
Akhirnya Retha pun dengan telaten menyuapi Hanum yang tampak sangat luluh dengan gadis kecil tersebut, sementara Pak Tyo sendiri bertugas untuk menyuapi gadis kecilnya tersebut.
"Tante, tante harus makan yang banyak yah biar cepet sembuh biar cepet keluar dari sini." ucap Retha disela sela kegiatan menyuapi Hanum, Hanum sendiri tampak tak ambil pusing dengan ucapan Retha karena fokusnya kini hanya pada makanan yang sudah masuk didalam mulutnya.
Saat ia menunggu Hanum dan Retha diluaran tadi, dokter yang biasa menangani Hanum tiba tiba mendatanginya dan mengatakan jika ada bekas luka dikepa Hanum yang terbilang masih baru. Pikirannya terus menerus berkelana menebak nebak seseorang yang layak untuk dicurigai, sebenarnya ingin sekali rasanya Pak Tyo memegang kepala Hanum untuk melihat dengan mata kepalanya sendiri luka yang berada dikepala Hanum, namun tentu saja ia tak bisa melakukan hal itu karena Hanum sendiri justru ketakutan melihatnya.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya Vanessa dan Zidan sampai juga dirumah sakit tempat Hanum dirawat.
"Ayo cepet kak." ucap Zidan yang langsung turun dari mobil Vanessa dengan amat tidak sabaran.
Huhhhh......
Vanessa hanya bisa menghela nafasnya untuk menjaga kestabilan emosinya, dulu Vanessa pikir Zidan adalah sosok laki laki yang dewasa dilihat dari tatapan matanya yang selalu dingin dan tampak tak suka dengannya namun selalu ceria jika bersama dengan Adnan dan Hanum.
Salah, ternyata dugaannya selama ini salah, ternyata sikap Zidan tidak jauh berbeda dengan anak kecil yang keinginannya harus segera dituruti tanpa adanya sebuah penolakan.
Vanessa pun turun dari mobilnya yang sudah disambut dengan tubuh Zidan yang berdiri tepat didepan pintu mobil Vanessa.
"Astagaa." pekik Vanessa yang terkejut melihat Zidan yang berdiri tegak dan berkacak pinggang tepat didepannya.
"Ayo Kak, kita harus cepet ketemu sama Mbak Hanum." kata Zidan yang langsung menarik tangan kiri Vanessa dan menyeretnya masuk kedalam area rumah sakit.
Tttuuuuttttt.....ttttuuuuttttt.......ttttuuutttt
Baru saja ia memasuki rumah sakit tiba tiba saja ponsel Zidan berdering menandakan ada seseorang yang menghubunginya, Zidan pun langsung merogoh ponselnya dari dalam saku celananya tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Assalamu'alaikum, Halo." sapa Zidan pada seseorang diseberang sana setelah menggeser tombol berwarna hijaunya.
"......."
"Apaaa?" pekik Zidan yang spontan langsung menghentikan langkahnya begitu juga dengan Vanessa.
"......."
"Kok bisa?" tanya Zidan dengan kening berkerut namun dengan raut wajah yang tampak panik tersebut.
"......."
"Astaga." hela Zidan tak percaya sembari menepuk jidatnya.
"........."
"Oke oke aku pulang sekarang." ucap Zidan pada akhirnya.
"......."
"Iya." kata Zidan yang kemudian langsung mengakhiri panggilannya.
"Kenapa dan?" tanya Vanessa yang tampak penasaran setelah dari tadi terus memperhatikan Zidan.
"Emm Mama sakit kak, katanya kepalanya pusing." jawab Zidan cepat.
"Ohh." balas Vanessa sembari mengangguk anggukkan kepalanya.
"Apa jangan jangan karena habis berantem sama aku tadi yah?" batin Vanessa dengan sejuta pertanyaan diotaknya.
"Kalau gitu aku balik dulu yah kak, maaf aku nggak maksa dateng tapi aku malah harus pulang." kata Zidan yang merasa tidak enak hati karena telah membuat mantan Kakak iparnya tersebut malah repot karena keinginannya.
"Ohh nggak papa kok, nggak papa kalau gitu sebaiknya kamu pulang aja sekarang." jawab Vanessa yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Zidan yang kemudian langsung berlalu pergi meninggalkan Vanessa yang hanya seorang diri.
