnya diranjang yang berukuran cukup besar tersebut, sembari netranya terus menelisik disekelilingnya. Selain foto pernikahan mereka, ada juga foto Hanum yang masih mengenakan seragam putih abu abu sedang berdiri disamping pohon yang rimbun dengan tangan yang menenteng sebuah buku bersampul biru.
Satu lagi foto yang menarik perhatian Vanessa adalah foto Adnan saat wisuda kelulusannya, Adnan dan dirinya dulu kuliah dikampus yang sama dan seangkatan pula. Berawal dari situlah dulu dirinya dan Adnan saling mengenal hingga pada akhirnya mereka berpacaran dalam waktu yang cukup lama, namun sayangnya hubungan mereka harus kandas karena datangnya orang baru yang lebih menarik perhatian Vanessa.
Tak sengaja netra Vanessa menatap lemari berukuran besar yang sudah dapat dipastikan jika lemari itu adalah milik mereka berdua, tanpa pikir panjang lagi Vanessa pun berjalan mendekat kearah lemari. Mungkin karena mereka hanya tinggal berdua dirumah inilah yang menjadi alasan atau bahkan kebiasaan mereka yang tidak pernah mengunci apapun dirumah ini termasuk pintu kamarnya tadi dan lemari ini.
Vanessa membuka lemari paling kiri darinya yang ternyata berisi pakaian milik Adnan, aneka macam kemejanya tergantung dengan rapi. Vanessa juga membuk laci yang ternyata berisi dasi milik Adnan yang beraneka ragam warna dan coraknya, pakaian Adnan yang lainnya dilipat dengan sangat rapi.
Puas melihat lihat pakaian milik Adnan kini Vanessa beralih pada pintu tengah yang berisi pakaian Hanum, setelah dilihat lihat tak ada yang menarik dimata Vanessa hingga membuatnya langsung menutup pintu itu. Kini tibalah Vanessa dipintu lemari terakhir, begitu dibuka nampaklah banyak baju seksi atau yang biasa disebut dengan lingerie walaupun isinya tak memenuhi lemari tersebut. Dari sekian banyak lingerie yang digantung, warna hitamlah yang menjadi dominan. Artinya, Adnan lebih menyukai pakaian dengan warna hitam.
"Lain kali aku harus menarik Adnan dengan pakaian berwarna hitam juga." gumam Vanessa sembari menutup pintu lemari itu.
Entah mengapa rasanya Vanessa ingin menelusuri setiap sudut kamar Hanum, salah satunya kamar mandi. Vanessa membuka kamar mandi, sekilas memang tak ada yang aneh atau menarik dalam kamar mandi ini sampai pada akhirnya tatapan Vanessa tertuju pada benda pipih yang tergeletak disamping wastafle. Vanessa pun meraih benda pipih tersebut yang tak lain adalah taspack.
"Garis satu?" batin Vanessa.
"Kau itu memang mandul atau apa?" ucap Vanessa memegang taspack tersebut seolah olah sedang mengajaknya berbicara.
"Aku harap kau benar benar wanita mandul Hanum." kata Vanessa dengan sadisnya.
"Dengan ini aku akan memikirkan cara lain untuk menghancurkanmu." kata Vanessa tersenyum licik.
Setelah puas Vanessa pun meletakkan taspack tersebut pada tempatnya semula kemudian keluar dari kamar mandi, saat berjalan melewati kasur tak sengaja Vanessa melihat sebuah kotak perhiasan yang tergeletak diatas nakas membuat rasa penasaran Vanessa kembali bergelora.
__ADS_1
"Hah....beruntung sekali Hanum memiliki suami seperti Mas Adnan." desis Vanessa melihat satu set perhisan tersebut.
"Wanita kampung seharusnya tidak pantas memakai ini semua." geram Vanessa yang langsung menutup kotak perhiasan itu dengan kasar kemudian berjalan keluar dengan menghentak hentakkan kakinya seakan akan dirinya lupa jika ia tengah berbadan dua.
Brakkk....Vanessa menutup pintu dengan kasar seakan akan sedang meluapkan kekesalannya, setelah melihat perhiasan tersebut rasa cemburu dihati Vanessa timbul karena Adnan tak pernah memberikan apa apa pada dirinya setelah pernikahannya
..........
"Alhamdulillah." ucap Hanum penuh syukur karena ia dan Suaminya tiba dengan selamat dirumah orang tuanya.
"Ayo Mas." kata Hanum yang kemudian langsung membuka sabuk pengaman dan turun dari mobilnya tanpa menunggu Suaminya lebih dulu.
"Bapak.....Ibuuu." teriak Hanum sembari sedikit berlari memasuki rumah.
"Assalamualaikum Buk, Pak." salam Hanum sedikit berteriak.
"Abisnya nggak keluar keluar, nggak pengen nyambut kepulangan anaknya apa." cibir Hanum.
"Waalaikumsalam, Ya Allah udah sampe yah." tiba tiba saja ada suara sahutan dari dalam rumah yang tak lain adalah Ibu Hanum
"Ibu..." teriak Hanum yanh langsung berlari menghambur kepelukan Ibunya.
"Ibu, Hanum kangen banget sama Ibu." kata Hanum yang masih memeluk Ibunya.
"Ibu juga kangen banget sama kamu num." balas Bu Lastri sembari mengelus elus punggung anaknya.
"Udah ah, mantu Ibu juga mau salaman sama Ibu tau." ucap Bu Lastri yang langsung melepaskan pelukan Hanum dari tubuhnya.
"Ih...Ibuk." cemberut Hanum.
__ADS_1
Adnan pun langsung menyalami tangan Ibu Mertuanya tersebut kemudian memeluknya.
"Maaf yah buk, Adnan baru bisa pulang." kata Adnan penuh sesalnya karena telah membuat orang tua Hanum harus menunggu kepulangannya bersama Hanum cukup lama.
"Nggak papa, yang penting kalian sehat sehat yah." balas Bu Lastri sembari mengelus elus kemudian menepuk punggung Adnan.
"Ibu sama Bapak juga sehat sehat terus yah." kata Adnan sembari melepaskan pelukannya.
"Iya" jawab Bu Lastri tersenyum.
"Oh iya buk, Bapak kemana?" tanya Hanum sembari celingak celingukan mencari keberadaan Bapaknya.
"Bapak lagi disawah, sebentar lagi juga pulang." jawab Bu Lastri sembari berjalan memasuki rumahnya.
"Masuk dulu ayo, masakan Ibu juga udah mau mateng." kata Bu Lastri.
Adnan dan Hanum pun saling berpandangan kemudian tersenyum bahagia karena mereka sama sama memiliki mertua yang menganggap mereka sebagai anaknya sendiri, kemudian Adnan dan Hanum pun berjalan masuk kedalam rumah beriringan.
.......
"Mereka perginya berapa lama yah?" Vanessa bertanya tanya sendiri menebak kapan Adnan akan pulang.
"Kalau gini sih udah kayak penunggu rumah aja gue." cibir Vanessa.
"Jalan jalan aja kali yah gue, daripada gabut sendirian kayak gini." kata Vanessa menemukan sebuah ide.
Vanessa pun bersiap siap untuk keluar rumah sekedar untuk jalan jalan mengisi kebosanannya, tujuannya kali ini adalah pergi ke Mall dengan tujuan untuk membeli lingerie. Hampir satu jam Vanessa memilih milih lingerie yang berwarna hitam yang menurutnya sangat cocok bila dipakainya.
"Vanessa?"
__ADS_1