Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 46


__ADS_3

"Ya ampun Bibik, kenapa malah memberikannya padaku?" tanya Anton yang sama sekali tak habis pikir, ia bahkan mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.


"Eh, maaf tuan." ucap Bi Inah yang baru menyadari kesalahannya dan lekas menarik kembali baju yang tadinya ia sodorkan pada majikannya tersebut.


"Bibik lupa tuan." cicit Bi Inah menundukkan kepalanya.


"Tidak apa apa nik," balas Anton.


"Ya sudah kalau begitu Anton bikin kompresan dulu buat Hanum." ucap Anton kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya tersebut.


Ceklek....tak lupa juga Anton menutup kembali pintunya, sejenak Adnan berdiri didepan pintu kamarnya.


"Huh....Bi Inah ini ada ada saja." desis Anton yang masih tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Bi Inah tadi. Anton pun lekas melangkahkan kakinya dengan tujuan dapur, ia berniat untuk merebus air sejenak yang nantinya akan ia gunakan untuk mengompres Hanum.


Lima menit telah berlalu, kini Anton berjalan kembali menuju kamarnya dengan membawa seember air hangat tak lupa dengan selembar kain pasangannya.


Ceklek.....tiba tiba saja pintu kamarnya dibuka dari dalam dan menampakkan sosok Bi Inah yang hendak keluar dari kamarnya.


"Eh Tuan." kaget Bi Inah yang melihat tuannya berdiri tepat didepan pintu dengan membawa seember air dan juga kain yang disampirkan .di pundaknya.


"Udah selesai bik?" tanya Anton pada Bi Inah tanpa memperdulikan keterkejutan Bi Inah barusan.


"Sudah tuan." jawab Bi Inah kemudian.


"Makasih bik," balas Anton.


"Oh ya, jangan lupa pakaian Hanum dicuci sekalian biar besok bisa dipakai Hanum pulang lagi." lanjut Anton yang untung saja langsung ingat bagaimana kelanjutan dari pakaian Hanum.


"Baik tuan, kalau begitu saya pamit dulu." jawab Bi Inah sekalian meminta izin dengan sopan.

__ADS_1


"Baik bik, silahkan." balas Anton kemudian menyingkirkan tubuhnya memberi jalan untuk Bi Inah lewat.


.............


Ceklekkk.....Anton menutup pintu dengan aman pelan karena tidak ingin menimbulkan suara yang dapat mengganggu Hanum.


Perlahan lahan Anton meletakkan ember yang dibawanya keatas nakas kemudian duduk ditepi ranjang disamping Hanum.


Anton meletakkan kain yang sudah direndamnya dengan air hangat keatas dahi Hanum, selepasnya mata Anton tak bisa lepas dari pesona bibir berisi Hanum. Bibir yang sangat cantik menurutnya, terlebih lagi karena ia tak begitu suka dengan type bibir tipis.


"Kenapa kamu kehujanan sendirian?" tanya Anton pada Hanum yang Tengah tertidur, semakin lama Anton semakin tergoda dengan bibir Hanum. Perlahan lahan tanpa sadar ia memajukan wajahnya hingga pada akhirnya bibir Anton bertemu dengan bibie Hanum, tak ada perbuatan lebih karena Anton hanya mengecup bibir Hanum namum dengan durasi yang cukup lama.


Tiba tiba Anton menaruh wajahnya menjauhi wajah Hanum saat tiba tiba ia tersadar akan sesuatu.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud kurang ajar padamu." ucap Anton yang merasa sangat bersalah dengan apa yang ia lakukan barusan.


Anton pun langsung bangkit dan berdiri dari posisi duduknya kemudian berjalan dengan gagah hendak keluar dari kamarnya, namun langkah kakinya terhenti ketika hanya bahkan baru memegang handle pintu.


"Bi Inah pasti sudah sangat lelah." gumamnya lagi karena ia tersadar jika tak mungkin ia meminta bantuan dari Bi Inah lagi mengingat hari juga sudah semakin malam, sudah hampir mendekati jam tidur Bi Inah juga.


Hah....Anton menghela nafas panjang sebelum. Pada akhirnya ia kembali melangkahkan kakinya menurun niatnya untuk keluar dari kamarnya. Anton memilih untuk duduk di sofa sembari memperhatikan Hanum dengan seksama, entah mengapa ia malah melihat ada kesedihan dari wajah Hanum. Tiba tiba pada pikirannya kembali melayang saat melihat Hanum yang tadinya meringkuk kedinginan di bawah pohon besar, tadinya ia berniat untuk menjenguk temannya yang saat ini dikabarkan tengah berada dirumah sakit. Namun karena ada hal lain yang harus dilakukannya membuatnya harus mengurungkan diatnya tersebut.


