Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 106


__ADS_3

"Kondisi Bu Vanessa saat ini sudah membaik, tapi maaf kami terpaksa menggugurkan kandungan Bu Vanessa karena kondisinya yang tak memungkinkan." ucap Dokter tersebut yang sukses saja membuat Anton terkejut.


"A...apa?" tanya Anton memastikan seakan akan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


......


"Apa?" terkejut Vanessa saat mendengar perkataan dokter, pantas saja sejak ia sadar ia merasakan ada yang lain pada tubuhnya. Perutnya talah mengempis disertai dengan rasa sakit pada area perutnya.


"Kondisi kandungan Bu Vanessa sangat buruk akibat benturan dan hampir tidak ada kemungkinan untuknya bisa bertahan hidup sedangkan kondisi Bu Vanessa sendiri juga semakin memburuk sehingga kami harus bertindak cepat." jelas sang dokter tersebut.


"Tidakkk." teriak Vanessa.


"Anakku, hiks...hiks...hiks.." tiba tiba saja Vanessa pangsung menangis sembari memegang perutnya.


"Anakkuuu...." teriaknya lagi.


Gedebug...gedebug...gedebuk...tiba tiba saja Anton datang dengan berlari menerobos masuk kedalam ruangan rawat Vanessa.


"Vanessa, kamu nggak papa kan?" tanya Anton yang tampak sangat khawatir dan langsung menghampiri Vanessa.


Mendengar pertanyaan Anton yang terdengar konyol ditelinga Vanessa langsung membuatnya menoleh kearah Anton dengan tatapan tajamnya.


"Nggak papa?" tanya Vanessa dengan wajah tak percayanya.


"Gimana bisa aku nggak papa saat anak aku udah nggak adaa!" teriak Vanessa tapat didepan wajah Anton.


"Ini semua salah kamu, kamu yang udah bikin dia nggak adaaa."


"Kamu laki laki brengsek ton, kamu udah bunuh anak kamu sendiri. Anak kamu sendiri ton!" teriaknya lagi.


"Van aku beneran nggak sengaja, a...aku juga nggak bermaksud seperti ini. Aku juga nggak mau semua ini terjadi Van." ujar Anton mencoba mencari perlindungan diri.


"Lalu kemana aja kamu tadi?" tanya Vanessa yang langsung membiat mulut Anton terbungkam.


"Kamu brengsek ton, kamu laki laki brengsek." teriaknya lagi sebelum pada akhirnya ia kehilangan kesadarannya begitu dokter memberikan suntikan penenang, kondisi Vanessa saat ini belum stabil dan harus mendapatkan waktu istirahat yang cukup supaya kembali memiliki kekuatan, namun malah tambah berkurang kekuatannya karena terlalu banyak berteriak dan memaki maki.

__ADS_1


Anton berjalan lunglai keluar dari ruangan Vanessa, tujuannya kali ini adalah melihat untuk yang terakhir anaknya yang bahkan selama ini sama sekali tak pernah diperdulikannya.


Anton menatap sedih bayi yang masih sangat kecil namun sudah tak bernyawa lagi.


"Hiks, maaf...maaf aku telah gagal menjadi seorang ayah untukmu." ucap Anton dengan beribu ribu penyesalan yang menusuk hatinya.


"Aku bahkan tidak pantas disebut sebagai Ayah." lirihnya.


Anton pun langsung mengurus pemakaman untuk anaknya tersebut, namun sebelum itu Anton menguatkan tekadnya untuk menemui Vanessa kembali dengan menggendong jasad anaknya.


"Hiks...hiks...hiks." dengan tangan bergetar Vanessa mencoba meraih bayi merah yang selama ini tinggal didalam perutnya dari tangan Anton.


"Hiks...maafkan Mama nak, Mama gagal melindungi kamu." lirih Vanessa menatap iba bayinya yang bahkan tidak sempat menikmati keindahan dunia tersebut.


Hanya ada tangisan Vanessa yang mengisi ruangan tersebut, entah karena nalurinya pada anaknya atau apa yang membuat Anton langaung tersadar dengan semua kebodohannya.


"Andai saja aku tidak menampar Vanessa pasti ini semua tidak akan pernah terjadi."


"Bodoh! aku yang membuatnya hadir dan aku juga yang telah membuatnya harus mengakhiri hidupnya bahkan sebelum dia bisa menikmati indahnya dunia ini.


"Aku mohon sayangilah dia disisimu tuhan, hiks...hiks...hiks" hanya beribu ribu kata kata andailah yang berkeliaran diotak Anton, kata kata yang hanya bisa membuatnya semakin buruk.


