Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 60


__ADS_3

"Ja...jadi di...dia." Hanum hendak memberitahukan segalanya berharap dengan ini Anton dapat membantunya.


Tut...ttuuttt....ttuutt....tiba tiba saja ponsel Anton berdering, dengan sigap Anton pun langsung meraih ponselnya yang terletak diatas meja.


"Halo," sapa Anton membuka salam.


"......"


"Oh gitu, oke oke aku akan segera kesana." balas Anton pada seseorang diseberang sana. Selepas mengatakan itu, Anton pun langsung mengantongi dengan cepat ponselnya.


"Num, kayaknya aku mesti pergi sekarang deh. Ceritanya kita lanjutin lain kali yah." ucap Anton sembari menepuk nepuk punggung tangan Hanum yang diletakkannya diatas meja.


"Oke, nggak masalah." jawab Hanum dengan senyum yang mengambang dibibirnya, Sedangkan Anton pun beranjak dari tempat duduknya dan langsung bergegas pergi meninggalkan Hanum sendirian disana.


Tiba tiba saja Hanum kembali teringat kepada orang tuanya, ia pun mengotak atik ponselnya untuk mencari cari kontak orang tuanya.


Tutt...tutt....tttuttt, Hanum melakukan panggulan hingga beberapa kali namun tak kunjung dijawab. Akhirnya Hanum pun berniat untuk pulang juga karena dirasa sudah terlalu lama ia meninggalkan rumah.


"Hai." sapa seorang wanita, Zidan pun langsung menoleh kearah sumber suara.


"Anggia?" Zidan tampak terkejut dengan kehadiran wanita itu.


"Kenapa kamu disini? nggak kuliah?" tanya Anggi lagi sembari mendudukkan bokongnya dikursi yang berhadapan langsung dengan Zidan.


"Emm...em tadi aku ada urusan pribadi jadi hari ini aku nggak kuliah." jawab Zidan tampak canggung sembari menggaruk garuk tengkuknya tak nyaman.


"Abis ketemu sama seseorang yah?" tanya Anggia yang melihat adanya piring yang masih ada sisa sisa makanan dihadapannya.


"Oh iya, tadi aku habis ketemu sama Kakakku." jawab Zidan yang mulai bersikap seperti biasa, bolos bukanlah hal yang memalukan untuk diakui bukan?


"Oh...yang waktu itu." kata Anggi mangut mangut mengingat kembali Kakak dari Zidan yang pernah ia temui beberapa waktu lalu.


"He eum, oh ya kamu ngapain disini?" tanya Zidan mulai membuka topik pembicaraan.


"Oh aku baru aja pulang, tapi kayaknya makan seblak enak deh Sesuai sama cuacanya." jawab Anggia yang langsung mengangkat tangannya meminta salah seorang pelayan untuk datang.


"Saya pesan seblak mie sama minumnya es teh mbak." ucap Anggia mengucapkan daftar pesanannya, tak berselang lama pelayan tersebut pun undur diri dari hadapan keduanya.


"Oh ya, sebentar lagi kamu udah mau skripsi yah?" tanya Anggia berbasa basi.

__ADS_1


"Iya," balas Zidan tersenyum lebar.


"Fighting." balas Anggia mengepalkan tangannya seolah olah memberikan semangat dan dukungannya.


.........


Disisi lain saat ini Bu Dian tengah berbelanja disalah satu supermarket yang berada di sekitar rumahnya, entah mengapa hari ini Bu Dian bertekad untuk belanja sendiri padahal biasanya pembantulah yang rutin melakukan tugas tersebut.


Bu Dian tampak memilih milih satu persatu bahan makanan dengan kualitas premium. Mulai dari daging, sayuran, buah dan berbagai baham makanan lainnya.


"Apalagi yah yang kurang?" gumam Bu Dian sembari mengingat ingat lagi barang barang yang mungkin belum dibelinya.


"Ah iya, Telur." ucap Bu Dian yang pada akhirnya ingat jika ia belum membeli telur, ia pun bergegas ke tempat telur yang dibutuhkannya berada.


Sekitar satu jam kemudian Bu Dian akhirnya sudah selesai dengan aktivitas belanjanya, ia pun langsung membawanya ke kasir untuk membayarnya.


Bu Dian pun bergegas membawanya menuju tempat dimana mobilnya diparkirkan, sedari tadi hujan rintik rintik masih turun membasahi bumi. Huh....hujannya awet sekali tidak berhenti berhenti.


Bu Dian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan pelan karena jalanan yang tampak licin dan karena adanya kabut tipis yang mengganggu indera penglihatan wanita yang telah berumur seperti dirinya ini.


"Oke, kalau gitu aku balik duluan yah." ucap Zidan pada Anggia yang masih menikmati seblak mienya.


"Oke, hati hati." balas Anggia sembar menyatukan jari jempol dan telunjuknya hingga membentuk huruf O.


"Hisshhh, apa apaan sih. Apa urusannya juga?" kesal Zidan didalam mobilnya, tak sengaja tatapan matanya langsung tertuju pada sebuah mobil yang berjalan didepanya dengan kecepatan sangat lamban.


