
Sontak saja tubuh Vanessa langsung terhuyung hingga tersungkur dilantai, dengan perasaan yang masih sangat marah Adnan pun langsung mencengkeram rahang Vanessa dan memaksa wanita itu untuk melihat kearahnya.
"Dengarkan baik baik, jangan pernah sekali lagi kamu menjelek jelekkan Hanum. Karena kamu sama sekali nggak ada lebih baiknya dibandingkan dengan Hanum." ucap Adnan dengan penuh penekanan sebelum kemudian menghempaskan dengan kasar hingga membuat Vanessa kembali naik pitam karena perlakuan kasar Adnan.
"Dia itu wanita mandul yang nggak akan pernah punya ajak sampai kapanpun." ucap Vanessa berapi api.
"Aku tidak perduli." sinis Adnan yang sama sekali tak goyah dengan ucapan Vanessa.
"Tapi bagaimana dengan Mamamu? ha? wanita tua itu buta akan yang namanya cucu." sinis Vanessa dengan tatapan mengejek seolah olah merendahkannya.
Benar saja, kata kata yang keluar dengan lancar dari bibir Vanessa barusan telah sukses membuat Adnan kembali naik pitam. Dengan nafas yang memburu Adnan langsung menarik kembali pergelangan tangan Vanessa.
"Auh, sakit nan. Kamu gila nan." teriak Vanessa sembari mencoba menahan berat tubuhnya agar tak terbawa arus tarikan tangan Adnan, namun sia sia apa yang dilakukan Vanessa karena nyatanya tarikan tangan Adnan memang jauh lebih kuat dari pada tenaganya.
"Nan, sakit nan." teriak Vanessa yang masih belum mau menyerah, namun bagi Adnan teriakan Vanessa tak ubahnya seperti angin lalu saja.
Brakk...untuk yang kedua kalinya Adnan kembali menghempaskan tubuh Vanesaa diatas ranjang.
"Auhh." ringis Vanessa sembari mengelus pergelangan tangannya yang sudah mulai memar.
"Lihat, akan aku perlihatkan perbedaan yang nyata antara kamu dan Hanum yang nggak bisa kamu bantah." ucap Adnan yang langsung menarik baju tipis yang dikenakan Vanessa.
Krekkkkk.......baju dibagian dada Vanessa ditarik dengan brutal oleh Adnan hingga membuat bagian dadanya terekspos dengan jelas.
"Adnannn!" teriak Vanessa sembari kedua tangannya berusaha menutupi bagian tubuhnya tersebut, membuat Adnan hanya berdecih menatap dengan sinis wanita didepannya tersebut.
"Gila, kamu sudah gila Adnan!" teriak Vanessa dengan lantangnya.
"Benar, kamu benar. Aku sudah gila, kamu penyebabnya wanita ******!" teriak Adnan membalas kata kata yang dilontarkan Vanessa.
__ADS_1
Tanpa ba bi bu lagi Adnan kembali melancarkan aksinya, dengan brutal dan tanpa ampun ia kembali meluciuti pakaian yang dikenakan oleh Vanessa, walaupun sedikit sulit karena Vanessa yang berusaha untuk memberontak. Namun tetap saja usaha yang dilakukan Vanessa tak sesuai dengan tenaga yang dimiliki Adnan.
"Hiks...hikss....hiksss." hanya tangisanlah yang dapat mewakili sakit dan remuknya hati Vanessa atas perlakuan yang diterimanya dari Adnan, tidak...tangisan Vanessa sama sekali tak menjadi halangan atau pun menyadarkan Adnan dari apa yang sedang dilakukannya saat ini.
Dengan bringasnya Adnan masih melanjutkan aksinya menanggalkan pakaian Vanessa, hingga akhirnya ia berhasil melakukan kegilaannya tersebut membuat tubuh Vanessa saat ini hanya berbalut pakaian dalam saja.
"Lihatlah, lihatlah perutmu itu." ucap Adnan sembari menatap tubuh Vanessa dengan nyalang.
"Itu sudah cukup untuk membuktikan jika kamu sama sekali tak bisa dibandingkan dengan wanita sebaik Hanum." ucap Adnan lagi dengan penuh penekanan.
"Hiks....hiks...hiksss." tak bisa apa apa lagi, apa lagi yang bisa dilakukan Vanessa selain menangis pilu meratapi nasibnya tersebut. Hinaan yang terlontar dari bibir Adnan seakan akan menjadi bensin yang disiramkan pada api yang membara, membuat tak hanya hati Vanessa yang remuk melainkan seluruh tubuhnya juga.
