
Ketika malam tiba, gadis itu selalu menyempatkan waktu untuk memandangi langit malam tanpa bintang. Kota Los Angeles memang begitu ramai dan padat, gedung-gedung bertingkat tentu sudah menjadi pemandangan sehari-hari untuk mereka.
Sudah tiga tahun lewat enam bulan sejak Esya lulus dari kampus tersebut. Ketiga kakaknya juga sudah lulus dan sekarang sedang disibukkan dengan beberapa hal. Esya juga sama sibuknya, setelah pertunangannya Evan dua tahun lalu.
Kini keluarga Esya dan Evan sedang mempersiapkan Resepsi pernikahan keduanya. waktu memang terlalu cepat berjalan, kakak kembarnya bahkan sudah menikah, sekarang tinggal Ken yang masih mengejar cintanya di Singapura. Tidak bisa di sangkah, Opanya menggelar acara pernikahan kakaknya bersamaan setahun setelah kelulusan keduanya.
Sekarang Esya sudah bersiap untuk tidur, besok pagi dia ada rapat dengan beberapa klien lalu janji makan siang bersama dengan Evan dan keluarganya. Pintu kamar Esya terbuka, Gion memasuki kamarnya.
"Kakak ngapain disini?"
"Mau tidur bareng dek."
"Gak, kakak gak malu sama umur apa? udah nikah juga."
"Ngapain malu, kan sama adek sendiri. Zee juga gak masalah tu."
"Kakak Sakit?"
Pintu kamar Esya terbuka lagi, kali ini tampak wajah Zee dengan pakaian tidur bermotif Doraemonnya. Zee ikut menaiki kasur Esya. Sekarang posisinya Esya sedang di apit oleh Gion dan Zee.
"Ih, ini apaan sih? kok pada kumpul disini?"
"Tanyain sama kakak kamu,Sya. Dia kabur dari kamar."
"Gak, Aku gak kabur kok."
"Kalau gitu, Kakak balik sana. Zee biar tidur bareng aku disini."
"Lah kok gitu, Aku kan kakak kamu Sya."
__ADS_1
"Zee sekarang juga udah jadi kakak aku kak. Sekarang kakak keluar."
Gion tidak mendengarkan Esya, ia justru memeluk keduanya dengan erat. Meskipun Esya sudah banyak kali menolak, sekarang bukan hanya Gion, Zee yang sudah menjadi kakak iparnya juga ikut memeluk Esya.
Mansion sekarang memang sedang Ramai karena kedatangan Dion dan Gion, setelah menikah Gion dan Dion memilih untuk tinggal di mansion yang berbeda dengan Esya. Meskipun jaraknya juga tidak terlalu jauh dari mansion Vondrienty.
Masalah percintaan mereka juga tidaklah begitu rumit, hanya seputar Masalah kecil saja. padahal dulu setau cerita yang pernah Esya dengar dari bunda Melan, Kakaknya Gion dan sahabatnya Zee selalu memiliki pemikiran yang berbeda. mereka juga sering memulai pertengkaran jika bertemu. Sekarang keduanya sudah tinggal di atas satu atap yang sama.
Pagi harinya seperti biasa Esya bangun dan melakukan ritual pagi harinya, kamarnya sudah kosong. Zee dan Gion sudah tidak berada di atas kasurnya, Esya sudah selesai bersiap. ia turun ke lantai bawah dan makan bersama dengan keluarganya.
Tin...Tin...Tin...
Suara klakson mobil terdengar dari luar mansion. Esya buru-buru mengambil tasnya lalu berpamitan pada keluarganya. Ia sudah hapal jenis klakson mobil tersebut, itu milik Evan tunangannya. Setiap pagi jika tidak sibuk, Evan akan menyempatkan waktu untuk menjemput Esya dan mengantar-jemput gadisnya itu. Esya keluar, tampak jelas Evan sudah bersandar di mobilnya dengan setelan jas kerjanya.
