Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 121


__ADS_3

"Auh." ringis Rini yang merasakan panas pada pipinya akibat tamparan maut mantan suaminya tersebut sampai sampai tubuhnya tersungkur dan membentur meja.


"Jaga bicara kamu!" tunjuk Pak Tyo menatap marah wanita didepannya kini.


"Asal kamu tahu saja, Hanum beribu kali jauh lebih baik dari pada kamu!" bentak Pak Tyo menatap murka dan menunjuk nunjuk wajah Rini.


"Cih." desis Rini.


Tak sengaja ujung mata Rini melihat ada Vas bunga diatas mejanya, dengan menatap marah mantan suaminya tersebut Rini meraih Vas bunga tersebut dan.


Bughhh....


Pyarrr....


Entah keberuntungan untuk Rini atau kesialan untuk Tyo yang jelas Vas bunga tersebut mendarat dengan lancarnya mengenai pelipis Tyo.


"Aarrrgghhh." erang Tyo yang merasakan area pelipisnya terasa basah, benar saja saat Tyo menarik tangannya ada cairan berwarna merah ditelapak tangannya.


"Argghhh brengsek kamu Rin." murka Pak Tyo yang akhirnya langsung duduk bersimpuh karena merasakan pusing pada kepalanya.


"Maaf yo, aku nggak bermaksud seperti itu." lirih Rini.


"Arrgghhh."


"Ta tapi kamu keterlaluan yo, aku bener bener mau berubah demi Retha yo."


"Melihat Retha tidur bikin aku sedih dan menyadari semuanya yo, aku janji aku akan berubah jadi istri dan Mama yang baik buat Retha yo." jelas Rini panjang lebar.


"GILA! KAMU GILA RIN." teriak Pak Tyo yang yang masih berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya.


"Kamu jahat yo." ucap Rini menatap wajah suaminya dengan raut wajah tak percayanya. Rini pun langsung bangkit dan berjalan mendekat kearah ranjang Retha, menggendong dan membawanya keluar begitu saja saat Tyo tengah lengah.


Brakk....


Kaki Retha tak sengaja membentur pintu membuat Pak Tyo langsung menoleh ke belakang dan melihat Rini membawa anaknya keluar.


"Rin, Rini tunggu kamu mau bawa Retha kemana?." teriak Pak Tyo yang langsung berdiri dan mengejar Rini walaupun tertatih tatih.


.........


Sementara itu disisi lain......


"Eugh." lenguh Vanessa yang akhirnya tersadar dari pingsannya, dilihatnya langit langit dan sekelilingnya.


"Dimana ini?" lirih Vanessa yang berusaha untuk bangun dari posisi berbaringnya.


"Ibu sudah sadar?" tiba tiba saja seorang perawat datang dan masuk ke kamarnya.


"Saya kenapa ada disini?" tanya Vanessa sembari menggeleng geleng kepalanya untuk mengusir rasa pusinyanya.


"Tadi ibu mengalami kecelakaan dan dibawa kesini oleh beberapa orang." jawab Perawat tersebut.


Mendengar penjelasan dari perawat tersebut pun membuat Vanessa langsung mengingat kejadian yang menimpanya.


"Anton." gumam Vanessa yang tiba tiba mimik wajahnya langsung berubah disertai dengan matanya yang melotot.


"Hanum."

__ADS_1


"Brengsekk." umpat Vanessa yang langsung melepaskan begitu saja selang infus dari pergelangan tangannya dan turun dari ranjangnya.


"Buk, Ibuk mau kemana?" panik perawat tersebut, namun Vanessa malah mengingkirkan perawat tersebut dan melewatinya.


"Buk tunggu." Perawat tersebut pun langsung menahan tangan Vanessa dan menariknya hingga membuat Vanessa langsung berbalik kearahnya.


"Lepasin saya, temen saya sedang dalam bahaya." bentak Vanessa yang langsung menghempaskan dengan kasar tangan perawat tersebut dan mendorongnya hingga terjerembab diatas ranjangnya, Vanessa pun berlalu pergi dari rumah sakit ini.


.......


"Rini tunggu." teriak Pak Tyo yang masih berusaha keras mengejar mantan istrinya tersebut.


Rini yang mendengarkan pun menoleh sekejap untuk melihat jarak diantara keduanya tanpa disadarinya jika ia sudah memasuki jalan raya dan parahnya dari arah berlawanan sedang melaju kencang sebuah mobil berwarna putih.


"Riniiiiii." teriak Pak Tyo yang terkejut.


Brakkkkkk......


Benar saja tubuh Rini beserta Retha yang berada didalam gendongannya membentur body depan mobil tersebut sebelum akhirnya Retha terlepas dari gendongan Rini dan membuatnya terpental cukup jauh dari titik utama.


"Rethaaaa." teriak Pak Tyo yang posisinya masih berdiam diri karena saking syocknya, rasanya tubunhnya terpaku hingga tidak bisa digerakkan.


Sementara itu Rini yang berada diujung kesadarannya mencoba meraih Retha yang sudah bersimbah darah disampingnya, meskpipun keadaannya juga tidak jauh lebih baik namun ia berusaha memaksakannya sampai akhinya berhasil meraih tangan Retha.


"Ma...maafin Mama nak." lirihnya.


