
"Ma...Mama cuma nggak mau kamu menyesal nak?" kata Bu Dian dengan wajah sedihnya.
"Mama nggak mau kalau nanti kamu sampai tidak punya anak." lanjut Bu Dian menatap nanar anaknya. Mendengar ucapan Mamanya Adnan hanya bisa mengusap wajahnya kasar, Sementara itu Hanum hanya bisa memejamkan matanya mencoba menarik nafas dalam dalam.
Disisi lain Adnan pun cukup mengerti maksud dari ucapan Mamanya tersebut, semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya begitu juga dengan Bu Dian.
"Ma, aku sama Hanum bisa punya anak Ma. Kami berdua sehat, Mama tau hal itu kan?" ucap Adnan menggunakan nada terendahnya, mungkin dengan berbicara perlahan lahan penuh pengertian akan membuat Mamanya kembali luluh seperti dulu.
"Hah..." Bu Dian tampak tak percaya dan meremehkan ucapan Adnan.
"Sampai kapan kamu terus berharap hal yang nggak pasti seperti ini? sampai kapan Nan?" ucap Bu Dian.
"Hanum kamu seharusnya bisa sadar diri juga dong. Kalau sampai satu tahun lagi kamu nggak hamil hamil Mama mohon banget sama kamu, suatu saat kamu pasti bakalan ngerti sama maksud Mama." ucap Bu Dian yang tiba tiba duduk bersimpuh dengan tangan yang menyatu didepan dadanya.
Hanum langsung memalingkan mukanya, tak kuasa rasanya jika ia harus menyaksikan sepenuhnya Mertuanya sampai duduk bersimpuh memohon padanya hal yang tak akan pernah bisa ia lakukan. Dimana letak kesalahannya? ia juga tak ingin semua ini terjadi padanya, apa yang harus aku lakukan? ini semua kehendak tuhan.
"Ma, Adnan mohon jangan seperti ini ma," ucap Adnan sembari jongkok didepan Mamanya, kedua tangannya memegang pundak wanita yang telah melahirkannya tersebut.
"Mama bukan hanya menyakiti Hanum saja ma, tapi Mama juga menyakiti Adnan ma." ucap Adnan dengan air mata yang sudah siap untuk terjun bebas. Bu Diam yang pada awalnya tertunduk kini langsung mendongakkan kepalanya menatap lekat lekat wajah putra yang telah ia lahirkan tersebut.
"Lalu apa kamu tidak berpikir ini menyakiti Mama?" tanya Bu Dian dengan tatapan dalamnya.
"Mama ini cuma seorang ibu yang menginginkan semua anak mama memiliki hidup normal, keluarga yang lengkap. Apa salah jika Mama mengharapkan cucu darimu?" tanya Bu Dian dengan air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya.
"Tapi Adnan cinta sama Hanum ma, Adnan akan terima Hanum apa adanya." protes Adnan.
__ADS_1
"Mama akan membiarkan kamu hidup sama Hanum jika dalam waktu setahun Hanum bisa hamil anak kamu." ucap Bu Dian dengan tegasnya. Lagi lagi air mata Hanum dan Adnan harus terjatuh dengan ucapan Mamanya, Ingin rasanya Hanum pergi menghadap tuhan untuk protes kenapa semua ini harus terjadi padanya.
"Ta..tapi Ma" ucap Adnan terbata bata.
"Jika Hanum benar benar mencintai kamu dia pasti akan melakukan apapun demi kebahagiaan kamu." potong Bu Dian langsung, kini tatapan mata Bu Dian beralih pada Hanum yang sudah sesenggukan akibat tangisan dalam diamnya.
"Bagaimana?" tanya Bu Dian, kali ini pertanyaannya ditujukan pada menantunya tersebut.
"Apa kamu akan membiarkan suami kami tidak memiliki penerus? apa kamu tega melakukan ini pada kami?" lanjut Bu Dian. Baik Hanum maupun Adnan hanya bisa terdiam, memikirkan matang matang semua ini.
"Udah Ma," kata Adnan yang langsung membantu Mamanya berdiri, namun tatapan mata Bu Dian sama sekali tidak bisa lepas dari Hanum. Saat Bu Dian baru saja berbalik arah dan hendak melangkah tiba tiba...