"Huhhh...." Zidan menghela nafas mencoba menahan emosinya.


"Bisa nyetir nggak sih." geram Zidan, ia pun melihat situasi jalanan di sekitarnya. Namun sangat sulit untuk menyalip karena jalan yang dilaluinya kini bukannya jalan satu arah.


"Eh...tunggu tunggu." Zidan melihat dengan lebih teliti lagi plat mobil yang ada didepanya tersebut.


"Kok kayak nggak asing sama plat itu?" gumam Zidan pada dirinya sendiri, ia pun berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengingat ingat mobil didepanya tersebut milik siapa. Namun setelah sekian lama berpikir ia sama sekali tak menemukan jawaban dari teka tekinya, namun mobil tersebut juga menuju jalanan yang searah dengannya.


..........


Kini sampailah Hanum dirumahnya kembali, tampaknya Suaminya kini sudah pulang terlihat dari mobilnya yang sudah terparkir digarasi.


Hanum pun bergegas masuk kedalam rumah, sesuai biasa tempat yang pertama kali ia ingin masuki adalah kamar pribadinya.

__ADS_1


Ceklekkk....Hanum membuka pintu kamarnya, namun tampak kosong. Hanum pun mencari cari ke kamar mandi, namun tak melihat keberadaan Suaminya disana. Mencoba tak berpikir lagi, Hanum pun langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan kembali tubuhnya.


Hanum lebih memilih untuk berendam, ia meneteskan aromatherapi untuk memberikan aroma yang dirasanya sangat menenangkan tersebut, apalagi kalau bukan aroma Vanila kesukaannya.


Entah karena menikmati rendamannya atau memang karna ia tak tau harus melakukan apa lagi, Hanum menghabiskan waktu hampir satu jam untuk menyelesaikan ritual mandinya. Selepas itu Hanum pun keluar dan lekas mencari bajunya yang berada didalam lemari untuk mencari baju yang akan dikenakannya.


"Oh ****, pantas aku merasa tidak asing degan mobil itu." gumam Zidan menepuk jidatnya cukup keras saat baru menyadari jika mobil tersebut adalah mobil milik Mamanya, itu pun baru ia sadari saat mobil tersebut masuk kedalam pekarangan rumahnya.


Bu Dian pun bergegas masuk kerumah, sementara bahan bahan belanjaannya dibawakan oleh salah seorang pembantu yang cukup lama bekerja disini.


"Mbok, taro disitu dulu yah saya mau ganti baju dulu." ucap Bu Dian yang kemudian langsung beranjak pergi menuju kamarnya.


Zidan yang telah berganti baju pun bergegas turun untuk mengambil air karena tenggorokannya kini terasa kering kerontang saja, dilihatnya dapur yang tampak sibuk dengan beberapa orang pelayan dan juga keberadaan Mamanya yang saat ini tengah memotong motong beberapa sayuran.


Zidan pun melewatinya dengan acuh tak acuh, tujuannya kesini adalah untuk minum semata. Ia tak akan perduli dengan yang lainnya termasuk kesibukan yang tengah terjadi ini.


"Dan, tolong ambilin ponsel Mama dikamar." ucap Bu Dian dengan tatapan mata yang masih fokus pada sayurannya tersebut, tanpa menunggu lama Zidan pun langsung berjalan menuju kamar Mamanya.


Tutt...ttutt....tttuttt, Hanum yang tengah mengoleskan krim pada wajahnya pun langsung menoleh kearah sumber suara, bukan ponsel miliknya yang berdering melainkan ponsel milik Suaminya. Hanum pun langsung beranjak berdiri dan berjalan kearah ponsel Suaminya tersebut.


"Mama?" gumam Hanum membaca nama yang tertera dilayar ponsel suaminya tersebut, Hanum pun kemudian menggeser tombol hijau yang tertera.


"Halo Ma." sapa Hanum pertama kali.


"Hanum? Adnan kemana?" tanya Bu Dian dari seberang sana.


"Lagi dibawah ma." jawab Hanum asal.


"Oh kalau begitu bilang sama Adnan," ucap Bu Dian.


"Malam ini kalian datang kerumah yah, Mama udah masak banyak buat kalian semua." kata Bu Dian dari seberang sana.


"Emangnya lagi ada acara apa ma?" tanya Hanum dengan kening berkerut heran.


"Nggak ada apa apa kok, cuma kan kita udah lama nggak kimpul kumpul bareng." jawab Bu Dian.


"Oh, oke Ma." balas Hanum kemudian. Beberapa saat panggilan mereka pun berakhir.


Hanum yang belum melihat batang hidung suaminya pun keluar kamar untuk mencarinya, Hanum mencari sosok suaminya di setiap sudut rumah sampai pada akhirnya....

__ADS_1


"Mas Adnan?" terkejut Hanum.


~Berimajinasi memanglah menyenangkan, namun kita harus sadar yang kita hadapi tak seindah imajinasi~


__ADS_2