Anton langsung terkejut saat menyadari jika pakaian yang dikenakannya saat ini juga dalam keadaan basah, ia pun langsung bergegas untuk menuju kearah lemarinya dan mengambil nenera0a potong pakaian dan membawanya masuk kedalam kamar mandi.


"M..Mas, aku takut." gumam Hanum yang masih bisa terdengar dengar jelas jika seharusnya tadi Anton tak memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.


"M...Mas to...long." gumamnya lagi kemudian tanpa ia duga ia langsung bNgun begitu saja dadi tidurnya.


"A. aku dimana ini?" gumam Hanum sembari menggeleng gelengkan kepalanya beberapa kali.

__ADS_1


Pandangan mata Hanum mengitari seluruh isi dari ruangan ini himgga pada akhirnya tatapannya langsung tertuju pada sebuah foto yang berdiri diatas nakas. Terlihat dengan jelas seorang siswa laki laki yang berumur sekitar 5 tahunan tengah duduk diatas sedel sepeda dengan mulut yang terus asyik mengunyah makanannya dan disampingnya lagi ada sebuah foto seorang anak laki laki yang terlihat beranjak dewasa duduk dikursi kayu panjang dengan sebuah buku yang diletakkan dipamgkuannya tersebut.


"M.. Mas Anton." gumam Hanum yang langsung menyadari dan teringat jika memang benar tadi Anton lah yang tengah membantunnya.


"Lalu dimana Anton sekarang? ini pasti kamarnya lalu dia akan tidur dimana?" tanya Hanum dalam hatinya.


Perlahan lahan Hanum menurunkan kakinya dari atas tempat tidurnya, dengan tertatih tatih ia berjalan menuju kamar mandi. Stelah berada tepat didepan kamar mandi Hanum tampak ragu ragu ingin masuk kedalam nya.


"Oh ****...kenapa pakai jatuh segala lagi kaosnya." umpat Anton yang kedal karena kecerobohannya sendiri.


Cekelkkk....dengan gerakan yang sedikit kasar dari dalam Anton membuka pintu tersebut.


"ASTAGAH!!!" panik Hanum yang langsung terkejut saat jarah antaranya berdiri dengan pintu tak jauh dari sekitar 50 cm saja.


"Hiaaaaa!!!" Anton pun tak kalah terkejutnya dengan Hanum, bagaimana bisa Hanum ada sini? sejak kapan ia sadar? ahhh....secara spontan pun tangannya langsung menyilang didepan dadanya. Pasalnya saat ini Anton hanya mengenakan sebuah handuk berwarna putih yang melilit dipingganya tersebut karena kaos yang tadi akan digunakannya untuk berganti kini telah basah didalam sana.


"Akhhhh." pekik Hanum lagi.


"Kamu kenapa? apa ada yang terluka? ayo kita kerumah sakit." tanya Anton bertubi tubi dengan raut wajah cemas yang menghiasinya wajahnya hingga tak sedap dipandang tersebut.


"Kenapa kamu tidak memakai baju?" pekik Hanum yang langsung mengalihkan tatapan matanya kearah lain. Karena rasa malunya yang telah menambah kekuatannya Anton pun langsung kembali menenggelamkan tubuhnya kedalam kamarnya lagi dan menutup pintunya dengan cepat, Hanum pun hingga diam tak berkutik apapun dengan apa yang barusan terjadi didepanya tersebut.


"Num." panggil Anton dengan suara kecilnya dengan tubuh yang berdiri di belakang pintu dan hanya menampilkan kepalanya saja.


"Kenapa Mas?" tanya Hanum mendekat lebih dekat dengan pintu kamar mandinya.


"Tolong ambilin aku kaos dilemari." titah Anton dengan sekali tarikan nafas, Hanum pun berjalan kerah lemari dengan tertatih dan membuka lemari yang hanya ada satu buah tersebut. Hanum terus menerus mencari keberadaan kaos yang dirasanya cukup tebal untuk menghangatkan suhu tubuh Anton tersebut.


"Ini bagus kali yah." gumam Hanum dengan membawa sebuah kaos berwarna Navy tersebut. Sementara Anton masih terus memperhatikan gerak gerik Hanum.

__ADS_1


"Hanum awasssss." teriak Anton.


__ADS_2