
El pueblo de los Angeles adalah salah satu distrik bersejatah yang terletak di bagian tertua dari kota tersebut.

Di pagi hari yang cerah ini tepatnya di mansion keluarga vonderetry 4 keluarga besar itu sedang berkumpul bersama membicarakan mengenai langkah berikutnya untuk menemukan putri mereka yang hilang 11 tahun yang lalu.
Selama 3 tahun ini mereka masih saja terus mencari dan melacak sinyal dari gelang tersebut namun nihil tidak ada yang bisa mereka temukan, 3 tahun ini juga kondisi bunda melan semakin menurun, tubuh bunda melan begitu kurus dan tidak terawat. Ia sama sekali tidak mau menyentuh makannya jika bukan bukan permintaan dari kedua putranya itu.
Awalnya kondisi bunda melan sudah begitu membaik namun karena keadaan yang membuatnya begitu banyak berpikir mengakibatkan hal seperti ini lagi, rasa rindunya pada sang putri sangatlah besar, sampai kini dalam benaknya masih teringat jelas tangis pertama yang ia dengar ketika putrinya itu lahir kedunia ini membawa senyum bahagia di wajah seluru anggota keluarganya terutama di wajah suami dan kedua putranya itu.
Kini kedua putranya itu khususnya gion yang sedang mendorong kursi roda itu dan di sampingnya ada dion yang berjalan seirama dengan langkah kaki bocah di sampingnya itu, sekarang mereka berencana ingin mwngajak bundanya keluar mencari angin segar ke salah satu distrik bersejarah di kota tersebut, mereka mendegar bahwa distrik tersebut sangatlah indah dan di penuhi dengan situssejarah kota LA, terutama mereka tahu jika sang bunda dulunya sangat menyukai pelajsran sejarah, mungkin dengan membawa bundanya kesana bisa mengobati rasa yang ada di hatinya.
"Kami pergi dulu"
Sekarang mereka melangkah keluar ruangan dimana banyak keluarga yang sedang berkumpul, setelah pamit pada mereka semua dan mendapat persetujuan dari semuanya.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke tempat bersejarah itu, sekarang mereka memilih untuk berjalan-jalan sebentar di sekitar distrik tersebut guna memanjakan mata karena keindahan yang ada disana yang penuh dengan sejarah kota LA, sang bunda hanya diam diatas kursi roda dengan tatapan kosong kedepan.
Setelah sekian lama mereka berkeliling akhirnya mereka memilih untuk duduk di salah satu bangku yang ada di sana, guna untuk sekedar beristirahat sejenak.
"Bunda gio ke toilet dulu yah, bunda disini bareng abang yah bun, gio cuma bentar kok bun" ucap gio lalu meninggalkan sang bunda bersama dion abangnya
Setelah gion pergi, disana hanya ada kesunyian karena dion sendiri adalah tipe anak yang dingin tidak seperti gio kembarannya yang memiliki sifat hangat seperti sang bunda, dion menuruni sifat ayahnya lukas, yang begitu dingin dan tidak tersentuh kecuali pada orang terdekatnya saja.
"Dd...diion" Ucap sang bunda dengan lirih yang membuat anak laki-laki itu langsung menatap hangat pada sang bunda, baru kali ini bundanya memanggil namanya lagi sejak 3 tahun yang lalu
"Iya bunda, apa bunda mau sesuatu biar dio cariin buat bunda" ucap dion dengan begitu halus pada sang bunda dengan refleks memberikan pelukan hangat pada bundanya.
__ADS_1
"Queenesya" satu kata yang keluar dari bibir bunda melan membuat dion begitu tersenyum lirih dibuatnya
Pikirannya melayang kembali pada saat sebelum peristiwa penculikan itu terjadi, dimana dion kecil berjanji pada bayi mungil itu bahwa ia akan selalu menjaganya dengan di saksikan oleh anggota keluarga yang lainnya.
Karena penculikan itulah yang membuatnya juga ikut merasa bersalah karenasebagai seorang kakak yang tidak becus menjaga adiknya, memori penculikan itu juga masih sangat ia ingat sampai sekarang dimana gio berteriak dengan histeris membangunkan semua orang dengan tangisnya.
