Purnama Yang Terbelah

Purnama Yang Terbelah
Bab 61


__ADS_3

"Mas ngapain keluar dari kamar Vanessa?" tanya Hanum penuh selidik, ia sama sekali tak habis pikir mengapa Suaminya bisa keluar dari sana.


"Eh...Ha...Hanum, aku lagi ada urusan sama Vanessa buat kontrol ke dokter kandungannya. Buat periksa aja kan kemarin Vanessa abis jatuh." ucap Adnan, namun kini tatapan fokus Hanum hanya pada pintu kamar Vanessa seakan akan ingin melihat ada apa dibalik sana. Dengan sekali hentakan Hanum langsung menyingkirkan Adnan dan membuka pintu kamar tersebut.


Ceklekk...... hanya ada Vanessa yang tampak sedang barbaring, Hanum pun melangkahkan kakinya masuk lebih dalam lagi ke kamar tersebut.


"Em Sayang ada apa? kenapa nyariin aku?" tanya Adnan dari belakang Hanum berusaha untuk menghentikan langkah kaki wanita itu, namum Hanum sama sekali tak perduli. Langkah kakinya semakin mendekat kearah Vanessa yang tampak tegang tersebut, namun tatapan mata Hanum menelisik ke setiap sudut kamar Vanessa.


"Kamu sakit?" tanya Hanum begitu sampai disamping Vanessa, ia pun langsung mengulurkan tangannya mengecek suhu tubuh Vanessa.


"Nggak panas." gumam Hanum.


"E...emang aku nggak panas num, kan tadi Adnan udah bilang kalau kita cuma mau diskusiin kapan aku kontrol kandungan aku." jawab Vanessa dengan senyum kaku yang terbit diwajahnya.


"Kenapa kamu malah berbaring?" tanya Hanum cepat membuat Vanessa langsung gelagapan. Begitu pula Adnan yang ikutan bingung mencari jawaban.


"Emm kan Vanessa lagi hamil sayang, jadinya musti banyak banyakin istirahat gitu kan nggak boleh kecapean." sahut Adnan dengan senyumnya berharap Hanum akan percaya begitu saja padanya.


"Eh i...iya num jadi kalau hamil tuh mesti banyak banyak istirahat gak boleh kecapean, suatu saat kamu bakalan ngerti kok kalau sudah hamil." timpal Vanessa ikut menyahuti ucapan Adnan.


"Oh iya, emangnya ada apa kamu nyariin aku?" tanya Adnan berusaha untuk mengalihkan fokus Istrinya tersebut.


"Emmm tadi Mama telepon Mas dan katanya malam ini kita musti kumpul kumpul bareng." jawab Hanum kemudian.


"Oh...oke oke, kalau gitu nanti kita berdua mesti siap siap bawa apa yah kira kira? gimana kalau buah buat Papa." kata Adnan yang kemudian tampak berfikir buah tangan apa yang akan dibawanya nanti.


"Bukan kita berdua Mas." tolak Hanum membenarkan.


"Terus?" tanya Adnan yang heran.


"Kita bertiga." jawab Hanum yang kemudian langsung menoleh kearah Vanessa yang kemudian diikuti oleh Adnan, Vanessa yang ditatap oleh dua orang tersebut pun tampak heran.


"Vanessa?" tanya Adnan.


"Aku?" tanya Vanessa menunjuk dirinya sendiri heran.

__ADS_1


"Iya, Mama mau kita semua kumpul." jawab Hanum membenarkan.


...............


Disisi lain Anton tampak termenung didalam ruanganya, bagaimana bisa Adnan yang tampak cuek tak tersentuh itu bisa memiliki 2 Istri.


"Huh....sungguh player." batin Anton.


"Gimana hubungan ketiganya?" Anton bertanya tanya sendiri.


"Apakah ketiganya hidup rukun?" tanyanya lagi.


"Hah...mana mungkin mereka hidup rukun, dilihat lihat tadi Vanessa dan Hanum juga tidak terlihat akrab tapi juga nggak terlihat dekat." Anton dengan cepat menggeleng gelengkan kepalanya.


Tok....tok....tok....tiba tiba saja terdengar suara pintu ruangannya yang diketuk oleh seseorang.


"Masuk." kata Anton mempersilahkan, ia pun mengubah gaya duduknya menjadi tegap berwibawa.


"Maaf pak, saya mau mengantarkan berkas berkas yang bapak minta kemarin." masuklah seorang laki laki dari devisi keuangan yang sudah kerap Anton panggil karena ia mempercayainya.


