
"Bapakk." Terkejut Bu Lastri.
Tiba tiba saja Pak Imam langsung duduk bersimpuh membuat Bu Lastri terkejut dan Hanum langsung menoleh ke belakang.
"Maafkan Bapak num." ucap Pak Imam tertunduk.
"Bapak, bangun Pak. Kenapa Bapak begini?" tanpa menunggu lama lagi Bu Lastri pun langsung berniat membantu suaminya untuk berdiri.
"Biarin Buk," jawab Pak Imam berusaha menepis tangan istrinya yang hendak membantunya tersebut.
"Bapak mohon num, tolong maafin Bapak." ucap Pak Imam lagi memohon.
Hanum membuang arah pandangannya mencoba mengatur nafasnya dengan baik agar emosinya sedikit mereda. Sekuat apapun ia mencoba untuk terlihat baik baik saja, namun pada akhirnya sisi rapuhnya akan terlihat juga. Bagaimana ia bisa tega membiarkan cinta pertamanya duduk bersimpuh memohon padanya?
Tanpa ba bi bu lagi Hanum pun langsung menghampiri Bapaknya dan memeluknya erat erat. Seketika kemarahannya langsung menguap begitu saja, tak ada lagi yang tersisa dari kemarahannya.
"Maafin Hanum pak, Hanum gak bermaksud buat bikin Bapak kayak gini." ucap Hanum yang membenamkan wajahnya didada Bapaknya tersebut.
"Bapak mengerti." jawab Pak Imam mengangguk anggukkan kepalanya, sekarang ia sudah tidak boleh egois. Kebahagiaan putrinya adalah yang utama diatas segala galanya, jika putrinya menginginkan perceraian maka ia akan mendukungnya seperti dahulu saat ia akan menjadi orang pertama yang akan menjadi batu pijakan untuk anaknya.
"Sekarang ayo kita ke Jakarta." ucap Pak Imam yang membuat Hanum langsung mendongakkan kepalanya. Begitu pun Bu Lastri dan Anton yang langsung memusatkan perhatiannya pada Pak Imam.
"Kita akan kerumah Pak Basuki." ucap Pak Imam lagi menganggukkan kepalanya dengan senyum yang menghiasi bibirnya. Mendengar ucapan Bapaknya membuat Hanum turut tersenyum dan langsung memeluk Bapaknya kembali.
Kini keempat empatnya telah berkumpul didepan rumah, mereka akan pergi bersama ke Jakarta.
"Eh tunggu sebentar, ada yang ketinggalan." ucap Pak Imam yang kemudian langsung masuk kembali ke dalam rumah.
"Apa yang ketinggalan Buk?" tanya Hanum pada Ibunya karena merasa penasaran.
"Nggak tau." jawab Bu Lastri mengendikan kedua bahunya.
Tak berselang lama Pak Imam pun kembali dengan membawa sebuah tas kecil berwarna hitam ditangannya.
"Itu apa pak?" tanya Hanum yang kembali penasaran.
"Bukan apa apa, ayo kita berangkat sekarang. Keburu tambah malam." jawab Pak Imam yang langsung berjalan mendahului ketiganya, Hanum dan Bu Lastri pun tampak saling berpandangan sebelum keduanya sama menggelengkan kepala dan mengendikan bahunya.
Mereka pun memulai perjalanan panjangnya untuk kembali ke Jakarta, terkadang mereka sesekali berhenti di warung pinggir jalan yang masih buka. Hanum yang merasa kasihan pada Anton pun beberapa kali menawarkan diri untuk bergantian dengannya, namun Anton dengan tegas menolaknya dan Anton berjanji jika sudah merasa lelah atau mengantuk ia akan menghentikan mobilnya dan beristirahat sejenak.
__ADS_1
....................
Disisi lain Adnan saat ini sudah kelimpungan untuk mencari keberadaan Hanum, bahkan ia juga sudah mengerahkan semua anak buahnya untuk ikut terjun langsung. Namun hingga detik ini ia belum juga mendapatkan kabar baik sesuai keinginannya.
Tuttt....tttuuuttt....tttuuuttt tiba tiba saja ponsel Adnan berdering. Ia yang sudah tau jika itu pasti bukan telepon dari Hanum hanya diam saja tanpa ada niatan untuk mendekati ponselnya yang tergeletak diatas meja.
Tak hanya sekali, ponselnya terus berdering tiada henti membuat Adnan merasa jengkel sendiri dan akhirnya ia pun mengambil ponselnya tersebut.
"Vanessa?" gumam Adnan membaca nama yang tertera dilayar ponselnya.
"Halo, Halo nan. Kamu kemana aja? kok nggak pulang pulang?" Vanessa yang langsung melontarkan segala pertanyaannya begitu Adnan mengangkat teleponnya, Adnan memijat mijat pangkal hidungnya untuk sekedar menghilangkan rasa pening dikepalanya akibat beban pikiran yang terlalu banyak untuknya.
"Aku sedang ada urusan, jangan ganggu aku dulu." jawab Adnan jujur apa adanya. Tanpa menunggu jawaban Vanessa lagi Adnan langsung memutuskan sambungan teleponnya begitu saja dan melemparkan ponselnya kembali keatas meja dengan kasar.
Brughh.....Adnan menghempaskan tubuhnya dengan kasar, hingga tatapan matanya langsung tertuju pada sebuah foto pernikahannya yang sangat besar terpajang tepat didepanya.
