
"Aku akan segera dapatkan buktinya." batin Adnan.
..........
"Ayo pa cepet." rengek Retha sembari menarik narik Papanya hingga Papapnya pun sedikit kewalahan menghadapi rengekan anaknya tersebut.
"Iya sayang, sebentar ya." pinta pak Tyo yang hanya dianggap angin lalu oleh Retha yang terus menerus menariknya.
"Papa.....aku mau yang itu, itu sama yang itu yah." pinta Retha menunjuk beberapa kue yang terpajang di etalase.
"Jangan banyak banyak, yang paling Retha mau aja." jawab Pak Tyo.
"Itu udah dipilih yang paling Retha pingin pa, aslinya Retha malah pingin semuanya lho." balas Retha tanpa menoleh sedikitpun karena tatapannya masih tertuju pada kue kue didepannya tersebut. Pak Tyo hanya tersenyum kewalahan menghadapi bantahan dari putrinya tersebut.
"Yaudah kalau gitu yang ditunjuk anak saya ya mbak." ucap Pak Tyo pada karyawan tersebut.
"Baik pak, mohon tunggu sebentar yah." balas pelayan tersebut dengan ramahnya, tak lupa dengan senyum yang harus selalu terjaga ketika melayani pelanggan.
"Yaudah kita duduk dulu disitu yuk." ajak Pak Tyo pada Retha.
Tak berselang lama kemudian Hanum pun datang dengan tergesa gesa, karena tadi ia terlalu lama menenangkan dirinya usai apa yang dilakukannya pada Vanessa.
Saking terburu burunya hampir saja Hanum terpeleset dengan kakinya sendiri.
"Tante Hanumm." teriak Retha yang kebetulan tak sengaja melihat wanita yang beberapa kali ditemuinya tersebut hendak terjatuh didepan matanya, Pak Tyo pun langsung menoleh kearah pandangan anaknya hingga tanpa disadarinya Retha telah turun dari kursinya dan berlari kearah wanita tersebut.
"Tante jalannya kok nggak hati hati sih? tadi hampir jatuh loh." cerocosan langsung meluncur dari bibir anak kecil tersebut membuat Hanum tersenyum mendengarnya.
"Iya, tante nggak hati hati tadi soalnya tante buru buru." balas Hanum.
"Permisi pak, ini pesanannya sudah siap." ucap seorang pelayan yang datang membawakan pesanan Pak Tyo. Pak Tyo yang tadinya fokus pada kedekatan anaknya dengan wanita yang beberapa kali ditemuinya tersebut pun tersentak kaget dengan kedatangan pelayan yang membawakan pesanannya.
"Eh, iya mbak maaf." ucap Pak Tyo.
"Sama siapa disini?" tanya Hanum.
"Papa." jawab Retha sambil menunjuk keberadaan Papanya yang tengah berbincang dengan seorang pelayan, Hanum pun mengikuti arah yang ditunjukkan Retha dan mengangguk mengerti.
"Retha suka kue?" tanya Hanum pada Retha.
__ADS_1
"Suka banget." jawab Retha penuh antusias membuat Hanum tersenyum mendengarnya.
"Paling suka kue apa?" tanya Hanum lagi.
"Red Velvet." jawab Retha penuh semangat.
"Gimana kalau besok tante buatin kue itu buat Retha." kata Hanum.
"Mau mau." langsung saja, tanpa menunggu lama Retha pun mau.
Ehmmm.....pak Tyo berdehem untuk memberitahukan pada keduanya jika ia telah berada disini.
"Ehhh." terkejut Hanum yang langsung menoleh kearah sumber suara.
"Maaf, ganggu yah." basa basi Pak Tyo.
"Oh nggak pak." ucap Hanum dengan refleksnya menggeleng gelengkan kepala.
"Papa udah selesai?" tanya Retha yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Pak Tyo.
"Pa, besok kesini lagi yah?" pinta Retha.
"Ada deh, pokoknya ya pah yah?" pinta Retha sembari memeluk kaki papanya dengan sayang.
Pak Tyo tampak malu karena anaknya tersebut melalukannya didepan seorang wanita, sementara Hanum tampak berusaha mengulum senyumannya. Ia tahu jika seorang anak melakukan hal tersebut itu berarti dia sayang pada orang tersebut, karena dulu ia juga kerap melakukan hal tersebut pada Bapaknya.
"Iya iya." akhirnya Pak Tyo mengalah dan mengiyakan saja.