"Kalau begitu saya permisi dulu pak." ucap laki laki tersebut yang hendak pamit undur diri.


"Eh...tunggu, tunggu dulu." ucap Anton dengan cepat membuat laki laki tersebut pun menghentikan langkahnya dan berbalik arah.


"Iya pak, ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya laki laki tersebut yang mengira atasannya tersebut membutuhkan bantuan lain darinya.


"Emmm duduk dulu." kata Anton mempersilahkan, walaupun heran dan bingung tapi laki laki tersebut pun tetap mengikuti kemauan atasannya tersebut.


"Apa menurut kamu tentang laki laki yang berpoligami?" tanya Anton cepat langsung pada intinya.


"Apaa?" pekik laki laki yang bernama Toni tersebut.


"Jangan pak, jangan." kata Toni yang langsung mengibas ibaskan tangannya didepan dadanya seakan akan menolak.


"Poligami itu berat Pak, kalau bisa adil sih oke oke aja." ucap Toni lagi.

__ADS_1


"Tapi kebanyakan nggak berhasil pak karena laki laki tersebut cenderung perhatian dan memilih wanita yang paling disukainya saja." lanjut Toni tanpa jeda.


"Yang ada malah bakalan nimbulin rasa iri dari salah satu pihak wanita yang merasa tersisihkan pak."


"Lagi pula enakan sehidup semati sama wanita yang benar benar kita cintai pak." sahut Toni lagi, mulutnya sudah seperti mobil dengan rem yang sudah blong.


"Oke, makasih sekarang kamu silahkan keluar." potong Anton cepat karena sudah cukup mendengar pendapat Toni.


"Sebelum nikah, sebaiknya bapak buat diri bapak jatuh sejatuh jatuhnya sama wanita itu pak buat meminimalisir kalau bapak nggak akan nikah lagi. Kalau udah mulai tertarik sama lawan jenis sebaiknya bapak inget inget aja lagi gimana perjuang bapak buat dapetin istri bapak tersebut." sambung Toni lagi yang masih belum berhenti.


"Makasih Toni, sekarang kamu saya persilahkan keluar." ucap Anton dengan tegas sembari menunjuk kearah pintu berharap Toni segera menuruti perintahnya.


"Baik pak, ingat kata kata saya tadi pak." ucap Toni lagi sebelum keluar yang hanya diangguki anggukan kepala oleh Anton.


Selepas kepergian Toni pikiran Anton entah kenapa langsung tertuju pada sosok Hanum, kenapa harus terjadi pada wanita itu? batinnya.


"Sepertinya aku harus mengajak Hanum bertemu lain kali." gumam Anton yang mengingat ada hal yang belum sempat dikatakan oleh Hanum.


.........


"Kamu udah siap sayang?" tanya Adnan pada Hanum yang saat ini tengah menggunakan dress selutut dengan warna navy yang membuatnya tampak bersinar.


"Udah Mas, ayo." jawab Hanum dengan sedikit senyum yang ia terbitkan dari bibirnya, Adnan yang merasakan ada perubahan dari Hanum hanya berusaha untuk menepisnya dan tak terlalu perduli.


Hanum dan Adnan pun berjalan beriringan menuruni anak tangga, sedangkan di bawah sana Vanessa sudah berdiri menunggu kedatangan keduanya.


Tak ada kata kata yang terucap dari bibir Hanum dan Adnan, keduanya berjalan melewati Vanessa begitu saja. Walaupun geram namun Vanessa berusaha menepisnya.


"Kalian sungguh sungguh keterlaluan." batin Vanessa mengepalkan tangannya kuat kuat.


Ketiganya pun berjalan kearah mobil Adnan, dengan cepat Adnan langsung membuka pintu mobil bagian belakangnya membuat Hanum dan Vanessa tampak heran dengan apa yang dilakukan laki laki itu.


"Van, kamu naik dulu takutnya kamu malah kelamaan berdiri lagi. Tadi kan kamu udah berdiri nungguin kita." ucap Adnan mempersilahkan Vanessa untuk masuk. Dengan ragu ragu namun pada akhirnya Vanessa masuk juga.


"Kasihan kalau kelamaan berdiri, kandungannya itu loh." ucap Adnan sembari mengelus pipi Hanum berharap wanitanya tidak cemburu. Kemudian Adnan pun juga membuka pintu untuk Istrinya tersebut dan Hanum pun juga langsung masuk.

__ADS_1


~Jangan biarkan orang lain mengendalikan hidupmu~


__ADS_2