"Sial, tau gini ogah banget kesini enakan juga besok aja." kesal Vanessa sembari terus memandang kepergian Zidan yang semakin kian menjauh darinya.
"Eh btw, mantan mertua sakit apa yah?" gumam Vanessa.
"Apa jangan jangan darah tinggi abis berantem sama aku tadi?" tebak Vanessa.
"Ah bodo amat juga lah, biar cepet sadar juga dia mumpung masih bisa napas." ucap Vanessa sembari menggeleng gelengkan kepalanya.
Akhirnya karena sudah terlanjur berada disini, Vanessa pun sekalian menjenguk Hanum untuk memberikan kalung yang sudah diperbaikinya tersebut.
Tok....tokk...tookkk
Vanessa mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum membukanya, ia dikejutkan karena ternyata ada orang lain yang menjenguk Hanum selain dirinya. Walaupun merasa canggung, namun pada akhirnya Vanessa pun tetap melanjutkan niatnya untuk menjenguk Hanum.
"Emm permisi." sapa Vanessa sembari menundukkan kepalanya.
"Ahh iya." balas Pak Tyo yang langsung berdiri dari posisi duduknya semula.
__ADS_1
"Maaf kalau saya mengganggu anda." kata Vanessa yang tak enak hati.
"Aah nggak papa kok, lagian nggak ngganggu saya juga." jawab Pak Tyo.
"Retha sayang, kita keluar dulu yuk sebentar biar tantenya bisa bicara dulu sama tante Hanum." ajak Pak Tyo pada putri kecilnya tersebut.
"Tapi paa." tolak Retha yang merasa keberatan dengan ajakan Papanya.
"Ehh nggak usah, biar disini aja. Lagian saya juga cuma sebentar kok, nggak lama." sahut Vanessa yang sama sekali tidak merasa terganggu dengan kehadiran orang lain selain dirinya disini.
"Tuhh kan pa, kata tantenya nggak papa kok." balas Retha yang senang karena mendapatkan dukungan.
"Em maafin anak saya yah." ucap Pak Tyo yang merasa tak enak hati karena berfikir bahwa Vanessa tak sampai hati jika harus menyuruh Retha untuk keluar dari ruangan.
"Ehh nggak papa kok Pak, bapak nggak perlu minta maaf kayak gini." kata Vanessa yang semakin tak enak hatj.
Tak ingin memeperpanjang kata kata permintaan maaf, akhirnya Vanessa memilih untuk mendekat kearah Hanum dari sisi seberangnya.
"Hai Hanum." sapa Vanessa pada Hanum yang sejak tadi masih memeluk tangan kecil Retha yang seakan akan tak mau jauh dari anak kecil tersebut barang kali sejenak saja.
"Maaf yah num aku nggak bawa apa apa." kata Vanessa yang memang benar benar lupa untuk membelikan buah tangan karena Zidan yang sangat rewel tadi.
"Oh iya num, kamu tau nggak tadi aku kesini sama Zidan loh."
"Dia mau jengukin kamu." ucap Vanessa dengan senyum manisnya.
"Tapi sayangnya Zidan harus pulanh dulu num, Mamanya sakit katanya. Padahal aku baru aja tadi sore ketemu Mamanya." cerita singkat Vanessa.
Sementara itu Pak Tyo dan Retha hanya menyaksikan interaksi antara dua orang yang tidak saling mendapatkan imbal balik tersebut tanpa ada niatan untuk memotong atau menyela pembicaraan mereka.
"Oh iya num, aku bener bener minta maaf karena aku udah lancang dateng ke kos kosan kamu." ucap Vanessa lirik, tentu saja ucapan Vanessa barusan membuat Pak Tyo tampak terkejut. Namun sejurus kemudian tampak Pak Tyo yang langsung mengubah mimik wajahnya sehingga kembali normal seperti semula.
"Aku pikir waktu pertama kali jenguk kamu ada yang aneh dari kamu num, jadi aku fikir aku bakalan nemu jawaban itu kalau aku dateng ke kos kosan kamu." Vanessa mulai menyambung ceritanya lagi.
"Aku nggak nemuin apa apa dikamar kamu num, tapi waktu aku mau pulang aku nggak sengaja lihat kalung kamu jatuh dibawah meja." ucap Vanessa yang kemudian langsung mengambil kalung yang ia simpan didalam tasnya.