"Ingat itu!." tekan Adnan yang kemudian langsung berjalan meninggalkan Vanessa yang masih meringkuk memeluk tubuhnya sendiri.
Brakkkk......suara pintu yang ditutup oleh Adnan dengan kekuatan emosi tersebut menjadi penambah luka bagi Vanessa karena kini lengkap sudah perlakuan kasar yang diterimanya dari Adnan. Mulai dari kekerasan fisik, mental, mata bahkan sampai ke indera pendengaran sekalipun.
Adnan berjalan memuju kamar pribadi yang hanya boleh dimasuki oleh dua orang saja, yaitu dirinya dan Hanum.
Brakkkk.....
"Aaaaaaaa." teriak Adnan dengan penuh frustasi, ia mencengkeram kuat kuat rambut dikepalanya hingga membuat beberapa helai rambut gugur dari akarnya.
"Aaaa"...bugh....bugh...bughhh....beberapa kali Adnan memukul mukul tembok menggunakan kepalan tangannya, hingga membuat ada darah segar yang mengalir dari punggung jari Adnan. Seolah mati rasa, Adnan sama sekali tak memperdulikan rasa sakit yang tengah dirasakannya saat ini, baginya ini semua tidaklah ada apa apa nya jika dibandingnya dengan sikap Hanum padanya tadi.
"Hanummmm sayang, kumohon kembalilah." lirih Adnan dengan seluruh keputus asaannya.
"Kembalilah aku mohon, hiks...hikss...hiksss." akhirnya tangis yang selama ini dipendamnya pun pecah juga.
"Hiks...hiks...hikss." Adnan bagaikan orang yang sudah sangat putus asa dan tak tau lagi harus apa yang dilakukannya selain menangis.
__ADS_1
Setelah dirasa cukup untuk mencurahkan tangisannya,perlahan lahan Adnan mulai bangkit dari posisinya yang tadi duduk meringkuk. Membuka laci di meja rias Hanum yang sudah berbulan bulan ditinggalkan pemiliknya.
Dari laci tersebut Adnan mengeluarkan sesuatu yang kemudian dipegangnya erat erat.
.............
Hanum yang sudah selesai mandi pun melakukan rutinitasnya sebelum tidur, yaitu mengoleskan krim malam diwajahnya. Menatap pantulan dirinya dicermin, Hanum memandang lekat lekat wanita tersebut. Lambat laun pandangannya berubah menjadi prihatin, prihatin dengan apa yang menimpa wanita itu.
Lagi lagi perceraian yang dialaminya yang menjadi momok menakutkan difikirannya. Walaupun ia tampak biasa dan sudah menerima perceraian yang dialaminya, jujur didalam diri Hanum ia merasa teramat ketakutan. Ketahutan yang menghantuinya, apakah ia akan bisa melupakan kenangan menakutkan itu semua? akankah pernikahan yang akan dilakukannya nanti berakhir bahagia seperti yang selalu ia impikan?
"Apa maksud dari perkataan Mas Adnan tadi?" gumam Hanum.
"Mengapa dia mengatakan jika Mas Anton brengsek?" tanyanya lagi pada dirinya sendiri.
Jujur selama ia hidup berdampingan dengan Adnan selama ini, ia baru kali pertama tadi melihat Adnan dengan tatapan menakutkan ditambah lagi dengan kata kata kasar yang berkali kali terucap dari bibirnya.
"Apa pernikahannya dengan Vanessa tidak baik baik saja?" gumamnya lagi. Entah mengapa yang tadinya ia hanya memikirkan satu hal saja kini satu hal tersebut malah semakin merambah ke hal hal yang lainnya yanh sebenarnya sama sekali tak perlu ia pikirkan.
"Tidak Hanum, tidak tidak." ucap Hanum menggeleng gelengkan kepalanya sembari menepuk kedua pipinya.
"Jangan jadikan masa lalu sebagai hambatanmu melangkah kedepan."
"Jadikan pengalaman itu menjadi pembelajaran yang berharga dihidupmu kedepannya." ucap Hanum yang memberi motivasi untuk dirinya sendiri.
"Kamu sudah memutuskan untuk menikah dengan Mas Anton.
"Bertanggungjawablah dengan keputusan yang telah kamu buat.
"Yakinlah jika Mas Anton tidak seperti Mas Adnan."
__ADS_1
"Dia laki laki baik, laki laki yang akan menuntunmu meniti kehidupan bersama." ucap Hanum pada dirinya sendiri.
~Cobalah konsisten dalam menjalankan usaha yang kamu jalani sampai apa yang kamu inginkan bisa kamu dapatkan~