
"Hanum..." pekik Adnan yang langsung masuk kedalam kamarnya dengan langkah yang tergesa gesa.
"Ngapain kamu disini?" tanya Adnan dengan tatapan matanya tajam pada Vanessa.
"A...aku cuma mau nemenin Hanum nan." jawab Vanessa yang terkejut ketika Adnan bertanya dengannya namun dengan nada yang sangat jauh dari kata santai. Sementara tatapan mata Hanum langsung beralih pada suaminya yang selali tampan bahkan masih sama seperti saat pertama kali bertemu.
Flashback On~
"Dijodohkan?" kaget Hanum bahkan sampai tubuhnya terlonjak kaget, Adnan yang melihat keterkejutan Hanum hanya tersenyum tipis.
"Iya nak, kenalin ini namanya Adnan anak dari temen bapak." jawab Bu Lastri menimpali, memperkenalkan Adnan yang dirasanya bisa menjaga Hanum karena Pak Imam dan Pak Basuki adalah teman dekat yang mereka sama sama yakin untuk menjodohkan anak mereka masing masing.
"Ta...tapi pak, Hanum kan masih pengen kerja." tolak Hanum dengan mengutarakan keinginannya.
"Hanum," Pak Imam memegang pergelangan tangan Putrinya yang tampak gemetaran tersebut.
"Insya Allah Adnan akan mencukupi kebutuhan kamu, dia laki laki baik nak." lanjut Pak Imam memberikan pengertian perlahan lahan.
"Ta...tapi aku kan nggak kenal sama sekali Pak." lirih Hanum membuat semuanya terkecuali Adnan hanya tersenyum memaklumi kepolosan Hanum tersebut.
"Bapak nggak akan menikahkan kamu besok num, kalian bisa saling mengenal terlebih dahulu." jawab Pak Imam dengan senyum yang mengambang dari bibirnya.
"Benar Hanum, anak tante baik kok sebenarnya penyayang juga. Tapi ya gitu...mukanya kayak kanebo kering, kaku banget." seloroh Bu Dian yang mencoba mencairkan suasana membuat semua orang langsung tertawa kecuali Hanum yang hanya tersenyum tipis dan Adnan yang tampak tak perduli ketika semua orang tengah menertawakannya.
Singkat cerita semakin gari Hanum sedikit banyak semakin memahami sosok Adnan, walaupun wajahnya tampak kaku tapi dia baik pada orang tuanya sendiri maupun orang tua Hanum terlebih lagi Adnan juga sopan.
Namun Hanum juga menyadari jika Adnan memiliki kelainan seperti trauma atau karena tak tertarik pada wanita, pasalnya Adnan bukan seperti laki laki mata keranjang yang matanya selalu jelalatan melihat wanita bening sedikit. Terlebih lagi ia juga pernah mendengar dari Tante Dian jika Adnan hanya pernah berpacaran serius dengan satu orang saja, selebihnya Adnan tampak hanya main main saja.
"Apa kamu setuju dengan perjodohan ini?" tanya Hanum yang kini tengah duduk berdua dikursi kayu menikmati pemandangan pantai di sore hari.
"Jika aku sudah sejauh ini artinya aku setuju." jawab Adnan dengan nada datarnya seakan akan tidak ada intonasi bahagia maupun sedih, sehingga sangat sulit untuk mendeteksi perasaan Adnan saat ini.
__ADS_1
"Lalu apa kamu telah melupakannya?" tanya Hanum lagi membuat Adnan langsung menoleh kearahnya.
"Siapa?" tanya Adnan dengan kening berkerut.
"Aku tidak tau siapa dia, tapi Tante Dian pernah cerita kalau kamu hanya pernah serius menjalani hubungan dengan satu orang saja." jawab Hanum jujur apa adanya, tahu akan siapa yang dimaksud Hanum. Adnan pun kembali mengalihkan pandangannya kearah pantai dengan laut lepas sembari memikirkan matang matang suatu hal. Setelah cukup lama Adnan pun kembali menoleh kearah Hanum.
"Dengarkan aku," ucap Adnan sembari memandang wajah Hanum lekat lekat.
"Apapun yang pernah aku alami dimasa lalu, itu hanyalah bagian dari perjalanan hidupku. Dia yang kamu maksud hanyalah masa laluku, meskipun aku menerima perjodohan ini karena orang tuaku tapi aku berharap pernikahan ini akan berlangsung selamanya. Aku berjanji, aku akan berusaha sekuat semampuku untuk membuka hati ini untukmu." ucap Adnan sembari menggenggam tangan Hanum, tatapan matanya seolah olah mengatakan kesungguhan hatinya.