"Tadi kalung ini udah putus num, tapi udah aku perbaiki."
"Aku selalu lihat kalung ini kamu pakai num." kata Vanessa sembari menyodorkan kalung yang menggelantung ditangannya tersebut kepada Hanum.
Tampak Hanum yang perhatiannya teralih pada kalung tersebut, ia hanya memandangnya dalam diam seakan akan memperhatikan dengan seksama kalung tersebut. Namun seketika mimik wajah Hanum berubah menjadi terkejut dan takut.
"Aaaaaa." teriaknya lagi yang langsung menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya.
Melihat reaksi Hanum yang langsung ketakutan tersebut tentu saja membuat orang yang berada diruangan tersebut langsung terkejut sekaligus panik.
"Papaaaa, tante Hanum kenapa pa." adu Retha yang langsung turun dari kursi dan memeluk kaki Papanya.
"Aaaaaa aaaaaa aaaaaa hikkkssss, toloonggg pergiiii jangan ganggu aku lagiiii aaaaaaa." teriakan Hanum kini semakin menjadi jadi.
Pranngggg ........
Bahkan gelas yang berada didekatnyapun langsung Hanum lempar kesembarang arah.
"Papaaa." teriak Retha yang semakin ketakutan melihat Hanum yang semakin menjadi jadi.
"Papa panggil dokter dulu ya." kata Pak Tyo dengan panik yang kemudian langsung keluar dari ruangan tersebut.
Melihat Pak Tyo yang keluar Vanessa pun langsung mendekat kearah Retha dan memeluk anak kecil yang tengah ketakutan tersebut.
"Kamu tenang yah, tante ada disini." kata Vanessa yang mencoba menenangkan Retha.
"Aaaaaa hiksss" teriakan yang disertai dengan tangisan dari Hanum pun belum kunjung reda.
Brakkk....
Tap...tap...tap...tappp tak berselang lama Pak Tyo pun kembali bersama dengan dokter dan dua perawat.
"Dok tolong dok." kata Pak Tyo dengan paniknya.
Tanpa menjawab apapun lagi dokter tersebut pun langsung mengambil obat yang kemudian menyuntikanya, perawat pun sudah siap dengan posisinya masing masing dengan memegang tangan Hanum dikiri dan kanannya.
Dokter pun mendekat kearah Hanum dan menyuntjkkan obat tersebut, perlahan lahan tubuh Hanum pun melemas hingga akhirnya pingsan.
Perawat beserta pak Tyo pun langsung membantu merebahkan tubuh Hanum agar berbaring, dokter pun langsung mendekat unuk memeriksa kondisi Hanum.
"Kenapa Bu Hanum bisa seperti ini? belakangan ini kondisinya sudah lebih baik." tanya dokter tersebut setelah memeriksa tubuh Hanum.
__ADS_1
"Em tadi temannya Hanum berniat untuk mengembalikan kalung milik Hanum, namun Hanum kemudian malah berteriak dan seperti ini." jawab Pak Tyo menjelaskan.
Dokter yang tadi menyimak pun menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia sudah mengerti tentang kronologis yang terjadi.
"Mungkin kalung tersebut memiliki ingatan yang buruk untuk Bu Hanum hingga membuatnya langsung takut begitu melihat kalung tersebut, lain kali tolong jauhkan Bu Hanum dari hal hal seperti itu karena malah akan semakin memperburuk kondisi Bu Hanum." ucap Dokter tersebut mewanti wanti.
"Baik dok." jawab Pak Tyo menganggukkan kepalanya mengerti.
"Kalau begitu saya permisi dulu, tolong biarkan Bu Hanum beristirahat terlebih dahulu." ucap Dokter tersebut sebelum berlalu pergi meninggalkan ruangan Hanum.
Karena memiliki kesadaran masing masing Pak Tyo, Vanessa dan Retha pun juga keluar dari ruangan Hanum dan membiarkan Hanum beristirahat terlebih dahulu sesuai saran dari dokter tersebut.
Klekkk......
"Saya benar benar minta maaf karena kecerobohan saya malah membuat Hanum jadi seperti ini." ucap Vanessa dengan tulus karena merasa bersalah telah membuat kekacauan seperti ini.