..........


Hari demi hari telah berlalu, dunia ini rasanya sudah tidak indah lagi untuk sebagian orang. Bukan hanya sekedar tak indah melainkan dunia ini hanyalah neraka dalam takdir hidup mereka.


Menyesali dan menyalahkan takdir yang begitu kejam pada mereka, kenapa harus aku? kenapa tidak orang lain saja? seperti itulah kata kata yang lagi dan lagi menggema dihati Hanum.


Mencoba mencari letak keindahan danau buatan yang saat ini menjadi tempat wisata favorit masyarakat diperkotaan, kata orang orang danau buatan itu terlihat sangat indah dan tidak jauh berbeda dengan danau alami.


Tapi nyatanya dimata Hanum tak ada keindahan yang tersaji, hanya ada air biasa yang tampak tenang seolah olah takdir telah berlaku sangat baik pada dirinya.


"Aku tidak menyangka bisa bertemu kamu disini." ucap seseorang membuat Hanum langsung menoleh kearah sumber suara.


"Pak Tyo?" terkejut Hanum.

__ADS_1


"Boleh aku duduk?" tanya Pak Tyo.


"Silahkan." jawab Hanum yang langsung menggeser posisinya hingga mentok dipembatas kursi. Pak Tyo pun langsung mendaratkan bokongnya duduk disamping Hanum.


"Kenapa kamu bersedih?" tanya Pak Tyo langsung pada intunya, sebenarnya tadi ia sudah terlebih dahulu mengamati Hanum.


"Tidak, aku tidak apa apa." sanggah Hanum.


"Terkadang kita hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan keluh kesah kita." ucap Pak Tyo, benar saja dalam hati Hanum ia juga ingin bersuara menceritakan kepedihan yang dialaminya pada orang lain kecuali orang tuanya. Satu satunya teman yang ia miliki hanyalah Maya, namun sialnya Maya harus pulang kekampungnya karena adiknya tengah sakit dan pada akhirnya membuat Hanum memendam sendiri kesedihan yang dirasakannya.


"Aku merasa hanya sampah didunia ini." tiba tiba saja Hanum membuka suaranya dengan tatapan mata lurus kedepan, tentu saja Pak Tyo langsung menoleh kearah Hanum dengan hati yang lega karena setidaknya Hanum mau membuka suara dan berbagi dengannya.


"Aku kira menikah itu adalah tujuan hidup yang berakhir indah."


"Indah seperti dicerita cerita, difilm film."


"Awalnya kami menikah atas dasar perjodohan, banyak film yang menceritakan indahnya jatih cinta setelah menikah."


"Itulah yang dulu aku rasakan, rumah tangga kami pada akhirnya berjalan baik sebelum pada akhirnya mertuaku menyudutkanku karena belum bisa memberikan keturunan."


"Aku pikir cinta suamiku hanya untukku saja, meskipun ia telah memiliki istri lain."


"Bodoh, nyatanya semua laki laki sama saja." desis Hanum yang kembali mengingat sifat Anton dan Adnan yang tidak jauh berbeda.


"Kenapa aku harus dipertemukan kembali dengan laki laki seperti itu, menghancurkan hatiku kembali dan memhuatku takut setiap harinya. Bahkan rasanya aku sudah tidak sanggup lagi hidup seperti ini, saat ini aku masih bisa menahannya tapi bagaimana jika besok atau lusa aku benar benar mengakhiri hidupku." ucap Hanum dengan nada keputus asaannya.


"Tuhan memilihmu karena kamu perempuan kuat, kamu mampu melewati semua ini." ucap Pak Tyo membuka suara.


"Apa kamu pernah dengar jika janin janin yang keguguran itu adalah manusia yang ketika diperlihatkan perjalanan hidupnya didunia dia tidak sanggup, dan dia memilih untuk tidak terlahir.


"Dan kamu adalah wanita kuat, mungkin dulu saat tuhan bertanya apakah kamu sanggup menjalaninya kamu dengan lantang mengatakan sanggup."


"Dan terbukti sampai sekarang kamu menempuh perjalanan panjang ini, anggap saja ujian yang kamu hadapi saat ini sebagai batu kerikil yang menghalangi perjalanan panjangmu. Teruslah tampuh perjalanan itu hingga waktunya telah berakhir, apakah kamu tidak malu pada tuhanmu karena kamu dulu mengatakan sanggup dengan lantang?" ucap Pak Tyo.


~Semua perjalanan yang kamu alami membuat kamu semakin berkembang~

__ADS_1


^Jungkook^


__ADS_2