"Berjanjilah jika pernikahan kita nanti akan berlangsung selamanya, karena aku juga akan belajar mencintai kamu." balas Hanum tak kalah seriusnya.
"Aku janji." jawab Adnan cepat sembari mengangguk anggukkan kepalanya.
Flashback Off~
"Emmm, Van kamu bisa keluar sebentar? aku mau bicara berdua sama Hanum." ucap Adnan pada Vanessa. Walaupun awalnya Vanessa terkejut karena merasa terusir namun pada akhirnya ia hanya bisa mengangguk pasrah disertai dengan senyuman palsunya.
"Tidak ada apa apa Mas, Vanessa hanya terkejut karena pertengkaran tadi." jawab Hanum mencoba tetap tersenyum. Adnan hanya bisa menghela nafas lega, tadinya ia pikir Vanessa akan membuat sedih Hanum.
"Kenapa kamu bilang gitu sama Mama?" tanya Adnan yang langsung ingat dengan pokok pembicaraan, Hanum hanya bisa mengela nafas.
"Lalu aku harus bagaimana Mas?" lirih Hanum pada akhirnya mencoba menahan air mata yang hendak terjatuh. Adnan pun langsung memeluk tubuh Hanum, memberikan wanita itu kenyamanan.
"Anggap saja omongan Mama itu angin lalu, apapun yang terjadi nanti aku tidak akan perduli selama ada kamu disisiku." ucap Adnan mencoba menenangkan Hanum.
"Mama nggak akan tinggal diam Mas," balas Hanum cepat.
"A...aku takut Mas." lirih Hanum pada akhirnya menumpahkan segala tangisannya.
"Aku takut, bagaimana jika aku belum bisa hamil juga....hiks...hiks...hiks..." tangis Hanum pun pada akhirnya benar benar pecah setelah menahan semuanya sendirian.
__ADS_1
"Jangan takut, disini ada Mas. Mas akan selalu disamping kamu." jawab Adnan sembari mengelus elus punggung Hanum.
"Aku takut kamu berubah Mas, aku takut kamu akan menghianati aku. Bagaimana jika itu benar benar terjadi," ucap Hanum yang kembali mengingat beberapa hal yang sempat menimbulkan kecurigaannya.
"Hanum!!!" bentak Adnan yang langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Hanum seketika, sontak Hanum pun langsung terkejut.
"Kamu jangan bicara yang nggak nggak." ucap Adnan tegas sembari langsung berdiri dari posisi duduknya.
"M...mas a.." ucap Hanum terbata bata.
"Sebaiknya kamu istirahat saja, hilangkan semua pikiran burukmu." hardik Adnan yang pada akhirnya langsung memilih untuk keluar dari kamarnya.
Adnan yang sedang kacau pikirannya ditambah dirinya yang menjadi lebih sensitif dengan hal hal kecil pun langsung memilih keluar dari rumah, ia sadar jika ia baru saja menyakiti Hanum namun semua dilakukannya demi Hanum sendiri.
"Bagus, tanpa aku harus susah susah membuka jalan. Mertuaku sendirilah yang membuat jalan lebar lebar itu untukku." ucap Vanessa tersenyjm bahagia sembari melihat mobil Adnan yang kini kian menjauh dari halaman rumahnya.
.......
Brak......tak sengaja dua orang berlawanan jenis saling bertabrakan karena sama sama tak fokus dengan jalanan didepanya.
"Auhhh." ringis Anggi yang merasakan perih pada lututnya.
"Maaf, aku nggak sengaja." ucap Zidan sembari bangkit, ia pun langsung menoleh pada wanita yang tadi ditabraknya.
"Anggia?" kaget Zidan yang melihat wanita yang ditabraknya tadi ternyata adalah Anggia.
"Zidan?" pekik Anggia yang tak kalah kagetnya. Zidan yang baru tersadar akan situasi pun langsung berjongkok untuk menolong Anggia.
"Maaf, aku nggak sengaja." ucap Zidan minta maaf untuk ke sekian kalinya.
.......
__ADS_1
Cukup lama mengemudi, namun Adnan belum menemukan tempat yang cocok untuknya beristirahat sementara hari sudah menjelang malam. Sampai pada akhirnya tiba tiba Adnan langsung menuju ke tempat yang dirasanya sangat sesuai untuk menghilangkan segala keluh kesahnya.