"Kalau gitu kita pulang dulu ya tan." ucap Retha melambaikan tangannya pada Hanum.
"Hati hati yah." balas Hanum yang ikut melambaikan tangannya juga padahal keduanya masih berada diposisi sebelumnya, belum beranjak sedikitpun. Pak Tyo menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang dibalas dengan hal serupa oleh Hanum.
Pak Tyo dan Retha pun bergandengan tangan beranjak pergi, namun selang beberapa langkah Retha menoleh kebelakang dengan memberikan tanda "Ok" menggunakan jari telunjuk dan jempolnya menggunakan tangan kanannya sementara tangan kirinya digandeng oleh sang Papa.
"Ok." balas Hanum tanpa bersuara dan membalasnya dengan acungan jempol pula.
Hanum pun mulai bekerja kembali seperti biasanya, mulai dari ikut membuat kue hingga membereskan perkakas perkakas kotor yang telah selesai digunakan.
Waktu bergulir dengan begitu cepatnya, hingga tak terasa kini sudah waktunya untuk pulang.
__ADS_1
Tringgg...Hanum pun merogoh ponselnyanyang terletak disaku celananya.
"Anton." gumam Hanum dengan seuntai senyum yang menghiasi bibirnya, sudah kerap kali ia berkirim pesan atau bahkan bertelephone juga. Bahkan hubungan keduanya kini kiat dekat pula dan tak jarang Anton juga menjamput Hanum pulang kerja, sebenarnya Anton juga menawarkan diri sebagai tukang ojek Hanum pulang pergi. Namun Hanum menolak jika untuk berangkat kerja, terlalu merepotkan menurutnya.
"Sebentar lagi aku sampai." begitulah pesan yang dikirimkan Anton, Hanum hanya tersenyum dan mematikan ponselnya kembali.
"Kita pulang dulu yah." ucap teman teman kerja Hanum yang sudah akan pulang.
"Hati hati." jawab Hanum.
Kini tinggalah Hanum sendirian, menungguk kedatangan Anton sembari duduk dikursi yang kebetulan memang disediakan didepan toko kue ini. Untuk sedikit mengusir kegabutannya, Hanum pun mulai berselancar ke dunia maya.
Sekitar 10 menit kemudian terdengar deru mobil yang berhenti tepat didepan tokonya, Hanum pun lekas mematikan ponselnya karena sudah tahu jika itu pasti yang datang Anton.
"Udah lama ya? maaf yah tadi ada kerjaan dikit lagi soalnya tanggung." benar kan? Anton langsung menghampirinya dan bercerita akibat kedatangan terlambatnya.
"Iya nggak papa, tadinya aku malah mikir mau pulang sendiri loh." goda Hanum.
"Jangan dong, kan kita berangkatnya udah nggak barengan." ucap Anton mengikuti langkah kaki Hanum yang berjalan menuju mobilnya.
"Kamu udah makan belum?" tanya Hanum yang menahan tangannya yang hendak membuka pintu mobil.
"Belum." jawab Anton menggelengkan kepala.
"Kalau kerja juga harus inget makan, percuma aja banyak duit kalau perut sendiri kelaperan." ucap Hanum sebelum tubuhnya menghilang dibalik pintu mobil. Anton hanya tersenyum mendengarnya kemudian lekas mengitari mobil masuk kedalam bangku kemudi.
"Gimana hari ini?" tanya Anton saat keduanya sudah berada didalam mobol, Anton mulai menghidupkan mesin mobilnya.
Pertanyaan Anton malah mangingatkannya kembali kepada kejadian tadi siang, secara logis ia sebenarnya tak membenarkan sikapnya tadi. Vanessa saat ini tengah hamil jadi ia takut jika apa yang tadi dilakukannya malah akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang bayinya. Namun sisi lainnya juga berkata, tak apa sesekali membela diri agar orang lain tak meremehkan dirimu.
"Oh, baik baik aja. Kayak biasanya gitu lah." jawab Hanum tersenyum pada Anton.
"Oh iya, kamu lurus terus ada pertigaan belok kiri yah." ucap Hanum pada Anton.
"Mau kemana?" tanya Anton.
"Dositu ada bakso yang rasanya enaaak banget." jawab Hanum tersenyum hingga menampakkan deretan giginya.
~Kebanyakan dari kita tidak mensyukuri apa yang kita miliki, tapi menyesali apa yang belum kita capai~
__ADS_1