"Baik, aku setuju." ucap Hanum dengan lantang walaupun ia harus memejamkan matanya kuat kuat serta mengepalkan tangannya. Jika alasan yang dikatakan Mertuanya memang benar, lalu bagaimana dengan kedua orang tuanya yang hanya memiliki ia seorang? apakah selama ini dalam ia juga telah menyakiti semuanya?.
"Hanum, sayang." Adnan pun langsung berjalan menuju kearah Istrinya dan meninggalkan Mamanya begitu saja yang masih berdiri dengan raut wajah tak percaya.
"Kamu nggak perlu ngelakuin itu." ucap Adnan sembari mencoba meraih wajah Hanum.
"Antar Mama pulang Mas." kata Hanum membuat Adnan langsung menghentikan gerakannya membuat tangannya menggantung diudara.
"Ha..." Adnan hendak melayangkan protesnya.
"Mas" potong Hanum dengan tegasnya. Adnan hanya bisa memejamkan matanya sembari menarik nafas dalam dalam, tak apa...mungkin saat ini Hanum butuh waktu sendiri karena masih syok dengan ucapan Mamanya. Selepas mengantarkan Mamanya nanti ia akan berbicara kembali dengan Hanum agar tak perlu melakukan ini.
"Baik, Mas anterin Mama pulang dulu." ucap Adnan kemudian beranjak pergi.
__ADS_1
...........
Sudah setengah perjalanan menuju rumah Mamanya dan selama itu pula tak ada percakapan yang menemani keduanya.
"Adnan, Mama..." baru saja Bu Dian hendak membuka suara.
"Adnan capek Ma," potong Adnan yang sama sekali tak ada niatan untuk berbicara lebih lanjut dengan Mamanya, karena Adnan yakin yang akan dikatakan Mamanya pasti tidak akan jauh jauh dari masalah yang tadi. Mendengar penolakan anaknya secara langsung membuat Bu Dian langsung bungkam seketika.
Akhirnya setelah cukup lama sampailah Adnan dirumah Mamanya, tanpa berbicara sepatah kata pun dan karena Bu Dian yang juga sudah mengerti langsung turun begitu saja. Tak berselang lama setelah kaki Bu Dian baru saja menginjakkan kakinya di tanah mobil Adnan pun langsung melaju bahkan dengan kecepatan tinggi, Bu Dian hanya bisa menghela nafas kasar melihat kelakuan anaknya tersebut.
Tik....tik....tikkk.....tak berselang lama hujan pun turun membasahi jalanan Ibu Kota, hujan yang seakan akan turun turut ikut bersimpati atas kesedihan yang menimpa Hanum dan juga Adnan. Saat di perjalanan tak sengaja tatapan mata Adnan tertuju pada seorang pedagang kaki lima dipinggir jalan, ingatannya langsung tertuju pada Hanum yang pastinya akan langsung senang jika ia membawakan jajanan telur gulung kesukaannya.
Tanpa menunggu lama lagi Adnan pun langsung menepikan mobilnya tepat didepan penjual telur gulung tersebut.
"Mas telur gulungnya 30 ribu yah." ucap Adnan dibalik jendela mobilnya.
"Oke Mas, ditunggu yah." jawab penjual tersebut, Adnan pun hanya mengangguk tipis mengiyakan.
Setelah beberapa lama menunggu akhirnya pesanan Adnan datang juga, usai membayar telur gulungnya Adnan pun kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup kencang tak perduli walaupun hujan masih derasnya mengguyur jalanan Ibu Kota.
Setelah sampai dirumahnya Adnan pun langsung masuk begitu saja kedalam rumah dengan langkah terbiru burunya, pada awalnya tatapan mata Adnan tak sengaja melihat pintu kamar Vanessa rasanya ia hendak melihat keadaan Vanessa walaupun sebentar saja. Namun otak Adnan langsung kembali teringat dengan Hanum Istrinya, setelah beberapa saat berhenti Adnan pun langsung melangkahkan kakinya kembali menuju kamar Hanum.
Ceklekkkk.....
"Ha...Hanum?" kaget Adnan.
__ADS_1