Evan tersenyum, lalu membungkuk dan mengulurkan. "Selamat Pagi, Tuan putriku."
"Selamat lagi, pangeranku," ucap Esya setelah meraih tangan Evan.
"Aku tahu, Dia mungkin sudah kesal karena kita sudah membatalkan janji beberapa kali."
"Tenang saja, dia tidak akan berani mengeluh."
"Jangan terlalu keras padanya, Van. Aku tau dia pasti sudah banyak berubah."
"Aku hanya mengantisipasi jika Kucing itu menunjukkan cakarnya lagi."
"Sudahlah, ayo cepat. Kita sangat sibuk hari ini, kau ingatkan setelah mengukur pakaian pernikahan masih ada hal yang harus di urus."
"Bagian itu tidak perlu di pikirkan lagi, mereka sudah mengurusnya. Bukankah lebih baik kita menghabiskan waktu berdua?"
__ADS_1
"Ah, tapi aku jadi ingat ada beberapa dokumen yang belum aku tandatangani."
"Pekerjaanmu sudah di ambil alih oleh kak Dion, kau tidak bisa lari lagi Tuan Putri."
Wajah Esya mulai bersemu merah, pemuda itu lagi-lagi menggodanya seperti biasa. Mobil Evan melaju melewati jalanan kota Los Angeles, tujuan mereka sekarang adalah Butik Madam Lezz. Sebuah butik yang berada di alun-alun kota tersebut, dan sudah begitu terkenal di ibukota.
Setibanya mereka disana Asisten Madam Lezz, Aurel Menyambut mereka dengan hangat. Tentu kesan diantara keduanya berbeda, Evan lebih memandang Aurel seperti Ular berbisa. mereka bertemu seminggu yang lalu.
Evan tidak bermaksud seperti itu, hanya saja ia tentu harus berhati-hati dengan musuh lama mereka. Esya percaya jika Aurel sudah berubah menjadi lebih baik, meskipun dia tidak ingat pasti apa yang sudah terjadi di masa lalu mereka.
Ketika bertemu dengannya, Aurel langsung meminta maaf padanya, selanya Esya sendiri bingung. Ia baru tau siapa Aurel ketika Evan tiba-tiba menariknya untuk menjauh dari gadis itu.
"Nah, ayo Sya."
"Eh, iya. ayo Van, ngapain bengong di pintu."
Tanpa menjawab Esya, Evan langsung mengikuti kedua gadis itu. mereka menuju ke sebuah ruangan dimana didalamnya terdapat banyak model gaun dan tuksedo pengantin. Esya kagum melihat semuanya, desainnya terlihat sederhana namun elegan dengan campuran permata sebagai hiasannya.
"Ini kamu yang desain?" Esya bertanya.
"Hnm,iya. Saat dengar kabar kalian sudah bertunangan aku sudah mendesain beberapa, setidaknya ini bisa menjadi tanda permintaan maaf aku Sya."
.
"Udah, yang lalu gak usah di ingat lagi, Rel. sebenarnya, kejadian itu aku juga tidak ingat karena kehilangan ingatan."
"Meskipun begitu aku juga harus bertanggung jawab, dulu pemikiran ku belum dewasa, Sekarang aku sudah mengerti."
Esya tersenyum, Evan memangku kedua tangannya sambil menatap kedua gadis itu dengan wajah datar. Sementara Aurel menahan ketakutannya, tatapan tajam Evan tentu mengarah pada dirinya. Ia juga tau bahwa apa yang sudah ia lakukan dulu adalah salah, saat mereka meninggalkan kota ini Aurel baru menyadari hal itu.
__ADS_1
Sekarang dia kembali untuk menebus semua kesalahannya, ia bertanggung jawab untuk gaun pengantin dan Tuksedo yang akan di kenakan oleh Evan den Esya nantinya. Tentu ini semua adalah paksaan dari Esya sendiri, ia meminta pada keluarganya untuk memberikan kesempatan ini pada Aurel, karena Esya sendiri sudah percaya kalau Aurel telah berubah.