Buk...buk...buk....


"Retha....Rini." teriak Pak Tyo yang sedang berlari menuju kearahnya.


"Maafin aku yo." lirik Rini yang masih bisa melihat laki laki itu berlari kearahnya sebelum pada akhinya ia pun kehilangan kesadarannya.


.........


"Pak kita kerumah sakit jiwa x pak." ucap Vanessa pada supir taksi tersebut.


"Baik buk." jawab supir taksi.


Perjalanan yang ditempuh saat ini terasa jauh lebih lambat seakan akan taksi yang dikendarainya hanya diam ditempat.


"Pak cepetan yah pak." kata Vanessa pada sang supir.


"Ini udah cepet buk." balas si supir taksi tersebut.


Akhinya setelah cukup lama sampailah ia dirumah sakit jiwa dan Vanessa juga baru tersadar jika ia hanya membawa dirinya sendiri tanpa membawa tas atau apapun, pasti ada didalam mobilnya pikir Vanessa.


"Pak saya nggak punya duit, jadi saya bayar pakai ini aja ya pak." ucap Vanessa sembari mencopot gelang dari tangannya dan memberikannya pada supir taksi tersebut.


"Itu emas pak." kata Vanesaa yang kemudian langsung turun dari taksi dan bergegas masuk ke rumah sakit jiwa tersebut.


Tap...tap...tap...tap


"Buk bu Lastri." panggil Vanessa pada Ibu dari Hanum tersebit.


"Vanessa." terkejut Bu Lastri.


"Pak buk Hanum ada dalam bahaya, Pak Tyo ada kesini nggak?" tanya Vanesaa yang tampak panik.

__ADS_1


"Belum van, padahal ada hal penting yang mau Ibu katakan." balas Bu Lastri yang tiba tiba sorot matanya langsung berubah membuat Vanessa langsung penasaran dibuatnya.


"Ke kenapa buk?" tanya Vanessa hati hati.


"Tadi ibu waktu keluar sebentar nggak sengaja denger kalau perawat yang tadi ngerawat Hanum teleponan sama Anton, Ibu rasa mereka orang jahat." lirih Bu Lastri.


"Ibu yang tenang buk." lirih Pak Imam yang langsung mengelus elus bahu istrinya berusaha menenangkannya walaupun hatinya juga terkoyak.


"Apa?" terkejut Vanessa.


"Buk ibu percaya sama aku?" tanya Vanessa yang langsung memegang kedua pundak Bu Lastri dan menghadapkannya padanya.


"Buk aku tahu kalau aku wanita jahat yang telah menghancurkan rumah tangga Hanum buk." ucapnya.


"Tapi aku udah tobat buk, Ibu tolong percaya sama saya." Saya akan menyelamatkan Hanum sebisa saya buk." ucapnya lagi penuh keyakinan, Bu Lastri pun mengangguk meskipun tampak ragu ragu.


"Oke, sekarang kita harus bawa Hanum pergi dari sini." ucap Vanessa yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Bu Lastri dan Pak Tyo.


........


Disisi lain Pak Tyo tengah dalam perjalanan ke rumah sakit.


"Papa mohon Retha yang kuat ya, Retha harus kuat." kata Pak Tyo menyemangati putrinya sembari menggenggam tangannya.


Tak berselang lama akhirnya Pak Tyo dan ambulans sampai dirumah sakit, Rini dan Retha pun langsung mendapatkan penanganan.


Setelah meminta bantuan beberapa orang akhirnya Vanessa berhasil membawa Hanum keluar dan kini ia beserta orang tua Hanum berada di dalam mobil yang sudah diurus oleh seseorang sebelumnya.


"Pak Buk, tunggu sebentar saya hubungi Pak Tyo dulu." kata Vanessa yang pamit keluar dari mobil.


"Iya." jawab Pak Imam.


Ttuttt....ttuttt....ttuttt.....


Pak Tyo yang merasakan getar pada sakunya langsung merogoh ponselnya.


"Vanessa." gumam Pak Tyo yang kemudian langsung menggeser tombol hijau tersebut, pasti ada informasi dari Adnan pikirnya.


"Ya halo van." salam Pak Tyo.


"Pak, Bapak bisa bantu aku nggak?" tanya Vanessa.


"Maaf van, tapi aku nggak bisa. Anak saya kecelakaan dan sekarang masuk rumah sakit van." jawab Pak Tyo.


"Astaga." terkejut Vanessa.


"Kamu nggak papa kan van? maaf saya nggak bisa bantu kamu sekarang." sesal Pak Tyo.


"Nggak papa pak, kalau gitu bapak fokus aja sama Retha." balas Vanessa.


"Baik." jawab Pak Tyo.


Vanessa pun bergegas masuk kedalam mobil.


"Pak buk, kita harus bawa Hanum rehabilitasi ke luar negeri sekarang." ucap Vanessa membuat Pak Imam dan Bu Lastri terkejut.


~Jangan terlalu sering memikirkan hal hal buruk. Jiaka kamu terus memikirkan hal negatif, maka itu tidak akan ada akhinya. Itu akan membuatmu merasa berada didalam terowongan yang tidak memiliki akhir. Jadi, kuharap kamu banyak memikirkan hal baik.

__ADS_1


^Park Jimin^


__ADS_2