Sontak melihat itu saja kembali membuat otak Adnan memanas karena lagi lagi dan lagi ia kembali terus memikirkan keberadaan Hanum.
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?" batin Adnan yang tampak gelisah.
Detik demi detik berlalu berganti menit demi menit yang terus berubah menjadi jam, cobaan kantuknya malam tak membuat Adnan putus asa dan menyerah begitu saja.
Aaaaaaa.....teriak Adnan yang lagi dan lagi kembali merasa frustasi. Karena merasa tubuhnya yang telah lelah dan matanya yang mulai terasa berat, akhirnya Adnan memutuskan untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Berendam dengan air hangat untuk merileks kan kembali otonya yang terasa kencang karena semalaman terus duduk ditambah lagi dengan ia yang menggunakan celana jeans dengan bahan yang tebal membuat betisnya terasa sakit.
Butih waktu sekitar 30 menit bagi Adnan untuk melemaskan ototnya kembali, tak apalah ia membuang buang waktu kali ini. Begitu tubuhnya sudah segar kembali ia akan kembali mencari Hanum, bahkan hingga ke ujung dunia sekali pun.
.........
"Gimana kalau kita cari sarapan dulu?" tawar Anton pada semua penghuni mobilnya.
"Mas Anton udah laper yah?" tanya Hanum dengan tatapan yang tampak kecewa, pasalnya ia ingin sekali cepat sampai dirumah mantan mertuanya tersebut agar tujuannya untuk bercerai dengan Adnan lekas selesai.
Pak Imam yang dapat melihat tatapan kekecewaan pada Hanum dan tatapan penuh harap pada Anton pun tampak bingung.
"Ayo, ayo kita cari makan dulu. Bapak sama Ibu juga udah laper banget, iya kan Buk?" tanya Pak Imam menyenggol lengan Istrinya untuk meminta persetujuan.
"Eh, e i..iya Pak, Hanum pasti juga laper kan?" jawab Bu Lastri yang mengerti akan kode yang diberikan suaminya tersebut. Akhirnya Anton pun mencari tempat yang cocok untuk sarapan.
__ADS_1
"Ayo, kamu makan yang banyak. Butuh banyak tenaga num bagi wanita yang akan menghadapi proses perceraian." ucap Pak Imam yang menambah porsi nasi di piring Hanum yang tadi tampak diam tak bersemangat.
"Iya num, makan yang banyak dong. Butuh tenaga lebih loh buat menghadapi kenyataan yang makin ugal ugalan kayak gini." timpal Anton yang ikut menyahuti.
"Dengerin tuh num, banyak orang yang perduli sama kamu. Makanya kamunya jangan cuma fokus sama satu titik terus gak perduli sama orang orang di sekeliling kamu." sahut Bu Lastri yang ikut menambahkan lauk dipiring Hanum.
Melihat banyak orang yang masih perduli terhadapnya membuat Hanum kembali bersemangat untuk memperjuangkan keinginannya, padahal semalam Hanum pikir ia akan kehilangan semuanya jika Bapak Ibunya benar benar menerima uang mantan suaminya tersebut yang dalam pikirannya berarti Bapak Ibunya menukar dirinya dengan berhektar hektar sawah yang dimilikinya kini.
Usai dengan sarapan bersamanya, kini Hanum beserta rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Pak Basuki.
........
Adnan yang baru saja selesai mengenakan pakaiannya kini tiba tiba berfikir jika Hanum pulang ke desa.
"Apa mungkin?" gumam Adnan.
"Uang dari mana?" pikir Adnan.
"Apa jangan jangan Hanum jual perhiasan yang aku kasih?" terkejut Adnan dengan tebakannya sendiri, tanpa menunggu lama ia pun langsung berlari terbirit birit menuju mobilnya.
Brakkk....Adnan menutup pintu mobilnya dengan kencang dan langsung menyalakan mesin mobilnya. Bagaikan pemilik jalan raya, Adnan melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang dan bahkan akan mengklakson tanpa henti jika ada kendaraan didepanya yang tak kunjung memberinya jalan.
Kini sampailah rombongan keluarga Hanum didepan rumah Pak Basuki.
"Num." panggil Anton pada Hanum yang hendak turun, sontak Bu Lastri dan Pak Imam yang tadinya hendak turun juga kini mengurungkan niatnya.
"Iya Mas?" jawab Hanum yang langsung menoleh kearah Anton.
"Emmm sepertinya aku kali ini bantu kamu sampai disini dulu." kata Anton membuat Hanum tampak terkejut namun sejurus kemudian ia langsung mengerti.
"Oh iya Mas gak papa, terima kasih sebelumnya udah banyak bantuin aku." jawab Hanum dengan senyum simpulnya.
"Eh bukan gitu maksud aku." bantah Anton cepat.
"Emm aku nggak mau terlibat sama urusan keluarga kamu." kata Anton.
"Aku bakalan nyiapin taksi, jadi nanti kalau kamu udah selesai sama urusan kamu terus kamu naik taksi yang udah aku siapin yah." jelas Anton. Walaupun pada awalnya terkejut namun pada akhirnya Hanum hanya bisa tersenyum sembari mengucapkan kata terima kasih.
~Entah betapa bagusnya milik orang lain terlihat, semua memiliki kekurangan masing masing~
__ADS_1
^Reply 1988^