"Tidak apa apa." jawab Pak Tyo yang merasa kesal tapi ia sadar bahwa ia juga tidak bisa menyalahkan Vanessa karena semua ini memang seratus persen tidak disengaja.
"Ngomong ngomong itu tadi kalung apa?" tanya Pak Tyo kemudian.
"Saya tidak tau persis, yang jelas saya selalu melihat Hanum memakai kalung tersebut saat dulu saya tinggal bersamanya." jawab Vanessa.
"Apakah dari orang tuanya atau dari mantan suaminya?" gumam Pak Tyo.
"Ngomong ngomong apakah Ibu dan Bapak Hanum sudah tahu tentang kabar Hanum?" tanya Vanessa yang langsung teringat saat Pak Tyo menyinggung orang tua Hanum.
"Emm saya belum memberikan kabar pada orang tua Hanum karena saya tidak tau dimana kampung Hanum." jawab Pak Tyo.
"Saya tahu." jawab Vanessa dengan penuh antusias, karena merasa kehadirannya bisa sedikit membantu Hanum. Ia benar benar sudah menyadari kesalahannya dan bersungguh sungguh ingin menebus dosanya pada Hanum, ia sama sekali tak perduli jika orang lain hanya menganggapnya munafik mengingat kesalahan besar yangs telah ia lakukan pada Hanum yang bahkan membuat rumah tangga tersebut akhirnga hancur.
"Tapi bagaimana kalau orang tuanya malah terkejut dengan kondisi Hanum yang sekarang?" ragu ragu Pak Tyo.
"Tentu saja orang tuanya akan sangat terkejut, tapi biar bagaimana pun juga orang tua Hanum tetap berhak tau bagaimana pun kondisi Hanum saat ini." jawab Vanessa.
"Benar." kata Pak Tyo menganggukkan kepalanya membenarkan.
"Paaa, Retha ngantuk." kata Retha yang mengalihkan fokus Pak Tyo.
"Hah, oh sayang udah ngantuk yah." jawab Pak Tyo yang langsung menoleh menghadap putrinya.
"Iya pa, ngantuk banget." rengek Retha dengan wajahnya yang terlihat sudah sangat mengantuk tersebut.
"Ya udah kalau gitu kita pulang dulu yah." ajak Pak Tyo.
"Kalau gitu saya dan anak saya pulang dulu, saya akan meminta penjagaan khusus untuk Hanum jadi anda juga bisa pulang." kata Pak Tyo pada Vanessa kemudian.
"Iya, saya juga mau pulang." jawab Vanessa menganggukkan kepalanya menyetujui.
Akhirnya Hanum dan Pak Tyo pun memutuskan untuk pulang, toh pihak rumah sakit juga akan menjaga Hanum dengan baik karena Pak Tyo sendiri menempatkan Hanum diruangan Vip yang dijamin penjagaannya.
"Paaa gendong." rengek Retha yang matanya sudah tidak sanggup terbuka lebar.
"Aaahhh anak Papa udah ngantuk banget yah ternyata." Pak Tyo pun langsung berjongkok dihadapan Retha hingga Retha pun langsung menjatuhkan tubuhnya dipunggung Papanya.
"Ayo sekarang kita pulanggg." ucap Pak Tyo.
Pak Tyo pun berjalan kearah mobilnya dengan menggendong Retha dipunggungnya.
.......
Selama diperjalanan pulang fokus Pak Tyo kembal terbelah karena mengingat Hanum kembali.
"Kenapa Hanum sampai begitu?" guman Pak Tyo.
"Sepertinya memang ada yang tidak beres." gumamnya dengan penuh keyakinan.
Ttuuttt....tttuuttt....ttutt
Tiba tiba saja ponsel milik Pak Tyo berdering, ia pun langsung merogoh ponselnya dari saku celannya.
"Rini?" gumam Pak Tyo membaca nama yang tertera dilayar ponselnya.
Ada apa lagi dengan mantan Istrinya tersebut?
Pak Tyo pun akhirnya menggeser tombol berwarna hijau tersebut.
"Halo, ada apa lagi?" tanya Pak Tyo langsung pada intinya tanpa ada niatan untuk berbasa basi.
__ADS_1
~Ada keindahan disetiap hal, hanya saja tidak semua orang dapat melihatnya~
^Park Jimin^