"Iya bunda, kita pasti akan segera menemukan princess. Dio janji sama bunda akan membawa princess kembali pada pelukan kita maka dari itu bunda harus cepat sembuh , bunda gak maukan buat princess sedih dengan keadaan bunda yang seperti ini" ucap dion dengan panjang lebar kepada bundanya dengan nada yang begitu halus dan mendapatkan angukan pelan dari bunda melan yang masih menatap kosong ke depan.
"Bunda, dion ke mobil sebenar yah mau ngambil minum, bunda tunggu disini yah"
Dion memberikan kecupan singkat di kening bundanya sebelum ia pergi.
Beberapa menit setelah dio pergi meninggalkan bunda melan sendirian di sana, seorang gadis kecil yang menggunakan sweater rajut yang sudah sedikit usang itu datang menghampirinya sambil membawa minuman di dalam kantung kresek hitam itu.
Ditatapnya mata gadis kecil itu yang begitu mengingatkannya pada sang putri, mata gadis itu mirip seperti mata ayah mertuanya namun dengan warna yang agak lebih terang sedikit.
Tanya gadis kecil itu pada bunda melan yang membuat hati bunda melan begitu menghangat, merasa seperti sudah menemukan putrinya.
"Ah, maafkan aku bu aku sangat tidak sopan sampai lupa memperkenalkan diri. Namaku esya, nama ibu siapa??" Lanjut gadis kecil itu dengan sopan dan dengan senyum yang memperlihatkan kedua lesung di pipinya itu, yang semakin memperkuat batin bunda melan
"Melan" ucap bunda melan dengan halus dan singkat pada gadis kecil yang ada di hadapannya itu
"Nama ibu sangat cantik, pasti ibu memiliki seorang putri yang cantik juga seperti ibu"
senyum bahagia kini merekat dengan sendirinya pada wajah bunda melan, setelah sekian lama senyum itu memudar.
Dari dua sisi yang berbeda kedua anak laki-laki itu memperhatikan keduanya, ada rasa bahagia dalam hati mereka melihat senyum sang bunda yang sudah lama hilang itu kini muncul kembali.
__ADS_1
Gadis kecil itu refleks memeluk tubuh bunda melan dengan hangat yang semakin memperkuat ikatan batin diantaranya, sebelum gadis kecil itu perlahan membalikkan badan dan berjalan, tapi sebelum itu ia berpamitan dulu pada bunda melan. Kedua bocah itu langsung berjalan kearahnya dengan cepat, seperti takut akan kehilangan lagi.
"Tunggu" ucap kedua anak itu
Bersamaan dengan itu gadis kecil itu yang refleks membalikkan badannya dan saling menatap
"Terimah kasih" ucap mereka lagi dengan bersamaan
"Sama-sama, aku pamit dulu kak" ucap gadis kecil itu dengan tersenyum lebar hingga kedua lesung pada pipinya itu terlihat lagi dan langsung berlari meninggalkan mereka.
" apa kau berpikir yang sama denganku" ucap dion
"Seprtinya, dia memiliki mata seperti princess"
"Dia juga memiliki lesung pipi yang sama"
Buru-buru mereka menghampiri bunda melan yang masih memoerlihatkan senyum tipisnya.
"Bunda siapa nama gadis kecil itu" pertanyaan yang refleks keluar dari bibir gio
"Esya"
"Hah esya!! Keysia!!! Dari kata queenesya" ucap dion yang mendapat anggukan dari bunda melan dan kembarannya itu
"Jangan-jangan gadis kecil itu...."
" ayo kita harus cepat kembali sekarang" dion memotong ucapan gion dan langsung mendorong kursi roda sang bunda untuk kembali ke mansion keluarga di karenakan hari yang sudah hampir sore, Mereka menghabiskan waktu begitu lama di luar rumah namun mereka juga mendapatkan petunjuk baru untuk menemukan princess mereka.
__ADS_1